RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Mengundang Rayya


__ADS_3

Entah sudah berapa kali dering di ponsel Ramadhan berbunyi, dan orang yang menelponnya itu adalah orang yang sama, yaitu Farah. Sepertinya Farah memang berharap sekali dia hadir di acara Birthday party wanita itu.


Setelah panggilan ke sepuluh, akhirnya Ramadhan memutuskan menerima panggilan telepon dari wanita itu.


" Halo, Assalamualaikum ... Mas Rama kok nggak angkat-angkat telepon aku, sih? Mas Rama sengaja menghindari aku, ya?" Suara Farah terdengar dari ponsel Ramadhan.


" Waalaikumsalam ... maaf, Farah. Aku itu sedang sibuk dengan pekerjaan." Ramadhan memberi alasan kenapa dia tidak menerima panggilan telepon Farah dari tadi.


" Tapi dari kemarin-kemarin juga Mas Rama selalu mengabaikan panggilan telepon aku, lho! Bukan ketika di kantor saja!" Farah yang merasa jika Ramadhan memang menghindarinya langsung protes.


" Farah, aku ini sedang ada masalah dan itu membuat kepalaku pusing. Jadi tolong mengerti jika aku nggak merespon panggilan kamu." Ramadhan meminta Farah untuk tidak berburuk sangka terhadapnya walaupun sebenarnya dia memang selalu berusaha menghindari Farah.


" Mas Rama sedang ada masalah apa, sih? Coba cerita sama Farah, siapa tahu Farah bisa bantu Mas Rama." Farah yang memang sedang berusaha mengambil hati Ramadhan mencoba menawarkan bantuan.


" Terima kasih, Farah. Tapi aku nggak bisa menceritakan permasalahanku." Ramadhan tentu saja menolak bantuan yang ditawarkan Farah kepada dirinya.


" Mas Rama sedang suntuk, kan? Kalau begitu nanti malam datang ke party ku, biar stres nya hilang. Kita bisa senang-senang melupakan masalah yang ada." Farah berusaha membujuk Ramadhan untuk hadir di pestanya.


" Aku belum tahu bisa datang atau nggak ke sana, Farah." Ramadhan memang tak berniat datang nanti malam.


" Ayolah, Mas Rama. Usahakan datang, dong! Akan hambar rasanya kalau Mas Rama nggak datang." Farah terus berharap agar Ramadhan mau datang nanti malam.


" Lihat nanti sajalah, aku nggak bisa janji," ucap Ramadhan kembali.


" Please, Mas. Kali ini aku mohon Mas Rama datang." Farah tak pantang menyerah mencoba merayu Ramadhan.


Ramadhan mendengus kasar mendengar Farah yang seolah memaksanya.


" Farah, sorry aku harus kembali bekerja. Assalamualaikum ..." Ramadhan segera menutup panggilan sepihak, karena jika tidak dihentikan Farah akan terus menerus memaksa.


***


" Rayya, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Luigi saat siang ini mereka berdua berada di cafe rooftop hotel milik Gavin.


" Kak Luigi mau tanya apa?" tanya Rayya seraya menyesap americano latte.

__ADS_1


" Soal pria yang kemarin kita temui di mall," ucap Luigi.


Rayya membulatkan bola matanya saat Luigi menyinggung soal Ramadhan.


" M-memangnya kenapa, Kak?" Rayya terlihat sedikit gugup.


" Aku merasa ada yang aneh dengan dia." Luigi menyampaikan rasa curiganya dengan sikap Ramadhan.


" Maksud Kak Luigi? Aku rasa Kak Rama biasa saja." Rayya mencoba menepis dugaan Luigi tentang Ramadhan yang dikata aneh oleh pria itu.


" Tapi kamu terlihat jarang bicara dengan Ramadhan." Luigi kembali mengatakan kecurigaannya.


" Aku dengan Kak Rama sejak dulu memang nggak dekat, jadi aku memang jarang bicara, tidak seperti Kia." Rayya memberi alasan kenapa dia tidak banyak bicara dan memilih banyak diam kemarin saat bertemu dengan Ramadhan.


