RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Rival


__ADS_3

Farah nampak kesal karena Ramadhan justru meninggalkannya setelah pagi tadi pria itu mengabaikan telepon darinya.


" Hmmm, Farah. Tante permisi dulu." Anindita berniat masuk ke dalam, seperti yang diinginkan putranya tadi sebelum berangkat.


" Eh Tante tunggu dulu!" Suara Farah membuat Anindita mengurungkan niatnya. " Tante ini Mamanya Mas Rama, ya? Senang bisa bertemu dengan Tante." Farah menyalami tangan Anindita tanpa mencium punggung tangan Anindita.


" Iya, benar. Saya Mamanya Ramadhan." Anindita menerima uluran tangan Farah.


" Oh ya, Tante. Sekalian saja saya mau menitip undangan untuk Mas Rama, Tante dan juga Om." Farah lalu mengeluarkan sebuah kartu undangan dari dalam tasnya.


" Undangan apa, ya?" Anindita kemudian menerima kartu undangan yang disodorkan oleh Farah kepadanya.


" Pesta ulang tahun saya, Tante. Kebetulan hari ini saya ulang tahun dan besok mau mengadakan birthday party nya. Nanti datang ya, Tan!" pinta Farah.


" Kamu ulang tahun? Selamat ulang tahun, ya! Semoga sukses di karirnya." Anindita memberikan ucapan selamat kepada Farah.


" Terima kasih, Tante. Nanti malam Tante ikut datang ya sama Om." Farah kembali mengutarakan harapannya.


" Aduh, Tante sama Om sudah tua, sudah nggak pantas datang ke acaranya anak muda seperti itu." Anindita terlihat keberatan untuk hadir di acara Farah nanti.


" Siapa bilang sudah tua, Tante? Tante masih terlihat cantik begini, kok!" Bukan hanya sekedar pemanis di bibir saja Farah memuji Anindita, tapi dia memang mengakui Anindita masih terlihat cantik di usianya yang jelang lima puluh tahun itu.


" Lihat nanti saja ya, Farah. Hmmm, maaf, Tante mau ke dalam dulu. Banyak pekerjaan rumah yang mesti Tante kerjakan." Anindita kembali berpamitan.


" Lho, memang pekerjaan rumahnya Tante kerjakan sendiri? Nggak dikerjakan ART, Tan?"


" Nggak semua pekerjaan harus mengandalkan ART. Kalau bisa kerjakan sendiri, apa salahnya? Toh Tante juga nggak punya kesibukan selain menunggu suami dan anak-anak pulang ke rumah." Anindita masih ramah meladeni Farah. " Tante masuk dulu, ya! Assalamuailkum ...."


" Waalaikumsalam ..." Farah menatap langkah Anindita yang semakin menjauhinya. Dia lalu menghempaskan nafas dengan kasar.


" Nggak anaknya, nggak Mamanya ... susah sekali untuk didekati," gerutu Farah kemudian memilih kembali ke mobilnya.


***


Siang ini Rayya dan Azkia berniat menjemput Luigi untuk makan siang. Mereka sengaja memilih makan di mall sekalian bisa jalan-jalan ketimbang makan di restoran hotel Gavin.


" Kia sudah ready?" tanya Rayya lewat panggilan teleponnya.


" On the way ke turun ke bawah. Bye ...."


Rayya langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas saat panggilan telepon dengan Azkia terputus dan dia pun segera keluar dari kamarnya.


" Mom, Rayya berangkat dulu, ya!" Rayya lalu berpamitan pada Azzahra dan mencium punggung tangan Mommy nya itu.

__ADS_1


" Kalian mau makan di mana?" tanya Azzahra, dia senang melihat putrinya itu nampak ceria saat ingin menemui Luigi.


" Sepertinya kita akan cari makan di mall saja, Mom."


Azzahra mengusap wajah Rayya membuat Rayya heran karena melihat Mommy nya itu tersenyum penuh arti.


" Kenapa, Mom?"


" Mommy senang melihat Rayya bahagia seperti ini. Mommy harap selamanya kamu bisa bahagia begini."


Rayya langsung tersipu karena Mommy nya itu melihat aura bahagia dari wajahnya.


" Aamiin, Mom."


" Ray, Rayya ...!! Yuk kita kemon ...!" teriak Azkia dari luar rumah Gavin.


" Rayya sama Kia berangkat ya, Mom. Assalamualaikum,"


" Waalaikumsalam ...."


Setelah berpamitan dengan Azzahra, Rayya pun berlari menemui Azkia di luar.


