RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Ingin Diberi Kesempatan


__ADS_3

Azzahra menatap pria muda yang duduk di hadapannya. Ingatannya kembali ke masa sekitar dua puluh tahunan lalu, saat seorang anak kecil berlari menghampiri mamanya dan berteriak.


" Mama ...!"


" Ya ampun, Rama. Kenapa mulutnya belepotan seperti ini?" Anindita langsung menarik beberapa lembar tissue lalu membersihkan mulut bocah kecil itu dari bekas lelehan ice cream. " Ayo cuci dulu mulutnya. Sebentar ya, Ra." Anindita mengandeng bocah cilik itu dan menuju arah toilet meninggalkan dirinya.


Itu adalah hari pertama kali dia berjumpa dengan Ramadhan, saat anak itu berusia sekitar empat tahunan. Bocah yang terlihat tampan dan sangat menggemaskan. Siapa sangka bocah yang sangat lucu itu ternyata menjadi pria idaman putri dari Azzahra sendiri.


" Kabar Mama kamu bagaimana, Rama?" tanya Azzahra mencoba memulai obrolan kembali dengan Ramadhan.


" Mama sehat Tante. Alhamdulillah ..." sahut Ramadhan. " Tante Rara sendiri bagaimana?" Ramadhan balik bertanya kabar Azzahra.


" Ya, seperti yang kamu lihat sekarang ini. Alhamdulillah masih dikasih sehat juga." jawab Azzahra. " Oh ya, ada apa Rama kemari?" Walaupun dia tadi mendengar Ramadhan menanyakan soal Rayya, namun dia tetap berbasa-basi menanyakan tujuan Ramadhan berkunjung ke rumahnya.


" Rama sedang mencari Rayya, Tante. Sekarang ini Rayya ada di mana?" tanya Ramadhan, karena tadi Sus Imah sempat mengatakan jika Rayya tidak ada di rumahnya saat ini.


" Rama ingin bertemu dengan Rayya?" tanya Azzahra.


" Iya, Tante. Hari Sabtu kemarin Rama sengaja datang ke Roma untuk menemui Rayya, tapi ternyata Rayya nggak ada di sana." Ramadhan menjelaskan jika kemarin dia harus terbang ke Italia dan berakhir sia-sia.


" Kamu ke Roma cari Rayya?" Azzahra terkesiap saat mendengar cerita Ramadhan tentang kepergian pemuda itu ke negeri Pizza.


" Iya, Tante. Sabtu pagi Rama datang ke sana dan menghubungi Rayya, ternyata Rayya bilang dia tidak ada di sana, jadi Rama pulang lagi ke Jakarta." Ramadhan merasa jika itu adalah hal paling konyol yang dia lakukan selama hidupnya.


" Ya Allah, kasihan sekali kamu, Rama. Pulang pergi Jakarta-Roma 'kan jauh. Pasti kamu capek sekali ya?" Azzahra nampak kasihan mendengar cerita Ramadhan.


" Nggak masalah Tante, semua itu Rama lakukan. agar bisa bertemu dengan Rayya." Ramadhan mengatakan hal itu tidak menjadi masalah selama dia bisa berhasil menemukan Rayya.


" Memangnya ada apa Rama mau ketemu Rayya? Bukanya semua permasalahan kalian sudah selesai, ya?" Azzahra mempertanyakan alasan Ramadhan ingin menemui Rayya.


" Jujur saja Rama merasa bersalah kepada Rayya, Tante. Selama ini Rama nggak tahu jika Rayya menyimpan perasaan kepada Rama. Jika Rama tahu mungkin nggak akan seperti ini kejadiannya."


" Tapi Rayya sudah memaafkan Rama, kan?"


" Iya, Tante. Tapi sekarang ini sepertinya Rayya menjadi benci kepada Rama, sampai nomer Rama diblokir oleh Rayya."


" Rayya memblokir nomer Rama?" Azzahra kembali terkejut saat Ramadhan memberitahunya tentang tindakan putrinya itu memblokir nomer Ramadhan, karena setahunya putrinya itu bukanlah tipe seorang pendendam.


