RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Lebih Dewasa


__ADS_3

Kini semua mata justru mengarah kepada Rayya yang langsung melirik ke arah William karena telah membuka rahasia soal Simone kepada Daddy dan Mommy.


" Teman laki-laki ganteng? Siapa yang dimaksud kakakmu itu, Baby?" Gavin kini menatap penuh selidik.kepada Rayya hingga membuat Rayya menelan salivanya.


" Dia itu teman kampus Rayya, Dad. Namanya Simone, orang Italia tapi Mamanya asli dari Yogyakarta. Sejauh ini Willy perhatikan anaknya baik dan ramah kok, Dad. Simone juga nggak cuma berteman sama Rayya tapi berteman sama Willy juga." William cepat-cepat mengklarifikasi ucapannya agar Gavin tidak salah paham.


" Willy, Dad menyuruh kamu menjaga adikmu." Gavin nampak tidak suka dengan kedekatan Rayya dengan teman laki-laki.


" Dad, Kak Willy itu punya aktivitas sendiri. Kak Willy nggak mungkin bisa dua puluh empat jam mengawasi Rayya. Lagipula Rayya ini sedang menuntut ilmu di negeri orang. Rayya harus banyak berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai negara. Apa Dad ingin Rayya menjadi anak yang kurang pergaulan? Kalau Dad seperti ini terus selamanya Rayya tidak akan punya teman, karena selalu Dad halang-halangi orang yang ingin berteman dengan Rayya." Rayya mencoba mengikis sikap posesif Gavin yang dinilainya terlalu berlebihan.


" Rayya juga mengobrol sama Simone kalau di kampus saja, kok. Selebihnya kalau nggak sama Kak Willy, Rayya nggak berani pergi berdua dengan teman laki-laki." Rayya menegaskan jika dia masih bisa membatasi pergaulannya.


" Dad ingin tahu orang itu. Dad ingin lihat apa orang itu benar-benar baik atau punya maksud terselubung terhadap kamu."


Rayya menarik nafas mendengar perkataan Daddy nya. Ternyata tidak mudah melunakkan sikap posesif Daddy nya itu. Dia juga takut jika Gavin akan melarang Simone mendekati dirinya lagi.


***


Setelah beristirahat sejenak akhirnya William dan Rayya mengantar Gavin dan Azzahra ke hotel tempat mereka akan menginap dua hari ini di Roma.




" Mestinya kalau berpergian di sini Rayya jangan sampai ketinggalan bawa kertas dan crayon ya, Kak." bisik Rayya karena melihat bangunan dalam hotel yang sangat indah yang bisa menjadi objek lukisannya. Sementara William hanya menggelengkan kepala melihat adiknya yang selalu antusias jika melihat sesuatu yang menurutnya indah untuk dilukis.


" Buon pomeriggio, Signore. Ce qualcosa con cui possiamo aiutarla?" ( Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu ) tanya seorang resepsionis berkata sopan kepada William.


" Ho prenotato una camera. Con il no*me di Gavin Richard, potrebbe controllare per favore." ( Saya sudah pesan kamar atas nama Gavin Richard, bisa tolong dicek ) William berkata kepada wanita cantik di hadapannya itu.


" Va bene, prima controllo, Signore." ( Baiklah, saya cek dulu, Tuan ) Petugas resepsionis itu mengecek apa benar jika pesanan atas nama Gavin Richard itu sudah masuk.


" Grazie." ( Terima kasih ) ucap William.


Dan setelah menunggu beberapa menit akhirnya petugas hotel mengantar Gavin, Azzahra, William dan Rayya ke kamar hotel yang dipesan.


__ADS_1



" Wah, Rayya ikut menginap di sini saja deh, Mom." Rayya yang melihat kamar pesanan Gavin langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Kalau Baby mau, Baby menginap saja di sini." Gavin dengan cepat membalas ucapan putrinya.


" Kalau Rayya di sini, nanti Daddy sama Mommy nggak bisa mesra-mesra, dong!" Rayya menggoda Azzahra yang langsung tersipu malu saat disindir putrinya itu.


" Ini 'kan salah satu kota paling romantis di dunia, Mom. Jadi Mom dan Dad bisa honeymoon lagi di sini." Rayya terkikik menutup mulutnya.


" Kamu ini ..." Azzahra kembali tersipu malu hingga rona merah nampak di wajahnya.


" Kalau Baby mau, Daddy bisa pesankan satu kamar lagi buat Baby di sini." Gavin ingin memesan kamar untuk Rayya jika putrinya itu ingin dekat dengannya.


" Nggak usah, Dad. Rayya hanya bercanda kok tadi." Tentu saja Rayya akan menolak usul Daddy nya yang menurut dia hanya membuang-buang uang untuk hal tidak penting seperti itu.


" Kalau Baby serius pun tak masalah. Nanti Daddy suruh kakakmu yang suruh pesankan kamar dekat sini."


