
Rayya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya menatap langit-langit kamarnya. Bukan perkataan Luigi yang membuatnya termenung. Namun ucapan dari Simone yang mengatakan Ramadhan meminta nomer teleponnya sampai menghubungi Simone. Apalagi di acara tahlil tadi dia tidak melihat kehadiran sosok Ramadhan, hanya ada Arka yang mendampingi Ricky.
" Kenapa Kak Rama jauh-jauh minta nomer teleponku ke Simone?" Rayya masih bertanya-tanya heran.
Tok tok tok
" Ray, buka pintunya, dong! Rayya masih marah ya sama Kia?"
Dari arah luar kamarnya, Rayya mendengar Azkia yang berteriak memanggil namanya.
" Ray, Kia minta maaf kalau Kia sudah buat Rayya kecewa. Tapi jangan diamkan Kia kayak gini, dong!"
Rayya mendengus kasar. Dia memang kecewa dengan sepupunya itu yang tidak bisa menjaga rahasianya. Dia bahkan mendiamkan Azkia, tak mengajak bicara sama sekali sejak kemarin malam.
" Ray, ayo dong maafin Kia. Kia sedih kalau Rayya diamkan Kia begini. Nggak baik tahu marahan seperti ini." Azkia masih berusaha melunakkan hati Rayya. Namun Rayya bergeming, seolah tak memperdulikan apa yang Azkia ucapkan kepadanya.
" Ya sudah, kalau Rayya nggak mau maafkan Kia. Kia pulang dulu ya, Assalamualaikum ..." Azkia memilih menyerah membujuk Rayya yang diduganya masih marah.
" Waalaikumsalam ..." Rayya menjawab pelan ucapan salam Azkia dan tidak mungkin terdengar oleh Azkia.
Rayya memang masih belum bisa memaafkan Azkia untuk saat ini. Dia masih kesal, tapi mungkin itu tidak akan lama. Dia berjanji besok dia akan mengajak sepupunya itu bicara lagi.
***
Tok tok tok
Anindita berjalan menuju pintu kamarnya saat terdengar ketukan dari arah pintu. Dan dia mendapati anaknya yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
" Ma, maafkan Rama kalau tadi Rama sudah menyentak Mama." Ramadhan mengucapkan penyesalannya karena sikap buruknya tadi terhadap Anindita. Dia pun kemudian memeluk tubuh Mamanya.
" Ya sudah, tapi jalan ulangi lagi seperti tadi, ya!" Anindita mengusap punggung Ramadhan.
" Ma, Mama bisa bantu Rama?"
" Bantu apa?" Anindita menautkan kedua alisnya mendengar anaknya itu meminta bantuan kepadanya.
" Mama bisa bantu Rama cari nomer telepon Rayya? Rama sudah minta bantuan ke orang-orang terdekat Rayya tapi mereka enggan memberikan nomer Rayya ke Rama, Ma." Ramadhan seolah curhat kepada Anindita tentang susahnya dia berusaha mendapatkan nomer telepon milik Rayya.
" Untuk apa Rama minta nomer Rayya?" tanya Anindita.
" Rama ingin minta maaf secara pribadi kepada Rayya, Ma."
" Melalui telepon?"
" Setidaknya Rama mesti hubungi Rayya terlebih dahulu untuk mengajak dia bertemu dan berbicara. Rama nggak tahu kalau selama ini Rama sudah membuat Rayya kecewa dengan sikap Rama, Ma. Rama berpikir kalau Rayya baik-baik saja dengan keputusan itu." Ramadhan menjelaskan alasannya mencari nomer telepon Rayya.
" Siapa saja yang sudah kamu hubungi untuk meminta nomer telepon Rayya?"
__ADS_1
" Azkia, Kayla dan sahabat dekat Rayya di Italia."
" Kayla? Kamu hubungi Kayla?" Anindita kaget saat Kayla disebut oleh Ramadhan.
" Iya, karena Kayla belakangan ini bekerja sama dengan Rayya, jadi Rama pikir dia punya nomer Rayya. Tapi Kayla nggak kasih nomer Rayya ke Rama, Ma."
" Lalu Mama harus minta ke siapa? Ke Tante Rara? Setelah kejadian kemarin Mama jadi nggak enak hati sama Tante Rara, Rama." Anindita berpikir siapa yang bisa dia mintai bantuan. " Natasha." Anindita menemukan satu nama yang dia anggap bisa membantunya.
" Tante Natasha?"
" Iya, semoga Tante Natasha bisa memberi nomer telepon Rayya." Anindita segera mengambil ponselnya kemudian mencari nomer kontak Natasha.
" Halo, assalamualaikum, Nat." Anindita menyapa Natasha saat panggilan teleponnya terhubung.
" Waalaikumsalam, ada apa, Nin?" jawab Natasha.
" Kamu lagi istirahat, ya?"