" Iya, Tante. Mungkin Rayya terlalu marah dan kecewa kepada Rama." Ramadhan bagaikan seorang anak yang sedang mengadu kepada orang tuanya.


" Tante nggak tahu jika Rayya memblokir nomer Rama, tapi Tante yakin hal itu dilakukan Rayya bukan karena Rayya membenci Rama. Mungkin karena Rayya ingin bisa melupakan Rama dan memulai membuka hatinya untuk pria lain. Apalagi sekarang ini ada laki-laki yang sedang mendekati Rayya dan serius ingin menjadikan Rayya sebagai pasangannya." Azzahra secara tidak langsung menyinggung soal Luigi.


" Rayya sudah punya pacar, Tante?" Ramadhan nampak kaget mendengar jika saat ini Rayya sedang dekat dengan pria lain.


" Belum menjadi pacar, tapi pria itu sedang mendekati Rayya. Dia dosen di tempat Rayya kuliah tapi dia masih muda. Dia sudah meminta Rayya secara langsung kepada suami Tante."


Entah mengapa ada rasa kecewa di hati Rama saat Azzahra menceritakan tentang pria yang hendak mendekati Rayya. Apalagi jika mendengar cerita dari Azzahra, sepertinya pria itu sudah selangkah lebih maju dibandingkan dirinya.


" Apa Rayya sudah menerima pria itu, Tante?" Ramadhan merasa penasaran dengan sikap yang diambil Rayya kepada pria yang menyukainya itu.


" Mungkin saat ini Rayya belum menerima, tapi lambat laun mungkin Rayya bisa membuka hatinya karena pria itu sangat serius menginginkan Rayya." Azzahra yang tidak berpikir jika Ramadhan sebenarnya berniat ingin diberi kesempatan untuk mendekati Rayya, dengan entengnya terus menceritakan soal Luigi.


" Tante, seandainya Rama juga ingin memiliki Rayya, Apa Tante bisa memberi kesempatan kedua kepada Rama?"


Azzahra lagi-lagi terkejut dengan perkataan Ramadhan.


" Maksud Rama?"


" Sebenarnya tujuan Rama ingin menemui Rayya di Roma adalah karena Rama ingin diberi kesempatan oleh Rayya untuk bisa mencintai Rayya." Ramadhan akhirnya mengatakan niatnya yang ingin memulai hubungan serius dengan Rayya.


" Maksud Rama, Rama ingin bersama Rayya, begitu?" Azzahra mencoba menarik kesimpulan dari apa yang dikatakan Ramadhan.

__ADS_1


" Iya, Tante. Jika Rayya masih belum menentukan pilihan, Rama berharap Rama juga diberikan kesempatan untuk bisa mendapatkan hati Rayya kembali, Tante." Ramadhan memohon kepada Azzahra agar memberikan restu kepadanya untuk mendekati Rayya.


Azzahra menarik nafas dalam-dalam. Dia tidak menyangka jika pria yang sangat diidamkan putrinya itu kini berniat untuk mendapatkan putrinya. Tapi apa hal itu masih mungkin? Sementara suaminya sudah sangat marah besar kepada Ramadhan. Belum lagi kehadiran Luigi yang juga menunjukkan keseriusannya terhadap Rayya.


" Rama, Tante nggak bisa memberi keputusan soal itu. Rama tahu sendiri bagaimana Daddy nya Rayya, kan?"


" Rama mengerti, Tante. Tapi Rama bertekad akan berusaha agar Om Gavin bisa memaafkan dan merestui niat Rama ini." tekad Ramadhan.


Azzahra kembali menghela nafas panjang. Kini dia merasa bingung sendiri dengan keberadaan dua orang yang sedang merebutkan hati Rayya dan mendapatkan restu dari suaminya.


" Tante, sebenarnya Rayya ada di mana sekarang ini?" Ramadhan kembali mananyakan keberadaan Rayya.


