RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Apa Yang Abang Rencanakan?


__ADS_3

Satu malam sebelumnya ...


Ricky, Anindita sedang menyidang Ramadhan di ruang kerja mantan Executive Assistant terbaik sepanjang perusahaan Angkasa Rayya Group berdiri.


Ricky nampak berdiri dengan tangan berkacak pinggang menatap penuh amarah ke arah putranya yang sedang terduduk di sofa di hadapan Anindita.


" Kau benar-benar membuat Papa malu Rama! Mau ditaruh di mana muka Papa ini karena ulahmu? Sedikitpun kamu tidak bisa menunjukkan sikap seorang pria sejati! Tidak menunjukkan keturunan keluarga Pratama dan didikan yang baik keluarga Kakek Poetra! Papa benar-benar kecewa sama kamu, Rama!" Setelah acara pertunangan selesai, Ricky dan Anindita memilih bergegas pulang ke rumahnya dan meminta Ramadhan untuk segera kembali ke rumah karena mereka ingin menyidangnya. Sepertinya sebuah tinju yang dilayangkan Ricky tidak cukup membuat pria paruh baya itu tenang.


" Rama, kenapa kamu nggak bisa berpikir secara jernih sebelum bertindak? Kamu lagi-lagi membuat keluarga Tante Rara kecewa. Kamu lagi-lagi menyakiti hati Rayya. Mama malu sama Tante Rara, Rama!" Kini Anindita pun ikut memojokkan putranya.


" Rama minta maaf, Pa, Ma. Rama memang salah. Rama tidak berpikir panjang saat mengambil keputusan untuk bertunangan dengan Farah." Ramadhan mengutarakan penyesalannya.


" Lalu bagaimana kami juga harus menghadapi keluarga Farah, Rama? Kamu sudah mempermainkan perasaan Farah. Mereka pasti akan merasa terhina dengan perlakuan kamu terhadap anak mereka! Ya ampun, Rama ... kenapa Mama mempunyai anak yang tidak bertanggung jawab sepertimu? Apa karena kamu terlahir akibat perbuatan yang salah hingga sikapmu seperti ini?" Anindita terisak sampai mengatakan kalimat yang tidak sepantasnya dia ucapkan, karena merasa sangat frustasi dengan kelakuan memalukan putranya itu.


" Ma ..."


Ricky dan Ramadhan dengan cepat merespon ucapan Anindita. Bahkan Ramadhan langsung menghampiri dan memeluk tubuh Anindita.


" Ma, maafkan Rama, Ma. Mama jangan bicara seperti itu. Ini semua kesalahan Rama." Ramadhan sangat merasa bersalah karena membuat Anindita sampai mengeluarkan kata-kata yang paling mengerikan menurutnya.


" Rayya dan Farah sama-sama wanita yang baik, mereka sama-sama mencintaimu dengan tulus. Mereka juga tidak mempermasalahkan asal-usulmu. Kenapa kamu tega menyakiti dan mempermainkan perasaan mereka, Rama?" Anindita masih saja menyesali sikap Ramadhan.


" Kamu tidak seperti Papamu, Papamu tidak pernah memperlakukan wanita seburuk ini. Bahkan atas kesalahan yang pernah Papamu lakukan dulu pun, Papamu tetap bertanggungjawab terhadap Mama. Kenapa kamu tidak bisa bersikap seperti Papamu, Rama? Kenapa kamu justru mengecewakan Papa dan Mama?" Anindita semakin terisak membuat hati Ramadhan terasa pilu karena melihat kesedihan dari wanita yang sangat dia sayangi itu.


***


Gavin memperhatikan istrinya yang sejak meninggalkan hotel semalam lebih banyak berdiam diri. Sejak semalam Gavin sibuk menemani putrinya karena saat ini Rayya sedang syok dengan tindakan Ramadhan yang tiba-tiba membawanya kabur. Dan Gavin menduga jika karena dia tidak banyak meluangkan waktu untuk istrinya itulah yang membuat Azzahra merajuk.


Sebenarnya yang membuat Azzahra mendiamkan Gavin itu karena Gavin seolah menyalahkannya saat Ramadhan berhasil membawa kabur Rayya. Padahal saat itu dia sama sekali tidak pernah menyangka jika putra sahabatnya itu akan berbuat nekat seperti kemarin. Azzahra pun sangat cemas saat mengetahui Rayya diculik oleh Ramadhan. Tentu saja dia tidak ingin anaknya disalahkan karena membuat calon pria yang akan bertunangan menjadi bimbang dengan keputusannya, dan hal itu pasti akan membuat putrinya disalahkan bahkan mungkin dianggap sebagai wanita perebut kekasih orang.


