RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Tidak Ingin Dijadikan Pelarian


__ADS_3

Jantung Rayya seakan berhenti berdetak saat Idah menyebutkan nama orang yang datang mencarinya. Ramadhan? Dari mana Ramadhan tahu dia ada di Bogor? Siapa yang memberi tahu? Azkia kah? Atau Auntie Tata? Lalu kenapa Ramadhan ngotot ingin bertemu dengannya? Setelah kemarin ke Roma, sekarang menyusul ke Bogor? Apa lagi yang pria itu mau? Berbagai pertanyaan berkelebat di benaknya.


" Ramadhan itu siapa, Neng?"


Suara Abi Rara membuat Rayya mengerjapkan matanya.


" Hmmm, itu ... Kak Rama itu anak sahabatnya Mommy sama Daddy, Eyang." Rayya segera menjawab pertanyaan Eyangnya.


" Oh, berarti Daddy sama Mommy Neng Rayya kenal sama Ramadhan itu?" tanya Abi Rara kembali.


" I-iya, Eyang." sahut Rayya gugup.


" Ya sudah, kalau orang tua Neng Rayya kenal, cepat temui tamu Neng Rayya itu." Abi Rara menyuruh Rayya segera menemui Ramadhan, sedangkan Rayya sendiri bingung ingin menemuinya atau tidak.


" Ayo, Neng. Enin mau lihat teman Neng Rayya itu orangnya gimana?" Di tengah kebingungan Rayya, Umi Rara malah mengajak Rayya menemui Ramadhan.


" Hmmm, i-iya, Enin." Akhirnya dengan sangat terpaksa Rayya menemui Ramadhan di ruangan tamu rumah Abi Rara.


" Kak Rama ..." Rayya menyapa Ramadhan yang terlihat sedang duduk seraya memperhatikan foto keluarga besar Abi Rara, yang lengkap terdiri dari Abi dan Umi Rara bersama anak, cucu dan cicit mereka di mana Rayya pun ada di sana.


" Rayya ..." Bagaikan mendapat setetes air di kerongkongannya yang kering saat Ramadhan melihat kemunculan Rayya dari dalam rumah.


" Eleuh, eleuh ... meni kasep teman kamu ini, Neng." Umi Rara yang melihat sosok Ramadhan tanpa segan langsung memuji Ramadhan.


" Enin, ah ..." Rayya menegur Umi Rara agar tidak banyak mengomentari sosok Ramadhan.


" Assalamualaikum, Nek, Rayya." Ramadhan mengucapkan salam, dia pun langsung meraih tangan dan mencium punggung tangan Umi Rara.


" Waalaikumsalam ..." sahut Rayya dan Umi Rara bersamaan.


" Duh, meni bageur pisan, Kasep." Umi Rara yang melihat sikap santun yang ditunjukkan Ramadhan kembali memuji Ramadhan dengan tangan mengusap wajah tampan Ramadhan.


Sambutan hangat yang diperlihatkan oleh Umi Rara sudah pasti membuat penyemangat Ramadhan untuk berusaha meraih kembali hati Rayya, walaupun Ramadhan sendiri tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Umi Rara.


" Kamu ini teman Neng Rayya, ya?" tanya Umi Rara. " Ayo silahkan duduk." Umi Rara mempersilahkan Ramadhan duduk kembali.


" Benar, Nek. Saya temannya Rayya." Ramadhan melirik Rayya yang tidak menatapnya namun memasang wajah memberengut. Sepertinya gadis itu tidak menyukai kehadirannya di rumah itu.


" Iya sudah kalau begitu Enin tinggal kalian. Silahkan kalian mengobrol." Setelah berpamitan Umi Rara pun kembali masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Rayya dan Ramadhan berdua.


" Neng Rayya apa kabar?" Ramadhan sengaja menambah kata Neng di depan nama Rayya mengikuti sebutan dari Umi Rara hingga membuat Rayya langsung menoleh ke arah Ramadhan yang saat itu sedang mengulum senyuman.


