RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Belajar Ikhlas


__ADS_3

Ramadhan benar-benar merasa kecewa karena acara bulan madu mereka tergganggu karena kedatangan tamu bulanan Rayya. Dia bahkan memutuskan membatalkan rencana perjalanan bulan madu mereka ke kota Venice.


" Untuk apa pergi bulan madu kalau tidak bisa bercinta?" keluh Ramadhan menyampaikan alasannya membatalkan perjalanan ke Venice.


" Kita 'kan bisa jalan-jalan, Mas. Aku berhalangan tapi nggak menghalangi kita untuk saling berpelukan, berpegangan tangan, dan berciuman, kan?" Sebenarnya Rayya sendiri merasa tidak nyaman jika harus melakukan perjalanan jauh dan menikmati liburan di saat sedang mestruasi. Namun alasan yang diungkapkan suaminya dalam mengambil keputusan membatalkan rencana ke Venice membuat Rayya merasa kecewa karena Ramadhan tidak memperdulikan ketidaknyamanannya tapi karena Ramadhan gagal mendapatkan kebutuhan biologisnya.


" Nanti saja kalau aku ambil cuti lagi dan kau tidak datang bulan kita pergi ke sana." Ramadhan memasukkan pakaiannya ke dalam koper, karena ini adalah hari terakhir mereka di Raja Ampat.


" Aku nggak enak sama Mommy mu, karena nggak bisa memberikan apa yang diinginkannya," Ramadhan berasalasan.


" Mommy pasti mengerti kok, Mas. Mommy juga 'kan wanita, pasti akan memahami, kalau aku sedang datang bulan."


" Sayang, aku janji kita akan ke Venice nanti, tapi tidak saat ini." Ramadhan menangkup wajah Rayya lalu membenamkan kecupan di bibir Rayya.


Rayya tidak bisa menolak apa yang sudah diputuskan oleh suaminya itu. Walaupun dia kecewa dia harus menerima apa yang sudah ditetapkan oleh Ramadhan.


***


Anindita mengeryitkan keningnya saat melihat mobil Ramadhan terparkir di depan rumahnya. Wanita paruh baya itu pun kemudian berjalan ke luar rumahnya untuk menyambut mereka berdua.


" Lho, kok kalian sudah pulang?" tanya Anindita saat melihat Rayya turun dari mobil.


" Assalamualikum, Ma." Rayya langsung mengucapkan salam saat melihat Mama mertuanya yang sudah menyambutnya di teras rumah.


" Waalaikumsalam ... kenapa kalian sudah pulang? Bukannya kalian berencana melanjutkan honeymoon ke Italia?" Anindita merasa penasaran karena anak dan menantunya sudah kembali ke rumah.


" Kami membatalkan rencana ke Venice, Ma." sahut Rayya mencium punggung tangan Mama mertuanya.


" Memangnya kenapa? Apa ada masalah?" tanya Anindita kembali.


" Masalah datang bulan, Ma." Ramadhan menyahuti dari belakang Rayya.


" Datang bulan?" Anindita menatap Rayya. " Kamu datang bulan, Rayya?" tanyanya kepada menantunya itu.


" Iya, Ma." sahut Rayya.


" Pasti nggak nyaman harus berpergian dalam keadaan menstruasi ya, Rayya?" Anindita mengandeng lengan Rayya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Tentu saja Anindita menduga jika Rayya lah yang membatalkan rencana perjalanan ke Venice


" Iya, Ma." Rayya menyahuti, membiarkan Mama mertuanya itu menduga dialah yang membatalkan.


" Ya sudah, nggak apa-apa. Kalian bisa pergi ke sana lain waktu." Anindita mengusap lengan menantunya itu.


" Iya, Ma." sahut Rayya kembali.

__ADS_1


" Oh ya bagaimana di Raja Ampat tempat wisatanya? Menyenangkan?" tanya Anindita kemudian.


" Sungguh indah, Ma. Mama, Papa, Kak Arka dan Thalita juga wajib berkunjung ke sana, Ma. Serasa berada di surga, tempatnya indah sekali, Ma." Rayya mengatakan kekagumannya pada keindahan alam di daerah Papua itu.


" Iya kalau lihat di televisi itu Mama juga ingin berlibur ke sana."


" Kita nanti liburan bersama bersama adik-adik juga, Ma. Rama ingin sekali diving di sana. Arka pasti mau menemani Rama diving di sana. Nanti Papa, Mama dan Thalita yang menemani Rayya biar Rayya nggak sendirian di resort " Ramadhan ikut menimpali.


" Ya sudah, nanti Mama bilang ke Papa kamu, jika kita berlibur nanti kita pergi ke sana saja," sahut Anindita.


" Ya sudah kalian istirahat saja dulu, pasti kalian lelah telah melakukan perjalanan jauh." Anindita menyuruh Rayya dan Ramadhan beristirahat.


" Iya Ma. Rayya ke atas dulu ya, Ma." Rayya berpamitan untuk kepada Mama mertuanya dan bersama Ramadhan berjalan menuju kamar suaminya.


***


" Farah ...!"


