
Rayya menatap bangunan Colloseum yang nampak terang dengan lampu dari arah balkon kamarnya. Perbincangan dengan Luigi setelah makan bersama dengan kedua orang tuanya membuatnya kepikiran.
" Apa kau akan pulang ke Indonesia liburan akhir semester ini?" tanya Luigi saat mengajaknya berbicara Rayya setelah acara makan bersama yang ditraktir oleh Luigi.
" Sepertinya begitu, Pak."
" Aku sudah minta padamu untuk tidak memanggilku dengan sebutan Pak lagi." Luigi memprotes Rayya yang masih memanggilnya dengan sebutan Pak.
" Maaf, Pak Luigi adalah dosen di tempat saya kuliah."
" Tapi kita tidak sedang di kampus, kan? Kau harus mengganti panggilan itu jika kita berada di luar kampus." Luigi bersikukuh tidak ingin dipanggil Bapak saat di luar kampus.
" Memangnya Bapak ingin saya panggil apa?" Rayya menoleh ke arah Luigi.
" Terserah saja asal bukan Bapak, Sir atau Signore. Kau bisa panggil saya seperti kau memanggil William."
" Kak Willy?" Rayya mengeryitkan keningnya saat Luigi memintanya memanggil pria itu seperti dia memanggil kakaknya.
" Iya, kamu bisa memanggilku dengan sebutan Kak Luigi."
Rayya menahan tawanya saat mendengar Luigi menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Kak Luigi.
" Kenapa tertawa?"
" Tidak apa-apa." Rayya buru-buru memalingkan wajahnya.
" Aku akan kehilangan jika kamu pulang ke Indonesia. Tapi nanti aku akan berkunjung ke sana untuk menemui kamu, Rayya." ujar Luigi. " Kau berikan saja alamatmu, aku pasti akan datang ke sana."
Rayya mendesah, sikap Luigi yang memang menunjukkan keseriusan atas niatnya membuat dia resah. Jika Luigi terus seperti ini, dia tidak yakin jika dia akan bertahan dengan keputusannya untuk lebih fokus dengan pendidikan dan tidak ingin memikirkan asmara dalam waktu dekat.
" Rayya, kamu belum tidur?"
Rayya menoleh ke arah pintu kamar saat melihat Mommy nya yang sudah berdiri di sana.
" Mommy ...."
" Kamu sedang apa?" Azzahra berjalan mendekati Rayya yang masih berdiri di dekat balkon.
" Sedang menikmati indahnya pemandangan kota Roma malam hari, Mom." Rayya menyebutkan alasannya.
" Apa kamu sedang memikirkan Luigi?"
" Kenapa Mommy bicara seperti itu?" Rayya menaikkan kedua alisnya saat mendengar Mommy nya menyinggung soal Luigi yang sedang dipikirkannya saat ini.
Azzahra mengusap kepala Rayya dengan penuh kelembutan.
" Rayya, Mommy pernah merasakan keadaan seperti kamu. Begitu mengharapkan seseorang yang tidak bisa Mommy miliki. Tapi di saat yang tepat, Mommy dipertemukan dengan Daddy mu dan kami bahagia hingga sekarang. Jadi Mommy hanya berharap, Rayya bisa melupakan Rama dan membuka hati Rayya untuk menerima pria lain yang benar-benar menyanyangi dan serius menginginkanmu." Azzahra menasehati Rayya agar Rayya bisa move on dari Ramadhan.
" Saat ini ada seorang pria yang baik hati, terlihat tulus dan bersikap gentle meminta Rayya untuk menjadi pendampingnya di hadapan Daddy dan Mommy. Itulah sikap seorang pria sejati."
Rayya kembali menghela nafas panjang.
" Rayya bingung, Mom."
" Kalau Rayya merasa ragu, jangan lupakan yang di Atas. Jangan lupa sholat malam dan mintalah petunjuk-Nya. Mom yakin, kamu akan bisa memantapkan hati dan memilih keputusanmu." Azzahra menyuruh Rayya agar tidak melupakan untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT di tengah kebimbangannya.
