
Sejak kesepakatan antara Rayya dan Ramadhan untuk menolak perjodohan. Rayya mencoba dengan ikhlas menerima kenyataan jika Ramadhan memang tidak menginginkan dirinya menjadi pasangan pria berwajah tampan yang kini mulai memantapkan diri sebagai eksekutif muda di perusahaan properti milik Poetra Laksmana itu.
Rayya mencoba menata hatinya. Dia berusaha sekuat mungkin menyingkirkan sosok Ramadhan di hatinya. Rayya menfokuskan dirinya dengan sekolah dan belajar.
Rayya juga terus mencoba membujuk Daddy nya agar memberikan ijin kepadanya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Bukan hanya untuk melarikan diri dari rasa kecewanya atas gagalnya perjodohan dengan Ramadhan, tapi juga karena keinginannya untuk belajar menjadi pribadi yang mandiri dan ingin merasakan dunia baru tinggal di perantauan jauh dari orang tua.
Tentu saja keinginan Rayya tidak begitu saja disetujui Daddy nya. Gavin yang selama ini selalu posesif menjaga Rayya, anak perempuan satu-satunya itu tidak akan rela melepas putri cantiknya itu tinggal berjauhan dengannya. Apalagi di luar negeri yang identik dengan pergaulan bebas. Berkaca pada masa lalunya, Gavin tidak ingin putrinya itu terjebak dengan pria-pria seperti dirinya di masa lalu.
" Honey, kau harus membujuk Baby agar mengurungkan niatnya kuliah di luar negeri. Aku tidak akan tenang jika itu sampai terjadi."
Azzahra memandang suaminya yang berjalan mondar-mandir dan nampak senewen.
" Memangnya Rayya ingin kuliah di luar negerinya di mana, By?" tanya Azzahra
" Di mana pun juga aku tidak akan setuju, Honey. Kehidupan di sana tidak akan cocok untuk Baby kita." Gavin menegaskan. Dia lalu mendekat dan menangkup wajah istrinya.
" Honey, aku tidak ingin dia bernasib seperti Jovanka," ucap Gavin.
Azzahra langsung membulatkan matanya mendengar ketakutan suaminya, tangannya pun reflek menepis kedua tangan suaminya yang sedang memegangi pipinya.
" Jangan samakan Rayya dengan Kak Jo!" protes Azzahra tidak senang Gavin menyamakan Rayya dan Jovanka, mantan kekasih Gavin yang merupakan Mama dari William. " Rayya itu anak yang kita didik agama dengan baik. Rayya tidak mungkin melakukan apa.yang kalian lakukan dulu!" ketus Azzahra sewot.
" Honey maksud aku bukan menyamakan Baby dengan Jovanka. Aku cuma takut dia bertemu dengan pria ...."
" Pria buaya buntung seperti Hubby dulu gitu maksudnya?"
" Honey, aku 'kan sudah tobat dan kau lah yang buat aku tobat," Gavin kemudian mencium bibir Azzahra yang sejak awal merasakan seolah menjadi candu yang tak ada penangkalnya
" By, kita ini sedang membicarakan Rayya kenapa malah jadi modus gini, sih?" Azzahra menyudahi aksi suaminya yang mencumbunya.
" Hehe, habisnya kau ini selalu menggoda untuk aku sentuh, Honey." Gavin terkekeh.
" Sudah tua, By. Jangan genit-genit gitu, deh." Azzahra mencebik.
" Genit sama istri sendiri nggak apa-apa, kan? Asal jangan genit sama wanita lain."
" Coba saja kalau berani genit sama wanita lain!" Mata Azzahra seketika mendelik.
" Hahaha, mana mungkin aku genit sama wanita lain, Honey. Kau ini sudah menjadi candu untukku. Satu-satunya obat pemuas nafsu bira*hi ku, partner ranjangku."
" Ingat umur, By. Sudah mau kepala lima tapi kalau bahas urusan ranjang semangatnya masih menggebu-gebu mengalahkan semangat empat lima." Azzahra memutar bola matanya mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut suaminya.
" Itu yang namanya tua-tua keladi, makin tua makin menjadi." Gavin tergelak.
" Dasar me sum ..." umpat Azzahra.
" Me sum hanya sama kamu, Honey." Gavin kini memeluk tubuh Azzahra erat seakan dia melupakan kecemasan yang dia rasakan terhadap putrinya.
Sementara di dalam kamarnya, Rayya sedang menatap laptopnya. Dia sedang mencoba mencari universitas yang akan dia jadikan tempat menuntut ilmu selepas SMA karena sebentar lagi dia akan melaksanakan ujian nasional.
