RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Membujuk Kayla


__ADS_3

Gavin menarik langkahnya kembali saat dia menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk di bangku taman di pekarangan belakang rumahnya. Dia menautkan kedua alisnya saat dia tahu siapa orang yang sedang duduk dengan menekuk kaki dan menyanggah dagu di atas lutut itu.


Gavin membuka sliding door yang terbuat dari kayu jati dan kaca, kemudian dia melangkah menuju arah bangku taman.


" Apa yang sedang Baby lakukan di sini?"


Rayya tersentak kaget saat mendengar suara Gavin tepat di sampingnya.


" D-Daddy?" Rayya menurunkan kedua kakinya hingga menjejak rumput.


" Kamu sedang apa di sini, Baby?" selidik Gavin menatap wajah anaknya. Memang tak ada tetesan air mata namun wajah sendu putrinya itu tak dapat disembunyikan.


" Rayya sedang mencari angin segar, Dad." Rayya beralasan seraya menggeser posisi duduknya. " Dad baru pulang?" Rayya segera meraih punggung tangan Gavin dan menciumnya. Dia melihat jika Daddy nya itu masih mengenakan kemeja dan celana kerja dengan dasi panjang masih tersimpul di kerah kemejanya.


" Angin malam tidak baik untuk kesehatan, Baby." Gavin lalu duduk di samping Rayya. " Ada apa? Apa ada yang sedang Baby pikirkan?" tanya Gavin seraya mengusap kepala putrinya.


Rayya menggelengkan kepala.


" Nggak ada kok, Dad. Rayya hanya ingin mencari angin saja di luar sini." Rayya menjawab pertanyaan Gavin seraya mengembangkan senyuman.


" Daddy pasti lelah setelah seharian bekerja, sebaiknya Dad istirahat." Rayya kemudian bangkit dan menarik lengan Gavin. " Ayo Rayya antar Dad ke kamar." Rayya langsung melingkarkan lengannya di lengan Gavin membuat Gavin akhirnya mengikuti apa yang diminta putrinya itu.


Gavin bangkit, dia lalu merangkulkan lengan kokohnya ke pundak putrinya.


" Dad, terima kasih untuk pesta kemarin, ya." Rayya memudian melingkarkan lengannya ke pinggang Gavin.


" Dad selalu ingin melakukan apapun yang akan membuat Baby bahagia." Gavin mengecup pucuk kepala Rayya kemudian mereka berjalan memasuki rumahnya.


" Ada apa ini Rayya sama Daddy berpelukan?" tanya Azzahra yang baru keluar dari kamarnya saat melihat suami dan anaknya itu menaiki tangga.


" Rayya hanya ingin mengantar Dad ke kamar, Mom." Rayya yang menjawab pertanyaan Azzahra.


" Kenapa mesti diantar? Manja sekali Daddy kamu ini, Rayya." Kini Azzahra menoleh ke arah suaminya.


" Itu karena anakku ini sangat menyanyangiku, Honey." Gavin berkata dengan bangga.

__ADS_1


" Rayya anakku juga." Azzahra tak mau kalah.


" Tapi sayangnya itu lebih banyak aku, Honey. Karena aku yang tersiksa merasakan mengidam saat itu."


" Memangnya aku juga nggak banyak sayangnya ke Rayya, By?! Aku yang mengandung, aku yang melahirkan."


" Daddy sama Mommy kenapa jadi berdebat, sih? Rayya sayang Daddy, sayang sama Mommy juga seperti Dad and Mom sayang ke Rayya. Nggak ada yang beda semua sama. Karena Mom juga Dad sangat berjasa dalam hidup Rayya." Rayya kini merangkul Azzahra hingga saat ini dia diapit kedua orang tuanya.


***


" Jadi besok kamu dan orang tuamu akan kembali ke Milan, Kay?"


Ramadhan menghentikan langkahnya yang ingin memasuki ruang kerja Dirga saat dia mendengar suara Bos nya itu sepertinya sedang berbincang dengan seseorang yang dia duga adalah Kayla.


" Iya, Pa. Ada hal mendadak yang mesti diselesaikan oleh Papa Edo."


Ramadhan melirik ke arah meja sekretaris Dirga yang nampak kosong sehingga dia bisa leluasa mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Dirga dan juga Kayla.


" Yang ada urusan itu 'kan Edo, biarkan saja dia pulang dengan Mamamu ke Milan. Kau tetap di sini sementara waktu di Jakarta ini menemani Falisha." Dirga nampak keberatan putra kakaknya itu kembali ke Milan terlalu cepat.


