
" Sayang ... sudah dong, marahnya. Aku minta maaf. Aku janji aku nggak akan mengulangi hal itu lagi." Ramadhan sedang berusaha meredakan amarah istrinya yang merajuk, karena dia tidak membangunkan istrinya, sebab dia melihat Rayya yang nampak kelelahan karena semalam dia kembali mengajak istrinya melakukan pergu mulan setelah Rayya kembali dari kamar mandi.
" Sayang ... kita ini pengantin baru, harusnya mesra-mesraan, kok kita malah marahan diam-diaman seperti ini, sih?" Ramadhan memeluk tubuh Rayya dari belakang Rayya setelah mereka menikmati sarapan pagi yang disiapkan oleh pihak hotel.
" Lepaskan, Kak!" Rayya mencoba melerai pelukan suaminya itu.
" Aku baru akan lepaskan kalau kamu mau memaafkan aku lebih dahulu." Ramadhan. memberikan syarat kepada Rayya jika istrinya itu lepas dari pelukannya.
" Kak ...!!"
" Mas, Mas Rama. Kemarin 'kan sudah aku bilang suruh ganti panggilannya." Ramadhan memprotes Rayya yang masih saja memanggilnya dengan sebutan 'Kak'
Rayya mendelik ke arah suaminya atas protes yang ditujukkan kepadanya.
" Kalau orang yang salah langsung diprotes, kalau sendiri yang salah nggak mau diprotes!" ketus Rayya.
Ramadhan menyeringai mendengar sindiran Rayya.
" Hmmm, jadi pendendam nih, ceritanya?" Ramadhan justru menciumi pipi Rayya, membuat Rayya memberengut.
" Sudah deh, jangan marah terus. Rayya yang aku kenal itu wanita yang cantik, baik hati, penyabar dan pemaaf. Jadi jangan marah-marah lagi ya, Sayang." Ramadan semakin mengeratkan pelukannya.
" Asal Mas Rama nggak mengulangi kesalahan seperti tadi." Akhirnya Rayya memaafkan kesalahan suaminya itu.
" Siap, Sayang." sahut Ramadhan dengan tegas.
" Apa kita akan pulang sekarang, Mas?" tanya Rayya kemudian.
" Kamu ingin pulang?"
" Iya, untuk apa kita menginap di hotel Daddy? Nggak enak, Mas. Bosan juga ..." keluh Rayya.
" Kau bilang bosan bersama denganku?"
" Maksudku ... daripada kita menghabiskan waktu menginap di hotel. mending kita pergi ke mana gitu, Mas."
" Hmmm, bilang saja kau ingin kita pergi honyemoon." Ramadhan menyeringai menggoda Rayya.
" Memangnya kenapa kalau kita pergi honeymoon? Nggak boleh?" Rayya menaikkan alisnya.
" Boleh, kok, Sayang ... boleh ... Kamu mau honeymoon ke mana?" tanya Ramadhan.
" Aku nggak mau yang jauh-jauh, Mas. Yang dekat-dekat saja asalkan berdua sama Mas Rama," ucap Rayya terkikik karena mengatakan kalimat yang tidak biasa diucapkannya.
" Sudah mulai pintar menggombal sekarang, hmmm?" tanya Ramadhan mengelitik pinggang Rayya.
__ADS_1
" Aaawww ... kok digelitik sih, Mas? Aku 'kan bicara serius. Apa enaknya pergi yang jauh ke tempat yang indah kalau hanya sendirian? Enak itu jika ada suami yang menemani." Rayya menjelaskan.
" Kita ke rumah Papa Mamaku, yuk!" Ramadhan berniat mengajak Rayya untuk mengunjungi rumah orang tua Ramadhan.
" Aku mau Mas, kita berangkat sekarang?" Rayya nampak bersemangat saat Ramadhan ingin mengajaknya mengunjungi rumah orang tua suaminya itu.
" Ya sudah kita siap-siap sekarang."
" Aku ganti baju dulu ya, Mas." Rayya kemudian bersiap untuk mengganti pakaiannya karena dia senang akan berkunjung ke rumah mertuanya itu.
***
Lebih dari tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan oleh Ramadhan dan Rayya untuk sampai ke rumah Ricky dan Anindita. Dan hanya Anindita saja yang kebetulan ada di rumah karena Ricky dan kedua adik Ramadhan sedang beraktivitas.
" Mama senang akhirnya Rayya bisa menjadi menantu Mama." Anindita menggenggam tangan Rayya saat menyambut kedatangan menantunya itu.
" Terima kasih, Ma. Rayya juga senang Mama Anin menjadi Mama mertua Rayya." Rayya yang mempunyai sifat rendah hati membalas perkataan Anindita.
" Sudah pasti senanglah, memang dari dulu berharap menjadi menantu Mamaku, kok." celetuk Ramadhan menyindir istrinya.
Rayya langsung menoleh ke arah Ramadhan saat suaminya itu menyindirnya, sudah pasti ucapan Ramadhan membuat dia tersipu malu apalagi di hadapan Anindita.
" Dan kamu dengan bo dohnya menolak dijodohkan dengan Rayya. Untung saja Allah masih berbaik hati karena hati Rayya tidak berbelok ke pria lain. Coba kalau Rayya jatuh cinta ke pria lain di saat kamu sudah mulai jatuh cinta pada Rayya, kamu pasti yang rugi." Anindita membela menantunya membalas sindiran Ramadhan.
