RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Kehamilan Rayya


__ADS_3

Dua bulan berlalu ...


" Sayang, kamu kok masih tidur saja? Katanya mau jalan-jalan ke GBK." Ramadhan yang kembali dari dapur dan mendapati Rayya kembali tertidur setelah sholat Shubuh langsung berjalan mendekati istrinya dan menghujani pipi Rayya.


" Aku ngantuk, Mas." Rayya justru kini berpindah posisi membelakangi Ramadhan.


" Masih mengantuk? Bukannya semalam kamu tertidur dari sore? Habis Isya kamu langsung tertidur, sekarang bilang masih mengantuk?" tanya Raffasya heran.


" Sayang. Ayo bangun ...!" Ramadhan masih berusaha membangunkan Rayya. " Kita jadi jogging, nggak? Nanti keburu siang. Siang dikit nanti jalan-jalannya pindah ke PI, deh." Ramadhan terkekeh.


" Aku lemas sekali, Mas." keluh Rayya tanpa merubah posisi.


" Lemas? Sudah dua hari kamu tidak melayaniku, itu yang menyebabkan tubuhmu lemas, Sayang." Raffasya menyeringai. " Kalau begitu bagaimana kalau kita main sekarang, biar lemasmu itu hilang."


Rayya langsung bangkit mendengar ucapan suaminya tadi.


" Mas, badanku lemas semua," keluh Rayya.

__ADS_1


" Sini aku obati biar sehat lagi." Ramadhan terkekeh.


" Oek ... oek ...."


Rayya segara turun dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi.


" Sayang kamu kenapa?" Ramadhan yang melihat Rayya mual dan berlari ke kamar mandi segera menyusul istrinya itu.


" Oek ...."


" Sayang, kamu benaran sakit?" Ramadhan mengusap punggung Rayya kemudian menyentuh kening Rayya.


" Jangan, Mas. Nggak usah panggil dokter. Aku nggak apa-apa, kok." Rayya melarang suaminya yang berniat memanggil dokter.


" Kenapa, Sayang? Kamu sakit, lho. Badan kamu panas seperti ini. Kamu juga kelihatan pucat." Ramadhan mengusap peluh di wajah istrinya yang nampak pucat.


" Aku nggak apa-apa, Mas. Mas Raffa tolong ke apotik saja, belikan test pack untukku." Rayya menggenggam tangan suaminya yang sedang menyentuh wajahnya. Rayya merasakan jika sesuatu terjadi di perutnya. Sudah satu Minggu ini dia telat datang bulan. Tubuhnya pun seakan cepat lelah. Kadang juga suka terasa pusing tiba-tiba. Dan morning sickness baru dia rasakan pagi ini. Karena itu dia ingin mengecek urine nya dengan alat pengecek kehamilan.

__ADS_1


" Apa, Sayang? Test pack??" Ramadhan terbelalak lebar. " Sayang, apa kamu hamil?" Ramadhan seakan tak percaya dengan kalimat yang diucapkan oleh istrinya.


" Aku belum bisa memastikan, Mas. Mas bisa belikan test pack di apotik di apartemen ini?"


" Kita ke Tante Dessy saja kalau begitu." Ramadhan ingin membawa istrinya ke rumah adik dari Papanya.


" Sebaiknya di cek pakai test pack dulu, Mas. Nanti setelah ini baru ke Tante Dessy." Rayya memiih mengecek menggunakan alat test kehamilan lebih dahulu.


" Ya sudah, aku ke apotik sebentar. Kamu tiduran saja dulu jangan ke mana-mana, ya!" Ramadhan bergegas ke luar dari kamarnya untuk membeli test pack di apotik yang ada di lantai satu gedung apartemen tempat dia dan istrinya kini tinggal.


***


" Bagaimana, Sayang?" tanya Ramadhan saat Rayya mencelupkan alat test pack ke dalam cairan urine yang ditaruh di wadah urine yang dibeli di apotik tadi.


" Tunggu sebentar, Mas." Rayya kemudian mengeluarkan test pack dari wadah urine tadi. " Bismillah, Mas. Semoga hasilnya membahagiakan." Walau saat ini jantung Rayya berdetak kencang karena dia pun merasa deg-degan, namun dia berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Rayya menatap haru alat test kehamilan yang kini memperlihatkan dua garis mewah di alat test itu.

__ADS_1


" Sayang, garisnya dua. Kamu hamil, Sayang." Ramadhan langsung mengangkat tubuh Rayya dan membawa berputar-putar karena merasa sangat excited


__ADS_2