
Anggota keluarga Gavin sudah kembali ke Jakarta Minggu sore tadi, hanya Rayya yang tertinggal di rumah orang tua Mommy nya.
Rayya termenung seraya menatap langit kamarnya di rumah Abi Rara. Kenyataan jika Ramadhan menyusul dia ke Roma mendadak membuat hatinya gelisah. Dia benar-benar tidak tega melihat pria itu melakukan hal yang sia-sia.
" Kenapa Kak Rama harus jauh-jauh ke Roma hanya untuk menemuiku? Memangnya Kak Rama nggak tahu kalau sekarang ini sudah masuk musim liburan akhir semester? Duh, kenapa aku jadi kepikiran hal itu, sih?" Raya mengusap wajahnya. Hal inilah yang ditakutkan oleh Rayya hingga dia tidak ingin kembali berhubungan dengan Ramadhan, karena dia pasti akan kepikiran tentang pria itu.
" Apa aku harus menerima saran Mommy dan Auntie untuk menerima Kak Luigi agar aku bisa melupakan Kak Rama, ya?" Rayya sampai kepikiran dengan anjuran Azzahra juga Natasha, karena dia merasa takut jika terus dibayang-bayangi oleh Ramadhan.
" Tapi aku nggak ingin memulai suatu hubungan hanya karena pelarian. Akan tidak adil untuk Kak Luigi jika aku berbuat seperti itu kepadanya." Rayya pun tak ingin menyakiti hati Luigi.
" Ya Allah, kenapa aku jadi galau seperti ini?" Rayya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Sementara itu di rumah keluarga Ricky Pratama ...
" Pa, Mama penasaran dengan apa yang terjadi di Italia dengan Rama. Sejak pulang siang tadi dia di kamar terus, nggak turun makan sama sekali." Anindita mengungkapkan rasa cemasnya kepada suaminya.
" Apa bibi sudah mengantar makanan ke kamar Rama?" tanya Ricky menanggapi kecemasan sang istri.
" Sudah, tapi nggak dimakan. Rama masih saja tidur."
" Mungkin dia benar-benar lelah. Pulang pergi Jakarta-Roma-Jakarta bukan perjalanan yang singkat dan pastinya itu sangat melelahkan."
" Tapi Mama penasaran apa Rama ketemu Rayya di sana? Kalau dilihat waktu dia sampai ke rumah sepertinya dia sedih dan nampak kecewa, jangan-jangan dia nggak ketemu Rayya di sana ya, Pa? Karena itu Rama langsung pulang ke Jakarta tanpa menginap? Kasihan sekali Rama, Pa." Sebagai seorang ibu yang melahirkan Rama, tentu saja Anindita merasa tak tega melihat anaknya seperti itu.
" Rama itu laki-laki, Ma. Dia sedang berjuang untuk menebus kesalahannya. Apa yang Rama rasakan sekarang ini belum ada apa-apanya dibandingkan perjuangan Papa dulu saat harus menaklukan hati Mama." Ricky melirik istrinya yang berbaring di sampingnya.
Mendengar ucapan suaminya, Anindita langsung mendekatkan tubuhnya kepada pria yang dulu pernah dia tolak-tolak kehadirannya. Anindita menaruh kepalanya di atas lengan sang suami dengan tangan di atas dada suaminya.
" Memang Papa harus melakukan apa untuk menaklukan hati Mama?" Anindita menggoda suaminya dengan tangan memainkan bulu-bulu halus di dada bidang Ricky.
" Apapun Papa rela lakukan untuk menebus kesalahan Papa, karena sudah memaksa mengambil kesucian Mama. Sampai rela harus menunggu Mama menjadi istri pria lain terlebih dulu." Ricky menceritakan lagi apa saja yang dia lakukan demi mendapatkan Anindita.
" Pa, waktu Mama menikah dengan Papanya Arka dulu, perasaan Papa bagaimana? Apa Papa ada cemburu melihat Mama bersama Mas Arya?" Sudah lama Anindita ingin menanyakan hal itu, namun dia tidak enak hati untuk menanyakan kepada suaminya.
" Biasa saja, sih."
Anindita langsung mendongakkan kepala dengan memberengut saat Ricky mengatakan jika perasaannya biasa saja saat ditinggal menikah dirinya dengan Arya.
