RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Rayya Menghilang


__ADS_3

Sepeninggal Rayya, Ricky dan Ramadhan masih berada di ruangan Dirga. Ramadhan sebenarnya ingin mengejar Rayya namun Dirga melarangnya.


" Om, kenapa Om tega melakukan hal itu kepada Rayya?" Ramadhan nampak keberatan dengan rencana yang dijalankan oleh Dirga walaupun hal itu sangat menguntungkan untuknya.


" Kenapa memangnya? Bukankah kau menginginkan bersama dengan gadis itu?" tanya Dirga santai seraya berjalan kembali ke arah kursi singgasananya.


" Iya, Rama memang menginginkan itu, tapi dengan mengancam seperti ini pasti akan membuat Rayya merasa tertekan, Om." Ramadhan menyampaikan pendapatnya.


" Rayya sangat menyayangi Daddy nya, dia pasti akan melakukan apa saja demi membebaskan Daddy nya dari masalah. Dan Gavin sangat mencintai putrinya, dia pasti akan menuruti apa yang diinginkan putrinya itu." Dirga percaya jika rencananya akan berjalan lancar.


" Tapi, Om ...."


" Sudahlah, kau percayakan saja kepada, Om. Sekarang kau kembalilah ke ruanganmu!" Dirga menyuruh Ramadhan keluar dari ruangannya


" Baik, Om." Ramadhan keluar dari ruangan Dirga, sebenarnya dia sangat mencemaskan Rayya hingga dia turun ke lantai bawah hingga lobby mencari keberadaan Rayya yang dia harap masih berada di gedung Angkasa Raya.


" Pak, tadi lihat tamu wanita yang pakai baju dan kerudung pink sudah keluar atau belum ya, Pak?" tanya Ramadhan kepada dua security yang tadi menghalang-halangi Rayya.


" Oh, tadi sudah keluar, Pak Rama." jawab security itu.


" Mobilnya sudah keluar dari sini, Pak Rama." security lainnya memberitahu, karena saat Rayya berjalan melewati mereka, mereka segera membungkukkan badannya dan kembali meminta maaf atas perbuatan mereka kepada Rayya. Setelah menerima permintaan kedua security itu Rayya lalu keluar dari gedung, namun mata security itu mengawasi Rayya sampai masuk ke dalam mobilnya hingga mobil yang dipakai Rayya keluar dari halaman parkir kantor Angkasa Raya.


" Oke, makasih, Pak." Ramadhan kembali ke ruangannya saat dia mendapatkan informasi jika Rayya sudah keluar dari kantor Dirga itu.


Sementara setelah Ramadhan keluar dari ruangan Dirga ...


" Apa Anda serius dengan rencana Anda melaporkan Tuan Gavin jika Rayya tidak menyetujui permintaan Anda, Pak Dirga?" tanya Ricky, walaupun dia tahu jika bosnya itu tidak pernah main-main dalam mengambil keputusan, namun memperkarakan seorang Gavin Richard yang notabene adalah sahabat dan relasi bisnis Angkasa Raya Group, Ricky rasa sikap Dirga terlalu riskan untuk hubungan pertemanan dan kerjasama mereka yang sudah tertanam baik sejak jaman Poetra Laksmana dan David Richard.


" Kau tahu, kalau aku tidak pernah main-main dengan keputusanku, Rick!" tegas Dirga.


" Apa Anda sudah mempertimbangkan dampak dari rencana Anda ini, Pak Dirga?" tanya Ricky kemudian.


" Tentu saja sudah aku memperhitungkan tentang hal itu! Kau tenanglah, anggap saja ini balas budiku karena jasamu dulu melancarkan jalanku bersama Rania. Karena aku lihat, putramu itu tidak pintar untuk urusan satu ini." ujar Dirga penuh keyakinan dengan keputusan yang telah dibuatnya.


***


Rayya masuk ke dalam rumahnya dengan gontai dan tangan menekan kedua pelipisnya karena dia benar-benar merasa pusing saat ini atas tekanan dari kedua belah pihak.


" Rayya, kamu dari mana, Sayang? Mommy sampai bingung cari-cari kamu. Kenapa Rayya pergi nggak bilang sama Mommy?" Azzahra yang melihat putrinya tanpa mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah langsung mendekat ke arah Rayya dengan langkah cepat.


Rayya yang mendengar suara Azzahra langsung menoleh ke arah Mommy nya itu.