Farah menghentikan langkahnya saat dia hendak meninggalkan hotel tempat dia menginap beberapa hari ini di Italia.


" Kau mau ke mana?" tanya William, saat melihat Farah menarik kopernya.


" Aku akan kembali ke Paris, William." sahut Farah


Setelah beberapa kali bertemu dan berbincang dengan William, kini sikap Farah mulai melunak dan tidak seketus pertama kali berjumpa.


" Entahlah ... aku tidak tahu. Aku akan mengikuti fashion show di beberapa negara mulai pekan depan. Mungkin salah satunya di Milan, tapi tidak akan lama berada di sana," tutur Farah.


" Wah, sayang sekali. Padahal rencananya aku ingin mengajakmu pergi ke Venezia. Kebetulan adikku akan berlibur ke sana, jadi bisa berlibur bersama. Berkumpul bersama teman-teman sebangsa di negeri orang pasti sangat menyenangkan," ujar William..


" Sorry, William ..." sesal Farah.


" It's oke. Kapan kita bisa bertemu kembali?" tanya William kemudian.


Farah menatap William seraya mengedikkan bahunya. " Entahlah ...."


" Mi scusi, signorina Farah. Ti accompagno all'aeroporto." ( Permisi, Nona Farah. Saya akan mengantar Anda ke airport ) Seorang pria paruh baya menghampiri Farah dan mengatakan akan mengantar Farah ke bandara.


" Grazie, Signore." ( Terima kasih, Pak ) sahut Farah menyerahkan koper yang dipegangnya kepada pria berkebangsaan Italia itu.


" Aku permisi dulu, William. Senang bisa berkenalan denganmu." Farah mengulurkan tangannya ingin bersalaman dengan William.


" Aku harap kita bisa bertemu kembali." William menyambut uluran tangan Farah.

__ADS_1


Farah lalu berjalan menuju mobil pria yang akan mengantarnya ke bandara. Farah menoleh ke arah William sebelum masuk ke dalam mobil itu.


" Bye, William ..." Farah melambaikan tangannya ke arah William. " Kau bisa menghubungi nomer teleponku." Farah tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


" Aku pasti akan menghubungimu, Farah!" sahut William saat mobil yang ditumpangi Farah menjauh darinya.


***


" By, ternyata Rayya dan Rama sudah pulang ke Jakarta." Azzahra memberitahu Gavin saat mereka selesai menyantap makan malam bersama.


" Oh ya? Kenapa mereka cepat kembali? Bukankah mereka berencana ke Italia?" tanya Gavin heran.


" Iya, mereka membatalkannya," sahut Azzahra.


" Kenapa? Apa ada masalah sehingga mereka membatalkan rencana mereka?" tanya Gavin.


" Rayya bilang, begitu mereka sampai di Raja Ampat ternyata Rayya berhalangan, jadi mereka terpaksa membatalkan honeymoon ke Italia," cerita Azzahra.


" Ppffftt ..." Gavin menahan tawanya saat mendengar putrinya berhalangan.


" Kenapa Hubby malah tertawa?" Azzahra mengeryitkan keningnya melihat tingkah suaminya itu.


" Aku nggak bisa membayangkan bagaimana kesalnya Rama saat menyadari dia tidak bisa melakukan hiya-hiya saat bulan madu, Honey." Gavin kini terpingkal seolah mentertawakan penderitaan menantunya itu.


" By, sebenarnya Hubby itu ikhlas tidak melepas Rayya untuk Rama?" tanya Azzahra kepada Gavin.


" Ikhlas nggak ikhlas, tapi mau bagaimana lagi? Itu sudah keputusan Baby ...."


" By, Hubby harus ikhlas, dong! Kasihan Rayya kalau Hubby masih setengah hati menerima Rama." Azzahra mencoba memberi penjelasan kepada suaminya agar sepenuhnya ikhlas menerima Ramadhan.


" Aku masih kesal dengan tindakan dia dulu, Honey."


" Kenapa harus diungkit lagi sih, By? Kenapa Hubby nggak bisa belajar ikhlas seperti Kang Yoga yang bisa menerima Raffa sebagai menantu dengan baik. Walaupun sikap Raffa sebelumnya itu buruk terhadap Kia, apalagi sampai bikin Kia hamil. Tapi Kang Yoga tidak memusuhi Raffa meskipun Raffa bukan menantu yang diharapkan untuk menjadi suami Kia." Azzahra sampai membandingkan sikap suaminya dengan suami dari Natasha.


" Kenapa kau tiba-tiba memuji suami Alexa? Apa kau masih mengaguminya? Masih mengharapkannya?" Gavin yang mendapati Azzahra memuji Yoga langsung menatap curiga istrinya itu.


" Asataghfirullahal adzim! Ingat usia dong, By. Kita ini sebentar lagi jadi kakek nenek, jangan cemburu untuk hal yang tidak berasalan, deh!" Azzahra mendengus kesal karena sampai saat ini suaminya itu masih saja menganggapnya masih mengharapkan pria yang memang pernah diidamkannya seperti Rayya mengidamkan Ramadhan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2