" No, Dad. Nggak usah." Rayya kini memilih duduk di sofa.


" Daddy sama Mommy kalau mau istirahat silahkan. Nanti Rayya dan Kak Willy agak malaman saja pulangnya." Rayya mempersilahkan kedua orang tuanya untuk istirahat.


Sementara Azzahra memperhatikan putri dan suaminya itu dengan senyum yang tak pernah surut dari bibirnya.


" Kalau sudah ketemu Rayya, Daddy seperti lupa sama Mommy, nih." sindir Azzahra kepada suaminya itu.


" Hmmm, sepertinya ada yang cemburu nih, Baby." Gavin menjawab sindiran Azzahra. " Kemarilah, Honey. Mana mungkin aku melupakanmu. Kalian berdua sama-sama wanita paling istimewa dalam hidupku." Gavin merentangkan tangannya meminta Azzahra untuk duduk bergabung dengannya dan juga putrinya.


" Dad, Willy pergi dulu. Ada pekerjaan sore ini. Nanti kalau sudah selesai Willy akan jemput Rayya ke sini." William kemudian berpamitan kepada Gavin karena dia memang ada tugas siaran petang ini.


" Ya sudah hati-hati di jalan." Gavin mengijinkan William pergi.


" Assalamualikum ..." Setelah berpamitan William pergi meninggalkan mereka bertiga.


" Waalaikumsalam ..." sahut ketiganya bersamaan.


" Jangan malam-malam pulangnya, Kak." Teriak Rayya.

__ADS_1


" Oke ..." sahut suara William yang sudah menghilang di balik pintu.


***


" Honey, aku semakin nggak nyaman jauh dari Baby kalau ada laki-laki yang mendekati putri kita." Selepas William menjemput Rayya pulang kini Gavin dan Azzahra saling berbincang dengan posisi tubuh saling berpelukan di atas tempat tidur tanpa melakukan aktivitas percintaan karena mereka berdua memang sama-sama penat.


" Apa Hubby nggak melihat perubahan dari Rayya?" tanya Azzahra.


" Apa yang berubah dari Baby? Dia tetap cantik seperti Mommy nya, kan?" Gavin berkelakar


" Putri kita itu kini terlihat lebih dewasa cara berpikirnya. Dia itu sedang mencari jati dirinya. Aku rasa Hubby jangan terlalu keras mengekangnya. Beri Rayya sedikit kebebasan, aku rasa dia pasti akan bisa bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya."


" Biarkan anak kita tumbuh menjadi wanita yang mandiri, yang kuat dan tangguh," ucap Azzahra meminta suaminya untuk tidak terlalu posesif kepada Rayya.


" Kau pikir anak kita mau jadi petinju?" Gavin terkekeh seraya mencubit hidung Azzahra.


" By ..." Azzahra mencebik karena suaminya itu tidak bisa diajak bicara serius.


" Iya, Honey. Ada apa, Sayang?" Gavin kini mulai menciumi wajah istrinya sementara tangannya sudah mulai aktif menggerayangi dada istrinya itu.


" By, kita berdua ini capek. Jangan mancing-mancing, deh!" protes Azzahra karena tangan nakal suaminya sudah mulai menjelajahi bagian tubuhnya.


" Honey, apa kau lupa apa yang Baby bilang tadi? Roma itu salah satu kota romantis di dunia. Jadi kita rayakan moment kebersamaan kita ini untuk bercinta. Itung-itung kita honeymoon, Honey." Gavin kini sudah memposisikan tubuhnya di atas Azzahra.


" Ya ampun, By. Apa nggak bisa esok hari saja? Aku lelah sekali," keluh Azzahra.


" Bagian mana yang lelah? Biar nanti aku yang pijat." Gavin langsung membuka kancing baju yang dikenakan istrinya.


" By ..." rengek Azzahra namun tak sanggup membendung naf*su sang suami untuk mengajaknya bercinta hingga akhirnya pergumulan itu terjadi di antara sepasang suami istri yang sudah tidak berusia muda lagi itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Ada yang tau ga kenapa Rayya pilih negara Italia? Karena itu negara favoritnya Othor 😂😂 curhat dikit lah ya, jadi jamannya masih muda jamannya sepak bola SerieA lagi jaya²nya, aku tuh ngepens banget sama 2 klub sepakbola Italia. AS Roma dan Inter Milan dan pemain favoritku udah pastilah Totti. Waktu jamannya jadi penggila sepak bola pas timnas Italy, saat gli Azzurri itu jadi juara dunia semua surat kabar yang membahas tentang kemenangan timnas Italy aku beli terus kubuat kliping. Sempet juga beli kamus bahasa Italy 😂😂😂 Kalau diinget² sekarang heboh juga jaman muda dulu 🤭 dan sampai sekarang pun tetap suka sama Italia🇮🇹


Happy Reading❤️


__ADS_2