
Sepanjang perjalanan pulang Rayya hanya terdiam. Sama seperti saat berangkat tadi, namun kali ini dengan rasa hati yang berbeda. Jika tadi hatinya terasa berdebar-debar karena bahagia, kini hatinya dipenuhi rasa kecewa.
" Apa kamu yakin akan pulang sekarang?" tanya Ramadhan.
Rayya hanya menganggukkan kepalanya hingga Ramadhan akhirnya mengarahkan mobilnya kembali ke arah rumah Gavin.
Sementara itu di kediaman rumah Gavin ....
" Honey, kau sedang apa di situ?"
Suara Gavin terdengar dari dalam kamarnya saat dia melihat istrinya sedang berdiri di teras balkon kamar tidur mereka.
" Apa yang kau lakukan di sini, Honey?" Gavin melingkarkan lengannya di pinggang Azzahra setelah dia mendekat ke arah Azzahra.
" Aku mengkhawatirkan Rayya, By." sahut Azzahra.
" Apa yang mesti kau cemaskan, Honey? Baby sedang bersama pria yang tepat untuknya. Dia pasti sedang tertawa bahagia sekarang ini karena pergi bersama pria yang disukainya." Gavin mencoba menenangkan istrinya yang nampak sangat mencemaskan Rayya.
" Ini pertama kalinya Rama ke sini, kenapa dia harus membawa Rayya keluar? Kenapa tidak mengobrol di sini saja sih mereka, By?"
Gavin terkekeh seraya mencium pipi istrinya itu.
" Itu karena kau tidak pernah pacaran, Honey." Gavin menyindir istrinya. " Biarkan mereka pergi berdua, biar mereka lebih akrab jadi rencana perjodohan ini bisa berjalan lancar," ucap Gavin kemudian.
Namun tak lama sebuah mobil terlihat berhenti di depan rumah mereka dan mereka mengenali mobil itu.
" Itu mereka pulang." Azzahra langsung mengurai pelukan suaminya dan bergegas keluar dari kamarnya untuk menuju ruang tamu.
" Kenapa mereka cepat sekali perginya?" gumam Gavin heran. Namun tak lama dia pun ikut menyusul istrinya turun ke bawah.
" Kalian sudah pulang?" tanya Azzahra menyambut Rayya dan Ramadhan yang terlihat memasuki ruang tamu.
" Assalamualaikum, Mom."
" Assalamualaikum, Tante."
Rayya dan Ramadhan menyapa Azzahra bersamaan.
" Waalaikumsalam. Kalian pergi ke mana tadi?" Azzahra nampak penasaran, dia lalu menatap wajah putrinya yang terlihat nampak sendu, sama sekali tidak menunjukkan rasa bahagia karena telah pergi dengan pujaan hatinya.
" Kami tadi mengobrol di restoran di rooftop hotel Grandpa, Mom." Kali ini Rayya yang menjawab pertanyaan Azzahra.
__ADS_1
" Kalian cepat sekali pulangnya. Kenapa tidak menikmati waktu lebih lama biar semakin akrab?" tanya Gavin yang baru sampai ruang tamu.
" Dad, ada yang ingin kami bicarakan," ujar Rayya saat melihat kemunculan Daddy nya.
Gavin menatap Ramadhan dan Rayya bergantian.
" Ada apa, Baby?" tanya Gavin seraya mendudukkan tubuhnya di sofa diikuti oleh yang lainnya.
" Dad, Mom. Tadi Rayya sudah bicara dengan Kak Rama soal perjodohan yang Dad rencanakan dengan Om Ricky. Rayya dan Kak Rama sepakat jika kami ..." Rayya menjeda ucapannya, dia menarik nafas perlahan, karena dia butuh kekuatan untuk bisa menyampaikan kalimat demi kalimat yang ingin disampaikannya.
" Kami sepakat jika kami menolak perjodohan yang telah direncanakan untuk kami'," lanjut Rayya.