" Rayya saat ini sedang berlibur di rumah kakek neneknya di Bogor." Azzahra akhirnya memberitahukan di mana saat ini Rayya berada, karena dia tidak tega dengan cerita Ramadhan yang harus melakukan perjalanan pulang-pergi Indonesia-Italia.


" Apa Rama bisa minta alamat yang di Bogor, Tante?"


" Apa Rama akan ke sana?"


" Rama butuh bertemu dan bicara yang Rayya, Tante."


Azzahra kembali berpikir apa dia akan memberikan alamat rumah orang tuanya atau tidak kepada Ramadhan.


" Baiklah nanti Tante berikan alamatnya, tapi Tante mohon jangan sampai Rama membuat Rayya kecewa lagi, ya?" Azzahra meminta kepada Ramadhan agar bisa menjaga perasaan Rayya.


" Baik, Tante. Rama berjanji nggak akan mengecewakan Rayya." Ramadhan mengucapkan janjinya kepada Azzahra.


***


" Susan, apa kamu tahu ke mana Rama?" tanya Ricky saat di melihat ruang kerja putranya kosong dan tampak rapih. Padahal tadi pagi dia tahu jika anaknya itu berangkat kerja.


" Mas Rama sedang keluar, Pak." Susan menjawab pertanyaan Ricky.


" Keluar ke mana?"


" Apa Pak Dirga tahu jika Rama pergi keluar?" tanya Ricky kembali.


" Maaf, Pak Ricky. Kalau itu saya kurang tahu." Susan memang tidak tahu jika Ramadhan diijinkan pulang oleh Dirga.


" Oh, ya sudah.' Ricky pun kemudian. berjalan ke ruang kerja Dirga.


" Permisi, Pak Dirga. Apa Anda memberi tugas kepada Rama keluar kantor?" tanya Ricky sesampainya di ruangan kerja Dirga.


" Aku memberikan dia keringanan untuk beristirahat, Rick." Dirga lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya saat Ricky menanyakan keberadaan Ramadhan.


" Putramu itu baru saja melakukan perjalanan yang melelahkan, tega sekali kau sebagai orang tua membiarkan dia pergi ke kantor." Dirga lalu menyeringai seolah meledek kekonyolan putra mantan asistennya itu.


" Bukankah Anda yang memberikan ide itu?"


" Hei, kau menyalahkanku?" Seperti biasa, Dirga tidak ingin disalahkan. " Dia itu anakmu, Rick. Aku pikir dia akan sepintar dirimu!" sindir Dirga kemudian.


" Terima kasih atas pujian Anda, Pak Dirga."


" Cih, aku tidak berniat memujimu!" bantah Dirga. " Rick, kau semestinya membantu putramu itu mendekatkan dia dengan putri dari Gavin." lanjut Dirga.


" Dia itu laki-laki, dia harus bisa berjuang sendiri." Ricky menanggapi ucapan Dirga.


" Iya, kau benar juga. Jangan kita saja yang harus berjuang mati-matian mendapatkan ratu-ratu kita. Dia harus bisa memperjuangkan cintanya sendiri agar dia menjadi pria yang tangguh," ucap Dirga.


***


Setelah mendapatkan nomer telepon dari Azzahra, Ramadhan langsung meluncur ke arah Bogor. Sepertinya pria itu tidak kenal lelah demi mencapai tujuannya.

__ADS_1


Setelah dia mencari alamat rumah kedua kakek nenek Rayya akhirnya kini mobil yang dikendarainya berhenti di sebuah rumah berpagar yang kini dijaga oleh satpam.


" Assalamualaikum, permisi, Pak. Saya mau bertemu dengan Rayya. Apa dia ada?" tanya Ramadhan kepada Pak Satpam.


" Waalaikumsalam, maaf Aden ini siapa? Apa sudah ada janji dengan Neng Rayya?" tanya Pak Satpam.


" Saya Rama, Pak. Saya dapat alamat ini dari Tante Rara untuk bertemu dengan Rayya, Pak." Ramadhan sengaja menyebut nama Azzahra agar diberi ijin oleh Pak Satpam hingga akhirnya Pak Satpam itu membukakan gerbang untuk Ramadhan.