***


" Sudah berapa prosen unit yang terjual, Pak Daniel?" tanya Ramadhan pada pegawai bagian marketing yang bertugas di stand PT Angkasa Rayya Group.


" Sudah sekitar tiga puluh lima persen dari unit yang ditawarkan, dan ini sudah masuk hari ke lima, Pak Rama." Daniel menjelaskan secara rinci berapa unit cluster yang terjual oleh Angkasa Raya.


" Pencapaian yang lumayan, Pak Daniel." Ramadhan berpendapat.


" Benar, Pak Rama. Jika dilihat dari harga per unit yang kita jual, prosentase segitu sudah cukup baik." Daniel menyahuti.


Ramadhan menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti dan puas dengan penjelasan dari Daniel. Ramadhan lalu mengedar pandangan melihat stand dari property lain yang juga nampak ada beberapa calon pembeli yang berminat membeli rumah.


" Oh ya, Pak Daniel. Saya mau ke toilet dulu." Ramadhan berpamitan ke arah toilet terlebih dahulu karena dia ingin buang air kecil.


Ramadhan kemudian melangkah menuju arah toilet, namun ponsel di sakunya tiba-tiba berbunyi hingga dia melambatkan langkahnya untuk menerima panggilan telepon yang ternyata berasal dari Dirga.


" Assalamualikum, Om."


" Waalaikumsalam, kamu ada di mana sekarang, Rama?" tanya Dirga.


" Rama masih di mall, Om. Sedang memantau perkembangan expo property."

__ADS_1


" Oh iya, sorry, Om lupa. Ya sudah, Assalamualikum ... tut tut tut ...." panggilan telepon itu ditutup sepihak oleh Dirga, membuat Ramadhan mengeryitkan keningnya.


" Dasar bos aneh!" Umpat Ramadhan memandang ponselnya sambil melanjutkan langkahnya, namun dia terlihat masih memusatkan pandangannya ke arah layar ponsel. Dan disaat yang bersamaan seseorang keluar dari toilet pria hingga bertabrakan dengan Ramadhan.


Buugghh


Benturan yang terjadi antara pria itu dan Ramadhan membuat ponsel yang berada di tangan Ramadhan terjatuh ke lantai.


" Oh, maaf." Pria yang bertabrakan dengan Ramadhan langsung meminta maaf karena bukan saja menabrak Ramadhan tapi juga membuat ponsel Ramadhan terjatuh.


" It's Ok." Ramadhan menerima permintaan maaf pria itu lalu mengambil ponselnya.


Pria yang bertabrakan tadi sempat melihat ponsel Ramadhan yang jatuh di lantai masih dalam kondisi menyala dengan wallpaper seorang wanita cantik berhijab. hingga membuat pria itu membelalakkan matanya.


" Rayya?"


Beberapa menit sebelumnya ....


" Kita makan di sana saja!" Azkia menunjuk sebuah restoran yang menyajikan menu masakan Indonesia, karena dia ingin mengenalkan beberapa menu makanan Indonesia kepada Luigi sesuai permintaan pria itu.


" Gimana, Kak Luigi?" tanya Rayya kepada Luigi.


" Oke, tapi kalian ke sana dulu saja, aku mau ke toilet sebentar." Karena kebetulan mereka melewati toilet, Luigi pun meminta ijin ke toilet terlebih dahulu, sementara Rayya dan Azkia lebih dahulu berjalan ke arah restoran yang tidak terlalu jauh dari arah toilet.


***


Ramadhan yang mendengar pria yang tadi bersenggolan dengannya itu menyebut nama Rayya langsung menaikkan pandangannya kembali ke arah pria yang dia duga adalah pria asing jika dilihat dari wajah dan warna kulitnya.


" Anda kenal Rayya?" Sebenarnya Ramadhan merasa kaget saat pria itu menyebut nama Rayya ketika melihat wallpaper di ponselnya.


" Iya, tentu saja. Saya dosen di tempat dia kuliah di Roma. Dan saya juga datang ke Indonesia ini spesial karena saya ingin bertemu dia," ucap pria yang ternyata Luigi, dia tidak tahu jika pria di hadapannya itu adalah pria yang selama ini diidamkan oleh wanita yang disukainya itu.


Bagi Ramadhan, kalimat-kalimat Luigi membuat dirinya semakin terkejut, bukan karena ucapan bahasa Indonesia Luigi, yang mengingatkannya akan Simone, pria yang selama ini dekat dengan Rayya. Tapi pada sosok pria yang pernah diucapkan Azzahra sebagian pria yang sedang mendekati Rayya, atau lebih tepat disebut sebagai rivalnya, ternyata saat ini ada di hadapan matanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2