" Iya, Mom."
__ADS_1
" Ya sudah, Daddy sama Mommy mau kembali ke hotel. Kamu nggak apa-apa 'kan Mommy tinggal?"
" Ya nggak apa-apalah, Mom. Rayya sudah biasa di sini, kan?" Rayya terkekeh. " Oh ya Mom, kalau Rayya pulang ke Indonesia, apa Kak Luigi boleh datang ke rumah kita?" Dengan agak ragu Rayya menanyakan hal itu kepada Azzahra.
" Kak Luigi?" Azzahra nampak kaget dengan panggilan Kak yang disandingkan dengan nama Luigi yang diucapkan. Rayya tadi. " Sekarang Rayya panggilnya Kak ya ke Luigi?"
Rona merah langsung membias di wajah Rayya karena dia keceplosan dengan panggilan yang diinginkan oleh Luigi.
" I-iya Mom. Dia ingin Rayya memanggilnya Kak jika di luar kampus," ucap Rayya malu-malu.
" Hmmm, gitu ya? Nggak apa-apa sih biar kalian makin akrab," sahut Azzahra.
" Apanya, Mom?" Rayya tidak tahu jawaban yang diberikan Azzahra untuk menjawab pertanyaannya atau menanggapi soal panggilan terhadap Luigi.
" Apanya yang apa?" Azzahra bingung sendiri dengan pertanyaan Rayya.
" Yang Mommy bilang nggak apa-apa itu untuk apa?"
" Untuk panggilan kamu ke Luigi, Mommy rasa itu bisa membuat kalian semakin akrab."
" Kalau soal dia yang ingin datang ke rumah di jakarta?"
" Dia itu siapa ya?" Azzahra sengaja menggoda putrinya hingga Rayya tersipu malu.
" Mom ... " Rayya kini mencebikkan mulutnya karena Azzahra sengaja menggodanya.
" Haha ... iya tentu saja Mom ijinkan. Kalau di benar-benar datang ke rumah, itu menandakan jika dia benar-benar serius. Apa lagi yang Rayya pikirkan? Kalau Mommy jadi Rayya, Mommy pasti nggak akan menolak dia."
" Dad, Rayya nggak ikutan, lho!" Rayya berkata menatap ke arah belakang Azzahra dengan mengangkat kedua tangannya sebatas kepala tanda menyerah.
Mendengar Rayya berucap seperti itu, Azzahra sontak memutar tubuhnya ke belakang karena dia takut suaminya itu mendengar ucapannya tadi.
" Ya ampun, Rayya. Kamu mengerjai Mommy ya?!" Azzahra langsung merangkul tubuh putrinya dan kemudian mereka berdua berjalan menuju ruang tamu karena Gavin dan Azzahra akan kembali ke hotel yang letaknya tidak jauh dari apartemen yang ditempati Rayya dan William.
***
Sementara itu di Jakarta, Ramadhan dibuat galau karena Rayya memang benar-benar memblokir nomernya, hingga dia susah berkomunikasi dengan Rayya. Dia pernah mencoba menghubungi Rayya menggunakan nomer lain, namun pesan yang dikirimkannya juga diacuhkan saja oleh Rayya.
" Kenapa kau ini? Dari tadi Om dengar terus kamu menghela nafas," tanya Dirga saat mereka berdua berada di dalam lift selesai memantau proyek terbaru yang kemarin direncanakan Dirga membangun cluster bergaya Renaissance.
" Rama kesulitan menghubungi Rayya, Om. Nomer Rama diblokir sama dia," keluh Ramadhan.
" Diblokir? Kenapa?"
" Entahlah, Om. Sepertinya Rayya benar-benar kecewa sama Rama." Ramadhan kembali mendengus.