" Kak Rama ada apa kemari?" Rayya yang tak ingin terpesona dengan senyuman yang diberikan Ramadhan langsung bertanya dengan nada sedikit ketus kepada Ramadhan.


" Neng Rayya kok jutek gitu bicaranya sama Kakak? Nggak seperti Neng Rayya yang dulu." Ramadhan sengaja menggoda Rayya agar suasana tidak menjadi kaku.


" Memang dari dulu juga aku begini, kok!" Rayya berkelit saat Ramadhan mengatakan sikapnya berubah, walaupun memang dia sengaja bersikap ketus kepada Ramadhan.


" Masa sih? Kok Kakak nggak merasa seperti itu, ya? Apa karena dulu Kakak kurang peka, sampai Kakak juga nggak menyadari perasaan Neng Rayya ke Kakak itu bagaimana?"


" Nggak perlu bahas itu lagi, deh!" Tentu saja Rayya merasa malu karena Ramadhan mengetahui jika dia memang menyukai pria itu dan merasa tak nyaman jika disinggung lagi tentang hal tersebut. " Sekarang Kak Rama bilang ke Rayya, sebenarnya apa lagi yang Kak Rama mau sampai datang kemari? Setelah itu Kak Rama bisa cepat-cepat pulang." Mungkin karena rasa tak nyaman yang membuat Rayya harus berkata-kata seperti itu.


" Neng Rayya tega mengusir Kak Rama? Kak Rama sampai menyusul ke Roma lho, untuk menemui Neng Rayya." Ramadhan mencoba meluluhkan hati Rayya yang kali ini bersikap keras terhadapnya dengan menceritakan usahanya menemui Rayya sampai ke Roma.


" Siapa juga yang menyuruh ke sana?" ketus Rayya dengan melipat tangan di dada dan melempar pandangan ke sembarang tempat.


" Hati Kakak yang suruh datang ke sana, karena Kakak kangen sama Neng Rayya."

__ADS_1


" Gombal!" umpat Rayya dalam hati, namun rona merah mulai membias dan nampak di wajah putih dan cantiknya itu.


Ramadhan yang mendapati wajah Rayya yang merona langsung tersenyum. Ternyata apa yang diajarkan oleh Dirga tadi sebelum dia pergi dari kantornya lumayan bermanfaat. Dirga sempat memberi wejangan kepada Ramadhan dengan memberikan tips untuk merayu wanita yang sulit untuk ditaklukkan, apalagi jika wanita itu sedang merajuk. Dan untuk urusan rayu-merayu dan manaklukan hati wanita, bosnya itu memang maestronya.


" Baru kali ini Kakak melihat Neng Rayya marah, tapi tetap terlihat cantik sih, biar lagi marah juga." Ramadhan terkekeh terus berusaha menggoda Rayya untuk mencairkan suasana.


Rayya melirik ke arah Ramadhan dengan bibir mengerucut namun rona merah di wajahnya tak juga hilang.


" Kak Rama nggak usah basa-basi, deh! Cepat bilang Kak Rama itu mau apa sampai datang ke Bogor?" Rayya yang tak ingin terbuai dengan rayuan Ramadhan, yang akan membuat dirinya semakin susah untuk move on dari pria itu segera meminta Ramadhan menyebutkan alasannya menyusul ke Bogor bahkan sampai ke Italia segala.


" Sebentar ya, Neng Rayya. Kakak mau minum dulu, haus ..." Ramadhan mengambil gelas berisi orange juice yang tadi disuguhkan oleh Idah. " Boleh diminum 'kan ini, Neng Rayya?"


Rayya hanya memutar bola matanya menanggapi ucapan-ucapan Ramadhan yang dianggapnya sengaja mengulur waktu.


" Alhamdulillah, seger ... minum orange juice disaat haus rasanya sama saja saat bertemu Neng Rayya setelah diombang-ambing nyasar ke Italia." Ramadhan kembali terkekeh. Dia seakan tidak memperdulikan Rayya yang tidak mengharapkan kehadirannya di rumah itu.


