RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Aku Akan Datang Untukmu, Tuan Putri


__ADS_3

Acara pembukaan pameran lukisan Kayla akhirnya dimulai. Diawali dengan sambutan dari Kayla yan terlihat sangat lugas dan nampak elegan berbicara memberikan penjelasan tentang tujuan dia mengadakan pameran itu kepada tamu undangan yang hadir yang duduk di kursi yang sudah disediakan oleh panitia.


Rayya terus memperhatikan Kayla yang masih memberi sambutannya. Dia merasa tak heran jika Ramadhan menyukai wanita itu. Walaupun tidak secara gamblang Ramadhan mengatakan jika wanita yang disukai pria itu adalah Kayla, dan Kayla sendiri mengatakan jika dia tidak pernah berpacaran dengan pria Indonesia. Namun Rayya merasa yakin jika Kayla lah wanita yang dimaksud oleh Ramadhan sebagai wanita yang sudah membuat pria itu jatuh hati.


" Ho anche invitato uno dei miei migliori amici. Anche lei è una donna indonesiana e guarda caso continua studi artistici all'università di Roma. Ho invito la signorina Rayya Faranisa a tenere la sua discorso." ( Saya juga mengundang salah satu teman baik saya. Ia juga seorang wanita Indonesia dan kebetulan melanjutkan studi seni di Universitas di Roma. Saya persilahkan kepada Nona Rayya Faranisa untuk menyampaikan sambutannya )


Rayya mengerjap dan tersentak kaget saat mendengar Kayla memanggil namanya dan meminta dirinya untuk maju untuk memberikan sambutan. Dan seketika itu juga semua mata tertuju kepadanya karena Kayla menunjuk ke arahnya.


Rayya tiba-tiba diserang rasa nervous harus berbicara di depan orang-orang yang sama sekali tidak dia kenal. Namun dia tidak mungkin menolak permintaan Kayla itu.


Rayya akhirnya bangkit dan berjalan menghampiri Kayla dengan jantung yang berdebar-debar.


" Buongiorno Signore e signori. Ringrazio in anticipo la Signorina Kayla per avermi dato l'opportunità di partecipare alla sua mostra di pittura. È un onore per me poter esporre i miei dipinti a un evento come questo. E spero che le signore e signori apprezzeranno la mia dipinto. Grazie." ( Selamat pagi tuan dan nyonya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Nona Kayla yang telah memberikan saya kesempatan untuk mengikuti pameran lukisannya. Suatu kehormatan bagi saya bisa memamerkan lukisan saya di acara seperti ini. Dan saya berharap tuan dan nyonya akan menyukai lukisan saya. Terima kasih )


Rayya tidak banyak memberikan sambutannya karena dia memang tidak mempersiapkan apa-apa untuk bicara di depan tamu undangan.


Tak lama setelah itu, acara pameran pun resmi dibuka untuk umum. Beberapa tamu undangan nampak melihat-lihat karya seni yang ditampilkan oleh Kayla yang merupakan karya lukisannya, Almarhum Bima dan juga Rayya.


Rayya nampak senang karena ternyata banyak juga yang tertarik dengan karya lukisannya. Tak jarang juga dia memberikan penjelasan kepada pengunjung akan lukisan yang dibuatnya itu.


" Da quando le piace dipingere, Signorina?" ( Sejak kapan Anda suka melukis, Nona ) Seorang pengunjung bertanya kepada Rayya.


" Fin dalle elementari mi interessano gli scarabocchi e il disegno, signore." ( Sejak SD saya sudah tertarik dengan mencorat-coret dan menggambar, Tuan ) Rayya terkekeh menjawab pertanyaan pengunjung itu.


" È la prima volta che partecipi a una mostra di pittura?" ( Ini pertama kalinya Anda mengikuti pameran lukisan ) tanya pengunjung tadi kembali.


" Giusto, Signore." ( Benar, Tuan )


" Hmmm, la tua dipinto è così bello, è un peccato se non lo mostri." ( Hmmm, lukisanmu indah, sayang sekali jika tidak dipamerkan ) ucap pria itu seraya mengusap rahangnya.


" Grazie mille, Signore." Rayya mengucapkan terima kasih karena ucapan pujian pria itu.