" Mom ..." Rayya langsung memeluk Azzahra dan menangis di pelukan Mommy nya.


" Rayya? Kenapa, Sayang? Kenapa Rayya datang-datang menangis seperti ini?" Azzahra mengusap punggung putrinya itu dan membiarkan Rayya menangis beberapa saat dalam pelukannya.


" Ada apa, Rayya? Cerita sama Mommy, apa yang membuat Rayya seperti ini?" Setelah dia rasa Rayya cukup tenang, Azzahra lalu mengurai pelukannya. Dia kemudian membelai wajah putrinya itu. Dia melihat mata sembab Rayya hingga dia menduga jika Rayya menangis sejak tadi sebelum sampai ke rumahnya.


" Kita ke kamar, yuk!" Azzahra mengajak Rayya untuk ke kamarnya, agar lebih nyaman jika Rayya ingin bercerita tentang masalahnya.


" Ada apa, Sayang? Cerita sama Mommy!" tanya Azzahra setelah mereka berdua duduk di sofa kamar Rayya.


" Mom, Rayya bingung, Mom. Rayya ... Rayya nggak tahu harus berbuat apa? Rayya saat ini sedang berada di antara dua pilihan sulit, Mom." Rayya kembali terisak dengan menyandarkan kepala ke pundak Mommy nya.


" Apa yang membuat Rayya bingung? Pilihan apa yang saat ini sedang membuat Rayya sulit untuk memilih?" Azzahra merangkulkan tangannya di pundak Rayya.


" Daddy menyuruh Kak Luigi dan keluarganya datang kemari untuk membicarakan soal pertunangan, Mom. Daddy meminta Kak Luigi agar mempercepat pertunangan Rayya dengan Kak Luigi." Rayya menjelaskan apa yang direncanakan oleh Daddy nya itu.


" Oh ya? Daddy kamu menyuruh Luigi agar segera melaksanakan pertunangan kalian? Wah, itu 'kan bagus, Rayya. Selama ini Daddy kamu selalu menunda-menunda, sekarang Daddy kamu berubah pikiran dan menginginkan pertunangan itu dipercepat? Itu bukannya kabar gembira, ya? Lalu kenapa Rayya bingung?" tanya Azzahra heran menanggapi sikap Rayya yang terlihat tidak bahagia dengan rencana pertunangannya dengan Luigi.


Rayya mengambil ponsel di dalam tasnya lalu menunjukkan rekaman video pemukulan Ramadhan oleh Gavin kepada Azzahra.


" Astaghfirullahal adzim!" pekik Azzahra dengan kedua mata melotot saat melihat tindakan kasar suaminya yang menghajar Ramadhan.


" Ya Allah, kenapa Daddy mu melakukan ini, Rayya?" Azzahra nampak senewen melihat tindakan suaminya yang main hakim sendiri. " Darimana kamu dapat video ini, Rayya?" Azzahra kemudian melihat siapa pengirim video itu, dan dia langsung terkesiap saat dia mengetahui Dirga lah yang mengirimkan rekaman video penyiksaan terhadap Ramadhan yang dilakukan oleh suaminya.


" Rayya tadi ke kantor Om Dirga dan meminta maaf atas perlakuan Daddy terhadap Kak Rama, Mom. Tapi ...."


" Tapi apa, Rayya?" tanya Azzahra penasaran hingga memotong kalimat Rayya.


" Tapi Om Dirga mengancam akan melaporkan Daddy ke pihak berwajib kalau Rayya tidak bisa menjalankan syarat yang diminta oleh Om Dirga, Mom." Rayya menceritakan jika Dirga memberikan ancaman.


" Astaghfirullahal adzim! Om Dirga bilang begitu? Syarat apa yang diminta oleh Om Dirga, Rayya?" tanya Azzahra, bukan hanya penasaran tapi rasa cemas pun kini merayapi hati Azzahra.


" Om Dirga mengajukan syarat jika ingin Daddy tidak dilaporkan ke polisi, Rayya harus mau menikah dengan Kak Rama, Mom."


" Apa??" Bola mata Azzahra kembali melebar saat Rayya mengatakan syarat yang diminta Dirga untuk menyelamatkan suaminya yang telah melakukan kesalahan. " Kamu disuruh menikah dengan Rama? Tapi bagaimana bisa Om Dirga menyuruh kamu menikah dengan Rama? Bukankah Rama sudah bertunangan?" Azzahra dibuat bingung dengan permintaan Dirga.