" Ini baru sampai rumah habis pulang dari rumah Om David."
" Aduh, aku ganggu kamu, ya?"
" Nggak, kok. Kenapa, Nin?"
" Ini, Nat. Aku mau repotin kamu. Kamu punya nomer telepon Rayya?"
" Iya, Nat."
" Ada, sebentar aku kirim ke kamu,"
" Oke, makasih ya, Nat. Maaf ganggu, nih."
" Nggak apa-apa kok, Nin."
" Oke deh, Nat. Aku tutup teleponnya, ya. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Tak lama setelah Anindita menutup teleponnya, notif pesan masuk pun terdengar di ponsel Anindita.
" Gimana, Ma?" Ramadhan nampak tak sabar ingin mengetahui isi pesan masuk di ponsel Mamanya itu.
" Ini Mama sudah dapat nomer Rayya." Anindita langsung menunjukkan ponselnya kepada Ramadhan.
" Kirim ke nomer Rama, Ma." Ramadhan nampak bersemangat mendapati nomer ponsel Rayya yang diperolehnya dari Natasha.
" Sudah Mama kirim ke kamu," sahut Anindita.
__ADS_1
" Terima kasih, Ma." Ramadhan langsung mengecup pipi Anindita sebagai ucapan terima kasihnya kepada Mamanya itu. Setelah itu Ramadhan lalu bergegas keluar kamar orang tuanya.
" Rama ...!" Anindita memanggil putranya yang sudah hampir keluar kamarnya.
" Kenapa, Ma?" Ramadhan menghentikan langkahnya saat mendengar Mamanya memanggil namanya.
" Tolong jangan bikin Rayya semakin sakit hati dengan kamu menghubunginya sekarang ini." Anindita menasehati Ramadhan agar tidak semakin melukai hati Rayya.
" Iya, Ma." Setelah mengiyakan permintaan Anindita, Ramadhan pun kembali ke kamarnya.
Ramadhan melirik ke arah jam dinding di kamarnya. Waktu belum melewati jam sembilan malam. Dia merasa masih terlalu sore untuk Rayya tertidur, hingga membuat dia mencoba mengirimkan pesan kepada wanita yang baru dia ketahui ternyata menyimpan perasaan yang mendalam kepada dirinya.
" Assalamualaikum, Rayya. Ini aku Kak Rama. Apa Kakak mengganggu kamu?"
Ramadhan memperhatikan pesan yang dikirimnya kepada Rayya. Namun centang dua dari pesan yang dikirimnya tak juga berubah menjadi biru. Ramadhan menunggu beberapa saat lalu mengecek kembali pesan yang dikirimnya. Ternyata pesan itu masih belum juga dibaca oleh Rayya.
" Rayya, Kakak minta maaf kalau sikap Kakak selama ini sudah melukai hati Rayya. Kakak benar-benar nggak tahu kalau sebenarnya Rayya begitu menginginkan perjodohan itu."
" Rayya, kalau kamu berkenan, Kakak ingin bicara dengan kamu empat mata. Apa Rayya ada waktu untuk kita bisa berbicara secara langsung?"
Ramadhan masih menunggu pesan balasan dari Rayya. Namun jangankan pesan balasan, centang dua di sudut kanan pesan yang dikirimkannya pun tak juga berubah warna.
Ramadhan mendengus. Dia menduga jika Rayya kemungkinan sudah tidur atau wanita itu memang tidak ingin membaca pesan darinya.
***
Rayya terbangun sekitar jam setengah empat pagi sebelum waktu sholat Shubuh karena dia memang tidur cepat semalam. Seperti kebanyakan orang, selepas bangun tidur Rayya pun mengecek ponselnya. Dia mendapati pesan masuk dari Ramadhan, karena dia memang sejak lama menyimpan nomer Ramadhan.
Rayya melihat tiga pesan masuk dari pria itu, namun belum sempat membacanya.
" Dari mana Kak Rama akhirnya mendapat nomerku? Apa Simone yang memberikan? Tapi sepertinya tidak mungkin Simone." Rayya tidak yakin jika Simone lah yang memberikan nomer ponselnya itu kepada Ramadhan.
Rayya membaca satu-satu pesan yang dikirim oleh Ramadhan. Dan hatinya terasa tergigit membaca pesan kedua dari Ramadhan.
" Kiaaaa ..." Rayya mengeluhkan sepupunya itu. Karena dari ucapan Azkia lah sekarang Ramadhan tahu jika dia memang mengharapkan perjodohan dirinya dengan Ramadhan itu benar-benar terjadi.
Rayya kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kesal.
" Coba mulut Kia nggak comel, nggak akan jadi seperti ini, kan? Rayya malu sama Kak Rama karena Kak Rama akhirnya tahu kalau Rayya itu suka sama Kak Rama," keluh Rayya seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia benar-benar menyalahkan Azkia atas kejadian ini.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️