
Setelah selesai menikmati indahnya karya seni di museum Palazzo Cipolla. Kayla mengajak Rayya makan di salah satu restoran halal di dekat daerah itu.
Mereka berdua memesan burger juga French fries. Sementara Simone meminta ijin terlebih dahulu karena dia tiba-tiba ditelepon oleh Kakaknya yang akan melahirkan.
" Bagaimana kabar keluarga kamu di Indonesia?" tanya Kayla sambil menyantap makanan pesanannya.
" Alhamdulillah semua sehat, Kak. Terakhir tengah tahun kemarin Papa, Mama dan adik-adik aku liburan di sini." Rayya menerangkan kedatangan keluarganya untuk kedua kalinya mengunjungi dia di Roma.
" Kakak juga sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Rasanya kangen dengan keluarga di Jakarta. Nenek, Papa Dirga, Mama Rania, Falisha dan Daffa. Terakhir ke Jakarta itu waktu datang ke pesta ulang tahun kamu dulu." Kayla menjelaskan.
Rayya menatap wanita cantik yang berusia sekitar enam tahun lebih tua dari usianya saat ini. Wanita yang cantik dan berpembawaan ceria, pantas saja jika Ramadhan menyukainya, pikir Rayya.
Rayya mengerjapkan mata saat tiba-tiba mengingat kembali nama pria yang telah membuatnya patah hati secara tidak sengaja.
" Hmmm, Kak Kayla pasti senang di sini, ya? Pria-pria di sini ganteng-ganteng." Entah kenapa Rayya berani menyinggung tentang hal itu. Karena dari nama-nama yang disebutkan oleh Kayla tak terselip nama Ramadhan.
" Ya di sini sangat menyenangkan, terutama untuk yang mempunyai jiwa seni seperti kita. Soal pria Italia yang tampan-tampan, anggap saja itu suatu bonus." Kayla terkekeh.
" Apa Kak Kayla pernah punya pacar orang Italia?" tanya Rayya penasaran.
" Iya, dulu pernah dua atau tiga kali punya pacar orang Italia." Kayla memanggapi dengan enteng pertanyaan Rayya.
" Sekarang sama orang mana, Kak?" Rayya sengaja memancing jawaban dari Kayla. Karena Rayya begitu yakin wanita yang disukai oleh Ramadhan adalah Kayla.
" Sekarang belum ada pacar lagi walaupun ada beberapa teman pria yang mencoba mendekati." Kayla tidkak menyadari jika sebenarnya Rayya itu sedang menelisik tentang hubungannya dengan Ramadhan.
" Pernah pacaran sama cowok Indonesia nggak, Kak?" Sungguh nekat Rayya menanyakan hal ini.
" Sejauh ini belum, sih!" sahut Kayla.
Rayya langsung menyipitkan matanya mendengar jawaban Kayla.
" Kenapa? Kamu nggak percaya Kakak belum pernah pacaran dengan pria Indonesia?"
" Ah, nggak, Kak. Bukan nggak percaya, tapi Kak Kayla cantik begini, pasti banyak pria yang suka, baik itu pria Indonesia maupun pria bule." Rayya mengatakan pendapatnya.
" Nggak tahu, deh. Sudah ah, jangan bicara itu. Kamu sendiri bagaimana? Simone?" Kali ini Kayla yang coba menyelidik Rayya.
" Kami nggak ada apa-apa kok, Kak! Hanya berteman." Rayya kembali membantah jika da memunyai hubungan spesial dengan Simone.
" Amico speciale?" ( Teman spesial ) Kayla menggoda Rayya.
" Bukan, Kak!" Mulut Rayya bisa dengan cepat membantah jika Simone bukan teman spesialnya namun rona merah di wajahnya tidak bisa disembunyikan begitu saja olehnya hingga Kayla bisa melihat warna pipi Rayya yang seketika berubah.
__ADS_1
***
Sementara itu di belahan bumi bagian lain.
Tok tok tok
" Permisi, Om." Ramadhan memasuki ruang kerja Dirga setelah mengetuk pintunya terlebih dahulu.
" Ada apa, Ram?" tanya Dirga saat melihat Ramadhan memasuki rumah kerjanya.
" Rama ingin menunjukkan iklan apartemen kita yang ada di Bali, Om." Ramadhan kemudian menyalakan proyektor yang tersambung ke layar proyektor yang ada di ruang bos nya itu.
Dirga memperhatikan penayangan iklan yang menampilkan seorang model cantik bernama Farah Rose Agustina dengan artis pria yang sedang naik daun karena sinetronnya di tanah air.