" Kok biasa saja sih, Pa? Memang Papa belum punya perasaan apa-apa ya sama Mama saat itu?" Anindita sebenarnya merasa kecewa mengetahui perasaan Ricky terhadap dirinya dulu ternyata belum mempunyai perasaan suka terhadapnya.
" Memang Mama maunya gimana? Mama ingin Papa cemburu, begitu?" Kali ini Ricky yang berhasil menggoda Anindita.
Anindita hanya diam tak menjawab pertanyaan suaminya, membuat Ricky terkekeh.
" Mama ingin tahu perasaan Papa yang sebenarnya?"
Pertanyaan Ricky dijawab dengan anggukan kepala Anindita.
" Sejujurnya Papa kecewa. Jujur Papa memang belum punya rasa cinta sama Mama saat itu. Tapi sebagai orang yang sudah merengut kesucian Mama, apalagi Papa tahu akhirnya Papa punya anak dari Mama, sebenarnya Papa berharap Papa bisa bertanggung jawab dan memberi kasih sayang dengan memberikan keluarga yang utuh untuk Ramadhan dengan menikahi Mama. Tapi sayangnya Papa sudah keduluan Pak Arya yang berhasil membuat Mama jatuh cinta." Ricky mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan dulu kepada Anindita.
" Apa Papa menikahi Mama dulu juga hanya sekedar ... sebagai rasa tanggung jawab Papa?" Anindita semakin penasaran terhadap suaminya.
" Banyak faktor yang membuat Papa akhirnya memutuskan menikahi Mama selain karena rasa tanggung jawab dan amanat yang diberikan oleh Pak Arya."
" Apa?"
" Karena Papa ingin memiliki Mama. Ciuman tak sadar Mama saat itu sudah membuat Papa susah untuk move on kepada wanita lain." Ricky kembali terkekeh menggoda Anindita hingga membuat wanita itu berdecak, karena diingatkan akan kejadian memalukan saat dia tanpa sadar mencium Ricky yang dia sangka adalah Arya.
Ricky yang melihat wanitanya merajuk langsung memposisikan tubuhnya di atas tubuh Anindita.
" Tidak penting bagaimana perasaan dulu Papa terhadap Mama, yang penting semakin hari Papa semakin sayang dan cinta sama Mama." Ricky lalu membenamkan ciuman dengan lembut di bibir Anindita walaupun akhirnya ciuman itu menjadi penuh hasrat dan dilanjut dengan hubungan intim suami istri seperti layaknya sepasang insan yang sedang diselimuti gelora asmara.
***
" Selamat pagi, Pak Dirga." Susan, sekretaris Dirga langsung menyapa bosnya saat melihat kemunculan Dirga melintas di hadapannya.
__ADS_1
" Pagi ..." Dirga menjawab sapaan Susan, namun matanya mengarah ke arah pintu ruang kerja Ramadhan yang terbuka. " San, apa Rama sudah datang?" tanya Dirga kepada Susan.
" Mas Rama ada di ruangannya, Pak." sahut Susan.
Jawaban Susan tentang kehadiran Ramadhan Senin pagi ini membuat Dirga membulatkan bola matanya.
" Suruh dia keruangan saya, San!" perintah Dirga kepada Susan sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Beberapa menit kemudian ...
" Om cari Rama?" tanya Ramadhan saat masuk ke dalam ruangan kerja bosnya.
" Kau sudah pulang? Memangnya kau tidak jadi berangkat ke Italia menyusul Rayya?" Dirga berpura-pura tidak tahu jika Rayya ada di Jakarta.
" Rama pulang Minggu siang, Om." Nada suara Ramadhan terdengar berat dan kecewa.
" Pulang kemarin siang? Kamu pulang-pergi?" Dirga tidak berpikir jika Ramadhan akan nekat melakukan perjalanan tanpa menginap terlebih dahulu untuk istirahat, sedangkan siang ini pun pria muda itu sudah beraktivitas bekerja.
" Iya, Om "
" Lalu bagaimana pertemuannya? Apa kamu bertemu dengan Rayya? Apa saja yang kalian bicarakan? Apa dia mau membuka hatinya untuk kamu?" Pertanyaan beruntun Dirga seolah mengatakan jika pria itu tidak tahu tentang kepulangan Rayya ke Indonesia.
Ramadhan mendengus kasar mendapatkan pertanyaan Dirga.
" Rama nggak bertemu Rayya, Om. Karena Rayya nggak ada di Italia saat ini," jawab Ramadhan lemas.