Apa yang dikatakan Rayya sontak membuat Gavin dan Azzahra terperanjat, terlebih Azzahra. Dia sangat tahu jika putrinya itu sangat menyukai Ramadhan. Bahkan dia lihat sendiri saat membantu Rayya berhias kalau putrinya sangat bahagia saat ingin pergi bersama Ramadhan. Walaupun dengan rasa gugup namun tidak menutupi aura bahagia Rayya. Namun kini putrinya itu mengatakan menolak perjodohan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dikatakan Ramadhan hingga membuat putrinya itu memilih membatalkan perjodohan? Bermacam dugaan muncul di benak Azzahra.
" Baby, apa maksudnya kalian menolak perjodohan ini?" tanya Gavin heran dengan keputusan yang dikatakan putrinya adalah kesepakatan bersama.
" Rayya dan Kak Rama punya keinginan masing-masing, Dad. Lagipula Rayya masih muda. Masih banyak hal yang ingin Rayya capai termasuk keinginan Rayya untuk kuliah di luar negeri."
Gavin dan Azzahra langsung membelalakkan matanya saat mendengar keinginan Rayya yang mengatakan keinginannya melanjutkan kuliah di luar negeri.
" Baby, apa maksudmu ingin kuliah di luar negeri? Daddy nggak ijinkan Baby pergi jauh dari Daddy." Gavin menentang keinginan Rayya.
" Dad, Rayya ingin belajar menjadi wanita yang mandiri. Tidak selalu tergantung kepada Mom dan Dad."
" Bukan seperti itu maksud Rayya, Dad. Rayya ingin bisa mandiri, bukan hanya dalam soal materi."
" Dad tetap tidak setuju dengan keinginanmu sekolah di luar negeri!" tegas Gavin kembali.
" Dad, please. We can talk this later." Rayya menoleh ke arah Ramadhan yang sedari tadi memperhatikannya.
" Kak Rama, kalau Kak Rama mau pamit, silahkan. Biar nanti Rayya yang jelaskan kepada Daddy dan Mommy aku agar Dad dan Mom mau mengerti dengan keputusan kita ini." Rayya mempersilahkan Ramadhan untuk berpamitan pulang, karena dia tidak ingin Ramadhan berlama-lama di rumahnya hingga terus mendengarkan perdebatannya dengan Gavin.
" Oh, i-iya." Ramadhan mengerjap. Ramadhan memang sejak tadi menjadi pendengar perdebatan antara Rayya dan Daddy nya. Padangan matanya bahkan tak lepas memperhatikan wanita cantik itu. Dia benar-benar melihat sosok lain dalam diri Rayya yang selama ini dia kenal. Selama ini Rayya yang dia tahu adalah gadis pemalu yang tidak banyak bicara. Tapi malam ini dia melihat gadis itu nampak lugas berbicara bahkan berani menentang kata-kata Daddy nya.
" Hmmm, seperti yang dikatakan Rayya tadi, Om, Tante. Tadi kami sudah bicara dari hati ke hati tentang keinginan kami masing-masing sehingga kami memutuskan untuk menolak perjodohan ini. Saya mohon maaf kepada Om Gavin dan Tante Rara kalau saya sudah mengecewakan Om dan Tante."
" Saya nanti akan bicara pada Papa Ricky dan Mama Anin tentang masalah ini." Ramadhan lalu berdiri dan bersalaman dengan Gavin dan Azzahra. " Saya permisi pulang dulu, Om, Tante. Assalamualaikum ..." pamit Ramadhan.
" Waalaikumsalam ..." Gavin dan Azzahra menyahuti sementara Rayya memilih segera melangkah menuju kamarnya di lantai atas.
Azzahra yang melihat putrinya ingin segera menyusul Rayya namun dia urungkan karena dia ikut suaminya mengantar Ramadhan terlebih dahulu hingga keluar sampai depan rumahnya.
