RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Pria Terbodoh Di Dunia


__ADS_3

Minggu paginya Edward dan Nadia mengundang Rayya dan juga Simone untuk sarapan pagi bersama di rumahnya. Sebenarnya Rayya ingin menolak karena keberadaan Ramadhan yang kemungkinan besar akan diundang di sana. Belum lagi Farah yang ternyata sahabat dari Kayla pasti juga akan ada di sana. Tapi karena Rayya tidak enak menolak permintaan orang tua Kayla, apalagi Kayla pun memohon kepada Rayya agar datang, akhirnya dengan sangat terpaksa Rayya mengikuti permintaan Kayla.


Di depan meja makan kini mereka berada minus Farah yang mesti persiapan untuk fashion show yang diadakan sore nanti.


" Simone ini pacar kamu, Rayya?" tanya Edward yang melihat kehadiran Simone bersama Rayya pagi ini.


Rayya dan Simone yang duduk bersebelahan saling berpandangan.


" Kami hanya bersahabat, Om." Rayya akhirnya menjawab pertanyaan Edward.


" Tadinya sahabat nanti lama-lama bisa saling suka," celetuk Kayla menggoda Rayya dan Simone.


Ramadhan menatap Kayla dengan pandangan heran. Apa yang dikatakan Kayla, seperti itulah yang dia rasakan saat ini. Tapi kenapa Kayla tidak mengerti juga akan perasaannya terhadap wanita itu, keluh Ramadhan.


" Simone, wanita sebaik Rayya jangan sampai terlepas begitu saja," ucap Kayla kembali.


" Tentu saja, Kayla. Hanya pria bodoh yang berani melepas wanita seperti Rayya." Sepertinya Simone mempunyai celah untuk menyindir Ramadhan.


Dan ternyata sindiran Simone sukses membuat Ramadhan menoleh ke arahnya.


" Iya, tapi kamu harus gentle, ya! Kalau Rayya menolak, kamu jangan memaksa dia supaya menerima kamu. Datangnya rasa cinta memang tidak dapat ditolak tapi kita juga tidak bisa memaksakan orang itu harus menerima kita." Kayla memang sengaja menyindir Ramadhan yang telah memaksakan kehendaknya.


Ramadhan kini kembali menoleh ke arah Kayla. Dia menyadari jika Kayla saat ini sedang menyindirnya secara tidak langsung.


" Iya, benar. Jangan terlalu memaksakan seseorang menerima cinta kita. Walaupun kita bisa memilikinya namun hanya kebahagiaan semu yang kita dapatkan." Nadia yang sedari tadi hanya mendengarkan kini ikut berkomentar, karena dia pun pernah berbuat bodoh dengan memaksakan diri agar menikah dengan Dirga walaupun jelas-jelas Dirga tidak mencintainya. " Daripada kita memaksakan diri, lebih baik kita membuka hati kepada cinta lain yang sudah menanti kita tanpa kita sadari." Nadia merasakan lengannya diusap oleh Edward. Sosok pria yang akhirnya membuat dirinya tersadar dari mimpinya. Dan Edward lah kini yang telah memberikan kebahagiaan seutuhnya untuk Nadia dengan mahligai rumah tangga yang sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun.


***


Setelah makan pagi bersama keluarga Edward selesai, Rayya dan Simone akhirnya berpamitan karena mereka harus kembali ke Roma.


" Rayya, sei una donna speciale, Non piangere per le persone stupide che ti ignorano." ( Rayya, kau adalah wanita spesial, jangan tangisi orang bodoh yang mengabaikanmu )


Rayya mengalihkan pandangannya dari jendela pesawat ke arah Simone yang duduk di sampingnya.


" Cosa intendi?" ( Maksudmu )


" Mentre a Positano, William ha detto che ami davvero l'uomo che rifiuta di essere abbinato a te." ( Saat di Positano, William mengatakan jika kamu mencintai pria yang menolak dijodohkan denganmu )


Mata Rayya membulat mengetahui jika kakaknya telah membuka rahasianya kepada Simone.


" E non credo che colui che ti ha respinto sia stato Rama." ( Dan aku tidak menduga jika pria itu adalah Rama )


Rayya menghela nafas panjang, dia sama sekali tidak menduga jika Simone mengetahui tentang kisahnya.

__ADS_1


" Non preoccuparti, Simone. Io sto bene." ( Jangan khawatir, Simone. Aku baik-baik saja ) ujar Rayya seraya tersenyum.


" Penso che Rama sia l'uomo più stupido di questo mondo." ( Menurutku Rama adalah pria terbodoh di dunia ini ) umpat Simone merasa kesal sendiri kepada Ramadhan. " È più preoccupato di perseguire una donna che lo ignora che di accettare una donna che lo ama veramente." ( Lebih mementingkan wanita yang mengabaikannya daripada menerima wanita yang sungguh-sungguh mencintainya )


" L'amore non può essere forzato." ( Cinta itu tidak bisa dipaksakan ) ucap Rayya kemudian.


" Se avessi saputo che era lui a farti del male, non l'avrei aiutato." ( Jika aku tahu dia yang menyakitimu, aku tidak akan membantunya ) Sesal Simone karena selama di Italia, Simone banyak membantu Ramadhan, tidak hanya sebagai penerjemah tapi juga layaknya tour guide untuk pria itu.


" Non portare rancore, Simone. Non è buono." ( Jangan menyimpan dendam, Simone. Itu nggak baik ) Rayya menoleh ke arah Simone yang terlihat menyesal.


