RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Milan


__ADS_3

Ramadhan menarik kursi di hadapannya kemudian mendudukinya dan ikut bergabung dengan anggota keluarga lainnya untuk menikmati makan malam.


" Pa, Ma, dua Minggu ke depan Rama akan ke Italia." Ramadhan langung menyampaikan kabar berita tentang rencana kepergiannya ke Negeri Spaghetti tersebut.


Anindita langsung melirik ke arah suaminya saat mendengar putra sulungnya itu berniat pergi ke Italia namun tangannya tetap mengisi nasi di piring suaminya itu.


" Ada apa kamu ke sana, Rama?" tanya Ricky dengan nada datar.


" Om Dirga menugaskan Rama untuk bertemu dengan seorang arsitek di sana karena perusahaan kita berniat membangun cluster bergaya Renaissance. Dan Om Dirga juga meminta Rama untuk melihat contoh bangunan di sana untuk bisa diadaptasi untuk model perumahan yang akan kita buat." Ramadhan menjelaskan kepada Papanya apa tujuan dia ke sana.


" Kamu akan pergi sama siapa ke sana, Rama?" tanya Anindita kemudian.


" Sendiri saja, Ma."


" Arka ikut dong, Mas! Lumayan jalan-jalan ke Italia," celetuk Arka.


" Thalita juga dong, Mas!" Thalita ikut menimpali.


" Mas itu mau tugas bukan mau liburan!" sergah Ramadhan mengomentari permintaan adik-adiknya itu.


" Mas Rama kalau mau kerja ya kerja saja, nanti Thalita dan Mas Arka yang liburan. Iya nggak, Mas?" Thalita menoleh ke arah Arka seolah meminta dukungan kakaknya itu.


" Betul banget, setuju!" sahut Arka.


" Memangnya kalian pada bisa bahasa Italia ingin ikut liburan di sana?" sindir Ramadhan.


" Pakai tour guide dong, Mas. Kalau nggak kita minta ditemani Kak Kayla saja di sana." Thalita yang tidak tahu apa-apa soal Ramadhan yang menyukai Kayla dengan santai berucap seperti itu.


" Setuju!" sahut Arka cepat.


Sementara Ramadhan langsung menatap Anindita dan Ricky secara bergantian yang juga sedang menatapnya.


" Sudah kalian jangan bicara saja! Ayo baca doa dulu terus dimakan makanannya." Anindita meminta anak-anaknya untuk berhenti mengobrol dan mulai menyantap makan malam mereka.


***


" Pa, apa menurut Papa di sana Rama akan bertemu Kayla?" tanya Anindita seraya menaruh kepala di lengan suaminya itu saat mereka merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur.


" Entahlah, bisa jadi mereka akan bertemu karena Pak Dirga pasti akan memberitahu Pak Edo jika Rama akan pergi ke sana," sahut Ricky dengan mata menatap langit-langit kamarnya.


" Selama ini Rama tidak pernah mendekati wanita lain. Apa sebaiknya kita memberikan restu kepada Rama untuk dekat dengan Kayla ya, Pa?" Anindita mengusap rahang Ricky yang mulai ditumbuhi rambut.


" Dia itu seperti Papa, yang teguh pada pendiriannya jika sudah mengejar satu wanita."


Ucapan Anindita sukses membuat Ricky menolehkan ke arah istrinya itu.


" Memangnya Mama tahu siapa wanita yang Papa kejar?" Kini tangan Ricky yang mengusap pipi Anindita.


" Tahu dong, Pa." Anindita terkikik menjawab pertanyaan Ricky. " Wanita keras kepala dan selalu jutek kalau ketemu dan bicara sama Papa," lanjut Anindita kemudian tangannya membuka kancing piyama yang dikenakan suaminya itu.


Ricky langsung menarik satu sudut bibirnya ke atas melihat istrinya sudah memberikan kode kepadanya. Dan dengan cepat Ricky memposisikan tubuhnya di atas Anindita.


" Mama tahu saja apa yang Papa inginkan." Ricky mengecup bibir ranum Anindita yang selalu menjadi candu untukku sejak dulu, bahkan sejak ciuman tak sadar Anindita yang diberikan kepadanya saat suami pertama Anindita meninggal dunia.


Anindita pun langsung membalas sentuhan suaminya, sedangkan tangannya masih berusaha melepas piyama bagian atas sang suami hingga kini dada suaminya yang masih bidang dan kekar terpampang di depan matanya.


" Badan Papa masih bagus lho, Pa." Anindita memuji fisik suaminya yang sangat sempurna di matanya. " Pasti masih saja ada wanita yang ingin menggoda Papa, ya?"

__ADS_1


" Papa nggak perduli pada mereka, karena Papa sudah sangat bahagia bersama Mama." Kini Ricky yang meloloskan baju tidur Anindita hingga langsung menampakkan kedua perbukitan yang selalu membuatnya ingin mendakinya.


Ricky kembali mengecup bibir Anindita dan membawa istrinya itu ke surga duniawi yang sangat memabukkan.


***


" Rayya, quando si tiene la mostra di pittura?" ( Rayya, kapan acara pameran lukisan diadakan ) tanya Simone kepada Rayya saat mereka berdua sedang berada di caffe shop.



" Venerdì questa settimana ( Jumat pekan ini )


" Ho ricevuto un incarico da mio zio di accompagnarlo a incontrare i clienti. Perché il cliente è indonesiano." ( Aku dapat tugas dari Om ku untuk menemaninya menemui klien karena kliennya itu orang Indonesia )


" Davvero?" ( Benarkah )


" Si e L'inglese di mio zio non è fluente." ( Ya dan bahasa Inggris Om aku kurang lancar ) ucap Simone.


