RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Ada Apa Dengan Rayya


__ADS_3

Sejak turun dari mobil yang dikendarai Pak Rudy, Rayya langsung berlari menjauh dari mini market dan menghentikan mobil angkutan umum. Rayya yang sejak kecil belum pernah merasakan naik kendaraan angkutan kota merasa asing saat harus berdesakan dengan penumpang lain, belum lagi aroma tubuh yang beraneka ragam membuat dia tidak merasa nyaman.


Sekitar dua kilometer dari mini market Rayya kabur tadi, Rayya memilih untuk turun di pertigaan jalan. Mobil angkot yang menepi secara mendadak membuat mobil di belakangnya yang ingin berbelok ke sebelah kiri langsung membunyikan klakson mobilnya karena aksi pengemudi yang membahayakan pengemudi lain, karena menepi mendadak dalam jarak yang terlalu pendek.


Tin tin ...


Suara klakson mobil membuat Rayya yang turun dari mobil lansung terperanjat hingga dia memegangi dadanya karena dia merasa kaget.


Sementara orang di dalam mobil yang berada tepat di belakang mobil angkot Rayya, merasa kesal karena dia harus mengerem secara mendadak. Karena jika tidak, maka mobilnya akan menabrak mobil angkot itu. Si pengemudi mobil itu membunyikan klakson karena sikap ceroboh supir angkot.


Si pengemudi bahkan mengumpat supir angkot, namun dia langsung menghentikan umpatannya saat dia melihat seorang wanita yang turun dari angkot terlihat terkejut saat dia kembali membunyikan klakson mobilnya.


" Rayya?" Pengemudi yang ternyata adalah Ramadhan terkesiap saat mendapati Rayya lah yang turun dari angkot itu. " Kenapa Rayya bisa turun dari mobil itu?" Ramadhan merasa heran hingga dia pun menepikan mobilnya. Dia melepas seat belt lalu keluar dari mobilnya.


" Rayya ...!"


Rayya yang baru saja menepi di trotoar langsung menoleh saat seseorang memanggil namanya. Dan matanya langsung terbelalak saat dia melihat Ramadhan lah yang menyapanya.


" Kak Rama??"


" Rayya, kamu mau ke mana?" Ramadhan melihat backpack di punggung gadis itu. " Kenapa Rayya pakai mobil angkutan umum?" tanya Ramadhan heran.


" A-aku ..." Rayya nampak gugup menjawab pertanyaan Ramadhan.


" Rayya, kamu ... kamu nggak berniat kabur kan?" Ramadhan sepertinya mencurigai Rayya akan kabur jika dilihat dari tas ransel yang dibawa oleh Rayya.


" N-nggak kok, Kak. Aku ingin ..." Rayya kebingungan harus memberikan alasan apa.


" Rayya, ayo ikut aku!" Ramadhan meminta Rayya untuk ikut dengannya.


" Aku nggak bisa, Kak." Rayya menolak ajakan Ramadhan.


" Rayya, aku akan telepon Om Gavin kalau Rayya nggak mau terbuka mengatakan akan ke mana! Aku yakin Om Gavin pasti nggak tahu jika sekarang kamu ada di sini." Ramadhan menebar ancaman karena dia merasa jika Rayya memang sedang berusaha untuk kabur. Dia lalu mengeluarkan ponsel dari saku blazernya.


" Jangan, Kak!" Rayya melarang Ramadhan yang ingin menghubungi Gavin.


" Kalau begitu kamu harus ikut aku." Ramadhan kemudian berjalan dan membuka pintu mobil untuk Rayya.


Rayya yang tidak ingin Ramadhan melaporkan aksi kaburnya memilih ikut bersama Ramadhan yang saat itu hendak berangkat ke kantornya.


" Sebenarnya Rayya mau ke mana?" tanya Ramadhan mencoba menyelidik saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


Rayya terdiam, dia tidak cepat membalas pertanyaan Ramadhan.


" Apa karena ancaman dari Om Dirga hingga kamu memilih untuk kabur?" Ramadhan menduga jika ancaman dari Dirga lah yang menyebabkan Rayya mengambil keputusan nekat kabur dari rumahnya.


" A-aku butuh waktu untuk menenangkan diri, Kak." aku Rayya jujur.


" Aku minta maaf kalau Rayya jadi tetekan seperti ini. Tapi aku harap kamu jangan sampai meninggalkan rumah seperti ini. Aku yakin Om Gavin dan Tante Rara nggak tahu tentang kepergian kamu ini, kan? Jangan membuat orang tua kamu cemas, Rayya." Ramadhan mencoba menasehati Rayya.