Dari universitas yang ada di Inggris, Italia sampai Amerika Serikat yang menurut informasi di aplikasi pencarian adalah universitas terbaik untuk orang-orang yang mempunyai jiwa seni seperti dirinya.
Rayya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
" Assalamualaikum, Kak Willy apa Rayya mengganggu waktu Kakak?" tanya Rayya setelah menunggu beberapa saat panggilannya terangkat.
" Waalaikumsalam, Kakak baru saja sampai apartemen. Ada apa Rayya telepon jam segini?" tanya William heran. Karena tak biasanya adiknya itu menelepon malam hari.
" Baru datang, ya? Wah ... Kak Willy capek banget pastinya. Ya sudah, nanti lagi saja deh ngobrolnya, Kak."
" Ada apa, Rayya? Apa ada sesuatu yang penting yang ingin Rayya sampaikan pada Kakak?" Ceritakan saja tidak apa-apa." William justru merasa penasaran.
" Bukan hal urgent sih, Kak. Hanya ingin tukar pikiran saja. Rayya ingin minta pendapat Kak Willy soal universitas yang bagus di luar negeri untuk kuliah jurusan seni." Akhirnya Rayya mengutarakan maksud dan tujuannya menelepon kakaknya dari ibu yang berbeda.
" Memang Daddy sama Auntie Rara sudah kasih ijin Rayya kuliah di luar Indonesia?" tanya William, karena dia sangat yakin Daddy nya itu tidak akan melepas adik perempuannya itu pergi jauh dari mereka.
__ADS_1
" Belum sih, Kak. Daddy masih nggak setuju Rayya kuliah jauh-jauh."
" Kalau Daddy tidak memberi ijin, apa Rayya akan bersikeras kuliah di luar negeri?" tanya William kembali.
" Kak Willy bantu Rayya menyakinkan Daddy sama Mommy dong, Kak." Rayya berharap William bisa membantunya membujuk kedua orang tuanya agar menyetujuinya universitas pilihannya.
" Hmmm, sebenarnya Kakak juga kurang yakin kamu bisa tinggal jauh dari Daddy dan Mommy kamu, Rayya." Tentu saja karena William melihat selama ini Rayya begitu dimanja bahkan terlalu diperlakukan terlalu berlebihan oleh Daddy nya membuat dia merasa tidak yakin adiknya itu akan bisa bertahan hidup dalam perantauan.
" Iiihh, kok Kak Willy bilang begitu, sih?" Rayya langsung mencebikkan bibirnya karena ternyata Kakaknya pun tidak percaya akan kemampuannya bisa hidup mandiri.
" Hehehe ... selama ini Daddy 'kan terlalu posesif sama kamu, Rayya. Karena itu Kakak kurang yakin kamu bisa hidup mandiri di negeri orang." Sambil terkekeh William menggoda adiknya.
" Karena itu Rayya ingin buktikan kalau Rayya itu bisa mandiri dan bukan wanita yang lemah, Kak." tegas Rayya.
" Hmmm, ini nggak ada sangkutannya sama perjodohan kamu yang batal kemarin, kan? Apa Rayya sengaja ingin melarikan diri dari rasa patah hati?"
Rayya terkesiap saat mendengar William menyinggung soal perjodohan. Dia bingung dari mana William tahu soal rencana perjodohan yang direncanakan orang tuanya beberapa bulan lalu.
" Kak Willy tahu dari mana soal perjodohan itu? Apa Dad cerita sama Kakak?" tanya Rayya yang menduga jika Gavin lah yang menceritakan soal perjodohannya yang gagal bersama Ramadhan kepada William.
" Bukan, Daddy bahkan tidak cerita apa-apa kepada Kakak soal ini," tepis William.
" Mommy?"
" Apalagi Mommy kamu itu, mana mungkin membocorkan rahasia anaknya."
Terdengar suara kekehan William diakhir kalimat yang diucapkannya.
" Lalu siapa? Nggak mungkin Kak Rama yang cerita sama Kak Willy, kan?"
" Hahaha ... kalau dia sampai berani bilang ke Kakak soal itu, Kakak akan bilang betapa bodohnya dia menolak adik Kakak yang cantik dan baik hati ini hingga patah hati." William berseloroh membuat Rayya semakin penasaran dengan orang yang memberikan kabar itu kepada William. Namun tiba-tiba dia teringat akan satu nama yang kemungkinan besar sebagai pelakunya.
" Kia ya, Kak?" Akhirnya Rayya menemukan satu nama yang dia duga telah membocorkan rahasianya kepada William.