" E poiché so parlare l'indonesiano, mio ​​zio mi ha chiesto di fare il traduttore." ( Karena aku bisa bahasa Indonesia, Om ku minta aku menjadi penerjemahnya." lanjut Simone.


Rayya terkekeh seraya menutup mulutnya mendengar ucapan Simone.


" Perché ridi?" ( Kenapa tertawa ) Simone menatap Rayya yang masih menertawakannya.


" Può tu?" ( Kamu bisa ) tanya Rayya menyudahi tertawanya.


Simone mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Rayya.


" Ti interessa fare il traduttore per mio zio?" ( Kamu minat jadi penerjemah Om aku ) Simone menyeringai.


" Quanto osi pagare? ( Berani bayar berapa ) Rayya memainkan alisnya turun naik membuat Simone tergelak seraya mengangkat kedua tangannya ke atas.


" Spero che l'incontro non coincida con la mostra di pittura, perché voglio venire alla mostra." ( Aku harap pertemuannya tidak bersamaan dengan pameran lukisannya. karena aku ingin datang di pameran itu )


" Quando incontra tuo zio il suo cliente?" ( Kapan Om kamu bertemu dengan kliennya )


" In questa settimana, ma non si conosce ancora il giorno." ( Dalam minggu ini tapi belum tahu kapan harinya )


" Se non puoi partecipare alla mostra, va bene." ( Kalau kamu nggak bisa datang di pameran, nggak apa-apa ) sahut Rayya, karena dia tak ingin membuat Simone gundah. Dia tahu Simone akan merasa tidak enak jika tidak datang datang di pameran lukisan yang juga menampilkan lukisan-lukisan Rayya.


" No, Rayya! Devo venire lì." ( Tidak, Rayya! Aku harus datang ke sana ) tekad Simone.


" Grazie mille, Simone." ( Terima kasih banyak, Simone ) Rayya kemudian menyerap vanilla latte nya. " Andiamo a casa adesso?" ( Kita pulang sekarang ) Rayya kemudian menyampirkan tasnya di pundak kemudian bangkit dari duduknya diikuti oleh Simone yang juga melakukan hal yang sama.


***


Sekitar pukul sebelas siang Ramadhan sampai di bandara Malpensa, Milan. Dan sekitar empat puluh menit kemudian dia sudah sampai di hotel yang telah dipesan oleh pihak kantor.




Dan setelah sampai di dalam kamar hotel, Ramadhan langsung menghubungi seseorang.


" Assalamualaikum, Om Edo. Apa kabar?"


Ternyata Edward yang dihubungi oleh Ramadhan.

__ADS_1


" Waalaikumsalam. hei Ricky junior. tumben kamu telepon Om. Apa kabar keluarga Papa kamu?" sahut Edward dari dalam ponsel Ramadhan.


" Alhamdulillah semua baik, Om. Rama sekarang ada di Milan lho, Om." Ramadhan memberitahukan Edward jika sekarang ini dia berada di kota yang sama dengan Edward.


" Hahh? Serius kamu, Rama?" Edward nampak kaget mendengar perkataan Ramadhan.


" Seriuslah, Om." Ramadhan terkekeh mendengar suara Edward yang nampak kaget dengan kabar yang dia berikan.


" Kamu dengan siapa ke sini? Sedang liburan?" tanya Edward kemudian.


" Liburan sekalian kerja, Om."


" Hahaha, bos mu itu tidak mau rugi memberikan cuti kepada anak buahnya cuma-cuma," cibir Edward kemudian membuat Ramadhan kembali tertawa kecil.


" Oh ya, posisi kamu di mana sekarang? Kenapa tidak kabari Om terlebih dahulu kalau mau ke sini?"


Ramadhan pun menyebutkan nama hotel tempat dia menginap.


" Sekitar lima belas menit dari tempat Om, nanti Om jemput kamu ke sana ya?"


" Oke, Om."


" Berapa lama kamu di Milan?"


" Lusa Rama harus ke Florence, Om. Jadwal dari kantor cuma empat hari di Italia." Ramadhan menjelaskan bahwa jatah yang diberikan pihak Angkasa Rayya hanya sampai empat hari di Italia.


" Setelah itu kamu langsung pulang?" tanya Edward menyayangkan jika Ramadhan langsung kembali ke Indonesia.


" Masih belum tahu sih, Om."


" Jangan pulang dululah! Jumat ini Kayla mau mengadakan acara pameran lukisannya. Kamu lihat-lihatlah dulu. Kayla pasti akan senang kalau tahu kamu ada di sini."


Ramadhan menelan salivanya. Edward memang belum tahu jika sebenarnya putri sambungnya itu sebenarnya sedang menjauhi dirinya sekarang ini.


" Hmmm, Om. Jangan dulu kasih tahu Kayla dan Tante Nadia kalau Rama ada di sini ya, Om." Ramadhan meminta agar Edward membunyikan keberadaannya di kota Milan dari Nadia dan Kayla.


" Lho, kenapa memangnya?" tanya Edward heran


" Biar kejutanlah, Om. Seperti Om tadi juga surprise 'kan Rama di sini?" Ramadhan terkekeh.


" Oke deh, terserah kamu saja yang atur. Ya sudah Om jemput kamu ke sana. Sekalian kita makan siang."


" Oke Om. Rama tunggu. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Setelah Edward menjawab salamnya, Ramadhan pun langsung mematikan ponselnya lalu berjalan ke arah balkon dan menikmati pemandangan sekitar hotel. Dan matanya kini bertumpu pada dua bangunan seperti menara kembar yang cukup unik menurutnya.



*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2