__ADS_1


" Om Dirga bilang pertunangan Kak Rama dan Kak Farah sudah dibatalkan, Mom. Setelah acara pertunangan selesai malam itu, Kak Rama dan Kak Farah sepakat mengakhiri pertunangan mereka, namun hal itu sengaja nggak mereka publish dalam waktu dekat ini." Rayya menjelaskan.


" Mom, Rayya benar-benar bingung. Om Dirga memberikan waktu sampai besok kepada Rayya untuk mengambil keputusan. Jika Rayya menolak maka Daddy akan diperkarakan karena pemukulannya terhadap Kak Rama, Mom. Rayya harus bagaimana, Mom?"


" Rayya, Om Dirga itu sahabat Daddy mu, nggak mungkin Om Dirga nekat melaporkan Daddy kamu ke pihak berwajib." Azzahra yakin jika apa yang dikatakan Dirga hanya gertakan semata karena dia yakin jika suami dari sahabatnya itu tidak mungkin akan memperpanjang masalah ini.


" Tapi Om Dirga benar-benar serius dengan ancamannya, Mom. Om Dirga bahkan bilang ' jangan anggap Om nggak berani memperkarakan Daddy kamu, Rayya' Rayya takut jika ancaman Om Dirga nggak main-main, Mom.


" Rayya tenang dulu, ya! Nanti kita ceritakan kepada Daddy kamu tentang hal ini."


" Jangan, Mom! Jangan sampai Daddy tahu masalah ini! Daddy pasti akan semakin marah pada Kak Rama. Rayya juga tidak ingin hubungan Daddy dan Om Dirga jadi renggang karena Om Dirga akan melaporkan Daddy." Rayya bisa membayangkan jika Daddy nya akan marah jika tahu sahabatnya seolah mengkhianatinya.


***


Rayya benar-benar dibuat gelisah karena rencana Gavin dan Dirga hingga membuat dirinya tidak bisa tidur. Dia tidak bisa membayangkan jika Daddy nya dan Dirga sampai berseteru. Dua pengusaha terkenal yang selama ini diketahui publik sebagai sahabat kini saling bertentangan dan mungkin akan saling bermusuhan.


Rayya merasa saat ini semesta tidak mendukungnya. Dia pun tidak pernah menduga jika berada di situasi yang sulit seperti sekarang ini dengan pilihan yang akan membuatnya serba salah.


" Ya Allah, berilah petunjuk kepada hamba, agar hamba bisa menghadapi semua persoalan ini," batin Rayya seraya memejamkan matanya karena dia benar-benar merasa lelah sementara waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


Satu jam kemudian Rayya terbangun, karena dalam tidur pun dia merasakan gelisah. Rayya beranjak dari tidur lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu. Rasanya dia tidak bisa membuat keputusan tanpa bantuan-Nya.


Lebih dari setengah jam Rayya bersimpuh memanjatkan doa dan memohon petunjuk dari Dzat pencipta jagat raya ini. Setelah itu dia kembali mencoba mengistirahatkan tubuhnya hingga dia terbangun kembali saat adzan Shubuh berkumandang.


Selepas melaksanakan ibadah sholat Shubuh. Rayya mengambil sebuah backpack. Dia menyusun beberapa baju, mukena travel, charger dan juga power bank ke dalam tas ransel itu.


Rayya memutuskan jika sementara ini dia ingin pergi dari rumahnya karena dia ingin menenangkan diri sementara waktu.


***


Setelah keluarga Gavin melaksanakan sarapan pagi, Gavin pun berpamitan kepada keluarganya.


" Honey, aku berangkat dulu." Gavin merangkul tubuh Azzahra kemudian mengecup kening istrinya itu.


" Hati-hati ya, By." sahut Azzahra seraya mencium punggung tangan suaminya.


" Iya, Honey." Gavin kemudian mengurai pelukannya lalu kini berganti merangkul tubuh putrinya.


" Baby, jangan marah terus sama Daddy, Daddy lakukan semua itu, karena Daddy sangat menyayangimu." Gavin pun mengecup pucuk kepala Rayya. Dan Rayya hanya menganggukkan kepala tak menjawab perkataan Gavin.


Selepas berpamitan kepada Azzahra, Rayya dan kedua anak lelakinya, Gavin pun berangkat ke kantornya.