Ramadhan kemudian menoleh ke luar rumah Abi Rara.


" Di sini suasananya sejuk, pemandangannya juga indah. Sama seperti di kampung halaman Mama Kakak di Malang sana." Ramadhan masih juga tidak menjelaskan tujuannya datang ke sana.


" Sepertinya asyik kalau kita mengobrol sambil jalan menikmati pemandangan perkebunan teh yang hijau."


" Kalau Kak Rama nggak juga kasih tahu tujuan Kakak kemari, Rayya akan suruh pulang Kak Rama sekarang juga!" gertak Rayya mengancam.


" Neng Rayya jangan ikut-ikutan galak kayak sepupunya, dong." Orang yang dimaksud Ramadhan siapa lagi kalau bukan Azkia.


" Kak, cepetan, deh! Kakak mau apa datang kemari?" Rayya sudah terlihat mulai kesal dengan Ramadhan.


" Kakak mau kamu."


Rayya menghela nafas panjang, dia tahu jika pria di hadapannya itu tidak akan serius dengan ucapannya, karena dia tahu jika Ramadhan tidak pernah menyukainya apalagi menginginkannya


" Eh, beneran ini Neng Rayya mengusir Kakak? Ya sudah kalau Neng Rayya mengusir Kakak, Kakak akan tunggu Neng Rayya di luar, sampai besok, sampai besoknya lagi, sampai Minggu depan, sampai Neng Rayya mau menemui dan mau Kakak ajak bicara lagi." Ramadhan memang sudah benar-benar nekat, karena saat ini dia harus bersaing dengan pria lain.


***


" Menghabiskan waktu berlibur di daerah seperti ini memang menyenangkan. Bisa menghilangkan stress dan penat setelah belajar dan bekerja."


Rayya akhirnya menyerah, setelah mendapatkan ijin dari Abi Rara akhirnya Rayya mengikuti keinginan Ramadhan yang ingin berbincang sambil berjalan melintasi perkebunan yang terhampar luas.


" Assalamualikum, Neng Rayya. Sedang berlibur di sini, ya?" Beberapa Ibu-ibu yang sedang mengobrol menyapa Rayya saat melihat Rayya berjalan hendak melewati mereka.


" Waalaikumsalam, Bu. Benar, Bu. Rayya sedang berlibur di rumah Eyang." Rayya pun dengan ramah dan santun membalas sapaan mereka.


" Neng Rayya sudah besar semakin mirip seperti Mommy nya waktu masih muda dulu. Sama-sama cantik ibu sama anak ini." ucap salah satu Ibu yang berkumpul itu.


" Lebih cantik malah, Mamanya cantik Papanya ganteng." Ibu lainnya menimpali lalu menoleh ke arah Ramadhan. " Ini teh pacarnya Neng Rayya, ya? Meni kasep pisan," lanjut Ibu tadi.


" Ah, bukan kok, Bu. Ini Teman saya." Rayya cepat-cepat menyangkal ucapan Ibu tadi.


" Padahal cocok lho, Neng. Nu geulis jeung nu kasep." Ibu yang pertama bertanya kepada Rayya sampai mengacungkan ibu jarinya.


" Doakan saja ya, Bu. Neng Rayya nya masih malu-malu."


Rayya langsung melotot ke arah Ramadhan. saat Ramadhan mengatakan kalimat tadi.


" Hmmm, Bu. Kami permisi dulu kalau begitu. Assalamualaikum." Rayya buru-buru berpamitan kepada Ibu-ibu tadi agar Ramadhan tidak semakin berulah.

__ADS_1


" Waalaikumsalam, Neng Rayya." Ibu-ibu pun menyahuti salam dari Rayya.


" Kak Rama apa-apaan, sih? Nanti kalau mereka bergosip tentang kita bagaimana?" geram Rayya karena ucapan Ramadhan yang dianggapnya asal bicara.


" Memang mereka mau bergosip apa? Mengatakan Kakak itu pacar Neng Rayya? Memangnya Neng Rayya nggak mau dibilang pacar Kakak?" Ramadhan justru menggoda Rayya.


