
" Astaghfirullahal adzim ...!" Umi Rara memekik kaget saat Rayya yang masuk terburu-buru ke dalam rumah hampir menabrak Umi Rara.
" Lho, Neng Rayya kenapa lari-lari? Teman Neng Rayya nya ke mana?" tanya Umi Rara yang kaget melihat Rayya berlari. " Eh, eh, Neng Rayya kenapa menangis?" Umi Rara semakin bertambah kaget saat melihat mata Rayya yang memerah.
" Nggak apa-apa, Nin." Rayya lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya membuat Umi Rara semakin bingung.
" Kunaon ieu teh?" Umi Rara lalu berjalan ke arah ruangan tamu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan Umi Rara mendapati Ramadhan yang berdiri di pintu masuk.
" Ada apa ini? Kenapa Neng Rayya menangis? Kamu apakan cucu Enin itu?" Umi Rara langsung menuduh Ramadhan lah penyebab Rayya menangis.
" Hmmm, maaf, Nek. Saya ..." Ramadhan bingung harus menjelaskan apa.
" Kamu tahu? Daddy nya Neng Rayya itu nggak pernah bikin Neng Rayya menangis. Kenapa kamu berani-beraninya membuat cucu Enin menangis?" Umi Rara nampak geram.
" Ada apa ini, Umi? Kenapa ribut-ribut?" Abi Rara yang baru keluar dari ruangan dalam langsung bertanya karena mendegar suara gaduh istrinya di ruang tamu.
" Abi, anak ini sudah bikin Neng Rayya menangis." Umi Rara segera mengadu kepada suaminya tentang dugaannya jika Ramadhan lah yang membuat Rayya menangis.
" Neng Rayya menangis?" Abi Rara nampak terkejut saat mendengar Rayya menangis. Abi Rara lalu menoleh ke arah Ramadhan. " Apa itu benar?" tanya Abi Rara menyeledik.
" Maaf, Kek. Saya tidak bermaksud membuat Rayya menangis," sesal Ramadhan menyampaikan permintaan maafnya.
" Sebenarnya ada apa? Kenapa Neng Rayya sampai menangis?" tanya Abi Rara kembali.
Dan akhirnya setelah Abi Rara mempersilahkan Ramadhan duduk, Ramadhan pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tanpa ada yang dia tutup-tutupi.
Abi Rara menghela nafas panjang saat mengetahui apa yang terjadi dengan cucu perempuannya. Sementara Umi Rara sudah lebih dulu disuruh masuk oleh suaminya itu. Karena Abi Rara tahu jika istrinya ikut berbicara dengan Ramadhan pasti istrinya itu akan membuat suasana gaduh dengan omelan-omelan Umi Rara.
" Saya benar-benar minta maaf, Kek. Saya nggak bermaksud membuat Rayya menangis." kembali Ramadhan menyampaikan rasa penyesalannya.
" Neng Rayya itu anak perempuan kesayangan Daddy nya. Selama ini bahkan Daddy nya melarang sembarang pria mendekati Neng Rayya. Selama ini juga Eyang jarang melihat cucu Eyang itu menangis dan bersedih terkecuali saat Grandpa nya meninggal beberapa bulan lalu. Kamu bisa bayangkan bagaimana marahnya menantu Eyang itu saat dia tahu putrinya itu menangis?"
Ramadhan menundukkan kepalanya. Tujuan dia datang menemui Rayya adalah untuk membuat hubungan dia dengan wanita itu menjadi baik, malah akhirnya semakin runyam. Dia pun sudah bisa membayangkan jika Gavin pasti akan murka saat tahu dia kembali membuat Rayya bersedih.
" Kalau menurut pendapat Eyang, untuk saat ini sebaiknya kamu jangan hubungi cucu Eyang dulu. Biarkan Neng Rayya menenangkan hatinya terlebih dahulu. Mantapkan dulu hati kamu. Kalau kamu masih merasa ragu, sebaiknya jangan diteruskan, karena itu akan semakin menyakiti hati Rayya. Namun jika kamu memang benar-benar menginginkan Neng Rayya, berusahalah sekeras mungkin untuk menaklukan hati Neng Rayya dan juga Daddy nya." Abi Rara memberikan nasehatnya kepada Ramadhan agar dia memantapkan hatinya terlebih dahulu.
__ADS_1
" Tapi bagaimana jika Rayya lebih memilih pria yang juga menginginkannya itu, Kek?" tanya Ramadhan khawatir. Rivalnya selangkah di depan, sedangkan dia malah harus mundur ke belakang.
" Kalau memang Rayya adalah jodoh untuk kamu, walaupun jalan yang harus kamu lalui berat dan berliku, Allah SWT pasti akan menyatukan kalian," ucap Abi Rara bijak.
Sementara Umi Rara yang diperintahkan suaminya untuk masuk ke dalam, segera menghampiri kamar cucu perempuannya itu.
" Neng, Neng Rayya, Enin boleh masuk?" Umi Rara yang membuka pintu kamar Rayya yang tidak terkunci meminta ijin terlebih dahulu kepada cucunya itu.
" Masuk saja, Nin." Rayya segera menyeka air matanya yang tak terbendung jatuh ke pipi.