" Lho, Non Rayya mau ke mana?" tanya Pak Rudy.


" Hmmm, Rayya mau ke rumah Eyang, Pak." sahut Rayya. " Rayya mau pamitan ke Mommy dulu ya, Pak." Rayya kemudian bergegas masuk ke rumahnya kembali.


" Mom, Rayya mau ijin ke rumah Eyang, ya." Rayya berpamitan kepada Azzahra.


" Ke rumah Eyang? Rayya mau ke Bogor? Rayya sudah bilang sama Daddy kalau Rayya ingin ke rumah Eyang?" Azzahra terkejut saat mendengar Rayya akan ke rumah kakek dan neneknya karena dia tidak ada pembicaraan sebelumnya tentang rencana Rayya yang ingin ke Bogor.


" Mommy saja yang kasih tahu Daddy." Rayya enggan meminta ijin kepada Daddy nya.


" Rayya nggak boleh begitu sama Daddy kamu, Sayang. Daddy itu sayang sama Rayya. Rayya telepon Daddy dulu, bilang Rayya mau berlibur di Bogor sementara waktu." Azzahra membujuk Rayya agar berpamitan kepada Gavin.


" Rayya nggak mau, Mom. Kalau Rayya bilang sama Daddy sekarang, nanti Daddy melarang. Mommy saja nanti yang bilang ke Daddy." Rayya tetap enggan berpamitan kepada Gavin.


" Rayya, kalau Mommy yang disuruh pamitan sama Daddy, nanti Mommy disalahkan lagi sama Daddy kamu. Cepat Rayya minta ijin dulu sama Daddy, nanti Mommy bantu kalau Daddy melarang." Azzahra pun tetap menganjurkan Rayya untuk tetap meminta ijin kepada Gavin. Dan akhirnya dengan sangat terpaksa Rayya menghubungi Gavin.


***


" Pak, nanti berhenti di mini market sebentar, ya!" Rayya meminta Pak Rudy untuk berhenti sebentar di mini market yang letaknya seratus meter dari mobilnya berada saat ini.


" Baik, Non." Pak Rudy akhirnya menepikan mobilnya di sebuah mini market.


" Pak tolong belikan minuman coffe di dalam mini market itu. yang Avocadoffee Frape ya, Pak." Rayya lalu menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada Pak Rudy. " Kalau Pak Rudy mau beli saja sekalian." ujar Rayya.


" Baik, Non." Pak Rudy pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam mini market.


Rayya yang melihat Pak Rudy sudah masuk ke dalam mini market langsung bergegas keluar mobil dengan membawa ranselnya. Dia lalu berlari menjauh dari mini market itu dan menghentikan mobil angkot walaupun dia tidak tahu mobil itu akan menuju ke arah mana.


***


Beberapa jam setelahnya, terjadi kericuhan di rumah Gavin sejak diketahui menghilangnya Rayya hingga membuat Gavin murka. Pak Rudy yang rencananya mengantar Rayya ke Bogor tak luput dari amarah Gavin.


" By, di mana Rayya ini, By?" Azzahra nampak menangis dan senewen, karena dia mendapat kabar dari Uminya jika Rayya tidak ada di Bogor.


" Kenapa kau lepas Baby pergi sendirian, Honey? Seharusnya kau mengatar Baby ke rumah orang tuamu lalu kau bisa kembali ke Jakarta." Kembali Gavin seolah menyalahkan Azzahra.

__ADS_1


" Aku nggak tahu kalau akan seperti ini, By! Hubby jangan menyalahkan aku, dong! Hubby lah yang membuat Rayya menghilang seperti ini!" Azzahra menyangkal tuduhan Gavin dan kini membalikkan tudingan jika suaminya lah yang membuat putrinya menghilang.


" Aku? Kau bilang ini kesalahanku?"


" Iya! Kalau Hubby tidak meminta Luigi untuk mempercepat pertunangan, Rayya tidak mungkin kebingungan seperti! Dan Kalau bukan karena Hubby menganiaya Rama, Rayya tidak merasa tertekan dengan ancaman Pak Dirga kepadanya!" Azzahra akhirnya menceritakan apa yang membuat anaknya memilih kabur.


" Apa kau bilang, Honey? Ancaman Dirga? Memangnya Dirga mengancam apa?" Gavin menatap penuh selidik.


" Iya, Pak Dirga mengancam akan melaporkan Hubby yang telah menganiaya Rama jika Rayya tidak mau memenuhi keinginannya."


