
Berita yang disampaikan benar-benar membuat Rayya tersentak kaget hingga membuat hatinya kacau seketika.
" Eh, eh ... Rayya jangan pingsan dulu, dong. Kia 'kan belum selesai ceritanya." Azkia memegangi tangan Rayya
" Nggak, kok! Rayya nggak pingsan ..." tepis Rayya.
" Kia sudah bilang kok ke Mama untuk menolak permintaan Tante Anin yang ingin menjodohkan Kia dengan Kak Rama, jadi Rayya tenang saja, Kia nggak akan menikung Rayya. Kia sudah kasih tahu Mama kalau Rayya suka sama Kak Rama, jadi nggak mungkin dong, Kia mau menerima dijodohkan gitu." Azkia mencoba menjelaskan agar sepupunya itu tidak menjadi salah paham.
" Kia kenapa buka rahasia sama Auntie segala?"
" Cieee, yang sekarang mengakui suka sama Kak Rama." Azkia langsung tertawa karena merasa berhasil menjebak Rayya mengakui rasa sukanya terhadap Ramadhan.
" Kia apaan, sih." Rayya langsung merona hingga akhirnya dia menutup wajah dengan tangannya
" Kalau memang suka bilang saja suka nggak usah ditutup-tutupi juga kali." Azkia terus meledek Rayya.
" Sudah, ah. Rayya mau melukis lagi." Rayya hampir bangkit dari duduknya namun tangan Azkia dengan cepat menahan lengan Rayya.
" Tunggu dulu. Kabar yang mau Rayya sampaikan ke Kia apa?" tanya Azkia kemudian
" Nggak jadi, deh." Rayya menyahuti. Dia mengurungkan niatnya memberitahukan Azkia soal perjodohannya dengan Azkia saat dia tahu ternyata Mama dari Ramadhan itu ternyata punya rencana lain untuk putranya. Rayya merasa Azkia pasti akan menertawakannya jika dia cerita soal rencana Daddy nya itu.
" Rayya jangan curang, ya! Kia sudah cerita dengan jujur, sekarang Rayya nggak mau cerita ke Kia tentang kabar baik yang Rayya punya." Azkia memprotes sikap Rayya yang dinilainya curang tak ingin membuat dirinya tahu apa yang sedang dialami Rayya.
" Bukan hal penting kok, Kia."
" Penting atau nggak penting Rayya harus cerita ke Kia karena Rayya tadi niat ingin cerita sama Kia. Kalau Rayya nggak mau cerita juga, Kia nggak mau ngomong lagi sama Rayya!" ancam Azkia seraya berdiri ingin beranjak pergi.
" Iya, iya, nanti Rayya cerita. Tapi Kia jangan cerita ke siapa-siapa dulu, ya?" Rayya meminta Azkia menjaga rahasianya agar tidak diketahui banyak orang.
" Oke, Kia janji." Azkia mendudukkan tubuhnya kembali ke bangku taman.
" Kia tahu nggak? Kalau Dad Gavin dan Om Ricky mau menjodohkan Rayya dengan Kak Rama."
" Hah? Sumpeh, lu?!" pekik Azkia kaget.
" Iihh, Kia bahasanya yang bagus dong kalau bicara sama Rayya." Rayya memang selalu memprotes jika Azkia berbicara dengan bahasa informal yang sering digunakan kebanyakan orang namun terasa tidak cocok di telinganya.
" Hehe, sorry, Ray. Maksud Kia, memang beneran Uncle mau menjodohkan Kak Rama dengan Rayya? Kok bisa? Apa Rayya cerita ke Uncle kalau Rayya suka Kak Rama? Tapi kenapa Tante Anin malah ingin menjodohkan Kak Rama dengan Kia, ya? Jangan-jangan karena Tante Anin tahu Om Ricky pilih kamu terus Tante Anin menghubungi Mama Tata minta Kia yang berjodoh dengan Kak Rama karena Tante Anin lebih suka Kia dari pada Rayya? Sungguh pelik masalahnya." Azkia memijat pelipisnya seakan mencari jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan sendiri.
__ADS_1
" Memang Tante Anin nggak suka sama Rayya ya, Kia?" Mendengar ucapan Azkia yang mengatakan jika Anindita lebih memilih Azkia membuat Rayya seketika insecure.
" Memang Tante Anin nggak suka Rayya?" Azkia malah balik bertanya.
" Tadi 'kan Kia yang bilang."
" Iisshh ... itu 'kan hanya dugaan, Rayya. Rayya jangan baper dulu, deh!" Azkia memutar bola matanya kemudian melirik ke arah Rayya.
" Rayya pasti senang banget dong dijodohkan dengan Kak Rama?"
Rayya pun kini melirik ke arah Azkia seraya tersipu malu dengan pipi yang mulai bersemu.
" Cieee, cieee ... yang bentar lagi mau dikawinin sama pujaan hatinya, cieee ..." ledek Azkia menggoda sepupunya.
" Kia, iihh ..." Rayya kemudian mencubit Azkia yang terus saja meledek hingga mereka berdua akhirnya tertawa bersama. Sepertinya rasa bahagia yang dirasakan oleh Rayya tertular kepada Azkia.
Sementara itu dari arah pintu teras belakang rumahnya, Azzahra nampak memperhatikan kedua gadis remaja yang sedang tertawa riang. Entah apa yang sedang dibicarakan mereka berdua Azzahra tidak mengetahuinya.
" Ya Allah, semoga keputusan suami hamba tidak menjadi boomerang untuk Rayya," batin Azzahra berharap.
***
" Ada masalah apa, Ma?" tanya Ramadhan bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Anindita.
" Temui Papa kamu dulu yuk!" Anindita menggandeng lengan putrnya yang kini tingginya sudah jauh melebihi dirinya.