Sementara itu Rayya sedang berbincang dengan Eyang dan Eninnya di ruangan keluarga.


" Neng Rayya nanti kalau sudah tamat kuliah S1 mau lanjut kuliah lagi atau gimana?" tanya Abi Rara kepada Rayya yang sedang memijat kaki Eyangnya itu.


" Rayya sih ingin kembali ke Jakarta saja, Eyang. Mungkin setelah lulus Rayya ingin coba bikin pameran lukisan sendiri di Jakarta." Rayya menyahuti.


" Kamu sudah punya berapa banyak lukisan, Geulis?" Umi Rara tak ketinggalan ikut bertanya kepada cucunya.


" Aduh, Rayya nggak bisa itung, Nin. Yang pasti banyak sekali."


" Kata Daddy kamu, Neng Rayya pernah ikut pameran ya di sana?" tanya Abi Rara lagi.


" Iya, Eyang. Tapi itu hanya bantu teman saja, kok. Bukan Rayya bikin pameran sendiri. Tapi Alhamdulillah banyak yang suka dan ada yang terjual juga." Rayya menjelaskan.


" Memang berapa harga satu lukisan itu, Neng?" tanya Umi Rara penasaran.


" Hmmm, kalau untuk amatiran seperti Rayya, yang pasti sih, lebih besar nilai uang jajan yang Daddy kasih sebulan, Nin." Rayya terkekeh.


" Kalau lebih besar uang saku kamu kenapa mau jadi pelukis?" tanya Umi Rara heran.


" Rayya hanya ingin menyalurkan hobby saja kok, Nin. Rayya nggak memikirkan soal penghasil dulu. Selama orang menyukai dan tertarik dengan hasil karya Rayya. Itu sudah merupakan suatu kepuasan tersendiri." Kembali Rayya menerangkan tentang alasannya dia memilih mendalami seni lukis.


" Lagipula Daddy nya Neng Rayya sudah banyak uang, nggak perlu Neng Rayya repot-repot cari uang lagi, ya?" Umi Rara terkekeh.


" Punten, Neng Rayya. Ada tamu mencari Neng Rayya di luar." Idah, ART di rumah Abi Rara yang merupakan anak dari Bi Rusmi tiba-tiba masuk memberitahukan jika ada tamu yang datang ingin menemui Rayya.


Tentu saja Rayya merasa heran saat Idah memberitahukan ada yang mencarinya. Siapa yang mencari dia di sini? Karena dia merasa tidak mempunyai teman di Bogor ini.


" Memang siapa yang cari Neng Rayya, Dah? Laki-laki atau perempuan?" Justru Umi Rara yang bertanya.


" Laki-laki, Umi. Katanya sih temannya Neng Rayya dari Jakarta." ujar Idah.


" Laki-laki?" Umi Rara terkejut karena ada teman laki-laki Rayya mengunjungi Rayya di Bogor, karena Umi Rara tahu jika Gavin sangat posesif terhadap Rayya apalagi terhadap kaum adam.


" Kamu janjian sama teman kamu di sini, Neng?" tanya Abi Rara menyelidik. Tak beda jauh dengan istrinya, Abi Rara pun merasa heran cucunya didatangi teman laki-laki.


" Nggak kok, Eyang. Rayya nggak punya janji dengan siapa-siapa, apalagi dengan laki-laki." Rayya menyangkal jika dia punya janji dengan seseorang.


" Lantas siapa yang mengaku teman kamu itu, Neng?" tanya Umi Rara kembali.


" Kamu tanya siapa nama teman Rayya itu, Dah?" tanya Abi Rara.


" Orangnya bilang sih namanya Ramadhan, Umi."


Deg


Hati Rayya seakan mau copot saat mendengar nama yang disebut Idah sebagai orang yang saat ini datang ke rumah kedua orang tua Mommy nya itu.


*


*


"

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2