
Setelah mendapatkan nasehat dari Dirga beberapa waktu lalu, Ramadhan memang belum melakukan gerakan apapun untuk mengikuti saran yang diberikan oleh bos nya itu kepadanya. Dia sendiri masih ragu apa dia bisa melakukan seperti yang Dirga minta karena benar-benar belum mempunyai rasa suka terhadap Rayya, walaupun wanita itulah yang sedang mengisi pikiran beberapa hari ini.
" Ma, bisa Rama bicara sebentar sama Mama?" Ramadhan yang malam itu berjalan menuruni anak tangga dan melihat Mamanya berjalan ke arah dapur langsung mengikuti arah langkah Anindita.
" Rama? Bikin Mama kaget saja kamu, Nak." Anindita sampai memegangi dadanya karena merasa kaget saat mendengar suara Ramadhan.
Ramadhan terkekeh melihat Mamanya terkejut.
" Mama kaget, ya? Maaf ya, Ma." Ramadhan langsung memeluk tubuh Anindita dari belakang dan mengecup pucuk kepala wanita yang telah melahirkannya itu.
" Kagetlah, malam-malam gini, kok!" ujar Anindita beralasan. " Kamu mau bicara apa?" Anindita mengambil air di dalam kulkas dan menuangnya ke dalam gelas. Dia lalu menarik kursi dan duduk di atasnya, kemudian meneguk air yang dia ambil dari lemari pendingin itu.
" Malam-malam kok minum air dingin sih, Ma? Nanti sakit, lho!" Ramadhan memprotes Mamanya yang meminum air dari kulkas.
" Minum air dingin di malam hari itu banyak manfaatnya, Rama. Di antaranya untuk mengurangi dehidrasi, melancarkan pencernaan, membersihkan tubuh, membakar kalori dan menjaga keseimbangan nutrisi." Anindita menjelaskan artikel yang pernah dia baca soal manfaat mengkonsumsi air dingin ketika malam hari. " Tapi tergantung kondisi badan kita, kalau sedang sakit atau kurang fit sebaiknya jangan mengkonsumsi air dingin."
" Mama sudah seperti dokter ya sekarang?" Ramadhan meledek Mamanya.
" Bukan seperti dokter, Rama. Tapi Mama hanya mencoba mempraktekan apa yang disarankan dari apa yang Mama baca saja, kok." sanggah Anindita.
" Oh ya, kamu mau bicara apa, Rama?" Anindita akhirnya menanyakan maksud dan tujuan putranya mengajaknya bicara.
" Papa sudah tidur belum, Ma?" tanya Ramadhan.
" Sudah, sejak jam sembilan tadi Papamu sudah tertidur, sepertinya Papamu itu lelah sekali," jawab Anindita. " Apa ini ada sangkut pautnya dengan Papamu?" tanya Anindita kemudian.
" Ini soal Rayya, Ma."
" Rayya? Ada apa lagi dengan Rayya? Kamu sudah bicara sama dia? Sudah minta maaf?" tanya Anindita penasaran soal anaknya yang beberapa waktu lalu meminta bantuan kepadanya untuk mencarikan nomer telepon Rayya.
" Rama sudah bertemu dan meminta maaf kepada Om Gavin dan Rayya, Ma."
" Kamu bertemu dengan Om Gavin? Lalu bagaimana? Apa Om Gavin dan Rayya memaafkan kamu? Apa Om Gavin dan Rayya marah sama kamu?"
" Om Gavin sudah pastilah marah sama Rama, Ma. Bahkan sampai nggak kasih kesempatan Rama untuk bicara empat mata dengan Rayya." Ramadhan menceritakan apa yang dihadapinya saat ingin menyampaikan permintaan maafnya kepada Rayya.
" Terus?"
" Untung saja saat itu Rayya keluar dan membujuk Om Gavin untuk memberikan kesempatan bicara kepada Rama dan Om Gavin memberi waktu untuk bicara sebentar dengan Rayya."
" Lalu,?"
__ADS_1
" Rayya biasa saja sikapnya, Ma. Dia sama sekali nggak memperlihatkan rasa kesal, marah dan kecewa kepada Rama. Sikapnya justru tenang dan adem banget deh, Ma." Tanpa disadari oleh Ramadhan, pria itu sudah mulai mengagumi sikap Rayya.
