
Setelah terbangun dari tidur pagi ini, Ramadhan langsung mengecek ponselnya. Dia yang sangat mengharapkan balasan pesan dari Rayya langsung tersenyum saat pesannya itu berbalas.
" Waalaikumsalam, aku rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Kak. Aku nggak menyalahkan Kak Rama dalam hal ini, jadi Kak Rama nggak usah merasa bersalah."
" Rayya, tapi Kakak perlu bicara dengan kamu." Ramadhan kemudian membalas pesan Rayya.
Namun setelah ditunggu beberapa lama dari dia mandi, melaksanakan sholat Shubuh, sampai dia akhirnya berangkat ke kantor pun, pesannya tidak juga dibaca oleh Rayya.
***
Ramadhan menatap rumah mewah di hadapannya. Dia lalu memarkirkan mobilnya di dekat gerbang pintu rumah Dad David. Karena dia tidak juga mendapat balasan dari Rayya, akhirnya Ramadhan memilih datang ke rumah Dad David saat istirahat makan siang. Sebuah tindakan yang terhitung nekat karena dia kemungkinan ditolak di rumah itu.
" Permisi, Pak. Saya ingin bertemu dengan Rayya," ujar Ramadhan saat turun dari mobilnya dan berbincang dengan satpam di dekat pintu gerbang.
" Maaf, Mas ini siapa?" tanya Satpam yang berjaga di rumah Dad David.
" Saya Ramadhan, dari PT. Angkasa Raya, relasi bisnis dari perusahaan Opa David." Ramadhan menjelaskan siapa dirinya.
" Oh, sebentar ya, Mas." Satpam itu kemudian kembali ke pos nya lalu menghubungi seseorang dengan pesawat teleponnya. Tak lama satpam itu membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Ramadhan untuk masuk ke dalam rumah Dad David.
" Silahkan, Mas."
Ramadhan tersenyum karena dia diijinkan masuk ke dalam rumah milik Dad David. Awalnya dia pikir akan susah dan penuh drama untuk bisa memasuki rumah itu.
" Terima kasih, Pak." Selepas mengatakan ucapan terima kasih, Ramadhan pun kembali ke dalam mobilnya untuk segera masuk ke pekarangan rumah Dad David.
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat tempat yang kosong, Ramadhan pun kembali turun dari mobilnya. Dia melihat beberapa mobil terparkir di sana. Dia menduga masih banyak sanak saudara dari Dad David yang menginap di rumah mewah itu.
" Assalamualaikum, Bu. Saya mau bertemu dengan Rayya. Apa Rayya nya ada?" tanya Ramadhan pada seorang wanita yang dia duga adalah ART di rumah itu.
" Waalaikumsalam. Mas ini siapa, ya? Sudah bilang di Pak Satpam kalau mau bertemu dengan Non Rayya?" tanya ART tersebut.
" Sudah, Bu. Tadi saya sudah bicara dengan Satpam di depan, makanya saya diperbolehkan masuk ke sini."
" Oh, sebentar ya, Mas. Silahkan duduk dulu saja, nanti saya sampaikan kalau ada tamu yang mencari Non Rayya." Ibu ART mempersilahkan Ramadhan duduk di kursi teras rumah berlantai granit itu.
Ramadhan memilih duduk dengan pandangan ke arah dalam rumah besar itu. Rumah megah yang mungkin hanya bisa disamakan dengan rumah milik Kakek Poetra Laksmana, karena mereka berdua memang pengusaha sukses dan memiliki beberapa anak cabang perusahaan di beberapa kota besar Indonesia.
__ADS_1
" Ada perlu apa lagi kamu menemui Rayya?"
Ramadhan terkesiap saat melihat Gavin yang keluar dari dalam rumah mewah itu.
" Om ..." Ramadhan langsung bangkit dari kursi dan ingin menyalami tangan Gavin, namun Gavin nampaknya enggan mengeluarkan tangannya dari saku celananya.
" Mau apa lagi kamu kemari?" Gavin kemudian memilih duduk dengan berpangku kaki. " Duduklah!" Gavin yang melihat Ramadhan masih saja berdiri menyuruh putra temannya itu untuk duduk.
" Iya, Om." Ramadhan segera menuruti apa yang diperintahkan oleh Gavin.
" Apa maksud tujuanmu kemari?" tanya Gavin dengan nada suara tegas dan penuh intimidasi.
" Saya ... saya ingin minta maaf, Om. Atas perbuatan saya selama ini yang ternyata telah melukai hati Rayya. Saya benar-benar tidak tahu tentang perasaan Rayya terhadap saya, Om." Ramadhan menyampaikan maksudnya datang ke rumah itu untuk menemui Rayya.
Gavin mendengus kasar mendengar ucapan Ramadhan.
