
Ramadhan menatap ponselnya. Sudah dua Minggu ini setiap pesan yang dia kirimkan kepada Rayya tidak pernah dibalas oleh Rayya. Bukan hanya tidak dibalas tapi dibaca pun tidak. Bahkan saat dia mencoba menelpon, tidak juga direspon panggilan teleponnya.
" Kenapa Rayya sama sekali nggak merespon aku? Apa dia marah padaku?" Ramadhan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Dia melihat jam saat ini menunjukkan pukul satu siang, perkiraan di Roma waktu saat ini masih sekitar jam tujuh pagi. Ramadhan menduga jika Rayya masih belum berangkat ke kampusnya.
Ramadhan mencoba mengirimkan pesan kepada Rayya, berharap Rayya akan membalas pesannya itu.
" Assalamualaikum, Rayya. Apa Rayya marah sama Kakak?"
" Kenapa pesan Kakak nggak pernah Rayya balas sekarang?"
" Apa Rayya merasa terganggu dengan pesan yang Kakak kirimkan?"
Tiga pesan langsung Ramadhan kirimkan kepada Rayya. Namun pesan yang dia kirimkan hanya bertanda centang satu.
" Apa dia nggak aktif?" Ramadhan berharap nomernya tidak sampai diblokir oleh Rayya, seperti yang pernah dilakukan oleh Kayla kepadanya saat dia menyampaikan rasa sukanya kepada wanita itu.
Ramadhan menyandarkan dan menegadahkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya. Belakangan ini dia susah menyambung komunikasi dengan Rayya. Sementara sekarang ini Farah begitu agresif mendekatinya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa Farah terlihat ingin selalu bersamanya. Padahal dia sendiri tidak pernah memberi harapan apa-apa kepada wanita itu.
***
Waktu terus berjalan, seiring dengan Ramadhan yang terus bersusah payah mendekati Rayya, di Roma pun Luigi terus dengan usahanya menaklukan hati Rayya. Tantangan Gavin bagi Luigi bagaikan lecutan yang memotivasi dirinya untuk lebih semangat untuk membuat cucu pengusaha hotel terkenal di Indonesia itu bisa membuka hati untuknya.
Seperti saat ini, Rayya sedang duduk menyesap mochacino latte saat Luigi tiba-tiba mendekatinya.
" Assalamualikum, Rayya ..." sapa Luigi yang sudah berdiri dengan membawa nampan berisi pizza dan juga satu gelas lemon ice.
" Waalaikumsalam, Signor Luigi." Rayya membalas sapaan Luigi.
" Chiamami semplicemente Luigi." ( Panggil saja saya Luigi ) Luigi memang merasa risih dengan panggilan Pak di depan namanya yang selalu diucapkan Rayya seperti mahasiswa-mahasiswa dia lainnya.
" Non, è scortese." ( Tidak, itu nggak sopan ) Walaupun dia sekarang ini berada di negara barat, tapi dia merasa tidak pantas menyebut Luigi hanya menyebut namanya saja. Apalagi posisi pria itu sebagai dosen di universitas Rayya kuliah.
" Jika begitu kamu panggil saya kakak."
Rayya membulatkan matanya, dia langsung terperangah saat mendengar Luigi berbicara menggunakan bahasa Indonesia walaupun dialek Italia nya tetap terasa kental dalam kalimat yang diucapkannya itu.
" Bapak bisa berbicara bahasa Indonesia?" tanya Rayya masih dalam keterkejutannya.
" Saya sedang belajar berbahasa Indonesia."
" Benarkah?" Rayya benar-benar tidak menyangka jika Luigi sedang mempelajari tentang bahasa Indonesia.
" Tentu saja, karena saya ... ingin bisa berkomunikasi lancar dengan keluarga kamu, Rayya."
Rayya langsung menelan salivanya mendengar jawaban Luigi yang mengatakan alasan pria itu belajar bahasa Indonesia. Rayya kemudian diam tak berani berkata apa-apa lagi. Karena dia yakin jika Luigi akan membahas soal pribadi kepadanya.