" Aku bingung, Kak. Om Dirga mengancam akan melaporkan Daddy kalau aku tidak memenuhi kemauannya, sedangkan Daddy ... Daddy sendiri sudah meminta Kak Luigi untuk segera bertunangan denganku," lirih Rayya dengan cairan bening yang sudah mengembun di bola matanya.


Ramadhan menghela nafas panjang, dia merasa sangat bersalah dengan apa yang menimpa Rayya saat ini.


" Lalu kamu akan pergi ke mana?" tanya Ramadhan kembali.


" Entah, Kak. Mungkin aku akan pergi ke tempat yang tenang untuk sementara waktu," sahut Rayya.


" Sementara ini, Rayya ikutlah denganku."


Rayya menolehkan pandangannya ke arah Ramadhan dengan kening berkerut.


" Maksud Kak Rama?"


" Nanti kamu akan tahu ..." sahut Ramadhan kemudian berkonsentrasi dengan kemudinya.


Sekitar dua puluh menit kemudian Ramadhan sudah memarkirkan mobilnya di basement apartemen milik Angkasa Raya.


" Kak Rama mau bawa aku ke mana?" Rayya semakin bingung karena ternyata Ramadhan membawanya ke sebuah apartemen.


Ramadhan hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Rayya membuat gadis itu semakin bingung.


" Kak ...."


" Kamu tenang saja, aku nggak akan berbuat jahat kepadamu, Rayya." Ramadhan akhirnya menjawab pertanyaan Rayya diwarnai dengan senyuman.


Ramadhan lalu membawa Rayya ke apartemen miliknya. Apartemen yang diberikan oleh Ricky saat dia masih kecil, di mana di apartemen itulah dia dan Anindita diboyong Ricky dari gudang sempit di Alabama Florist.


" Masuklah ..." Ramadhan mempersilahkan masuk kepada Rayya.


" Ini apartemen Kak Rama?" tanya Rayya menatap sekeliling ruangan tamu.


" Iya, kamu bisa pakai tempat ini untuk menenangkan diri." ucap Ramadhan menawarkan apartemennya untuk menjadi tempat Rayya menenangkan diri.


" Nggak, Kak. Aku nggak ingin merepotkan Kak Rama."

__ADS_1


" Aku nggak merasa direpotkan, Rayya. Aku justru merasa tenang kalau kamu di sini."


Rayya menatap ke arah Ramadhan saat mendengar ucapan pria itu.


" Maaf, aku nggak bermaksud apa-apa. Rayya." Ramadhan mengklarifikasi ucapannya. " Aku hanya lebih tenang dengan keberadaan kamu di sini daripada kamu menenangkan diri di tempat lain," lanjut Ramadhan.


" Tapi aku nggak mungkin tinggal di sini, Kak. Bagaimana mungkin seorang wanita tinggal di apartemen milik seorang pria?"


" Aku nggak tinggal di sini, Rayya. Jadi kamu nggak perlu khawatirkan itu. Kamu bisa memakai kamar tamu itu untuk istirahat." Ramadhan menunjuk kamar tamu yang terletak di samping ruang tamu.


" Tapi ...."


" Rayya ..." Ramadhan kini duduk berlutut di dekat Rayya duduk. " Kamu tahu? Aku sangat mencemaskan kamu. Mungkin bukan hanya aku, tapi juga kedua orang tuamu. Di sini kamu lebih aman daripada kamu di luar, di tempat yang belum jelas." Ramadhan menggenggam tangan Rayya hingga membuat Rayya terkesiap dan ingin menarik tangannya namun Ramadhan tidak melepasnya.


" Kak, tolong lepaskan tanganku! Kita ini bukan mahram." Rayya mencoba melepas tangannya kembali.


" Maaf ..." Ramadhan kemudian melepas tangannya dari tangan Rayya. " Rayya, aku ingin kamu mengatakan hal yang sesungguhnya, apa kau mencintai Luigi?" tanya Ramadhan kemudian.


" Aku ..." Rayya nampak sulit untuk menjawab pertanyaan Ramadhan.


" Kamu nggak bisa menjawabnya? Berarti kamu nggak yakin dengan perasaanmu ke dia," ujar Ramadhan. " Rayya, aku mohon kamu jangan terburu-buru mengambil keputusan seperti aku." Ramadhan mencoba mempengaruhi jalan pikiran Rayya agar tidak cepat-cepat mengambil keputusan untuk menerima pertunangan dengan Luigi.