Dan kini Simone pun menatap Rayya dengan lekat.


" Sei davvero una donna straordinaria, Rayya." ( Kau benar-benar wanita luar biasa, Rayya ) Simone benar-benar mengagumi sosok Rayya yang begitu sempurna menurutnya. Tidak saja dari penampilan luarnya saja tapi juga dari sikap dan juga hatinya yang terlihat berjiwa besar tidak membenci orang yang telah menyakitinya itu.


" Mi stai sopravvalutando, Simone." ( Kamu terlalu berlebihan menilai aku, Simone ) Rayya merendahkan hatinya dengan menepis anggapan jika dia adalah wanita luar biasa, karena dia sendiri merasa jika dia punya banyak kekurangan.


" Spero che tu non pensi più a quel ragazzo. Una brava donna come te non merita un uomo stupido come lui." ( Jangan lagi menangisi pria seperti dia. Wanita sebaik kamu tidak pantas untuk pria bodoh seperti dia )


" Si, Simone. Non dobbiamo più parlarne." ( Ya, Simone. Kita tidak usah membicarakan itu lagi ) pinta Rayya agar Simone tidak membahas masalah itu lagi.


" Okey."


Simone pun berhenti membahas tentang Ramadhan, karena dia tidak ingin membuat Rayya semakin terluka.


***


" Assalamualaikum ..." Rayya mengucapkan salam saat membuka pintu apartemennya.


" Waalaikumsalam ..." Jovanka yang berada di dalam apartemen langsung menjawab. " Kamu sudah pulang, Rayya?"


" Iya, Auntie." Rayya menyahuti. " Per favore, metti lì quel dipinto, Simone." ( Tolong taruh di situ saja lukisannya, Simone ) Rayya meminta Simone meletakkan lukisannya di dekat kursi.


Dari sepuluh lukisan yang dia bawa untuk dipamerkan, dua diantaranya terjual. Walaupun uang yang dia diterima tidak seberapa jika dibanding dengan uang saku yang tiap bulan Daddy nya kirimkan, namun Rayya merasa senang karena dia bisa menghasilkan uang dari jerih payahnya sendiri. Selain itu dia mendapatkan pengalaman dan juga mendapat rekomendasi untuk bisa mengikuti pameran-pameran seperti ini di masa mendatang


" Oh ya, Auntie. Kenalkan ini Simone, teman Rayya dan Kak Willy." Rayya lalu memperkenalkan Simone pada Jovanka.


" Hallo, Tante. Apa kabar? Saya Simone." Simone lalu memperkenalkan kepada Jovanka.


" Hai, Simone. Tante baik, Alhamdulillah." Jovanka menyambut uluran tangan Simone. Walaupun Jovanka agak terkejut mendengar Simone bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia.


" Simone ini blasteran Indonesia-Italia, Auntie." Rayya menjelaskan karena dia melihat Jovanka agak terkaget mendengar Simone berbahasa Indonesia.


" Oh, pantesan ...."

__ADS_1


" Kak Willy sama Michelle mana, Auntie?" tanya Rayya karena merasa suasana apartemen nampak sepi.


" Willy sedang menemani Michelle ke gereja," ucap Jovanka. William dan Michelle memang mempunyai keyakinan yang berbeda soal agama yang dianut mereka. William mengikuti Jovanka sedangkan Michelle mengikuti agama dari Peter, Daddy nya.


Tak berapa lama kemudian, William dan Michelle pun tiba di apartemen.


" Assalamualikum ..." Suara William terdengar dari arah pintu masuk.


" Waalaikumsalam ..." Rayya dan Jovanka menyahuti bersamaan.


" Kalian sudah pulang?" William yang melihat keberadaan Rayya dan Simone langsung menyapa mereka berdua. " Bagaimana pamerannya?" tanya William.


" Alhamdulillah sukses, Kak. Banyak yang menyukai lukisanku," ucap Rayya bangga.


" Syukurlah kalau begitu," sahut William. " Simone, questa è mia sorella Michelle." William lalu memperkenalkan Michelle pada William.


" Hi, I'am Michelle ..." Michelle mengulurkan tangannya kepada Simone.


" Simone." Simone pun menyambut dengan baik salam perkenalan dari Michelle.


" Rayya, dia itu siapa? Ganteng sekali. Dia pacarmu bukan? Kalau bukan pacarmu, buat aku saja, ya?" Michelle terkikik memuji penampilan Simone. Michelle berpikiran jika Simone tidak mengerti bahasa Indonesia.


" Hei, Michele hati-hati kamu bicara, Simone mengerti bahasa Indonesia." William memperingatkan adiknya yang sepertinya tertarik pada Simone.


" Serius?" Michelle langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan William. Dia langsung menyeringai seraya menggaruk tengkuknya karena dia ketahuan memuji Simone.


" Le tue sorelle sono così belle, William." ( Adik-adikmu cantik-cantik, William) ujar Simone terkekeh.


" Rayya, dia bilang apa?" bisik Michelle bertanya kepada Rayya.


" Simone bilang kamu ini cerewet sekali," sahut Rayya dengan suara yang terdengar oleh orang yang ada di sana membuat William, Simone, Jovanka juga Rayya sendiri tertawa. Hanya Michelle saja yang terlihat langsung mengerucutkan bibirnya.


*


*


*


visual Michelle



Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2