__ADS_1
" Di mana teman-temanmu?" tanya Luigi masih menggunakan bahasa Indonesia.
" Hmmm, mereka nanti menyusul kemari," sahut Rayya.
" Kau tidak makan?" tanya Luigi karena tidak melihat makanan di hadapan Rayya.
" Saya menunggu teman-teman saya datang." Rayya mberi alasan kenapa dia tidak memesan makanan.
" Se è così, mangia il mio." ( Kalau begitu makanlah punyaku ) Luigi kemudian menyodorkan pizza miliknya kepada Rayya. " Scusa, non ho memorizzato molto vocabolario indonesiano." ( Maaf, saya belum terlalu banyak menghafal kosa kata dalam bahasa Indonesia )
Rayya tersenyum mendengar ucapan Luigi yang mengatakan jika dia belum banyak menguasai kata-kata dalam bahasa Indonesia, sehingga pria itu kembali menggunakan bahasa negaranya.
" Non importa," ( Tidak masalah ) sahut Rayya kemudian. Setidaknya dia menghargai usaha Luigi yang sampai ingin belajar bahasa Indonesia.
" Mangia il mio pizza!" ( Makanlah pizzaku )
" No grazie." Rayya menolak tawaran Luigi.
" Allora devi accompagnarmi a mangiare!" ( Kalau begitu kau harus menemaniku makan ) Luigi mengambil sepotong pizza, selebihnya dia menyodorkan pizza kembali kepada Rayya )
Rayya akhirnya mengambil potongan pizza lainnya yang disodorkan Luigi kepadanya.
" Grazie." Dan Rayya pun menyantap pizza pemberian Luigi.
" Scusa ..." Luigi kemudian menarik tissue dan mendekatkan tissue itu ke dekat bibir Rayya membuat Rayya menjauhkan kepala dari tangan Luigi yang memegang tissue. " C'è rimasta della salsa." ( Ada saos yang tertinggal ) Luigi menunjuk ke dekat bibir Rayya di mana saos itu menempel.
" Mi scusa." ( Saya minta maaf ) Luigi menyatakan penyesalannya karena mungkin tindakannya dianggap tidak sopan oleh Rayya dan Rayya hanya menganggukkan kepalanya karena dia tadi merasa kaget dan malu karena saat ini dia sedang dalam pantauan puluhan pasang mata orang-orang yang ada di kantin itu.
***
Tiga bulan berlalu, kini William sudah menamatkan kuliahnya dan segera mendapat gelas Magister di salah universitas terbaik di kota Roma.
Gavin yang ingin menyaksikan kelulusan putranya itu sengaja datang bersama Azzahra. Begitu juga dengan Jovanka yang ditemani oleh Michelle, karena Peter berhalangan hadir karena ada pekerjaan mendadak ke Seoul.
Rayya dan Michelle tentu saja nampak antusias menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk acara wisuda William. Karena para wisudawan tidak mengenakan pakaian dan topi toga layaknya wisudawan di universitas negara lainnya. Tradisi Graduation day di Italia adalah pemakaian mahkota Laurel. Rayya dan Michelle juga sibuk memilih Laurel Wreath sebagai mahkota yang akan disematkan di kepala William
Mahkota yang terbuat dari daun Laurel ( Laurus Nobilis ) akan dipakaikan kepada mahasiswa yang dinyatakan lulus. Pemakaian Laurel Wreath yang dipercaya sebagai benda yang sakral jika dilihat dari sejarah dan mitologi Yunani dianggap pantas untuk merayakan kemenangan dan keberhasilan. Laurel adalah tanaman yang disucikan oleh Dewa Apollo, yang bagi orang Romawi dianggap sebagai simbol kecerdasan, kebijaksaan dan kehormatan.
" Tahun depan kau yang akan mengenakan ini, Rayya." ujar Michelle kepada Rayya seraya menaruh Laurel Wreath itu di kepala Rayya.