" Ma, Rama itu yakin kalau hati Rayya nggak akan berpaling pada pria lain. Karena Rayya itu hanya cinta aku seorang. Benar 'kan, Sayang?" Sebuah kerlingan mata diberikan Ramadhan pada istrinya bersamaan dengan kalimat yang diucapkannya.
" Oh ya, kalian rencana mau bulan madu ke mana?" tanya Anindita kemudian.
" Rayya ingin bulan madu yang dekat-dekat saja, Ma. Mungkin kami akan ke Bali, Lombok atau Raja Ampat," tutur Ramadhan menjawab pertanyaan Mamanya. " Setelah itu mungkin akan ke Venice, karena Rama ingin sekali ke kota itu. Waktu ke Italia dulu nggak sempat mampir ke sana. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika pergi bersama orang tercinta ke sana," lanjutnya melirik ke arah Rayya yang langsung mengerutkan keningnya.
" Tapi kamu harus ingat, jika kamu harus bekerja, Rama. Kamu nggak bisa pergi lama begitu saja meninggalkan pekerjaan kamu." Anindita menasehati Ramadhan agar tidak melupakan posisinya yang hanya seorang karyawan di Angkasa Raya.
" Iya Rama mengerti kok, Ma. Karena itu kita mungkin nggak akan lama, tiga hari honeymoon di Indonesia, tiga hari di Italia. Ngaret sedikit masuk kerja untuk pengantin baru sih, wajarlah, Ma. Om Dirga juga pasti memaklumi."
" Kalau Om Dirga marah dan memecat Rama, Rama tinggal minta ke Papa mertuaku, ikut bantu hotelnya, pasti dikasih." lanjut Ramadhan berkelakar dengan tertawa membuat Rayya membulatkan matanya sedangkan Anindita hanya menggelengkan kepalanya.
***
Rayya berjalan ke arah balkon di depan ruang keluarga lantai dua rumah keluarga mertuanya itu. Ingatannya seakan terlempar ke beberapa tahun ke belakang, saat dia terakhir kali menginjakkan kaki di rumah ini. Saat itu dia sedang mencari keberadaan Ramadhan dan dia mendapati pria itu sedang berbincang dengan Kayla. Dari sanalah dia menduga jika Ramadhan menyukai Kayla.
" Sedang melamunkan apa?" Suara Ramadhan di telinga Rayya dibarengi dengan sebuah kecupan di pipi dan pelukan dari arah belakang membuat Rayya tersentak kaget.
" Astaghfirullahal adzim, Mas Rama mengagetkanku saja." Rayya memegang dadanya karena dia merasa sangat terkejut dengan tindakan Ramadhan tadi.
" Pasti sedang melamun, kan?"
__ADS_1
" Iya ..." Rayya menganggukkan kepalanya.
" Melamunkan apa?" Ramadhan membawa Rayya untuk duduk di sofa ruang keluarga yang menghadap ke arah balkon itu.
" Aku teringat terakhir kali menginjakkan kaki ke sini, Mas." Rayya menoleh ke arah Ramadhan.
" Oh ya? Kapan?"
" Waktu aku masih kecil dan aku mengintip Mas Rama sedang berbicara berdua dengan Kak Kayla di balkon itu. Sejak itu aku sudah menduga jika Mas Rama menyukai Kak Kayla. Saat itu hatiku rasanya sedih, apalagi Mas Rama selalu menganggap aku anak kecil. Terlebih lagi waktu Mas Rama mengajakku pergi ke luar rumah lalu mengatakan jika Mas Rama nggak menyetujui perjodohan kita dan mengatakan jika Kak Rama tidak mungkin bisa memberikan cinta ke aku karena Kak Rama menyukai wanita lain. Sejak itu aku merasa yakin jika wanita yang dimaksud Mas Rama adalah Kak Kayla, dan ternyata itu benar ..." Hati Rayya akan terasa pilu jika mengingat kejadian lalu.
" Maafkan atas kesalahan aku yang dulu. Mulai sekarang jangan pernah ingat hal itu lagi. Saat ini kita sudah bersama, hanya ada bahagia saja di antara kita, jangan lagi ada kisah sedih." Ramadhan merangkulkan lengannya di pundak Rayya dan mengecup kening istrinya itu.
" Tapi, Mas ...."
" Tapi apa, Sayang?"
" Mas Rama ingin kita ke Venice tapi Mas Rama nggak akan membayangkan perginya sama Kak Kayla, kan? Soalnya dulu Mas Rama pernah bilang ingin ke Venice pada Kak Kayla. Pakai bilang kota Venice itu romantis segala ..." Rayya melirik ke arah suaminya.
" Memang aku ada bilang gitu, ya?"
" Ada dong, aku tuh selalu ingat dan terekam jelas segala sesuatu tentang Mas Rama di otakku."
" Segitunya??"
" Iyalah ...."
Ramadhan tersenyum mendengar ucapan Rayya yang menunjukkan jika wanita itu begitu dalam mencintainya.
" Terima kasih, Sayang. Terima kasih untuk kesabaran dan cintamu selama ini untukku." Ramadhan kemudian membenamkan sebuah kecupan manis di bibir Rayya.
" Mas, kita di luar ruangan ..." Rayya langsung menghindar saat Ramadhan membenamkan ciuman di bibirnya.
" Biarkan saja, tidak akan ada yang lihat."
" Tapi aku malu, barangkali Mama Anin atau ada bibi yang naik ke atas."
" Ya sudah, kalau gitu kita lanjut di kamar saja." Ramadhan langsung mengangkat tubuh Rayya hingga berada di antara dua lengannya dan membawa Rayya masuk ke dalam kamarnya yang berada di sebelah ruang keluarga di lantai atas itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️