RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Janji Rama


__ADS_3

Rayya sudah tidak diijinkan pergi ke luar rumah oleh Gavin dan Azzahra. Untung saja Eyang dan Enin nya sudah berada di rumah Gavin hingga membuat dia tidak merasakan jenuh harus berdiam diri di rumah saja.


" Enin, sedang apa?" tanya Rayya saat melihat Umi Rara sedang duduk di kursi santai sambil membaca majalah kuliner.


" Eh, cucu Enin ... sini duduk dekat Enin." Umi Rara menggeser tubuhnya menyuruh Rayya untuk duduk di sebelahnya.


" Enin sedang baca majalah apa?" Rayya menengok majalah yang dipegang oleh Umi Rara.


" Umi sedang lihat-lihat resep-resep makanan, Geulis." Umi Rara menunjukkan majalah yang sedang dipegangnya kepada Rayya.


" Enin masih senang memasak saja, ya?" Rayya mengagumi Enin nya yang masih senang beraktivitas di dapur.


" Enin itu sejak remaja sudah senang memasak. Sudah terbiasa jadi susah kalau harus berhenti memasak." Umi Rara beralasan.


" Kalau Daddy tahu Enin di dapur, Daddy pasti ngomel-ngomel, Nin." Rayya terkekeh karena Gavin memang tidak mengijinkan ibu mertuanya itu untuk repot di dapur.


" Daddy kamu itu cerewetnya melebihi perempuan. Untung saja kamu nggak menuruni sifat Daddy kamu. Kamu itu lebih mirip sama Mommy, anak Enin." Umi Rara membanggakan Azzahra.


" Tapi biarpun Daddy cerewet, Daddy itu sayang sama Enin, kan?"


" Oh kalau itu memang iya. Daddy kamu itu menantu idaman Enin." Umi Rara terkekeh.


" Enin tidak menyangka kalau kamu akhirnya akan menikah sama Rama. Waktu Enin dengar cerita dari Mommy kamu, Enin sempat khawatir kamu akan patah hati seperti Mommy kamu dulu." Umi Rara menceritakan tentang kekhawatirannya dengan kisah cucunya itu.


" Tapi Alhamdulillah Rayya benar-benar mendapatkan laki-laki idaman Rayya kan, Nin?" Rayya tersipu malu mengatakan hal tersebut.


" Iya, Nin turut bahagia karena hal itu." Tangan Umi Rara mengusap wajah cantik cucunya.


" Umi, ayo makan dulu ..." Suara Azzahra terdengar membuat Umi Rara dan Rayya menghentikan obrolannya.


" Iya, Enin makan dulu saja." Rayya memegangi lengan Enin nya yang bangkit dari kursi.


" Rayya nggak ikut makan juga?" tanya Enin.


" Rayya sedang shaum, Enin." tanya Umi Rara.


" Oh iya ya ... ya sudah, Enin makan dulu ya, Geulis." Umi Rara berpamitan kepada Rayya.


" Iya, Nin." Rayya mempersilahkan Umi Rara yang ingin beranjak ke arah meja makan bersama Mommy nya.


Ddrrtt ddrrtt


Suara panggilan telepon Rayya berbunyi dan dia melihat Ramadhan yang ingin melakukan panggilan video call kepadanya. Rayya hanya tersenyum tak mengangkat panggilan video call dari Ramadhan hingga membuat pria itu kembali melakukan panggilan video call kembali.


Rayya sendiri kini kembali masuk ke dalam kamarnya. Sementara empat panggilan video call Ramadhan masih juga belum diterimanya hingga akhirnya sebuah pesan masuk ke ponselnya.


" Assalamualaikum, Rayya. Kenapa video call aku nggak kamu angkat?"

__ADS_1


Rayya kembali tersenyum membaca pesan dari Ramadhan.


" Waalaikumsalam. Aku 'kan sedang dipingit, Kak. Jadi Kak Rama dilarang lihat wajah aku." Rayya sengaja meledek Ramadhan.


Tak lama pesan jawaban Ramadhan muncul di ponsel Rayya kembali.


" Memang gitu, ya? Cuma mau lihat wajah kamu saja nggak boleh? Aku kangen, Sayang ...."


Hanya dengan membaca pesan itu saja hati


Rayya serasa berbunga-bunga. Sikap dan ucapkan manis dari Ramadhan benar-benar membuatnya serasa menjadi wanita paling bahagia di atas bumi ini.


" Sabar ya, Kak. Sabtu ini kita pasti akan bertemu di pelaminan." Bahkan wajahnya terasa menghangat saat Rayya mengetikan kata pelaminan.


" Apa besok dan lusa bisa diskip saja biar bisa langsung menuju hari Sabtu, Rayya? Aku benar-benar nggak sabar melihat wajah cantikmu memakai kebaya adat Sunda seperti Kia saat tiga bulan lalu menikah. Pasti kamu akan lebih cantik dengan hijab yang kamu pakai." Ramadhan memang sudah tidak sabar, sepertinya dia ingin segera menghalalkan Rayya untuk menjadi istrinya. Dia lalu melakukan panggilan telepon yang langsung diangkat oleh Rayya.


" Assalamualaikum ... sayang aku nggak sabar ini."


" Sabar, Kak. Hanya menunggu dua hari saja masa tidak sabar? Aku saja yang menunggu Kak Rama sampai bertahun-tahun masih bisa bersabar, kok." Rayya kembali menyindir calon suaminya itu.


" Oh jadi sekarang sukanya menyindir, hmm?"