Rayya menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuhnya menatap ke arah Ramadhan.


" Kak, bisa serius nggak, sih? Jangan bercanda terus!" Nada bicara mulai meninggi.


" Kakak dari tadi serius, lho! Memangnya Neng Rayya menganggap Kakak bercanda?"


Rayya mendengus kesal mendengar jawaban Ramadhan.


" Jadi sekarang mau Kak Rama apa?"


Ramadhan menarik nafas terlebih dahulu untuk mengatakan tujuannya menemui wanita di hadapannya kini.


" Sebenarnya tujuan Kakak menemui kamu sampai ke Italia itu karena Kakak ingin diberi kesempatan oleh Neng Rayya."


" Kesempatan? Kesempatan apa?"


" Kesempatan agar Neng Rayya bisa membuka hati untuk Kak Rama kembali. Kakak ingin memulai hubungan yang lebih serius dengan Neng Rayya. Beri kesempatan Kakak untuk bisa mencintai Neng Rayya."


Deg


Jantung Rayya berdebar kencang mendengar ucapan Ramadhan tentang tujuan pria itu menemuinya. Ramadhan memintanya untuk membuka hati untuknya dan memberi kesempatan kepada pria itu untuk mencintainya. Mungkin itu adalah hal terindah yang dia rasakan. Tapi apakah itu bisa terjadi sekarang ini? Apakah hal yang dikatakan Ramadhan itu benar-benar diinginkan dari dalam hatinya? Karena dia tahu jika wanita yang disukai Ramadhan adalah Kayla.


Rayya menatap Ramadhan dengan lekat.


" Kenapa Kak Rama ingin melakukan itu? Apa karena Kakak merasa bersalah? Atau karena Kak Rama sudah menyerah mengejar cinta Kak Kayla?"


Deg


Kali ini Ramadhan yang justru membelalakkan matanya saat Rayya menyebut nama Kayla.


" Kayla? D-dari mana Rayya tahu tentang hal itu?" tanya Ramadhan masih dengan rasa kagetnya.


" Kak Kayla sendiri yang bilang ke aku, kalau Kak Rama mencintai Kak Kayla. Bahkan saat di Italia pun Kak Rama masih mengharapkan Kak Kayla, kan? Dan wanita yang Kak Rama cintai saat Kak Rama menolak perjodohan itu adalah Kak Kayla. Benar 'kan yang semua aku bilang? Sekarang Kak Rama meminta aku memberi kesempatan ke Kakak karena apa? Karena Kak Kayla menolak cinta Kak Rama?"


" Rayya, aku ..." Ramadhan seperti sulit menyangkal apa yang diucapkan Rayya kepadanya tadi.


" Rayya nggak mau dijadikan pelarian oleh Kak Rama. Rayya ingin dicintai oleh pria yang benar-benar tulus mencintai Rayya. Bukan karena rasa bersalah atau sekedar pelarian saja!" tegas Rayya sementara cairan bening sudah menumpuk di bola matanya.


" Tapi, Rayya ...."


" Sebaiknya Kak Rama kembali saja ke Jakarta! Kalau Daddy tahu Kakak menemui aku, Daddy akan semakin marah ke Kakak. Assalamualaikum ..." Rayya lalu berjalan dan sedikit berlari kembali ke arah rumah Abi Rara.


Ramadhan terdiam, mungkin apa yang dikatakan oleh Rayya memang benar. Dia merasa bersalah karena dia telah menyakiti hati Rayya. Dan dia juga sejujurnya masih mencintai Kayla walaupun cintanya itu tak berbalas. Dia pun bingung, apakah niat mendekati Rayya hanya sebagai pelariannya saja karena dia berkali-kali ditolak oleh Kayla?


Ramadhan mengusap kasar wajahnya, karena secara tidak sengaja dia telah kembali menyakiti hati Rayya. Dan dia pun merasa gagal menjalankan permintaan dari Azzahra untuk bisa menjaga hati Rayya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2