RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Siapa Luigi


__ADS_3

Rayya menggigit bibirnya. Dia takut jika Gavin akan marah kepadanya jika Daddy nya itu mengetahui jika yang menghubunginya adalah pria yang tidak dikenal oleh Gavin.


" Baby ... kemarikan ponselnya, biar Daddy yang angkat." Gavin yang merasa penasaran dengan orang yang menghubungi putrinya itu mendesak agar Rayya segera memberikan ponselnya.


Rayya akhirnya menyerahkan ponselnya itu dengan agak ragu kepada Gavin.


Gavin mengeryitkan keningnya melihat nomer yang tidak bernama di layar ponsel anaknya. Dia pun lalu menjawab panggilan masuk telepon itu.


" Pronto, Assalamualikum ... come stai oggi, Rayya?" ( Halo, Assalamualaikum ... bagaimana kabarmu hari ini, Rayya )


" Waalaikumsalam, who is this?" Gavin mengeryitkan keningnya karena penelepon itu menggunakan bahasa Italia namun memberinya ucapan salam Assalamualaikum.


" Oh, I'm sorry sir. Is this Rayya's number?" Luigi nampak terkejut karena mendapati suara laki-laki yang mengangkat telepon milik Rayya.


" Who are you?" selidik Gavin penuh curiga.


" Let me introduce myself. I'm Luigi and I'm Rayya's friend from Italia." Luigi pun memperkenalkan dirinya kepada Gavin.


" Why are you calling my daughter?" Gavin memang sangat posesif jika menyangkut putri satu-satunya itu.


" Oh, sorry. Are you Rayya's dad? I just want to say my deepest condolences of Rayya's grandpa." Luigi akhirnya menyampaikan rasa belasungkawanya kepada Gavin.


" Thank you, is there any else?"


" Hmm, can I talk with Rayya, Sir?"


" Raya is busy." Nada suara Gavin terdengar tegas dan ketus.


" Oh, I'm so sorry. Once more I just want to say my deepest condolences, Sir. Assalamualaikum." Luigi akhirnya memilih mengakhiri percakapannya dengan Gavin.


" Waalaikumsalam ..." Gavin sempat membalas salam Luigi sebelum Luigi mematikan panggilan teleponnya.


Rayya menarik nafas dalam-dalam melihat Daddy nya itu berbicara dengan sangat tegas kepada Luigi.


" Siapa Luigi itu, Baby?" Gavin lalu membuka aplikasi whatsapp karena nomer yang menghubungi Rayya mempunyai nomer WhatsApp. Gavin lalu mengklik foto profil pria bernama Luigi itu.


Gavin menautkan kedua alisnya saat mendapati pria muda tampan yang terpampang di profil pria bernama Luigi itu.


" Apa dia orangnya?" Gavin memperlihatkan foto itu kepada Rayya untuk memastikan jika pria itu benar orang yang sama dengan yang menghubungi ponsel Rayya, dan Rayya menganggukkan kepalanya membenarkan.

__ADS_1


" Mana aku mau lihat, By." Azzahra pun penasaran dengan orang yang bernama Luigi hingga dia merebut ponsel Rayya dari tangan suaminya itu.


" Masya Allah, ganteng sekali ini, Rayya. Siapa namanya tadi? Meni kasep pisan." Azzahra sampai tak sadar memuji ketampanan Luigi.


" Apa kau bilang, Honey?" Gavin kembali merebut ponsel Rayya yang sedang dipandangi oleh Azzahra, lebih tepatnya foto profil Luigi lah yang sedang dipandang Azzahra.


" Berani sekali kau memuji pria lain di hadapanku." Gavin langsung memberikan tatapan mata tajam ke arah istrinya.


Azzahra langsung melingkarkan tangannya ke pinggang sang suami karena suaminya itu nampak geram melihatnya memuji ketampanan Luigi.


" Luigi itu memang ganteng, seperti Hubby. Tapi buat aku, nggak ada yang mengalahkan ketampanan suamiku ini." Azzahra menyandarkan tubuhnya ke tubuh tinggi tegap Gavin.


" Siapa Luigi itu, Baby? Dia orang mana? Kenapa dia bisa mengucapkan assalamualaikum?" tanya Gavin menelisik.


" Dia orang Italia, Dad. Dia memang seorang muslim." Rayya menjelaskan.


Gavin mengangkat satu alisnya mendengar penjelasan soal Luigi tentang keyakinannya.