" Keinginan? Keinginan apa?" tanya Gavin menelisik.


" Pak Dirga meminta Rayya untuk menikah dengan Rama," aku Azzahra.


" Apa?? Dirga menyuruh Rayya menikahi Rama? Apa dia sudah gi la menyuruh anakku menikah dengan si breng sek itu?! Berani sekali dia mengancam putriku!" Gavin lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi nomer Dirga.


Beberapa kali Gavin mencoba menghubungi ponsel Dirga, namun ponsel sahabatnya itu tidak dapat dihubungi olehnya.


" Ayo angkat, Dirga! Berani-beraninya kau menekan Baby seperti ini!" geram Gavin penuh emosi.


Karena Gavin tidak bisa menghubungi Dirga, akhirnya dia mencoba menghubungi Ricky yang kini menjabat sebagai wakil dari Dirga.


" Assalamualikum, Tuan Gavin ...."


" Di mana Bosmu?!"


Ricky dan Gavin berucap secara bersamaan.


" Pak Dirga sedang tidak ada di tempat, Tuan." Ricky langsung menjawab pertanyaan Gavin karena dia sudah menduga jika Gavin sudah mengetahui tentang ancaman Dirga yang disampaikan kepada Rayya.


" Apa yang kalian rencanakan sebenarnya? Apa Kau ingin memanfaatkan keluguan putriku untuk keuntungan anakmu?!" Gavin berkata dengan nada tinggi dan penuh penekanan.


" Maafkan saya, Tuan Gavin. Saya sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang direncanakan oleh Pak Dirga." Ricky mengatakan hal yang sebenarnya.


" Kau bilang Anda tidak tahu? Si breng sek itu adalah anakmu, Ricky! Bagaimana kalian tidak saling tahu tentang rencana ancaman Dirga? Atau ... jangan-jangan kalian ini yang saat ini menyembunyikan putriku! Katakan di mana putriku kalian sembunyikan?!" geram Gavin penuh emosi.


" Maaf, Tuan Gavin. Maksud Tuan Gavin apa dengan mengatakan jika kami menyembunyikan putri Anda?" tanya Ricky menanggapi tuduhan Gavin yang mengatakan jika dia dan Dirga menyembunyikan Rayya.


" Putriku menghilang! Ini pasti ada campur tangan kalian semua!" tuduh Gavin kembali.


" Rayya menghilang??" Suara Ricky nampak terkejut saat mengetahui jika Rayya saat ini menghilang. " Menghilang di mana, Tuan?" Ricky pun nampak cemas.


" Kau jangan berlagak tidak tahu, Ricky!"


" Tuan Gavin, demi Allah ... saya tidak tahu soal menghilangnya Rayya." Ricky menyangkal tudingan Gavin.


" Kau ingat, Ricky! Kalau terjadi sesuatu kepada putriku, akan aku habisi kalian semua!" amuk Gavin murka.


***


Sekitar pukul sepuluh pagi pesawat yang membawa Dirga dari Jakarta mendarat di Fiumicino, Roma.


" Papa ..." Kayla berlari menyambut kedatangan Dirga.


" Kayla, Sayang." Dirga pun langsung merentangkan tangannya menyambut putrinya yang berlari menyambutnya.


" Papa Dirga apa kabar? Kayla kangen sama Papa." Kayla memeluk erat tubuh pria yang merupakan Om nya.


" Papa baik, Sayang. Papa juga kangen sama Kayla."


" Papa pasti lelah sekali, kan? Kenapa nggak ke Milan dulu saja sih, Pa? Bertemu Papa Edo dan Mama." tanya Kayla karena Dirga menghubungi dan memintanya untuk menjemput Dirga di Roma.


" Papa nanti akan bertemu dengan Papa Mamamu setelah urusan di sini selesai."


" Papa ingin langsung bertemu dengan orang itu?" tanya Kayla.


" Ya, Papa ingin masalah ini beres. Papa juga ingin berbalas budi kepada Om Ricky karena dia sudah banyak membantu Papa dan perusahaan Kakek Poetra selama ini," ujar Dirga.


" Ya sudah kalau begitu kita bertemu orang itu lalu Papa bisa langsung beristirahat di Milan." Kayla kemudian membawa Dirga menuju mobilnya dan keluar dari bandara yang juga dikenal sebagai Leonarda da Vinci.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2