Azzahra menaruh botol air mineral di atas nakas untuk suaminya, karena setiap bangun pagi atau terbangun di tengah malam, Gavin selalu mengkonsumsi air mineral. Setelah menaruh botol itu di atas nakas, Azzahra kemudian menuju ke sisi sebelah kiri tempat tidurnya karena sisi sebelah kanan ditempati oleh Gavin. Dia lalu merebahkan tubuhnya perlahan dan menarik selimut hingga menutupi lehernya karena dia tidur membelakangi suaminya itu.


Gavin yang melihat istrinya seperti merajuk langsung menarik satu sudut bibirnya ke atas. Sejak tadi malam pun istrinya tidur membelakanginya seperti ini. Namun karena semalam dia terlalu emosi dengan ulah Ramadhan membuat dia tidak terlalu memusingkan sikap Azzahra seperti ini.


Gavin berganti posisi tidur sama seperti Azzahra hingga dia menatap punggung sang istri yang bergelung selimut. Dia kemudian merapatkan tubuhnya dengan sang istri dan melingkarkan lengannya di pinggang Azzahra lalu mencium tengkuk dan ceruk leher Azzahra.


" Honey, apa kau cemburu karena dari semalam aku lebih mementingkan Baby daripada dirimu hingga kau merajuk seperti ini?" tanya Gavin tanpa menghentikan aktivitasnya mencum bu sang istri, namun Azzahra bergeming tak sedikit pun terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


" Honey, ayolah ... jangan merajuk seperti ini. Kita ini sudah tidak muda lagi, janganlah marah dengan mendiamkan suamimu yang tampan ini." Gavin masih terus berusaha merayu Azzahra yang tak merubah posisi tidurnya, bahkan istrinya itu seolah tidak terpengaruh dengan serangan cum buan yang dilancarkan olehnya.


" Honey, masa kau mencemburui Baby? Kau tahu jika aku menyanyangi putri kita itu. Biasanya kau selalu mengerti, kenapa sekarang kau malah marah, Honey?" Sementara saat ini tangan Gavin sudah mulai menggera yangi bagian dada sang istri bahkan memainkan dan memilin bagian puncaknya membuat tubuh Azzahra kali ini menggeliat menahan serbuan ga irah yang sejak tadi dia tahan karena kelakuan suaminya yang menggigit ceruk lehernya.


" Hubby, lepaskan!" Azzahra menyingkirkan tangan nakal Gavin yang sejak dulu pandai memberikan kenikmatan pada bagian-bagian tertentu tubuhnya.


" Kau berhentilah merajuk, baru akan melepaskanmu, Honey." Gavin memberikan syarat kepada istrinya itu.


" Aku nggak cemburu pada Rayya!" sanggah Azzahra cepat. " Aku kesal karena Hubby seolah-olah menyalahkan aku karena ulah Rama yang membawa pergi Rayya. Aku juga saat itu takut, bingung, panik! Bisa-bisanya Hubby menyalahkan aku!" ketus Azzahra meluapkan emosinya hingga dia merubah posisi mejadi terduduk.


" Honey, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu." Gavin yang tidak menyadari jika sikapnya saat itu begitu membuat hati istrinya terluka ikut bangkit hingga kini dia memeluk kembali tubuh istrinya.


" Iya, iya, maafkan aku, Honey. Aku yang salah, aku terlalu mengkhawatirkan Baby. Baby selama ini selalu bisa menyembunyikan kesedihan dan tangisnya dari kita. Sekarang Baby menangis seperti itu, tentu aku merasa khawatir." Gavin kemudian mencium pucuk kepala sang istri. " Maafkan aku, Honey. Aku janji aku tidak akan bersikap seperti itu lagi." Gavin yang merasa bersalah karena ternyata istrinya merasa kecewa akan dirinya terus menyampaikan permohonan maafnya.


***


" Apa Bosmu ada di tempat?"


Susan, sekretaris Dirga terperanjat saat mendengar suara seorang pria yang berbicara dengan nada suara yang terdengar tegas. Susan lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berdiri di depan mejanya saat ini.

__ADS_1


" T-tuan Gavin?" Susan yang mengetahui jika Gavin adalah salah satu rekan dan teman bosnya langsung bangkit dan berdiri. " Pak Dirga ada, Pak. Mari, Pak." Susan langsung bergegas ke arah pintu ruang kerja Dirga lalu mengetuk pintu ruangannya bos besar Angkasa Raya itu.