" Kamu kenal dia di mana? Apa dia mahasiswa di kampus kamu kuliah juga?" selidik Gavin lagi.


" Rayya bertemu dia di Masjid Grande Roma, Dad. Dia calon dosen di kampus Rayya."


" Iya, Mom."


" Masya Allah, sudah ganteng, dosen, seiman juga. Mommy setuju kalau kamu sama dia, Rayya." Azzahra sepertinya benar-benar terpesona dengan sosok Luigi walaupun belum bertemu secara langsung dengan pria itu.


" Honey, kamu ini apa-apa, sih? Kenapa kau menginginkan pria yang tidak kita kenal itu untuk menjadi pasangan Baby kita?" protes Gavin mendelik.


" Tapi sepertinya dia pria baik, By. Benar begitu, Rayya?" Azzahra bertanya kepada Rayya.


" Hmmm, i-iya, Mom."


" Tuh, Rayya bilang juga Luigi itu baik, By."


" Sudah-sudah, jangan bahas itu!" Gavin nampak keberatan Azzahra membahas soal Luigi yang dinilai istrinya itu cocok untuk Rayya. " Baby, apa tujuan pria itu mendekatimu?" Gavin kemudian berganti duduk di ayunan gantung yang tadi ditempati oleh Umi Rara.


" Dia hanya ingin berteman dengan Rayya saja kok, Dad. Kebetulan kami bertemu di Masjid lalu berbincang dan ternyata dia alumnus di kampus tempat Rayya kuliah. Dia juga berencana mengajar di sana." Rayya menjelaskan apa yang dia dengar dari Luigi, namun dia tidak menjelaskan soal keinginan Luigi yang ingin menjadi kekasihnya.


" Apa kakakmu tahu soal Luigi?" tanya Gavin pagi.

__ADS_1


" Iya, Dad. Kak Willy tahu soal Luigi."


" Kenapa dia tidak cerita pada Daddy?"


" Dad, tidak semua yang terjadi pada Rayya harus dilaporkan kepada Daddy, kan? Kak Willy itu kakak Rayya bukan detective suruhan Daddy yang mesti melaporkan apa yang Rayya perbuat di sana. Please, Dad. Berhentilah memperlakukan Rayya seperti anak kecil." Rayya mengkomplain sikap Gavin yang tak pernah luntur posesifnya terhadap dirinya itu.


" Kau keberatan Daddy memperhatikanmu, Baby?" Gavin terlihat kecewa atas protes yang diajukan oleh Rayya.


" Bukan begitu, Dad. Rayya hanya nggak ingin pergaulan Rayya dibatasi. Daddy harus percaya sama Rayya kalau Rayya bisa menjaga diri Rayya baik-baik di sana. Lagipula, di sana yang menjaga Rayya bukan hanya Kak Willy sendirian, tapi juga Simone yang ikutan menjaga Rayya." Kini Rayya duduk di samping Gavin dengan menyandarkan tubuhnya pada Daddy nya itu.


" Oh ya, bagaimana dengan Simone, Rayya? Apa Simone juga tahu soal Luigi?" Azzahra yang ikut duduk di samping Rayya langsung teringat akan pria tampan yang menjadi sahabat putrinya itu.


" Iya, Mom. Dia juga tahu."


" Apa dia cemburu pada Luigi? Kalau Mommy rasa dia itu menyukai kamu."


" Michelle menyukai Simone, Mom."


" Michelle?" Gavin dan Azzahra sampai terbelalak mengetahui jika adik dari William dari Jovanka itu menyukai Simone.


" Iya, Dad, Mom. Rayya justru ingin mereka menjadi dekat. Simone itu pria yang baik, Rayya rasa akan cocok dengan Simone." Rayya tersenyum, setelah kemarin menangis dan bersedih akhirnya senyum itu bisa terlukis jelas di bibir Rayya.


" Apa kau ingin menjadi comblang untuk mereka, Baby?" tanya Gavin mengeryitkan keningnya.


" Insya Allah, mudah-mudahan mereka berjodoh, Dad. Jadi Kak Willy tak perlu cemas, adik perempuan yang lainnya akan dijaga oleh pria sebaik Simone, Dad."


" Masya Allah, hati kamu ini benar-benar luar biasa, Baby. Kau memperhatikan kebahagiaan orang lain. Daddy berharap baby pun akan mendapatkan kebahagiaanmu dengan pria yang akan menjadi jodohmu kelak." Gavin mengecup kening putrinya.


" Aamiin ..." Rayya dan Azzahra menyahuti bersamaan.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2