" Tidak masalah, Kay. Biar Papa ganti kalau Edo meminta ganti rugi atas pembatalan tiket itu," ucap Dirga. Meskipun Edward tidak mungkin juga meminta ganti rugi tapi Dirga tetap akan mengganti asalkan Kayla tetap di Jakarta sesuai yang direncanakan.


" Jangan, Pa. Nanti lain waktu Kayla 'kan bisa berkunjung ke Indonesia lagi, Pa." Kayla tetap pada keputusannya.


" Apa ada masalah di sini hingga kamu ingin cepat-cepat pulang? Tumben, biasanya kamu paling senang kalau ada di Jakarta dan selalu berat untuk meninggalkan keluarga di sini."


Ramadhan menelan salivanya. Sebenarnya dia juga tahu jika Kayla sangat bersemangat jika kembali ke tanah air. Dia pun heran karena Kayla mempercepat kepulangannya, karena terakhir bertemu, gadis itu tak bicara apa-apa tentang rencana kepulangannya ke Milan. Apakah ini ada hubungannya dengan ungkapan hatinya kepada Kayla yang membuat hati Kayla merasa tak nyaman.


" Nggak ada apa-apa kok, Pa." Kayla langsung menepis anggapan Dirga yang menduga jika dia sedang menyembunyikan suatu masalah.


" Mas Rama sedang apa?"


Ramadhan langsung terperanjat saat mendengar suara Susan, sekretaris Dirga itu menegurnya karena melihat Ramadhan yang nampak merapatkan telinganya ke daun pintu ruangan Dirga.


" Oh, Mbak Susan. Saya mau masuk ke ruang Pak Dirga ..." Karena ketahuan sedang menguping pembicaraan akhirnya Ramadhan mengetuk pintu ruangan Dirga.

__ADS_1


" Permisi, Om. Ini proposal yang mesti Om tanda tangani." Ramadhan berjalan menghampiri Dirga yang sedang berbincang dengan Kayla di sofa.


" Hai, Ram ..." Kayla tetap berusaha menyapa Ramadhan dengan ramah.


Ramadhan hanya membalas sapaan Kayla dengan menarik sedikit sudut bibirnya ke atas.


" Tolong kau taruh di atas meja Om, Ram." Dirga memerintahkan Ramadhan untuk meletakan arsip yang dibawa Ramadhan di meja.


" Ram, kau duduk sebentar di sini. Kau mesti bujuk Kayla agar dia membatalkan kepulangannya ke Milan besok."


Setelah Ramadhan menaruh beberapa dokumen yang diminta Dirga, Dirga meminta agar Ramadhan ikut bergabung duduk berbincang dengan mereka.


" Pa, kenapa harus mengadu ke Rama, sih?" Kayla nampak keberatan saat Dirga menyuruh Ramadhan untuk membujuknya.


" Kamu nggak bilang ke aku kalau akan pulang cepat, Kay." Kini Ramadhan menatap lekat Kayla yang langsung merasa tidak nyaman dengan tatapan mata pria itu.


Kayla menghela nafas dalam-dalam karena alasan dia sebenarnya ingin kembali ke Milan adalah ingin menghindari Ramadhan. Tentu saja ungkapan hati Ramadhan yang tiba-tiba kepadanya membuat dia sedikit terganggu.


" Om tugaskan kamu untuk menahan Kayla tetap di sini, Ram." Dirga langsung bangkit dari sofa dan berjalan ke arah kursi kerjanya.


" Kalian pergilah makan di luar. Om bebaskan pekerjaan kamu hari ini, Rama." lanjut pewaris kekayaan perusahaan Angkasa Raya Group itu.


" Pa, jangan ngerepotin Rama, dong! Rama 'kan sedang bekerja." Kayla memprotes perintah yang diberikan Dirga kepada Ramadhan.


" Rama itu bekerja untuk Papa, jadi Papa punya wewenang memerintah dia sesuai apa yang Papa inginkan," tegas Dirga.


" Sekarang kalian berdua pergilah. Dan kau harus bisa membujuk Kayla agar membatalkan rencana kembali ke Milan besok. Kalau itu berhasil, Om akan memberikan bonus untukmu, Rama." Dirga bahkan menawarkan reward untuk Ramadhan jika pria itu berhasil menggagalkan rencana kepulangan Kayla esok hari.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2