" Kak Luigi sangat mencintaiku," ucap Rayya membanggakan Luigi


" Aku juga mencintaimu, Rayya!" tegas Ramadhan tak ingin kalah.


" Tapi Kak Luigi nggak pernah menyakitiku!" Kali ini perkataan Rayya seakan membungkam Ramadhan.


* Maafkan aku karena terlalu sering menyakiti hatimu, Rayya," sesal Ramadhan menurunkan pandangannya.


" Kenapa Kak Rama memutuskan mengakhiri pertunangan dengan Kak Farah?" Rayya masih merasa penasaran dengan keputusan Ramadhan.


" Apa jika malam itu Kak Rama tidak melihatku, Kak Rama juga berniat mengakhiri pertunangan kalian?" tanya Rayya lagi


" Mungkin aku akan mengalami seperti apa yang Om Dirga rasakan dulu," ujar Ramadhan. " Rayya, aku ingin diberi kesempatan untukku, aku tahu jika aku terlalu sering mengecewakanmu. Tapi aku janji akan menebus semua kesalahan yang pernah aku buat dulu," janji Ramadhan menatap wajah Rayya dan Rayya pun menatap wajah pria yang saat ini masih terlihat memar.


" A-aku nggak ingin melukai hati Kak Luigi. Kak Luigi terlalu baik, dia bahkan rela menunggu aku." Rayya memang tidak ingin menyakiti Luigi.


Ramadhan mendengus, dia lalu bangkit dari berdiri.


" Aku mesti kembali ke kantor. Aku harap kamu jangan pergi dari sini. Meskipun aku sudah nggak mempunyai harapan, aku nggak ingin melihat kedua orang tuamu cemas. Kamu bisa pakai tempat ini untuk persembunyianmu sementara waktu." Ramadhan menyerahkan kunci acces apartemennya. " Aku berangkat, Nanti aku pesankan makanan di restoran di bawah, Assalamualaikum ..." Ramadhan berpamitan lalu berjalan ke arah pintu apartemen.


" Waalaikumsalam ..." sahut Rayya memperhatikan punggung Ramadhan yang akhirnya menghilang dari balik pintu.


***


" Ada apa, Pa?" Ramadhan yang merasa penasaran bertanya kepada Papanya.


Ricky menoleh ke arah Ramadhan lalu mendengus kasar dengan rahang mengeras.


" Semua ini karena ulahmu, Rama! Rayya menghilang, dia pasti sangat kebingungan karena ancaman Pak Dirga," geram Ricky. Tuan Gavin sangat marah dan menduga jika kitalah yang ada di belakang kasus menghilangnya Rayya," sambung Ricky.


" Rayya ada di apartemenku, Pa." ucap Ramadhan jujur


Ricky membelalakkan matanya saat mendengar Ramadhan mengatakan jika Rayya berada di apartemen anaknya itu. Ricky langsung mencengkram kemeja putranya hingga membuat tubuh Ramadhan tertarik olehnya.


" Apa yang kamu lakukan kepada Rayya, Rama? Kau menculik Rayya?" Ricky nampak emosional.


" Nggak, Pa. Bukan seperti itu! Waktu menuju kantor tadi, Rama melihat seorang wanita yang turun dari mobil kendaraan umum. Rama kaget ternyata wanita itu Rayya. Aneh saja melihat Rayya turun dari mobil angkot apalagi dia membawa tas ransel. Karena itu Rama mendekati Rayya. Rayya memang berniat pergi dari rumah karena ingin menenangkan pikiran. Rama bawa ke apartemen karena Rama pikir itu tempat yang aman daripada Rayya pergi ke tempat yang tidak diketahui, itu pasti akan membuat Om Gavin dan Tante Rara kesulitan mencari, Pa." Ramadhan menjelaskan yang sebenarnya.


Ricky melepaskan cengkeramannya pada kemeja Ramadhan.


" Cepat kau bawa pulang Rayya ke rumahnya! Papa nggak ingin Tuan Gavin semakin murka dengan mengira kau sengaja menyembunyikan Rayya," ucap Ricky kemudian berjalan masuk ke dalam ruangannya.


Sepeninggal Ricky, Ramadhan lalu mencoba menghubungi nomer ponsel Gavin untuk memberitahukan Gavin soal keberadaan Rayya. Dan butuh waktu sekitar lima menit hingga akhirnya Gavin mengangkat panggilan teleponnya.