" Meskipun kamu tidak tahu perasaan Rayya, tidak sepantasnya kamu mengatakan kata-kata yang membuat putri saya sakit hati. Kamu pikir kamu siapa? Saya bisa memilihkan pria yang jauh lebih baik dari kamu, Rama! Rayya bisa saya pilihkan dengan pria kaya raya, executive muda, dan punya perusahaan sendiri. Jangan kamu pikir kamu pria paling hebat sehingga kamu berani mengatakan hal itu kepada putri saya!"
" Saya bersyukur putri saya tidak memaksakan perasaannya. Setidaknya dia tidak sampai mengemis cinta kepada kamu. Dan saya menyadari sekarang ini jika ternyata putri saya terlalu berharga untuk diberikan kepada pria seperti kamu!"
***
" Tadi sih ke depan, katanya mau menemui tamu." Azzahra menyahuti ucapan Rayya.
" Memang ada tamu siapa, Mam? Rekan bisnis Papa atau rekan bisnis Grandpa?" tanya Rayya lagi.
" Mommy nggak tahu, Rayya. Ya sudah mana fettucini nya? Mama mau cobain bikinan kamu. Pasti karena menetap di Italy, fettucini kamu berbeda rasanya." Azzahra terkikik meledek Rayya.
" Ada di meja makan, Mom. Rayya mau panggil Daddy dulu ya, Mom."
" Ya sudah, tapi kalau tamunya penting jangan diganggu ya, Sayang!" Azzahra memperingatkan Rayya.
" Iya, Mam." Rayya kemudian berjalan menuju ruangan depan rumah Dad David.
" Bu, lihat Daddy ku?" tanya Rayya pada ART yang tadi menerima Ramadhan.
" Daddy Non Rayya sedang bersama tamunya Non Rayya di teras depan, Non."
__ADS_1
Rayya menyipitkan matanya mendengar penuturan Ibu ART yang mengatakan jika Daddy nya saat ini sedang berbincang dengan tamu dirinya.
" Tamu aku, Bu? Siapa?" tanya Rayya sambil berpikir, siapa kira-kira tamunya itu.
" Siapa, ya? Tadi Ibu tanya namanya tapi nggak jawab sih, Non. Jadi Ibu nggak tahu siapa namanya. Tapi orangnya masih muda, ganteng, kulitnya putih, Non." Ibu ART mencoba menjelaskan ciri-ciri Ramadhan kepada Rayya.
" Siapa ya?" Rayya masih berpikir.
" Tapi kalau nggak salah, dia itu datang juga kemarin waktu bertakziah dan tahlil di sini, Non."
Rayya semakin bertanya-tanya tentang sosok tamu yang disebutkan oleh Ibu ART tadi.
" Ya sudah, Rayya lihat ke depan saja deh, Bu. Daripada tambah penasaran." Rayya memilih menemui Gavin di teras depan rumah Grandpa nya itu
" Saya bersyukur putri saya tidak memaksakan perasaannya. Setidaknya dia tidak sampai mengemis cinta kepada kamu. Dan saya menyadari sekarang ini jika ternyata putri saya terlalu berharga untuk diberikan kepada pria seperti kamu!"
Rayya menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara Gavin berkata dengan nada penuh emosi yang tertahan. Dan Rayya bisa menduga kepada siapa kalimat itu dituju oleh Gavin. Rayya akhirnya mendapat jawaban dari teka-teki yang Ibu ART berikan soal tamu yang ditemui Daddy nya itu.
" Saya mengerti jika Om begitu kecewa terhadap saya. Saya pun menerima jika Om menyalahkan saya, karena itu memang kesalahan saya. Tapi saya benar-benar ingin bertemu dengan Rayya, Om. Saya ingin meminta maaf langsung kepada Rayya, Om. Saya mohon, Om. Ijinkan saya bertemu dengan Rayya ..." Ramadhan memohon kepada Gavin agar meluluskan permintaannya bertemu dengan Rayya.
" Saya tidak akan membiarkan putri saya berhubungan dengan kamu lagi, jadi kamu tidak perlu menemui putri saya!" tegas Gavin tak ingin dibantah dengan keputusannya.
" Tapi, Om ...."
" Sebaiknya kamu segera keluar dari rumah ini dan tidak usah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!"
Rayya terperanjat mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Daddy nya. Apalagi saat Daddy nya itu terlihat sangat marah kepada Ramadhan. Bahkan kini Daddy nya itu sudah berdiri dan siap meninggalkan Ramadhan, walaupun Ramadhan nampak berat untuk keluar dari rumah Dad David. Karena keinginan Ramadhan adalah bisa bertemu dengan Rayya tidak berhasil.
" Dad ..." Sebelum Daddy nya melangkahkan kakinya meninggalkan Ramadhan, Rayya yang tadi bersembuyi di balik pintu mendengarkan obrolan Daddy nya dengan Ramadhan langsung keluar dan menampakkan dirinya, hingga membuat Gavin dan Ramadhan sama-sama terkejut.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Nih, kira-kira Dad Gavin kasih ijin ga ya Rama bicara dengan Rayya karena Rayya nya sudah muncul di hadapan mereka berdua.
Happy Reading❤️