" Ya sudah kalau dia memang tidak ingin berhubungan dengan kamu, kamu lupakan saja. Jangan usik dia lagi! Sekarang kamu tinggal fokus cari wanita lain sesuai yang kamu inginkan. Beres, kan?" ucap Dirga enteng.
" Tapi Rama benar-benar nggak enak, Om. Hubungan kami yang selama ini baik-baik saja jadi terputus dengan cara yang tidak enak," sesal Ramadhan.
" Karena ulah siapa bisa jadi seperti ini? Ulahmu sendiri, kan?" sindir Dirga.
" Iya, Om."
" Lalu sebenarnya apa yang kamu inginkan, Rama?"
" Rama ingin kami bisa seperti dulu, Om. Hubungan kami baik-baik saja seperti ketika belum ada rencana perjodohan. Dan Rama ingin diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang dulu pernah Rama lakukan kepada Rayya." tekad Ramadan.
__ADS_1
" Dengan cara apa kau ingin memperbaiki kesalahanmu?"
" Rama ingin diberi kesempatan untuk bisa lebih mengenal dan dekat dengan Rayya. Jadi Rayya bisa menunjukkan jika Rama benar-benar menyesal, Om."
Dirga tersenyum sinis kepada Ramadhan. " Tapi nyatanya Rayya tidak ingin bersinggungan dengan kamu lagi."
Ramadhan terdiam, memang kenyataannya jika Rayya seperti memutuskan hubungan dengannya.
" Apa kau tidak punya cara lain untuk terus mengejar Rayya?"
" Maksud Om?" Ramadhan mendongakkan kepala mendengar ucapan Dirga.
Ting
Pintu lift pun terbuka karena mereka sudah mencapai lantai yang dituju.
" Kalau Om jadi kamu, Om akan menyusul Rayya ke Roma!" ucap Dirga seraya berjalan ke luar lift mendahului Ramadhan yang masih termangu dengan ucapan bos nya itu.
***
Rayya kembali ke Indonesia bersama Gavin dan Azzahra. Walaupun awal nya dia agak ragu akan pulang atau tidak ke Jakarta, karena dia sedang menghindari Ramadhan. Namun waktu liburan akhir semester yang cukup panjang membuat dirinya memutuskan ikut kembali bersama orang tuanya.
" Rayaaaaa ...!!"
Rayya yang sedang bersantai selepas Maghrib langsung tersentak kaget saat melihat Azkia masuk dalam kamarnya.
" Rayya, I Miss you ...!" Azkia berhambur ke arah Rayya, kemudian dia memeluk dan menciumi pipi Rayya.
" Kia, iihh ... pakai cium-cium segala!" Rayya mengelap bekas bibir Azkia di pipinya.
" Hahaha, Kia 'kan kangen sama kamu, Ray." ucap Azkia. " Memang Rayya nggak kangen ya sama Kia?"
" Tentu saja Rayya kangen, kangen sama cerewetnya Kia." Rayya mencubit kedua pipi Azkia.
" Rayya akan berapa lama di sini?" tanya Azkia menghempaskan tubuhnya di kasur empuk Rayya.
" Mungkin sampai akhir Agustus, karena pertengahan September dimulai tahun ajaran baru." Rayya menjelaskan.
" Lalu selama di sini Rayya mau ngapain? Cuma mau santai di rumah saja?" tanya Azkia lagi.
" Untuk itu Rayya belum pikirkan, Kia. Sementara ini, Rayya ingin bersantai dulu di sini," sahut Rayya.
" Kalau Rayya belum ada yang ingin dikerjakan, bantuin Kia di butik mau nggak? Rayya bisa bantu Kia menghandle butik."
" Rayya nggak paham soal penjualan fashion gitu, Kia."
" Nanti Kia ajarin gimana caranya."
Rayya berpikir sejenak mempertimbangkan tawaran Azkia
" Nanti Rayya pikir dulu deh, Kia." jawab Rayya kemudian.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung
Happy Reading❤️