" Nggak ada di Italia? Maksud kamu?" Dirga benar-benar menjalankan sandiwaranya dengan sempurna.
" Rayya sedang libur kuliah, Om. Dan saat ini dia tidak ada di Italia."
" Jadi perjalananmu jauh-jauh ke Italia sia-sia?"
" Iya, Om."
" Rama nggak berpikir kesitu, Om. Waktu Om menyuruh Rama menemui Rayya di Roma, Rama langsung melakukan apa yang Om sarankan."
" Jadi kau menyalahkan Om?" Dirga tidak ingin disalahkan oleh Ramadhan atas ide konyolnya itu. " Rama, kau itu asisten perusahaan bonafit, harusnya setiap diberi perintah, kau pelajari dulu baik-baik, jangan asal main laksanakan-laksanakan saja!" Dirga benar-benar melempar kesalahan itu kepada Ramadhan.
" Iya, Om." Ramadhan hanya pasrah. Dia membantah pun rasanya percuma. Tidak akan menang berdebat dengan bosnya itu.
" Lalu kau tahu Rayya sekarang ada di mana?" Dirga masih enggan bercerita jika dia bertemu Rayya di hotel milik Gavin.
" Kemungkinan dia pulang ke Indonesia tapi entahlah, Rama juga nggak tahu." Ramadhan mengedikkan bahunya.
" Kalau dia ada di Indonesia, kenapa kau tidak coba temui dia?"
" Maksud Om?" Ramadhan mengeryitkan keningnya.
" Gavin pasti sudah pergi ke kantornya jam segini." Dirga menoleh arlojinya. " Jadi kau bisa menemui Rayya di rumahnya sekarang ini."
" Tapi sekarang 'kan belum masuk waktu istirahat, Om. Rama mesti kerja dulu." Ramadhan melihat jam baru menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Masih lama untuk masuk ke waktu istirahat.
" Bukankah kau sudah meminta ijin cuti hari ini? Kau habis melakukan perjalanan jauh pasti butuh istirahat. Om ijinkan kamu libur hari ini. Anggap saja itu bonus atas kegagalanmu menemui Rayya di Roma." Dirga menyeringai. Dia merasa senang ternyata ada yang menjejaki aksinya melakukan tindakan konyol, bahkan kali ini lebih parah sampai melintasi benua, hanya untuk menyusul wanita yang sebenarnya saat ini sedang berada di Jakarta.
***
Rayya menyapukan crayon di atas kanvas dan melukis hamparan perkebunan hijau yang terlihat dari balkon di kamarnya di rumah Abi Rara.
Tok tok tok
" Neng Rayya sedang apa?" Umi Rara terlihat memasuki kamar cucunya. Selain tangga, rumah Abi Rara itu difasilitasi lift oleh Gavin hingga memudahkan Abi dan Umi Rara menjangkau ruangan lantai atas rumah itu.
" Eh, Enin ... Rayya sedang melukis, Nin." Rayya menjawab pertanyaan Umi Rara tanpa menghentikan aktivitasnya melukis.
" Masya Allah, bagus sekali lukisan Neng Rayya ini." Umi Rara memuji hasil karya cucunya itu.
__ADS_1
" Nanti Rayya lukis Eyang sama Enin, ya? Nanti Eyang sama Enin duduk bersebelahan biar nanti Rayya lukis. Terus nanti hasilnya dikasih figura lalu bisa dipajang." Rayya berniat melukis kedua orang tua Mommy nya itu.
" Boleh, Neng. Nanti dipajang di ruang tamu saja, biar nanti kalau ada tamu yang lihat, Enin bisa bilang ini cucu Enin lho, yang buat." Umi Rara berucap bangga.
" Enin bisa saja." Rayya tertawa kecil.
Umi Rara memperhatikan wajah cantik cucunya yang sedang tertawa.
" Mommy Neng Rayya kemarin cerita sama Enin, katanya ada dosen di sana yang naksir sama Neng Rayya. Benar itu, Neng?" tanya Umi Rara penasaran dengan cerita Azzahra.
" Ya ampun, Mommy cerita-cerita ke Enin juga soal itu?" Rayya memutar bola matanya mengetahui Mommy nya menggosipkan dirinya ke sana-sini.
" Benar gitu, Neng? Kalau benar, Alhamdulillah keinginan Enin punya cucu menantu orang bule kesampaian." Umi Rara terkikik.