" Kalian tidak terlalu dekat, tapi kenapa foto kamu bisa dipakai wallpaper oleh Ramadhan?" Kini Luigi menatap penuh selidik ke arah Rayya.


" Hmmm, aku nggak tahu, Kak." Rayya bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri tidak tahu kenapa Ramadhan memasang fotonya untuk dijadikan wallpaper di ponselnya.


" Rayya, aku ingin menjalin hubungan yang serius dengan kamu, jadi aku ingin kita saling terbuka satu sama lain. Jika ada sesuatu antara kamu dengan Rama, kamu ceritalah kepadaku. agar tidak ada rasa curiga di antara kita." Luigi meminta Rayya untuk tidak menutupi masalahnya.


Rayya mendesah, dia bingung antara ingin cerita atau tidak kepada Luigi.


" Aku mau semua berjalan lancar ya, Is! Pokoknya aku ingin semua berjalan perfect di acara nanti malam."


Rayya menoleh saat mendengar suara seorang wanita mendekat dan duduk di meja sebelah mejanya. Dia melihat seorang wanita cantik yang sepertinya dia kenal. Rayya teringat jika wanita itu adalah teman dari Kayla yang pernah dia jumpai saat mengadakan pameran lukisan di Milan.


" Semua sudah sesuai dengan yang Mbak Farah inginkan," jawab Iis, asisten dari Farah.


" Oke." Farah yang merasa jika dia diperhatikan oleh seseorang langsung menoleh ke arah Rayya.


Farah mengerutkan keningnya karena dia pun sepertinya merasa kenal dengan Rayya.


" Hai, apa kita pernah bertemu, ya?" ucap Farah bertanya kepada Rayya.


" Hmmm ... Kakak ini temannya Kak Kayla, ya? Aku Rayya, Kak. Kita pernah bertemu di Milan waktu Kak Kayla mengadakan pameran lukisan." Rayya mencoba mengingatkan Farah, di mana mereka pernah bertemu.

__ADS_1


" Oh, iya-iya ... kamu teman Kayla yang pelukis itu, kan? Oh hai, apa kabar? Kamu sedang ada di sini?" Farah lalu mendekati dan bersalaman dengan Rayya.


" Iya, Kak. Aku sedang libur kuliah," sahut Rayya.


" Kebetulan sekali ya kita bertemu lagi di sini." Farah lalu menoleh ke arah Luigi. " Dia teman kamu yang dulu bukan?" tanya Farah yang menduga jika Luigi adalah Simone.


" Hmmm, bukan, Kak. Ini bukan Simone. Ini Kak Luigi." Rayya mempernalkan Luigi pada Farah.


" Hai, aku Farah." Farah mengulurkan tangannya kepada Luigi.


" Luigi." Luigi menyambut uluran tangan Farah.


" Oh ya, Rayya. Kebetulan sekali nanti malam aku mau mengadakan birthday party. Kamu datang ya sama teman kamu ini." Farah berniat mengundang Rayya dan juga Luigi.


" Birthday party? Di mana, Kak?" tanya Rayya.


" Di ballroom hotel ini. Kamu bisa datang, kan? Mumpung kita ketemu di sini."


" Hmmm, aku belum tahu bisa atau nggak, Kak." Rayya yang memang tidak suka dengan acara pesta-pesta menolak namun secara halus.


" Harus bisa, dong! Kita ini 'kan teman. Kamu teman Kayla, berarti teman aku juga." Farah berharap Rayya tidak menolak ajakannya.


" Masalahnya Daddy aku belum tentu mengijinkan aku pergi malam-malam, Kak."


" Kan ada teman kamu ini." Farah menunjuk Luigi. " Ayolah, Rayya ..." Farah terlihat memohon kepada Rayya membuat Rayya susah untuk menolak permintaan Farah.


" Insya Allah ya, Kak."


" Oke, aku tunggu lho, nanti malam!" Farah nampak senang karena bisa membujuk Rayya yang akhirnya berjanji, jika tidak ada halangan dia akan datang di pesta ulang tahun Farah.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2