" Bagaimana menurut, Om?" Ramadhan meminta pendapat Dirga setelah selesai menonton penayangan iklan yang akan diluncurkan mulai pekan depan.
" Lumayan, pemilihan model wanita yang cantik dan artis pria yang sinetronnya sedang booming saat ini akan membuat orang akan melihat dengan produk yang kita pasarkan." Dirga berpendapat.
" Syukurlah jika Om memang cukup puas dengan iklan ini, semoga penjualan apartemen di Bali juga akan sukses seperti apartemen kita lainnya," ujar Ramadhan.
" Aamiin." Dirga menyahuti.
" Oh ya, Om. Rencananya lusa kita akan mengadakan jamuan makan malam dengan model dari iklan tersebut. Apa Om bisa hadir nanti?" tanya Ramadhan kemudian.
" Kau saja yang menghadiri, Ram. Om ingin menemani Tantemu ke Purwokerto untuk mengadakan tahlil empat puluh hari Bude Arum." Dirga menolak untuk menghadiri acara makan malam yang disebutkan oleh Ramadhan tadi.
" Oh, ya sudah kalau begitu, Om." Ramadhan kemudian mematikan proyektor kembali.
" Baik, Om. Kalau begitu Rama permisi ya, Om." Ramadhan kemudian berpamitan lalu segera meninggalkan ruang kerja Dirgantara Poetra Laksmana.
***
Anindita memperhatikan putranya yang nampak gagah dengan menggunakan setelan blazer warna hitam. Mengingatkan dia kepada sosok Ricky saat dia menikah dengan pria itu.
" Kamu mau ke mana, Rama? Sudah terlihat rapih dan gagah begini." Anindita sampai berputar mengelilingi anaknya.
" Rama mau ada acara dinner bersama model iklan untuk Angkasa Raya, Ma." Ramadhan merapihkan dasinya.
" Model iklan?"
" Iya, untuk apartemen yang di Bali, Ma."
" Kok Mama belum pernah lihat ada iklannya, ya?"
" Memang belum release, Ma. Baru Minggu depan mulai."
__ADS_1
" Modelnya pakai artis terkenal?"
" Iya, Ma. Model muda yang wajahnya sudah nggak asing di televisi, Farah Rose dan artis kesayangan Mama yang jadi modelnya." Ramadhan terkekeh saat menyebutkan jika model pria yang dipakainya adalah idola sang Mama.
" Idola Mama?"
" Sinetronnya tiap malam Mama tonton."
Anindita membulatkan mata saat Ramadhan mengatakan jika artis sinetron yang setiap hari dirinya tontonlah yang akan menjadi model prianya.
" Arya Saluka?" Anindita menempelkan kedua telapak tangan ke pipinya dengan mulut terbuka karena dia merasa surprise.
" Mama baper ya kalau mendengar nama Arya? Lagi kangen Papa Arya, ya?" Ramadhan terkekeh menggoda Mamanya.
" Iihh, kamu ini." Anindita memukul pelan lengan Ramadhan hingga membuat pria itu tertawa kencang.
" Ada apa ini Mama sama anak ramai sekali?" Ricky yang baru keluar dari kamar langsung bertanya kepada istri dan anaknya.
" Itu, Pa. Mama ... aaawww ...!" Ramadhan mengusap lengannya yang tiba-tiba dicubit Anindita.
" Ada apa dengan Mama?" tanya Ricky penasaran.
Ramadhan yang saat ini sedang berada dalam sorot mata penuh intimidasi Anindita tak berani melanjutkan kalimatnya.
" Rama pergi dulu deh, Ma." Ramadhan mencium tangan dan pipi Anindita. Kemudian berganti mencium tangan Ricky.
" Rama pergi dulu, Pa."
" Memangnya mau ke mana kamu, Rama?" tanya Ricky kemudian.
" Mau ada acara dinner sama orang, Pa. Assalamualaikum ..." Ramadhan melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.
" Waalaikumsalam ...." Ricky dan Anindita menyahuti.
" Tadi itu Mama bilang lagi kangen Papa Arya, Pa!" teriak Ramadhan kemudian berlari kecil keluar dari rumahnya dengan terkekeh.
Anindita langsung membulatkan matanya saat mendengar perkataan Ramadhan, sementara Ricky langsung menatap tajam ke arah istrinya.
" Jangan didengar apa yang dikatakan Rama, Pa." Anindita langsung melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
" Pa, mau Mama pijitin, nggak? Ayo Mama pijat sekarang." Anindita langsung menarik lengan suaminya dan membawa suaminya itu kembali ke dalam kamar mereka.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️