" Iya."
" Kak, rencana Rayya untuk kuliah di luar negeri nggak ada sangkut pautnya sama gagalnya rencana perjodohan. Waktu itu Rayya juga sempat bilang ke Kak Willy kalau Rayya ingin kuliah di luar, kan?" Rayya berusaha menyakinkan dengan menepis dugaan kakaknya itu. Walaupun sebenarnya salah satu tujuan dia memilih ingin kuliah di negeri orang adalah ingin melupakan perasaannya kepada Ramadhan.
" Oke, oke ... jadi Rayya ingin Kakak bantu yakinkan Daddy biar kasih ijin? Tapi sejujurnya Kakak juga takut melepas kamu hidup sendirian di Negera yang belum pernah kamu tinggali sebelumnya." William pun masih belum yakin atas keputusan Rayya. " Atau Rayya kuliah di sini saja, Rayya bisa ikut sama Kakak tinggal di apartemen ini jadi Kakak bisa menjaga dan memantau kamu." William memberikan usulan.
" Tapi Rayya ingin nya yang di Inggris atau yang di Italia, Kak. Atau ...."
" Atau apa?" tanya William penasaran saat adiknya itu menjeda kalimatnya.
" Atau Kak Willy ikut pindah kuliah juga ke sana." Rayya kini bergantian memberikan usulan.
" Kakak mesti memikirkan dananya kalau harus kuliah di sana, Rayya. Kalau di sini 'kan Kakak tinggal di apartemen sendiri, tidak perlu memikirkan sewa tempat tinggal." Karena semenjak tumbuh dewasa, William menempati apartemen yang diberikan oleh Dad David sendirian, sedangkan Mommy nya diboyong oleh Peter ke tempat lain. " Berbeda kalau Kakak kuliah di sana. Selain biaya kuliah yang kemungkinan lebih besar, biaya hidup sehari-hatu dan biaya tempat tinggal juga harus dipikirkan." William menjelaskan alasannya dia tidak bisa dengan mudah pindah tempat kuliah selain ada pekerjaan yang harus dia jalani.
" Kalau urusan biaya Kak Willy tenang saja, nanti pasti Daddy akan menghandle masalah itu. Yang penting Kakak mau saja dulu temani Rayya kuliah di luar." Rayya semakin bersemangat setelah menemukan jalan keluarnya agar Daddy nya itu meluluskan keinginannya.
" Kakak tidak ingin merepotkan Daddy, Rayya." William menolak secara halus permintaan adiknya itu.
" Kak Willy nggak sayang sama Rayya, ya?" Dengan nada merajuk Rayya mencoba mempengaruhi kakak laki-lakinya itu.
" Siapa bilang Kakak tidak sayang sama kamu, Rayya? Walaupun kita terlahir dari Mommy yang berbeda tapi Kakak tetap sayang sama Rayya!" tegas William, dia merasa terusik dengan anggapan Rayya yang mengatakannya tidak menyayangi adiknya itu.
" Kalau Kak Willy sayang Rayya berarti Kak Willy mau dong kabulkan permintaan Rayya tadi?" Rayya terus berusaha mempengaruhi William agar setuju akan idenya itu.
William terdengar mendesah. " Baiklah, Kakak pikir-pikir dulu, Rayya. Kakak tidak bisa memutuskan hal ini dengan cepat karena ada beberapa pertimbangan yang mesti Kakak pikirkan." William memberikan alasan.
" Oke, Kak. Semoga Kakak bisa bantu Rayya. Makasih ya, Kak. Rayya sayang Kak Willy."
" Hmmm, ada maunya jadi bilang begitu," sindir William.
Rayya tergelak mendengar sindiran Kakaknya itu.
__ADS_1
" Ya sudah, Kak. Rayya sudahi dulu ya teleponnya. Barangkali Kakak capek mau istirahat." Rayya berniat mengakhiri panggilan teleponnya karena dia teringat William tadi baru sampai di apartemennya.
" Ya sudah kamu cepat istirahat, jangan tidur terlalu malam." William menasehati.
" Iya, Kak. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Setelah William membalas salamnya Rayya pun menutup panggilan teleponnya. Dia pun segera mematikan laptopnya lalu menaruh kembali di atas meja belajarnya. Waktu saat ini sudah mendekati pukul sepuluh malam. Rayya pun akhirnya memilih beristirahat dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
***
" Rayya serius mau kuliah di luar negeri?" tanya Azkia ketika mereka berdua menyantap baso di kantin sekolahnya saat istirahat siang ini.
" Iya, Kia." sahut Rayya.
