
Sudah berjalan dua Minggu Rayya kuliah di salah satu Universitas terbesar di kota Roma yang berjarak sekitar empat sampai lima kilo meter dari apartemennya yang tidak jauh dari Colosseum, bangunan bersejarah peninggalan bangsa Romawi, tempat dimana para gladiator bertarung.
Rayya sengaja duduk menunggu William yang belum menyelesaikan kuliahnya.Sementara tangannya sibuk menyapukan crayon di atas kertas melukis bangunan yang ada di hadapannya.
" Ciao, posso sedermi vicino a te?" ( Hai, boleh aku duduk di sebelahmu )
Rayya terkejut saat seseorang bediri dan berbicara kepadanya. Rayya langsung menengadahkan kepalanya melihat siapa orang yang berbicara meminta persetujuannya untuk duduk di sampingnya. Dan Rayya nampak terperanjat mendapati sosok pria tampan yang sedang mengembangkan senyuman kepadanya.
" Oh, prego ..." ( Oh, silahkan ) Rayya mempersilahkan seraya menggeser tubuhnya memberi tempat kepada pria itu.
" Mi chiamo Simone, e tu?" ( Namuku, Simone, kalau kamu ) Pria itu memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya mengajak berkenalan dan menanyakan siapa nama Rayya.
" Mi chiamo Rayya." ( Nama saya Rayya ) Rayya pun menyebutkan namanya.
" Sei uno studente d'arte?" ( Apakah kamu mahasiswa seni ) Simone menebak jika Rayya adalah mahasiswa jurusan seni.
" Si." Rayya menganggukan kepala menyatakan jika tebakan Simone.
" Anche io sono lo stesso." ( Aku juga sama ) Simone berkata jika pun mengambil jurusan seni.
Rayya hanya tersenyum mendengar ucapan Simone. Dia menduga jika Simone itu seperti kebanyakan pria-pria yang hanya iseng mengajaknya berkenalan. Rayya pun kembali memfokuskan diri dengan objek lukisannya.
" Da dove vieni? Sembra che tu non sia italiana." ( Asal kamu dari mana? Kamu tidak terlihat seperti orang Italia ) Simone menanyakan dari mana Rayya berasal karena Rayya tidak terlihat seperti orang italia.
" Si, io sono Indonesiana." ( Saya orang Indonesia ) Rayya mengatakan jika dia adalah orang Indonesia dan Rayya masih dengan ramah meladeni setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Simone.
" Indonesia? Anche mia madre e indonesiana." ( Indonesia? Mamaku juga orang Indonesia )
" Davvero?" ( Benarkah ) Rayya langsung menghentikan aktivitasnya melukis lalu menoleh ke arah pria di sampingnya itu saat Simone mengatakan jika Mamanya berasal dari Indonesia. Namu Rayya masih menganggap Simone hanya bercanda.
" Si, io sono serio." ( Ya, saya serius ) Simone menegaskan jika dia serius dan tidak bercanda.
" Sei mai stato in Indonesia?" ( Apa kamu pernah berkunjung ke Indonesia ) Rayya bertanya apakah Simone pernah berkunjung ke Indonesia sebelumnya.
__ADS_1
" Sono nato a Yogyakarta. E ho vissuto lì fino all'eta di dieci anni." ( Saya lahir di Yogyakarta, dan saya tinggal di sana sampai umur sepuluh tahun ) Simone mengatakan jika dia lahir di kota Yogyakarta dan saat kecil hingga usia sepuluh tahun dia di sana.
Rayya semakin tercengang saat pria tampan yang mempunyai darah Indonesia dari Ibunya itu ternyata pernah juga tinggal di Indonesia.
" Sai parlare indonesiano?" ( Kamu bisa berbicara bahasa Indonesia ) Rayya merasa penasaran apakah Simone bisa berbicara bahasa Indonesia.
" Ricordo ancora un po perche viene usato raramente." (Saya masih ingat sedikit karena jarang digunakan) Simone menerangkan karena jarang digunakan jadi dia hanya ingat sendikit bahasa Indonesia.
" Kalau begitu kita berbincang pakai bahasa Indonesia saja supaya kamu bisa ingat lagi kosa kata dalam bahasa Indonesia. Karena bahasa Italia ku belum terlalu lancar." Rayya sengaja menggunakan bahasa Indonesia walaupun Simone mengatakan hanya mengingat sedikit.
" Apa itu artinya kita bisa sering bertemu dan berbicara seperti ini?" tanya Simone mengembangkan senyuman termanisnya.
Rayya tersadar jika dia nampak menikmati obrolan bersama Simone. Dia yang dikenal pemalu tentu tidak mudah bisa akrab dengan orang apalagi dengan lawan jenis. Seketika itu juga Rayya menundukkan wajahnya karena merasa dia terlalu agresif sehingga Simone menduga jika dia telah memberi lampu hijau untuk bisa selalu berbincang dengan pria itu.