" Abiti a Roma? ( Apa kamu tinggal di Roma )


" Si, Signore." ( Ya, Tuan )


Pria itu lalu mengambil sesuatu dari saku bagian dalam blazernya. Dia mengeluarkan dompet kartu lalu mengambil sebuah kartu nama dan menyodorkannya kepada Rayya.


" Questo è il mio biglietto da visita. Sono titolare di una galleria a Roma. Se vuoi organizzare una mostra come questa puoi contattarmi." ( Ini adalah kartu nama saya. Saya pemilik galeri di Roma. Jika Anda ingin mengadakan pameran seperti ini, Anda dapat menghubungi saya )


" Grazie mille, Signore." ( Terima kasih banyak, Tuan ) Rayya menerima kartu nama itu dengan hati senang. Dia sangat puas karena ternyata ada yang memberi apresiasi kepada karyanya


***


Firenze


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Baik Ramadhan dan Simone nampak gelisah melirik arloji di tangannya. Tentu saja karena mereka berdua sama-sama ingin menghadiri pameran lukisan Kayla dan Rayya.


" Grazie per essere passato, Signor Pratama. Si spera che la nostra cooperazione possa fare in modo che i progetti di proprietà di Angkasa Raya attirino molti consumatori lì."

__ADS_1


" Terima kasih atas kedatangan Anda kemari, Tuan Pratama. Semoga kerjasama kita ini akan membuat proyek Angkasa Raya banyak diminati oleh konsumen di sana," ujar Simone mengatakan ucapan Mr. Graziano.


" Sama-sama. Tuan Graziano. Saya harap juga begitu," sahut Ramadhan.


" Spera così anche lui." ( Dia harap juga begitu ) Simone berkata kepada Mr. Graziano.


" Apa Anda akan kembali ke Jakarta, Tuan?" tanya Simone.


" Ah, tidak. Saya akan kembali ke Milan terlebih dahulu karena saya ingin menghadiri pameran lukisan teman saya yang tinggal di Italia." Ramadhan mengatakan kepada Simone kalau dia harus ke Milan.


Simone mengeryitkan keningnya.


" Ke Milan? Pameran lukisan? Kebetulan sekali saya juga ingin ke Milan dan saya juga ingin menghadiri pameran lukisan teman saya," sahut Simone kemudian.


" Benarkah? Kalau begitu bagaimana jika Tuan Simone mengantar saya? Itu kalau Anda tidak keberatan, Tuan." Ramadhan berharap Simone bisa mengantarnya kembali ke Milan.


" Oh tentu saja tidak, Tuan. Saya akan dengan senang hati mengantar Anda." Simone nampak tidak keberatan mengantar Ramadhan.


Dan setelah Mr. Graziano pergi terlebih dahulu, Ramadhan dan Simone pun segera menuju stasiun kereta api Santa Maria Novella di kota Florence.


***


" Oh ya, Anda bilang kalau Anda ingin menghadiri pameran lukisan di Milan. Di mana tempat pamerannya?" tanya Simone saat mereka kini duduk di kereta api dalam perjalanan menuju kota Milan.


" Sebentar, saya lupa namanya." Ramadhan lalu mengambil ponselnya untuk melihat agenda di ponselnya itu lalu dia menyebutkan kepada Simone nama tempatnya. Dan Simone nampak terkejut karena tempat yang dituju Ramadhan sama dengan dirinya.


" Wah, saya juga kebetulan ingin ke sana," sahut Simone.


" Iya, benar. Anda bilang kalau teman Anda itu yang mengadakan lukisan? Siapa nama teman Anda itu, Tuan Pratama?" Simone merasa penasaran.


" Teman saya itu Kayla, Kayla Nadira Poetri." Ramadhan tersenyum saat menyebut nama wanita yang sudah menarik hatinya itu. Walaupun sudah ditolak Kayla, dia nampak tak pantang menyerah.


" Kayla? Jadi Kayla itu teman Anda, Tuan?" Simone sudah menduga kalau Kayla lah yang dimaksud Ramadhan karena yang mengikuti pameran itu hanya Kayla dan Rayya. Sedangkan Rayya, dia yakin jika bukan wanita itu yang dituju oleh Ramadhan.