" Aku itu dari dulu sukanya sama Kak Rama, bukan sukanya menyindir." Rayya sampai terkekeh menjawab Ramadhan.


" Aaarrgghh ... Rayyaaaaaa!!"


" Sayang, aku ganti video call, ya? Please ... hari ini saja, besok aku pasti bisa tahan," Ramadhan merayu agar Rayya mengijinkannya melakukan video call.


" Kak Rama kangen lihat wajah aku, ya?"


" Banget ...."


" Kak Rama 'kan punya foto aku. Wajah aku masih sama Kak kok, Kak. Nggak berubah."


" Aarrggghh ..."


" Kak Rama sudah makan? Sudah sholat belum?"


" Aku sudah sholat tapi belum makan."


" Kak Rama shaum juga?"


" Nggak, aku nggak bisa makan kalau belum lihat wajah kamu, Sayang."


" Ya ampun, Kak Rama kok lebay banget, sih? Sudah ah, perut aku sakit ini gara-gara Kak Rama."


" Kamu sakit, Rayya?" Nada bicara terdengar cemas.

__ADS_1


" Nggak, Kak. Aku sakit perut karena melihat tingkah konyol, Kak Rama." Rayya kembali tertawa kecil.


" Kamu benar-benar ya sama aku."


" Sudah ah, Kak. Kembali kerja dulu sana!" Rayya meminta Ramadhan untuk mengakhiri percakapannya mereka.


" Tapi aku masih kangen mendengar suara kamu, Rayya." Ramadhan enggan mengakhiri percakapan mereka.


" Ya Allah, Kak. Kenapa jadi seperti ini sih, calon suami aku? Hmmm, coba kalau Kak Luigi ...."


" Kenapa kamu bawa-bawa nama Luigi? Apa kamu menyesal ingin menikah denganku?" Ramadhan nampak tidak senang saat nama Luigi disebut oleh Rayya.


" Bukan begitu, Kak. Maksudku, coba kalau Kak Luigi ...."


" Aku nggak suka kamu sebut nama pria lain, Rayya." protes Ramadhan kembali.


Rayya menghela nafas panjang, dia merasa jika Ramadhan marah kepadanya karena dia menyebut nama Luigi.


" Ya sudahlah, Kak. Aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum ..." Rayya ingin mengakhiri teleponnya karena Ramadhan sepertinya salah paham dengan maksud dari ucapannya. Padahal dia hanya ingin menggoda Ramadhan dengan menyindir, mungkin Luigi akan mencibirnya jika pria itu tahu dia lebih memilih Ramadhan daripada Luigi. Tapi sepertinya calon tunangannya itu lebih dulu salah paham.


" Kenapa ditutup? Kamu bosan bicara denganku?"


" Astaghfirullahal adzim, kenapa Kak Rama bicara seperti itu, sih?" Rayya mendengus kesal dengan tuduhan Ramadhan kepadanya.


" Sudahlah, Kak. Sebaiknya kita sudahi saja obrolannya daripada kita jadi berdebat seperti ini. Assalamualaikum ..." Tanpa menunggu jawaban dari Ramadhan, Rayya langsung mematikan panggilan telepon mereka.


***


Aura kebahagian dan haru nampak di wajah keluarga besar Rayya saat dia melaksanakan tasyakuran dan siraman jelang pernikahan Rayya dan Ramadhan yang akan dilaksanakan esok hari.


Prosesi tasyakuran yang dimulai dengan pembukaan agar , pembacaan ayat suci Alquran dan sholawat, pemberian nasehat pernikahan berupa tausiah dari ustadz, permintaan maaf dan ijin oleh calon pengantin kepada orang tua, dilanjut dengan sungkeman kepada kedua orang tua, ditutup dengan siraman kepada Rayya yang dilakukan oleh Azzahra, Gavin, Abi Rara, Umi Rara, Mama Linda, Natasha dan Yoga yang ikut menyiramkan air siraman kepada Rayya.


Sementara di rumah kediaman keluarga Ramadhan, Ricky dan Anindita juga melaksanakan acara pengajian yang dihadiri oleh tetangga sekitar rumah Ricky. Suasana bahagia dan haru bercampur menjadi satu menyelimuti pihak kedua keluarga yang berbahagia.


" Rama, Mama senang kamu akhirnya akan menikah dengan Rayya. Dia wanita yang sederhana, anggun, baik dan Sholehah. Dia tidak memperdulikan bagaimana asal usul kamu, tidak mempermasalahkan masa lalu Mama. Mama harap kamu tidak menyia-nyiakan Rayya. Om Gavin sudah memberi kesempatan kedua. Jangan sampai mengecewakan kedua orang tua Rayya. Kamu sangat beruntung mendapatkan istri, wanita seperti Rayya. Jadi Mama harap kamu tidak mengulangi kesalahan kamu yang dulu lagi." Anindita menasehati Ramadhan, malam hari menjelang hari pernikahan esok hari.


" Rama janji, Ma. Rama akan membahagiakan Rayya seperti Papa bisa membahagiakan Mama. Rama tidak akan mengecewakan Papa dan Mama juga keluarga Om Gavin. Rama dulu terlalu bodoh karena menyia-nyiakan Rayya dan sekarang Rama akan menggantinya dengan memberikan kebahagiaan untuk Rayya." tekad Ramadhan dengan menggenggam tangan Anindita membuat Anindita tersenyum bahagia karena dia merasa bersyukur akan mendapatkan menantu seperti Rayya yang dia yakin akan membawa Ramadhan menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab.


*


*


*


Bersambung


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2