" Kalau kamu bilang bahasa Italia kamu tidak terlalu lancar, justru kamu harus sering-sering menggunakan bahasa Italia dalam percakapan sehari-hari, karena kamu saat ini sedang kuliah di Italia." Dengan kalimat yang agak tersendat Simone mencoba menyusun kata dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Rayya hanya tersenyum menanggapi perkataan Simone dalam bahasa Indonesia dengan logat Italia nya yang kental.
Simone memperhatikan wajah cantik dan imut yang semakin nampak cantik dengan senyuman di bibir Rayya.
Wajah putih Rayya seketika bersemu merah saat Simone memuji dirinya cantik sama seperti ibunya yang memiliki kecantikan khas wanita Indonesia.
" Sedang apa kamu di sini, Rayya?" Suara William yang tiba-tiba terdengar membuat Rayya tersentak kaget.
" Kak Willy?"
" Ayo pulang." William segera membereskan kertas dan crayon yang digunakan Rayya untuk melukis lalu dia menarik tangan Rayya untuk menjauh dari Simone.
" Ciao, Simone ..." ( Bye, Simone ) Rayya pun segera berpamitan kepada Simone karena dia tidak enak dengan sikap kakaknya yang dianggapnya tidak sopan.
" Ciao, Rayya. Piacere di conoscerti." ( Bye, Rayya. Senang bisa bertemu denganmu )Simone membalas salam perpisahan dari Rayya.
Simone menatap kepergian Rayya yang dipaksa oleh seorang pria yang dia tidak kenal siapa pria itu dan dia juga tidak tahu apa hubungan pria itu dengan Rayya.
" Lei è cosi bella ..." ( Dia sangat cantik ) gumam Simone masih mengagumi kecantikan sosok gadis yang baru saja ditemuinya itu.
__ADS_1
***
" Kak Willy kenapa kasar seperti ini sih sama Rayya? Pakai menyeret Rayya segala. Nggak sopan tahu, orang Rayya lagi mengobrol juga." Sesampainya di mobil, Rayya langsung memprotes sikap kakaknya yang dinilainya terlalu kasar dan tidak sopan karena menyeretnya bahkan nampak tidak menganggap Simone yang sedang berbicara dengannya.
" Rayya, Kakak ditugaskan Daddy menjaga kamu di sini agar kamu tidak diganggu oleh sembarang laki-laki. Apalagi laki-laki yang belum dikenal seperti orang itu. Kenapa Rayya malah senyum-senyum sama dia? Apa Rayya sedang berusaha menarik perhatian pria tadi?!" tuding William kepada adiknya.
" Asatagfirullahal adzim, kenapa Kak Willy menuduh seperti itu?" Rayya nampak kesal karena William menganggapnya sedang menggoda Simone.
" Lalu kenapa tadi Rayya senyum-senyum seperti itu?"
" Jadi Rayya harus cemberut gitu? Ketika ada orang yang menyapa Rayya dengan ramah, Rayya harus memasang wajah galak dan jutek? Kita ini orang timur, Kak. Apalagi orang Indonesia itu terkenal akan keramahannya. Masa Rayya harus acuh saja terhadap orang yang menyapa kita?" Rayya berargumentasi.
" Kita ini sedang bertamu di negeri orang, kita harus bisa membawa badan, harus bisa menitipkan diri. Kalau kita baik dan ramah sama orang lain, orang lain juga akan baik terhadap kita. Kita juga 'kan mesti bawa nama baik negara kita di sini." Rayya menyebutkan alasannya kenapa dia harus bersikap ramah terhadap semua orang.
" Iya tapi nggak harus sama pria tadi. Kakak yakin kalau pria itu hanya modus ingin dekat dengan kamu, karena kamu itu masih terlihat polos sebagai wanita." William sudah seperti Gavin dalam hal posesif terhadap Rayya.
" Kak Willy jangan menjiplak Daddy banget, dong! Menghadapi satu Daddy yang posesif banget saja sudah pusing, ini tambah Kak Willy ikut-ikutan posesif. Kalau selalu seperti ini bagaimana Rayya bisa akan punya banyak teman, Kak?" Rayya kembali memprotes sikap Kakaknya tadi.
" Kak Willy hanya khawatir, Rayya."
" Rayya mengerti, kok." Rayya mengusap lengan William. " Tapi Kak Willy harus percaya Rayya kalau Rayya bisa jaga diri baik-baik." Rayya mencoba meyakinkan William agar tidak udah terlalu mencemaskannya.
" Oh ya, Kak. Pria tadi itu namanya Simone. Ternyata mama dia itu orang Indonesia lho, Kak. Karena itu tadi Rayya senang bisa mengobrol sama dia." Rayya lalu menceritakan perkenalannya dengan Simone. Sementara William hanya mendengarkan cerita adiknya yang nampak antusias membicarakan tentang pria yang tadi dilihatnya bersama adiknya. Tak nampak aura kesedihan di wajah Rayya. William berharap adiknya akan selalu seperti ini, bahagia tanpa harus memikirkan rasa cintanya yang tak terbalas dari pria yang dikagumi oleh adiknya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Visual Simone
__ADS_1
Happy Reading❤️