" Enin bisa bayangkan, nanti kalau Neng Rayya menikah dengan pria bule itu anaknya pasti cakep-cakep, hidungnya mancung, matanya biru, kulitnya putih. Kalau nanti cicit Enin dibawa ke sini, pasti warga di sini pada senang liat cicit Eyang seperti boneka." Umi Rara sudah berandai-adai membayangkan Rayya menikah dengan pria bule yang diceritakan Azzahra yang tidak lain adalah Luigi.
" Ya ampun, Enin. Mikirnya jangan jauh-jauh dulu, deh! Rayya masih ingin kuliah dulu, nggak mau mikir nikah dulu." Wajah Rayya sedikit merona mendengar ucapan Umi Rara yang membayangkan jika dirinya dan Luigi mempunyai anak.
" Enin sudah nggak sabar lihat kamu menikah dan punya anak. Mumpung Enin masih sehat masih ada usia."
" Enin jangan bicara begitu, dong!" Rayya langsung memeluk Uminya walau tak mengenai bagian telapak tangannya karena banyak bekas crayon yang menempel. " Enin pasti sehat-sehat saja dan bisa melihat jika nanti Rayya menikah. Enin harus sehat-sehat saja sampai nanti Rayya, Rahsya dan Raihan kasih cicit-cicit yang lucu-lucu buat Enin juga Eyang. Makanya Enin sama Eyang selalu jaga kesehatan, ya!" Rayya yang masih merasa sedih karena kehilangan Grandpa nya tidak ingin ditinggalkan oleh Eyang dan Enin nya lagi begitu cepat.
***
Ramadhan memarkirkan mobilnya di depan rumah Azzahra yang terlihat sepi. Dia lalu turun dari mobilnya dan berjalan memasuki pekarangan rumah Gavin yang tidak berpagar, karena cluster di perumahan itu tidak memperkenankan kepada semua penghuninya untuk memasang pagar yang bisa membatasi komunikasi sesama warga tanpa terkecuali.
Ramadhan lalu menekan tombol bel di dekat pintu rumah Gavin. Perlu sekitar lima menit menunggu sebelum akhirnya pintu rumah itu terbuka.
" Assalamualaikum, Mbak. Rayya nya ada?" tanya Ramadhan bertanya pada Sus Imah yang masih setia bekerja kepada keluarga Gavin.
" Waalikumsalam, Mas ini ..." Sus Imah menautkan kedua alisnya berusaha mengingat pria di hadapannya itu.
" Saya Ramadhan, Mbak. Anaknya Pak Ricky dan Ibu Anin, temannya Om Gavin dan Tante Rara." Ramadhan memperkenalkan dirinya.
" Oh, Ibu Anin saya tahu. Mas Rama ini mau bertemu Non Rayya, ya?" tanya Sus Imah.
" Iya, Mbak. Apa Rayya nya ada?" Ramadhan berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Sus Imah.
" Non Rayya nya nggak ada di sini, Mas. Non Rayya sedang ...."
" Ada siapa, Sus?" Suara Azzahra terdengar dari dalam hingga membuat Sus Imah tidak melanjutkan kalimatnya.
" Ini, Bu. Ada yang mencari Non Rayya." Bu Imah memberitahukan kepada Azzahra soal tamu yang datang ke rumah majikannya itu.
" Assalamualikum, Tante." Ramadhan yang mendapati sosok Azzahra keluar dari dalam langsung menyapa teman Mamanya itu.
" Rama?" Azzahra terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Ramadhan ke rumahnya.
" Tante apa kabar?" Ramadhan langsung menyalami Azzahra.
" Alhamdulillah baik. Kamu ada apa kemari, Rama?" tanya Azzahra masih belum hilang rasa terkejutnya.
" Rama ingin bertemu dengan Rayya, Tante. Rayya ada di mana sekarang ini, Tan?" Ramadhan berharap kali ini Ramadhan bisa mendapatkan jawaban dari Azzahra.
" Hmmm, ayo Rama masuk dulu. Kita bicara di dalam saja. Sus, tolong sediakan minuman dan makanan untuk Rama." Azzahra kemudian menyuruh Ramadhan masuk ke dalam. Walaupun pria muda di hadapannya saat ini pernah membuat hati putrinya kecewa namun dia tidak sampai hati mengusir Ramadhan karena bagaimanapun juga Ramadhan adalah anak dari sahabatnya sendiri, Anindita.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1