Anindita menarik satu sudut bibirnya ke atas mendengar putranya itu memuji sikap putri dari sahabatnya itu.
" Rayya juga nggak menyudutkan Rama, Ma. Dia justru bilang sudah memaafkan Rama sejak lama." Ramadhan terdiam sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya.
" Lalu yang jadi masalah kamu sekarang apa? Om Gavin sudah memberikan kamu kesempatan kamu berbicara dengan Rayya dan Rayya pun sudah memaafkan kamu, kan?" tanya Anindita masih belum memahami apa yang diinginkan putranya.
" Ma, apa Mama masih mengharapkan Rama berjodoh dengan Rayya?"
Anindita melebarkan bola matanya mendengar pertanyaan Ramadhan. Jika ditanya apa dirinya masih berharap jika Rayya menjadi menantunya, sudah pasti dia sangat berminat. Apalagi saat dia lihat Rayya terakhir kemarin, walaupun dengan wajah sedih namun gadis itu tetap terlihat cantik. Apalagi dengan penjelasan dari Ramadhan tentang sikap Rayya yang terlihat sangat lembut dan bijaksana, Anindita membayangkan betapa beruntungnya jika dia bermenantukan Rayya. Hingga tanpa sadar Anindita tersenyum membayangkan jika itu benar terjadi.
" Ma ..." Ramadhan yang tidak langsung mendapatkan jawaban dari Anindita tapi justru mendapati Mamanya itu tersenyum sendiri seraya memejamkan mata langsung menepuk lembut pundak Anindita.
" Eh, iya ... apa, Rama?" tanya Anindita tersadar dari lamunannya.
" Mama mengantuk, ya?" Ramadhan menduga jika Mamanya saat ini sedang mengantuk hingga tidak mendengar apa yang dia ucapkan tadi.
" Ah, nggak, kok! Mama belum mengantuk. Kamu tadi tanya apa sama Mama? Mama nggak salah dengar kan, Rama? Kamu tanya apa Mama masih mengharapkan perjodohan kalian? Tentu saja Mama masih mengharapkan hal itu, Rama. Siapa yang nggak kepingin punya menantu wanita Sholehah seperti Rayya?" Anindita menjawab dengan Antusias.
" Tapi Rama nggak yakin akan berhasil setelah kejadian kemarin, Ma. Om Gavin malah melarang Rama mendekati dan menghubungi Rayya lagi," keluh Ramadhan.
" Dan kamu menyerah begitu saja? Kamu nggak bisa seperti Papamu? Papamu dulu pantang menyerah untuk mendapatkan hati Mama. Anggap saja Om Gavin itu seperti Mama yang dulu sulit ditaklukan oleh Papa kamu. Dengan usaha yang keras dan kesabaran, akhirnya Papa bisa bersama Mama. Intinya kamu harus berusaha semaksimal mungkin terutama memperbaiki kesalahan yang pernah kamu buat dulu terhadap Rayya." Anindita memberikan nasehat kepada Ramadhan.
" Bagaimana dengan Papa, Ma? Apa Papa akan setuju?" tanya Ramadhan ragu.
" Makanya Mama bilang mantapkan dulu hati kamu! Kalau kamu benar-benar serius, Mama yakin Papa pun akan mendukungmu, Rama." Anindita menyemangati putra sulungnya itu.
Ramadhan menghela nafasnya dalam-dalam. Bertukar pikiran dengan Mamanya selalu membuat hatinya tenang.
" Terima kasih ya, Ma. Mama memang paling the best." Ramadhan kemudian memeluk Mamanya kembali. " Sebaiknya Mama kembali ke kamar dan istirahat. Ini sudah malam, nanti Papa terbangun karena pawangnya nggak ada di sampingnya." Ramadhan terkekeh menggoda Anindita.
" Kamu ini ..." Anindita menepuk lengan Ramadhan karena putranya itu menggodanya.
" Kamu juga cepat tidur, jangan begadang! Besok kamu harus bekerja." Anindita juga meminta putranya untuk segera beristirahat karena besok pagi harus beraktivitas seperti biasa.