" Assalamualaikum, Om." sapa Ramadhan.


" Berani sekali kau meneleponku! Dasar laki-laki breng sek! Di mana kau sembunyikan anakku?!" Gavin menjawab sapaan Ramadhan dengan kalimat yang sangat kasar dan menyentak. Bahkan kalimat salam pun tidak dijawab oleh Gavin yang sedang diselimuti emosi.


" Maaf, Om. Tadi sebelum berangkat ke kantor saya melihat Rayya turun dari angkot, karena itu saya amankan di apartemen saya karena Rayya berniat menenangkan diri dan pergi dari rumah." Ramadhan menerangkan kepada Gavin bagaimana dia menemukan Rayya.


" Breng sek! Cepat katakan di mana apartemenmu si alan!" Suara Gavin terdengar menyentak.


Ramadhan menarik nafasnya mendengar suara Gavin yang terlihat dipenuhi amarah. Dia menyadari jika perubahan sikap Gavin kepadanya adalah murni karena kesalahannya.


" Di apartemen Angkasa Raya, Om. Nanti kita bertemu di sana, Om. Tut ... tut ... tut ..." panggilan telepon Ramadhan terputus dan Ramadhan menduga jika Gavin sengaja mematikan panggilan teleponnya.


Setelah berpamitan kepada Ricky, Ramadhan pun akhirnya pergi kembali ke apartemennya karena dia menduga jika Gavin pasti sudah meluncur ke apartemennya. Ramadhan tidak ingin Gavin lebih dahulu sampai di apartemennya.


Sekitar setengah jam kemudian Ramadhan telah berhasil menuju apartemennya terlebih dahulu. Dia melihat sepatu Rayya masih ada di tepi pintu bagian dalam apartemennya menandakan jika gadis itu masih berada di apartemennya.


" Rayya ..." Ramadhan mencoba mengetuk pintu kamar tamu dan tak lama pintu kamar tamu itu dibuka oleh Rayya.


" Kak Rama belum ke kantor?" tanya Rayya heran saat mendapati Ramadhan masih berada di apartemen.

__ADS_1


" Aku sudah sampai ke kantor dan aku kembali lagi ke sini," sahut Ramadhan. " Karena Daddy mu akan menjemput kemari."


Rayya terbelalak saat mengetahui Gavin akan menjemputnya di apartemen Ramadhan.


" Kak Rama kasih tahu Daddy kalau aku di sini?" Rayya terlihat kesal karena Ramadhan membongkar tempat persembunyiannya kepada Gavin.


" Maaf, Rayya. Aku nggak ingin orang tuamu cemas." Ramadhan sengaja tidak mengatakan jika Gavin menuduh dia, Dirga juga Ricky sebagai orang yang telah menyembunyikan Rayya.


" Aku menyesal menuruti Kak Rama kemari!" Rayya masuk kembali ke dalam kamar dan mengambil ranselnya karena dia berniat pergi dari apartemen Ramadhan.


" Rayya kamu mau ke mana?" tanya Ramadhan yang melihat Rayya sudah berkemas.


" Aku mau pergi dari tempat ini!" Rayya kemudian menggendong tas ranselnya di punggungnya.


" Rayya kamu nggak bisa pergi! Daddy mu sebentar lagi kemari."


Rayya berhenti di hadapan Ramadhan. dia lalu menatap ke arah Ramadhan.


" Kenapa sih, Kak Rama selalu saja bikin aku kecewa? Bahkan hanya untuk merahasiakan keberadaanku saja Kak Rama nggak bisa melakukannya!" ketus Rayya kemudian berjalan melewati Ramadhan menuju pintu apartemen


Teettt


Di saat yang bersamaan bel pintu apartemen Ramadhan berbunyi membuat Rayya menghentikan langkahnya seraya menghela nafas dan memejamkan matanya karena dia terlambat, tak bisa kabur karena Gavin sudah keburu datang lebih dahulu.


Ramadhan kemudian membuka pintu apartemennya.


" Berani sekali kau menyembunyikan putriku ba jingan!"


Buugghh


Bersamaan dengan daun pintu apartemen terbuka, terdengar suara Gavin yang menggelegar ditambah sebuah tinju langsung mendarat kembali di wajah Ramadhan hingga Ramadhan terhuyung beberapa langkah ke belakang, karena dia tidak menduga Gavin akan menyerangnya secara tiba-tiba.


" Astaghfirullahal adzim, Dad!" Rayya langsung memekik kaget saat menyaksikan secara langsung Daddy nya memukul Ramadhan. Dia langsung berlari mendekat ke arah Ramadhan.