" Permisi, Pak Dirga. Ada Tuan Gavin, Pak." Selesai Susan menyampaikan tentang kedatangan Gavin kepada Dirga, tanpa menunggu persetujuan dari Dirga, Gavin langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja Dirga.


" Gavin? Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu jika kau akan kemari?" Dirga yang sedang beraktivitas langsung berdiri dan menyambut Gavin, sementara Susan langsung keluar dan menutup pintu.


" Mana asistenmu yang breng sek itu?" tanya Gavin tak membalas pertanyaan Dirga.


Dirga yang menduga kedatangan Gavin pasti ada sangkut pautnya dengan masalah yang terjadi di acara pertunangan Ramadhan dan Farah langsung meminta sahabatnya itu untuk tenang dan duduk lebih dahulu.


" Duduklah dulu, Gavin. Aku mengerti kau sangat marah kepada keponakanku yang bo doh itu."


" Kau ingin minum apa?" tanya Dirga kemudian melangkah ke arah intercom di meja kerjanya untuk menyuruh Susan menyediakan minuman untuk Gavin.


" San, tolong buatkan minuman untuk Tuan Gavin dan tolong suruh Rama masuk ke ruangan saya segera!" perintah Dirga kepada sekretarisnya melalui intercom.


Setelah memberikan perintah, Dirga lalu duduk menemani Gavin di sofa yang terletak di depan meja kerja Dirga.


" Gavin, atas nama keluarga besar Angkasa Raya, aku menyampaikan permintaan maaf atas apa yang telah diperbuat oleh Rama kepada putrimu. Ini benar-benar di luar dugaan kami jika Rama akan senekat itu membawa Rayya pergi dari acara Sabtu malam kemarin." Dirga mencoba menyampaikan permohonan maafnya karena bagaimanapun juga, Ramadhan adalah bagian dari Angkasa Raya.


" Aku tidak mengerti sebenarnya apa isi otak asistenmu itu, Dirga? Sudah menolak putriku mentah-mentah, sekarang mengatakan mencintai putriku. Apa dia ingin membuat malu keluarga Gavin Richard?!" geram Gavin emosi.


" Jangan kau pikir aku dan Ricky pun tak emosi sepertimu, Gavin! Aku pun geram melihat tingkahnya, bahkan Ricky sendiri langsung menghajar putranya itu. Kau tahu 'kan jika mantan asistenku itu adalah orang yang paling tenang? Tapi dia bisa terpancing oleh ulah putranya yang benar-benar memalukan itu." Dirga menerangkan agar Gavin tidak berpikiran jika dia dan Ricky hanya berpangku tangan dan tidak mengecam tindakan Ramadhan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat obrolan antara Dirga dan Gavin terjeda hingga kemudian pintu ruangan Dirga terbuka dan muncullah sosok Ramadhan dari balik pintu.


" Om Gavin?" Ramadhan terkesiap saat mendapati Daddy dari Rayya kini sedang berada di ruangan Dirga. Dan Ramadhan bisa melihat aura kemarahan dari wajah Gavin apalagi dengan sorot mata seolah ingin membunuhnya.


" Ini dia orangnya. Silahkan Gavin, kau ingin lakukan apa saja kepada anak muda itu, aku tidak akan menghalangi." Dirga bersandar ke sandaran sofa dan berpangku kaki seolah dia siap menjadi penonton saat Gavin ingin melampiaskan amarahnya kepada Ramadhan.


Belum sempat Ramadhan mengakhiri kalimatnya, Gavin sudah terlebih dahulu bangkit dan memberikan sebuah pukulan di wajah Ramadhan hingga tubuh Ramadhan sedikit terhuyung ke belakang.


" Breng sek kau, Rama!" Gavin kini mencengkram kemeja yang dikenakan Ramadhan dan kembali memberikan hantaman di wajah tampan Ramadhan.


" Berani sekali kau terus menyakiti putriku! Om sudah pernah memperingatkanmu agar kau menjauhi Rayya. Tapi kau kembali mempermainkan hati Rayya!" Gavin benar-benar lepas kendali. Dia bahkan tidak perduli jika saat ini dia berada di tempat Dirga.


Ramadhan hanya terdiam, dia tidak berniat untuk membalas karena dia memang merasa bersalah.


" Apa salah putriku sampai kau berani memperlakukan dia seperti ini, breng sek!" Untuk ketiga kalinya Gavin melayangkan tinjunya hingga kini darah mengalir dari hidung Ramadhan.