" Iya, Ma. Selamat malam, Ma." Ramadhan sempat memberikan kecupan di pipi Anindita sebelum akhirnya dia meninggalkan Anindita lebih dahulu dari dapur.
***
Azzahra melirik suaminya yang tidur dengan melipat telapak tangan di bawah kepalanya dengan mata terpejam.
__ADS_1
Setelah dia mengatakan jika dia itu penasaran dengan Luigi hingga dia ingin ikut mengantar Rayya kembali ke Italia, suaminya itu nampak kesal kepadanya, hingga jelang tidur malam ini tidak ada kecupan manis dari Gavin untuknya.
Jika dulu saat awal-awal mereka menikah dan mendapatkan sikap Gavin yang nampak acuh seperti ini, biasanya dia akan menangis atau berpindah kamar agar suaminya itu kembali bersikap mesra terhadapnya. Namun trik semacam itu rasanya sudah tidak pantas dilakukan lagi sekarang ini.
Azzahra memilih membalikkan tubuhnya dengan posisi tidur membelakangi suaminya karena dia pikir jika Gavin sudah terlelap.
" Sudah tua masih saja cemburuan! Memang nya siapa juga laki-laki yang mau sama calon nenek-nenek seperti aku?" gerutu Azzhara sendiri.
" Siapa yang tua?"
Azzahra membelalakkan matanya saat mendengar suara Gavin. Ternyata suaminya itu belum tertidur dan mendengar semua yang diucapkannya tadi.
" Hubby belum tidur, ya?" Azzahra kemudian membalikkan tubuhnya kembali ke posisi semula.
" Siapa yang kau bilang sudah tua tadi?" tanya Gavin ketus.
Azzahra langsung merapatkan tubuhnya ke arah suaminya dengan menyandarkan kepalanya ke lengan Gavin dan melingkarkan tangannya di perut suaminya itu.
" Aku nggak bilang tua kok, By. Aku bilang kita ini orang tua, tidak baik saling cemburu." Azzahra mencoba berkelit.
" Hmmm, biarpun aku sudah tua, aku masih sanggup memuaskanmu 'kan, Honey?"
Azzahra tersipu seraya menganggukkan kepalanya.
" By, aku ini nggak mungkin macam-macam. Aku itu sudah sangat bahagia mempunyai Hubby yang menerima aku yang hanya wanita dari desa ini. Yang sudah memberikan aku limpahan kasih sayang selama dua puluh tahun lebih menikah. Jadi mana mungkin aku melirik pria lain, walaupun dia ganteng dan masih muda. Malu sama usia atuh, By. Kalau aku genit-genit seperti itu." Azzahra mencoba merayu suaminya agar tidak marah lagi.
" Lantas kenapa kamu tetap ingin bertemu dengan Luigi?"
" Ingin kenal saja, By. Jadi kalau nanti dia benar jadi menantu kita, nggak merasa canggung lagi. Nanti aku ajari dia bahasa Indonesia biar dia bisa bicara menggunakan bahasa Indonesia. Aku 'kan nggak lancar bahasa Inggris, aku juga 'kan nggak paham bahasa Italia, By. Masa nanti ngobrolnya pakai bahasa isyarat? Kan nggak lucu." Azzahra beralasan.
" Kenapa kau ingin sekali supaya Baby bersama Luigi? Padahal belum tentu maksud anak itu mendekati Baby karena dia suka dengan Baby, kan?"
" Memangnya Hubby pikir apa? Orang telepon jauh-jauh dari luar negeri ke Rayya menyampaikan turut belasungkawa?"
" Hanya sekedar telepon semua juga bisa melakukan, Honey. Terkecuali dia sampai datang langsung kemari, baru aku bisa nilai pria itu suka terhadap Baby." Gavin menyampaikan pendapatnya. " Lagipula kau ini tidak pernah merasakan pacaran, bagaimana mungkin kau bisa tahu hal-hal seperti ini? Kau merasakan hal yang indah-indah pun sejak menikah denganku, Honey." cibir Gavin membuat Azzahra langsung mencebikkan bibirnya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️