" Memang Uncle kasih ijin?" Seperti halnya William, Azkia pun meyakini jika tidak akan mudah untuk Rayya mendapatkan ijin kuliah ditempat yang jauh dari orang tuanya.
" Rayya lagi coba bujuk Daddy sama Mommy."
" Memang sudah ada unversitas yang dituju?"
" Ada beberapa di Inggris, Italia sama USA. Tapi Rayya inginnya yang di Eropa. Berarti pilihannya antara Italia sama Inggris." Rayya menyebutkan Negera yang kemungkinan akan ditujunya.
" Italia saja kalau gitu, Ray. Biar bisa ketemu sama Kak Kayla. Siapa tahu Kak Rama ngejar Kak Kayla sampai Italia. Jauh-jauh merantau ke negeri orang nanti ujung-ujungnya ketemu lagi sama Kak Rama di sana," sindir Azkia tergelak.
" Kia ..." Rayya mencebikkan bibirnya mendengar Azkia tertawa puas mengejeknya. " Kia sendiri ada rencana melanjutkan kuliah di mana?" tanya nya mengalihkan arah pembicaraan. " Ikut kuliah sama Rayya saja, yuk! Kalau banyak yang kenal pasti Daddy kasih ijin."
" Kia kayaknya nggak akan kuliah jauh-jauh dari sini, Ray. Papa itu anaknya banyak. Banyak yang mesti dibiayai sekolah dan kuliah. Meskipun kalau Kia minta Kia yakin Papa sanggup membiayai semua, tapi Kia nggak enak saja. Kak Alden sudah kuliah di Aussie masa Kia mau ikut-ikutan kuliah di luar juga? Jadi Kia mungkin akan melanjutkan di sini saja deh, Ray. Biar Papa nggak pusing karena banyak pengeluarannya." Azkia menyadari bukan hanya dia saja yang perlu dibiayai. Apalagi sekarang ini Papanya hanya fokus mengajar dan sudah tidak lagi membantu mengelola perusahaan milik Papih Prasetya karena keterbatasan waktu. Walaupun dia tahu jika dia bersikeras Papanya pasti menyanggupi dan mampu membiayai.
" Rayya bilang sama Daddy saja, ya? Biar nanti Daddy yang biayai Kia sekolah menemani Rayya." Rayya tiba-tiba menyampaikan idenya.
" Eh, jangan-jangan, Ray! Kia nggak mau merepotkan Uncle. Lagipula Kia ingin kuliah di kampus Papa saja biar bisa terus bareng Kak Gibran. Kalau Kia pergi ke luar negeri nanti Kia nggak bisa ketemu terus dong sama Kak Gibran." Azkia menyeringai.
" Kia sudah pacaran ya sama Kak Gibran?" selidik Rayya.
" Belum resmi ..." bisik Azkia seraya terkekeh.
" Kak Gibran sudah menyatakan cinta ke Kia?" Rayya nampak surprise mendengar jawaban Azkia.
" Belum, sih. Cuma Kak Gibran pernah tanya ke Kia, mau nggak jadi pacarnya kalau sudah lulus sekolah nanti. Berarti itu 'kan tandanya Kak Gibran suka sama Kia," sahut Azkia jujur.
" Terus Kia jawab apa?" tanya Rayya antusias.
" Kia bilang baru boleh pacaran setelah lulus SMA."
" Lalu tanggapan Kak Gibran gimana?" Rayya nampak semakin penasaran.
" Nggak masalah bilangnya, dia mau tunggu Kia sampai lulus."
" Kia beruntung banget dapat Kak Gibran."
" Maksudnya Kak Gibran nggak beruntung gitu dapatin Kia?"
" Bukan itu maksud Rayya. Kia sama Kak Gibran punya perasaan yang sama. perasaan yang terbalaskan satu sama lain." Seketika dia teringat perasaannya yang bertepuk sebelah tangan terhadap Ramadhan. " Tapi kalian berdua cocok, deh. Kia nya cerewet, Kak Gibrannya yang kalem. Saling melengkapi jadinya," lanjut Rayya. Dia tidak ingin berlama-lama meratapi kesedihannya.
" Iya, kata Papa akan seperti Papa sama Mama. Itu juga alasan Kia nggak mau kuliah jauh dari sini, Ray. Karena sejauh-jauhnya menuntut ilmu, cita-cita Kia hanya satu, yaitu bisa mendapatkan pria seperti Papa yang bisa menjadi pendamping hidup kelak," ucap Azkia penuh harap seraya membayangkan sosok Gibran yang kini memenuhi hati dan pikirannya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️