__ADS_1
Sementara sesampainya Rayya di kamar, gadis itu menghela nafasnya yang terasa sesak. Dia kemudian membersihkan wajahnya dengan make up remover kemudian dia menuju ke arah bathroom untuk membersihkan wajahnya kembali dengan air. Sesungguhnya dia ingin sekali menangis, dia bukanlah wanita yang kuat. Ini pertama kali dia merasakan menyukai seorang pria namun dia sudah patah hati untuk kedua kalinya. Pertama saat melihat kedatangan Ramadhan bersama Kayla. Kini dengan penolakan Ramadhan atas perjodohan yang dipersiapkan orang tua mereka, bahkan Ramadhan mengatakan jika pria itu menyukai wanita lain. Rayya tahu jika orang tuanya pasti akan menyusulnya ke kamar, karena itu sekuat hati dia menahan agar air mata itu tidak jatuh menetes di pipinya.
Dan benar sekali seperti dugaannya. Saat dia keluar dari bathroom, Mommy nya sudah masuk ke dalam kamarnya.
" Rayya, apa kamu baik-baik saja?" tanya Azzahra saat mendapati putrinya itu keluar dari bathroom dengan mengelap wajah dengan handuk kecil.
" Rayya baik-baik saja, Mom." Rayya menyahuti.
" Rayya, apa yang terjadi? Kenapa kalian membatalkan rencana perjodohan, Sayang?" Azzahra benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi saat Rayya dan Rama pergi tadi.
" Seperti yang tadi Rayya bilang, Mom."
" Tapi bukankah kamu menyukai Rama, Rayya? Kenapa kamu berubah pikiran? Apa yang sudah Rama katakan sehingga kamu membatalkan rencana perjodohan?" Azzahra yakin keputusan Rayya itu bukan karena keinginan putrinya.
" Mom, iya Rayya memang menyukai Kak Rama. Tapi setelah kami berbincang berbincang, Rayya pikir apa yang Rayya rasakan itu hanya sekedar kagum saja. Rayya bukan menyukai Kak Rama karena ingin memilikinya." Rayya tidak hanya berdusta kepada Mommy nya, namun juga mendustai dirinya sendiri.
Azzahra masih menelisik apa yang dikatakan putrinya. Dia masih meyakini jika Rayya tidak berkata yang sejujurnya.
" Tadi Kak Rama bilang, setelah Rayya lulus, dia ingin segera menikah dan meminta Rayya mengurus Kak Rama sepenuhnya. Tapi Rayya nggak setuju karena Rayya ingin menjutkan kuliah seni rupa dan mewujudkan keinginan Rayya menjadi seorang pelukis, Mom." Rayya kembali mengarang cerita demi untuk meyakinkan Mommy nya jika dia baik-baik saja.
" Honey, Baby ... apa sebenarnya yang terjadi?" Gavin yang baru masuk ke dalam kamar Rayya langsung bertanya karena dia pun merasa penasaran.
" Dad, Mom, kita bicara ini lain kali saja, ya. Rayya capek sekali ingin istirahat. Tapi Mom sama Dad nggak perlu khawatir karena Rayya baik-baik saja, kok." Karena semakin banyak orang yang bertanya akan membuat hatinya semakin melow dan dia takut dia tidak dapat menahan lagi air mata yang sejak tadi dia tahan untuk tidak menetes di pipinya.
" Baby apa kau yakin?"
" Iya, Dad. Rayya mengantuk."
" By, sebaiknya kita biarkan Rayya istirahat." Azzahra yang menyadari putrinya butuh waktu untuk sendiri akhirnya mengajak suaminya itu untuk segera meninggalkan kamar Rayya.
" Baiklah, besok kita bicarakan soal rencana kamu yang ingin kuliah di luar negeri." Sepertinya Gavin masih belum bisa menerima permintaan anaknya untuk kuliah di tempat yang jauh dari dirinya.
Setelah kedua orang tuanya keluar kamar, Rayya segera mengunci pintu kamar kemudian dia menghempaskan tubuhnya dan menumpahkan kekecewaannya dengan menangis dengan suara tangisan yang teredam oleh bantal.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️