" Anda kenal Kayla juga, Tuan Simone?" Ramadhan mengeryitkan keningnya karena mengetahui jika Simone juga sepertinya mengenal Kayla juga. Dia langsung mencurigai sesuatu. Jika Kayla mengatakan jika dia sudah punya kekasih dan Simone pun berkata jika temannya mengadakan acara pameran dan ternyata tujuan mereka sama. Apakah Simone adalah pria yang dimaksud oleh Kayla? Itu yang seketika muncul di benak Ramadhan.


" Ya saya hanya sepintas kenal dia. Karena teman saya lah yang sebenarnya berteman dengan Kayla. Dan Kayla lah yang mengajak teman saya untuk memamerkan hasil lukisannya."


Ramadhan menarik nafas lega karena dugaannya tak terbukti.


" Oh begitu ...."


" Teman saya yang kemarin saya ceritakanlah yang berteman dengan Kayla."


" Begitu, ya? Suatu kebetulan sekali ya, teman saya dan teman Tuan Simone ternyata berteman." Ramadhan terkekeh.


" Benar sekali, Tuan Pratama."


" Sebaiknya Anda panggil saja saya Rama." Karena merasa panggilan Tuan dianggapnya terlalu formal, Ramadhan meminta Simone untuk memanggilnya dengan sebutan nama kecilnya saja.

__ADS_1


" Baiklah, Rama. Anda juga cukup panggil saya Simone."


" Oke," ucap Simone kemudian dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Rayya.


" Ciao Rayya. Sono in treno per Milano. Verrò per te Principessa❤️." ( Hai, Rayya, saya sedang di kereta menuju Milan. Aku akan datang untukmu, Tuan Putri )


***


Setelah sekitar dua jam akhirnya kereta api yang membawa Ramadhan dan Simone sampai di stasiun kereta api Milano Centrale di kota Milan. Mereka pun kemudian memesan taxi menuju gallery pameran lukisan Kayla.


Sekitar hampir lima lewat lima belas menit mereka berdua sudah sampai tujuan.


Ramadhan tersenyum melihat Kayla yang sedang berbincang dengan beberapa pengunjung. sedangkan Simone sendiri tidak mencari keberadaan Rayya.


Ramadhan dan Simone berjalan mendekat ke arah Kayla.


" Hai, Kay." Sapa Ramadhan saat orang yang bicara dengan Kayla mulai pergi.


Kayla yang menoleh ke arah Ramadhan langsung dibuat terkejut dengan kehadiran Simone bersama dengan Ramadhan.


" Simone?"


" Ciao, Kayla. come stai?" ( Hai, Kayla. Apa kabar ) Simone mengulurkan tangannya.


" Io sto bene." ( Aku baik-baik saja ) Kayla pun menerima uluran tangan Simone.


" Come sei venuto con lui?" ( Bagaimana kamu bisa datang dengan dia ) tanya Kayla yang sengaja menggunakan bahasa Italia agar Ramadhan tidak mengerti obrolannya bersama Simone.


" Hei, kalian berdua bisa menggunakan bahasa Indonesia. Apa kalian berdua sedang membicarakan aku?" Ramadhan yang tidak mengerti bahasa Italia nampak kesal membuat Simone terkekeh sedang Kayla nampak memutar bola matanya.


" Oh ya, di mana dia?" tanya Simone mencari keberadaan Rayya.


" Ada di dalam, tadi dia mengantar tamu yang ingin lihat lukisan di belakang." Kayla menyahuti. " Sepertinya sudah tidak sabar ingin ketemu, ya?" Kayla meledek Simone.


" Sudah pasti, karena sejak Rabu tidak berjumpa." Simone terkekeh.


" Nah, itu dia!" Kayla menunjuk ke arah Rayya yang berjalan dari arah belakang.


Ucapan Kayla sontak membuat Ramadhan dan Simone menoleh ke arah yang ditunjuk Kayla.


" Ciao, Simone ..." sapa Rayya dengan senyum mengembang seraya berjalan mendekati Simone. Namun seketika senyumnya menyurut saat dia mendapati kehadiran sosok pria yang berdiri dekat dengan Simone dan juga Kayla.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2