Baik Gavin dan Ramadhan tidak menyadari jika Dirga sedang merekam mereka lewat ponselnya dan langsung mengirimkan hasil rekaman itu ke nomer ponsel Ricky. Dia lalu berdiri dan melerai Gavin yang sepertinya membabi buta menyerang Ramadhan.


" Gavin, sudahlah! Jangan terus kotori tanganmu dengan darah pria bo doh ini!"


Tak lama berselang Ricky masuk ke dalam ruangan Dirga. Ricky mendapati putranya yang tersudut di dinding dengan membungkuk seraya memegangi perutnya yang terkena pukulan Gavin.


" Tuan Gavin, saya benar-benar minta maaf telah membuat Anda marah dan kecewa atas perbuatan putra saya." Ricky langsung menyampaikan permohonan maafnya kepada Gavin.


" Kau tahu? Aku juga punya anak di luar nikah, tapi aku mendidik anakku itu sebagai anak yang bertanggung jawab walaupun masa laluku sangat be jat! Tidak seperti putramu ini!" ketus Gavin.


" Sekali lagi saya benar-benar menyesal, Tuan Gavin." Ricky sampai membungkukkan sedikit tubuhnya menunjukkan jika dia sunguh menyesal atas apa yang telah dilakukan Ramadhan.


" Om peringatkan kau sekali lagi, Rama! Jangan pernah sekalipun mendekati Rayya! Jika kau berani mendekati Rayya, Om tidak akan segan menghabisi nyawamu! Kau camkan itu!" ancam Gavin, setelah itu dia pergi meninggalkan ruang kerja Dirga dengan emosi tanpa berpamitan kepada Dirga maupun Ricky.


" Kau lihat 'kan hasil perbuatanmu?" geram Ricky kepada Ramadhan.

__ADS_1


" Sudah-sudah, sebaiknya kau bawa anakmu ini ke ruanganmu dan silahkan jika ingin melanjutkan memarahinya di sana. Aku masih banyak pekerjaan yang masih harus aku selesaikan.


Setelah Ricky dan Ramadhan keluar dari ruang kerjanya, Dirga lalu mengirimkan pesan kepada Kirania.


" Assalamualaikum, Sayang. Apa kau merindukan suamimu ini?" Itu pesan yang Dirga kirimkan kepada Kirania.


Tak lama berselang suara balasan pesan terdengar di ponsel bos Angkasa Raya itu.


" Waalaikumsalam, ya ampun Abang. Ingat usia, kita ini sudah tidak muda lagi, masih saja genit seperti dulu."


Dirga terkekeh membaca isi balasan dari Kirania.


" Seharusnya kau bersyukur, Sayang. Itu artinya suami kamu ini semakin lama semakin cinta sama kamu."


" Hmmm, gombal ...."


Tak lama Dirga langsung melakukan panggilan telepon dengan Kirania." Aku serius lho bilang seperti itu. Aku itu semakin hari semakin berlipat rasa cintanya kepadamu, Sayang."


" Iya, iya aku percaya," sahut Kirania.


" Kamu sedang apa, Sayang?"


Dirga melihat layar ponselnya kini memperlihatkan gambar kolam renang.


" Menemani Fa sedang berenang. Fa minta aku temani di tepi kolam" sahut Kirania walau hanya suaranya saja yang terdengar karena kamera ponsel masih mengarah ke kolam renang. " Fa, Papa video call, nih!" Terdengar Kirania berteriak kepada Falisha.


" Papa ...!"


Dirga melihat putrinya itu dari dalam kolam renang berteriak dan melambaikan tangannya


" Jangan terlalu lama di kolamnya, Princess." Dirga malah ikut berteriak menasehati putrinya itu.


" Fa, Papa bilang jangan terlalu lama di airnya!" Kirania meneruskan apa yang disampaikan suaminya kepada anaknya.


" Iya, Pa." Masih bisa terdengar suara Falisha yang menyahuti.


" Oh ya, Sayang. Apa kau bisa tanya pada Princess nomer telepon Rayya?" tanya Dirga kemudian.


" Nomer telepon Rayya? Rayya nya Rara? Memang ada apa Abang? Apa yang Abang rencanakan?" tanya Kirania heran.


" Nanti aku jelaskan di rumah, sekarang kau carilah nomer telepon Rayya secepatnya."


" Ya sudah nanti aku tanya Fa."


" Aku tutup dulu teleponnya ya, Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Setelah mendengar jawaban salam dari Kirania, Dirga pun langsung mengakhiri panggilan video call nya dengan seringai tipis di sudut bibir tipisnya


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading♥️


__ADS_2