" Aamiin, Insya Allah ... aku bisa menyelesaikan kuliahku tahun depan." Rayya berharap.
" Rayya, aku dengar ada dosen tampan yang menyukai di kampusmu, benarkah?"
Rayya membulatkan matanya saat Michelle menyinggung dosen yang tidak lain adalah Luigi.
__ADS_1
" Simone cerita apa?" Rayya sudah bisa menebak jika Simone lah yang menceritakan soal Luigi kepada Michelle.
" Simone bilang ada dosen yang menyukaimu. Dia juga mengirimkan foto dosen itu ke aku. Memang tampan sih, tapi ..." Michelle menjeda kalimatnya.
" Tapi apa?" tanya Rayya penasaran karena Michelle tidak menuntaskan ucapannya.
" Tapi kau harus siap-siap, karena pasti mahasiswi dosen itu akan menganggapmu sebagai public enemy. Jadi jangan heran jika kamu pasti akan mendapatkan tatapan mata sinis dari mahasiswi yang pasti juga akan mengidolakan dosen itu."
Rayya tertawa mendengar ucapan Michelle,
" Kenapa kau ketawa?" Michelle menyipitkan matanya.
" Aku nggak bisa membayangkan kalau aku dimusuhi banyak orang." Rayya menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.
" Haha, aku pikir juga seperti itu. Kau ini 'kan orangnya pendiam dan kalem. Bagaimana mungkin kalau kamu harus menghadapi orang-orang yang memusuhimu? Apalagi Kak Willy sudah tidak kuliah lagi di sini, kau siap-siap saja akan diusili orang fans nya dosen itu." Michelle berusaha menakut-nakuti Rayya.
" Tenang saja, ada Simone di sini. Ada Simone yang menjagaku. Selama ini, waktu dia itu 'kan lebih banyak bersamaku daripada kamu, Michelle." Rayya terkekeh, balik meledek Michelle membuat Michelle memberengut.
" Kalian sedang berbicara apa?" Simone yang tiba-tiba mendekati mereka langsung bertanya karena melihat Rayya tertawa kecil.
" Simone, kalau nanti aku banyak musuh, kamu pasti akan melindungiku dari mereka, kan?" Rayya sepertinya masih ingin terus menggoda Michelle.
" Memang siapa yang akan memusuhimu, Rayya?" tanya Simone tak mengerti ucapan Rayya.
" Michelle bilang aku akan banyak dimusuhi mahasiswi yang mengidolakan Luigi. Aku jawab, ada kamu yang pasti akan melindungi aku. Benar 'kan, Simone?"
" Tentu saja aku akan melindungi kamu, Rayya. Om Gavin sudah menitipkanmu jika Willy sudah tidak kuliah lagi." Simone yang tidak menyadari jika Rayya sedang meledek Michelle mengatakan niatnya yang akan melindungi Rayya. Bukan hanya karena permintaan Gavin, tapi juga karena dia sangat menyayangi Rayya, meskipun hanya sebagai sahabat.
" Kau dengar itu, Michelle? Aku bilang juga apa?" Rayya tersenyum penuh kemenangan.
Michelle yang mendengar kejujuran Simone tentu saja langsung mengerucutkan bibirnya. Dia lalu pergi ke luar dari toko florist di mana mereka ingin membeli Laurel Wreath dan buket untuk William.
" Kenapa dia?" tanya Simone heran melihat Michelle yang nampak merajuk.
" Kau kejarlah dia, Simone." Rayya menyuruh Simone untuk mengejar Michelle yang sedang kesal. Dan Simone pun mengikuti apa yang diminta oleh Rayya. Pemuda tampan itu kemudian menyusul Michelle mencari tahu apa yang membuat Michelle meninggalkan mereka.
" Quanto devo pagare, signora?" ( Berapa yang mesti saya bayar, Bu ) tanya Rayya kepada penjual.
Setelah membayar pesanannya Rayya pun berjalan menyusul Michelle dan Simone yang telah keluar lebih dahulu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️