" Kak, Kak Rama nggak apa-apa?" tanya Rayya khawatir sampai memegang wajah Ramadhan.


" Baby! Singkirkan tanganmu dari pria breng sek itu!" Gavin terlihat marah saat Rayya justru memperdulikan Ramadhan.


" Dad, kenapa Daddy jadi sekejam ini? Kenapa Daddy terus menyakiti Kak Rama?" Rayya seakan menyalahkan Gavin.


" Daddy menyakiti dia? Baby, apa Baby lupa? Jika pria inilah yang sudah membuat Baby kecewa berkali-kali! Apa Baby lupa? Dia yang seringkali menyakiti Baby! Dia ini penyebab Baby bisa seperti ini, kabur dari rumah!" Gavin melancarkan tuduhan kepada Ramadhan sebagai penyebab putrinya berniat kabur dari rumah.


" No, Dad! Bukan Kak Rama yang sepenuhnya bersalah dalam hal ini! Tapi Daddy lah yang paling bersalah! Kalau Daddy nggak pernah memaksakan kehendak untuk menjodohkan Rayya dengan Kak Rama, mungkin semua ini nggak akan mungkin terjadi, Dad!" ucap Rayya seraya terisak.


Gavin langsung terkesiap saat mendengar tuduhan yang diarahkan oleh putrinya kepada dirinya. Dia tidak menyangka jika Rayya akan mempunyai pemikiran seperti itu. Menyalahkannya atas apa yang membuat putrinya menderita.


" Baby, kenapa Baby punya pikiran seperti itu? Daddy sangat menyayangimu, apa yang Daddy lakukan itu karena Daddy ingin membuat Baby bahagia," lirih Gavin merasa pilu dengan tuduhan Rayya.


" Tapi kenyataannya seperti inilah yang Rayya rasakan, Dad. Rayya seperti di antara dua persimpangan yang sulit untuk Rayya pilih." Rayya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


" Rayya ...."


" Baby ...."


Ramadhan dan Gavin sama-sama ingin menenangkan Rayya, namun tentu saja Gavin lebih berhak atas Rayya hingga kini pria itu merengkuh dan memeluk tubuh putrinya.


" Maafkan Daddy kalau ternyata keputusan Daddy itu membuat hati Baby terluka," sesal Gavin seraya mencium pucuk kepala putrinya itu.


***


Sebelum menjemput Dirga, Kayla terlebih dahulu mencari tahu tentang keberadaan Luigi yang menurut info yang didapat dari Dirga, Luigi adalah seorang dosen di universitas tempat Rayya kuliah dulu. Dan setelah dia mendapatkan informasi tersebut, dia meminta bantuan pihak kampus untuk membuat janji dengan Luigi. Hingga akhirnya dia bisa menghubungi pria Italia itu dan berjanji bertemu saat makan siang.


" Mi scusi, lei è la signorina Kayla?" ( Permisi, apa Anda Nona Kayla ) tanya Luigi saat dia melihat seorang wanita muda dan seorang pria paruh baya duduk di kursi di meja yang telah dia janjikan untuk bertemu dengan Kayla dan Dirga.


Kayla dan Dirga langsung menoleh ke arah Luigi saat pria itu menyebut namanya.


" Salve signore corradeo, come sta? presentami Kayla e questo è mio zio, Dirga." ( Hai, Tuan Corradeo, apa kabar? Perkenalkan saya Kayla dan ini paman saya, Dirga ) Kayla kemudian memperkenalkan dirinya dan juga Dirga.


" Io sono Luigi." ( Saya Luigi ) Luigi lalu berjabat tangan dengan Kayla dan juga Dirga.


" Cos'è che vuoi incontrarmi?" ( Ada apa Anda ingin bertemu dengan saya ) tanya Luigi kepada Kayla setelah dia terduduk.


" Mio zio viene dall'Indonesia e vuole parlare di Rayya." ( Paman saya ini dari Indonesia dan dia ingin bicara soal Rayya ) Kayla menjelaskan tujuannya membuat janji dengan Luigi.


Luigi mengerutkan keningnya saat Kayla menyebut nama Rayya, bahkan mengatakan jika maksud bertemu dengan dirinya itu karena Rayya.


" Rayya, memangnya ada apa dengan Rayya?"


Kayla dan Dirga terbelalak saat mengetahui jika pria tampan di hadapannya justru bisa berbicara dengan bahasa Indonesia cukup lancar.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2