" Aya naon ieu teh? Kenapa Neng Rayya menangis? Apa laki-laki itu menyakiti hati Neng Rayya?" tanya Umi Rara seraya mengusap pipi Rayya yang lembab karena air mata.
" Rayya nggak apa-apa, Nin." Rayya berkelit dengan mengatakan jika dia baik-baik saja.
" Neng Rayya ..." Umi Rara mengajak cucunya itu untuk duduk di tepi tempat tidur. " Neng Rayya jangan membohongi Enin. Enin yakin pasti ada masalah yang membuat Neng Rayya menangis seperti ini. Cerita sama Enin, Geulis." Umi Rara meminta Rayya agar terbuka dan menceritakan apa yang sedang mengganggu hati Rayya kepadanya.
" Rayya nggak apa-apa kok, Nin." Rayya kembali menyangkal.
" Apa Enin mesti telepon Mommy dan Daddy Neng Rayya, lalu menceritakan kalau Neng Rayya menangis?" Umi Rara sedikit mengertak Rayya agar cucunya itu tidak terus-terusan mengelak.
" Jangan, Nin. Tolong jangan cerita ke Mommy apalagi Daddy tentang hal ini. Jangan cerita ke Daddy juga soal kedatangan Kak Rama kemari." Rayya langsung duduk bersimpuh di depan Umi Rara membuat Eninnya itu terkesiap.
Rayya pun tak punya pilihan lain hingga dia akhirnya menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ramadhan termasuk rencana perjodohan mereka yang pernah digagas oleh Daddy nya.
" Ya Allah, Neng Rayya ... kenapa cerita Mommy mu kembali terulang ke Neng Rayya?" Umi Rara memperlihatkan kesedihannya. Umi Rara merasakan dejavu, karena dulu pun Azzahra pernah merasakan cinta sepihak kepada pria yang dikaguminya sejak remaja.
" Enin, Rayya mohon jangan cerita apa-apa tentang hal ini ke Daddy juga Mommy." Rayya menggenggam tangan berkulit keriput Eninnya.
Umi Rara menghela nafas panjang.
" Enin harap Neng Rayya akan bisa mendapatkan laki-laki lain yang benar-benar mencintai Neng Rayya. Seperti Mommy Neng Rayya akhirnya bisa bertemu dengan Daddy mu." Umi Rara hanya bisa berdoa agar kesedihan Azzahra yang berakhir dengan kebahagian akan terulang kepada cucu tercintanya itu.
***
" By ..."
__ADS_1
" Hmmm, kenapa Honey?" Gavin bertanya kepada Azzahra tanpa menoleh ke arahnya karena dia masih fokus dengan laptop yang ada di pangkuannya
" Belum selesai pekerjaannya, By?" tanya Azzahra kemudian.
" Ini akan aku shutdown." Gavin pun segera menutup laptopnya dan menaruh di atas meja. Gavin lalu melingkarkan tangannya di pundak Azzahra yang duduk di sampingnya, hingga wanita itu menyandarkan kepalanya di atas bahunya.
" By ...."
" Ada apa, Honey? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Gavin mengusap kepala Azzahra.
" Kalau seandainya Rama tiba-tiba berniat ingin menjalin hubungan yang serius dengan Rayya, apa Hubby masih menentang?" Azzahra yang awalnya ragu akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Gavin.
Gavin langsung menoleh ke arah istrinya karena pertanyaan istrinya itu membuat dirinya terkejut.
" Kenapa kau bertanya seperti itu, Honey?" tanya Gavin curiga.
" Hmmm, t-tadi Mbak Anin telepon aku. Katanya ... katanya Rama pulang-pergi Jakarta-Roma untuk menemui Rayya." Azzahra terpaksa berbohong kepada suaminya dan terpaksa membawa nama Anindita dalam kebohongannya. Karena dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika Ramadhan siang tadi datang ke rumah mereka.
Gavin terperanjat saat Azzahra mengatakan Ramadhan pergi ke Roma hendak menemui Rayya.
" Rama pergi ke Roma untuk menemui Baby? Untuk apa lagi dia ingin menemui Baby kita? Apa peringatan yang aku berikan kepadanya tidak digubrisnya?" geram Gavin.
" By, jangan marah-marah begini. Rama itu sudah sungguh-sungguh minta maaf kepada Rayya. Dia sampai rela capek-capek terbang ke Italia demi menemui Rayya."
" Honey, rasa lelah yang dia rasakan tidak sebanding dengan lelah hati yang dirasakan Baby karena memendam perasaannya kepada laki-laki itu bertahun-tahun." Gavin terlihat tidak suka istrinya itu seperti membela Ramadhan. Dia lalu menatap penuh selidik kepada Azzahra.
" Kau ini kenapa, Honey? Bukankah kau selalu antusias ingin menjodohkan Baby dengan Luigi. Lalu kenapa kau tiba-tiba membahas tentang Rama?!"
Azzahra terdiam. Sesungguhnya dia sangat bimbang. Dia memang berharap Luigi menjadi suami putrinya kelak, namun dia juga lebih senang jika pria yang dicintai Rayya juga membalas perasaan putrinya itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️