Mereka berdua, ibu dan anak itu pun kemudian berjalan ke arah kamar kerja Ricky yang ada di samping kamar utama Ricky dan Anindita.
" Ada apa, Pa?" tanya Ramadhan saat memasuki ruangan kerja Papanya.
" Duduklah dulu!" perintah Ricky.
Ramadhan menuruti apa yang diperintahkan oleh Papanya hingga dia kini duduk di samping sofa yang diduduki Ricky juga Anindita.
" Ada masalah apa, Pa?" Ramadhan merasa penasaran atas masalah yang ingin disampaikan Papanya, karena dia menduga hal yang ingin dibicarakan tidaklah berhubungan dengan pekerjaan. Kehadiran Anindita lah yang membuat Ramadhan meyakini itu.
" Rama, kamu tahu? Setiap orang tua ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya semampu kami berusaha, termasuk memilihkan calon pendamping hidup kamu nantinya."
Ramadhan menatap ke arah Ricky lalu menatap lekat ke arah Anindita. Dia sudah bisa menyimpulkan arah pembicaraan akan tertuju ke mana.
__ADS_1
" Kami ingin kamu kelak hidup bersama wanita yang baik, yang sayang dengan kamu dan keluarga kita ini. Yang bisa menjadikan kamu menjadi pribadi yang lebih baik seperti yang Mamamu ajarkan ke Papa selama ini." Ricky menautkan jarinya dengan jemari Anindita seraya melirik istrinya yang juga melakukan tindakan yang sama dengan Ricky. " Dan tentu saja yang kami restui untuk menjadi pendamping kamu," lanjutnya.
" Papa dan Tuan Gavin kemarin sempat bertemu dan berbincang. Tuan Gavin ingin berbesan dengan kita dengan menikahkan putrinya dengan ...."
" Tunggu dulu, Pa. Papa nggak berencana menjodohkan Rama dengan anaknya Om Gavin, kan?" Ramadhan memotong ucapan Ricky.
Sementara Anindita nampak menahan nafasnya saat anaknya itu memotong perkataan Ricky. Dia sudah menduga jika anaknya itu akan keberatan jika harus dijodohkan dengan Rayya.
" Justru Tuan Gavin memilih kamu yang akan dijodohkan dengan putrinya." Ricky menjekaskan.
" Ya ampun, Pa. Ini jaman modern, kenapa harus menjodoh-jodohkan anak? Anak Om Gavin itu 'kan masih ABG, baru genap tujuh belas tahun juga sedangkan Rama sudah dua puluh tiga tahun. Masa Rama harus pacaran sama bocah? Kenapa nggak dijodohkan dengan Arka saja yang seumuran? Kenapa harus Rama? Lagipula Papa tahu siapa wanita yang Rama sukai, Rama nggak mungkin berpaling kepada wanita lain!" Ramadhan menentang keras perjodohan dirinya dengan Rayya.
" Rama, kamu harus menghormati permintaan Tuan Gavin. Kau tahu keluarga David Richard itu bukan keluarga sembarangan. Mereka salah satu orang penting di negeri ini. Banyak orang tua yang berlomba ingin berbesan dengan Tuan Gavin tapi Tuan Gavin berminat menjadikan kamu menantunya, mestinya kamu bersyukur. Bukan karena beliau adalah orang kaya raya dan terpandang tapi karena keluarga mereka adalah keluarga baik-baik. Putrinya itu seorang wanita sholelah. Kamu beruntung jika mendapatkan istri seperti Rayya. Dia tidak hanya cantik rupa namun juga hatinya. Lagipula masalah usia kalian hanya terpaut jarak enam tahun. Papa dan Mama kamu ini justru beda usia tujuh tahun." Ricky mencoba membuka pikiran Ramadhan.
" Pa, wanita yang baik dan Sholehah bukan hanya Rayya saja di dunia ini! Rama yakin Kayla juga wanita yang baik, kok!" Ramadhan sekali lagi menentang Papanya.
" Mulai saat ini, berhentilah memikirkan Kayla! Papa tidak akan menyetujui jika kau berkeras hati ingin mengejar Kayla!" tegas Ricky dengan nada bicara tinggi.
" Pa ..." Anindita mencoba mengusap lengan suaminya karena dia melihat jika Ricky sudah terpancing emosi.
" Papa rasa sudah cukup perbincangan kita kali ini. Papa tidak ingin ada pertentangan terhadap keputusan Papa ini!" Ricky bangkit dari sofa kemudian beranjak ke kursi kerjanya. " Kamu boleh keluar sekarang!" lanjutnya menyuruh putranya itu meninggalkan ruang kerjanya.
Ramadhan keluar ruangan Ricky meninggalkan kedua orang tuanya tanpa satu ucapan keluar dari mulutnya. Yang pasti pria muda itu terlihat nampak tidak terima dengan keputusan orang tuanya itu.
" Pa, jangan terlalu keras terhadap Rama ..." Anindita mencoba menasehati suaminya. Dia tentu tidak ingin kedua orang yang disayanginya itu bersitegang seperti tadi.
" Papa tidak ingin dia terlalu serius dengan perasaannya terhadap Kayla, Ma. Terlebih lagi Papa tidak enak jika harus menolak Tuan Gavin." Ricky mengungkapkan alasannya bersikap keras terhadap Ricky.
" Apa kita ini tidak sedang memaksakan kehendak ya, Pa? Mama kasihan terhadap Rama, dia berhak mendapatkan kebahagiannya sendiri, kan?"
" Kita menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kita. Dan Papa yakin, apa yang Papa putuskan ini adalah yang terbaik untuk Rama!" tegas pria yang kini sudah berusia di atas kepala lima itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️