RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Datang Bulan


__ADS_3

Rayya terbangun pagi hari karena perutnya yang terasa sakit sejak semalam. Dia menyibak selimutnya dan beranjak dari tempat tidurnya.


" Kenapa, Sayang?" tanya Ramadhan saat melihat istrinya itu terburu-buru hendak masuk ke dalam toilet.


" Perut aku sakit, Mas." Rayya mengusap perutnya.


" Ini pasti karena kamu makan pedas." Ramadhan langsung mengomel karena teringat semalam istrinya itu mengkonsumsi makanan pedas.


Rayya tidak memperdulikan omelan suaminya dan melanjutkan langkahnya ke toilet.


" Benar saja, ternyata aku mestruasi ..." Rayya yang memang menduga kalau dia kedatangan tamu bulanan langsung mende sah. Namun tak lama senyuman langsung mengembang di bibir wanita cantik itu saat membayangkan ekspresi suaminya saat mengetahui dirinya saat ini sedang berhalangan.


" Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?" Suara Ramadhan terdengar dari arah luar toilet.


Rayya segera membuka pintu toilet dengan wajah tertunduk menahan rasa geli membayangkan wajah suaminya yang pasti akan sangat bete jika mengetahui dirinya datang bulan.


" Sayang, kamu kenapa?" Ramadhan langsung memegang pundak Rayya karena khawatir.


Rayya menaikkan pandangannya ke arah wajah suaminya seraya melebarkan senyumannya.


" Aku nggak apa-apa kok, Mas."


" Kamu nggak apa-apa? Tapi tadi kamu bilang perutmu sakit. Kita ke dokter saja untuk periksa. Aku nggak mau kita pergi bulan madu dan kau malah sakit." Ramadhan menyarankan istrinya untuk pergi ke dokter untuk memeriksa masalah di perutnya.


" Aku nggak apa-apa kok, Mas. Ini hanya rutinitas bulanan saja." Rayya merasa apa yang dialaminya memang hal yang wajar terjadi bagi seorang wanita langsung menolak ajakan suaminya. Dia lalu berjalan ke arah koper untuk mengambil pembalut. Dia sudah menyiapkan pembalut untuk berjaga-jaga karena dia memang belum mendapat tamu bulanan. Setelah mengambil pembalut, Rayya kembali ke arah toilet.


" Sayang, kenapa kau balik lagi ke toilet?" tanya Ramadhan heran karena istrinya itu justru kembali masuk ke dalam toilet.


" Hmmm, aku mau pakai ini dulu, Mas." Rayya menunjukkan pembalut di tangannya seraya menyeringai.


Ramadhan merebut pembalut itu dari tangan Rayya.


" Kamu sedang datang bulan?" tanyanya kemudian.


" Iya, Mas." Rayya tersenyum lebar.


" Oh ya sudah ..." Ramadhan mengembalikan pembalut itu kepada Rayya.

__ADS_1


Rayya menerima pembalut dan melangkah ke arah toilet dengan rasa heran karena suaminya itu terlihat biasa saja saat mengetahui dirinya sedang berhalangan.


" Aku pikir Mas Rama akan mengeluh, ternyata Mas Rama biasa saja reaksinya. Syukurlah kalau begitu." Rayya menarik nafas lega karena suaminya tidak bersikap berlebihan mengetahui dirinya datang bulan seperti yang dia khawatirkan sebelumnya.


***


Setelah sarapan Ramadhan dan Rayya berkeliling pulau Misool menggunakan perahu boat untuk menikmati keindahan alam di objek wisata yang kini mulai dikenal oleh dunia itu.


" Wooowww ..." Ramadhan merengtangkan tangan kemudian memeluk Rayya saat perahu boat itu mulai berjalan melintasi perairan.


" I love you, Rayya ...!" Ramadhan berteriak begitu excited, sementara Rayya hanya tersenyum dengan memeluk erat tubuh suaminya itu


" Masya Allah sungguh indah sekali ciptaan Allah ini ya, Mas?" ucap Rayya memandang kagum gugusan pulau yang ada di Raja Ampat.


" Aku senang berada di tempat yang cantik bersama istriku yang cantik ini." Ramadhan kemudian mengecup pipi Rayya.


" Mas, malu sama Bapak itu ..." Rayya menunjuk pengemudi perahu boat yang tersenyum-senyum memperhatikan sikap Ramadhan yang terlihat mesra terhadap Rayya.


" Tidak apa-apa ya, Pak? Kami ini pengantin baru, Pak." Ramadhan mengajak bicara pengemudi perahu boat yang ditanggapi dengan anggukan kepala.


Setelah puas mengelilingi pulau-pulau di Raja Ampat, Rayya dan Ramadhan kembali ke resort lalu melakukan makan siang.



" Kalau begitu kenapa Mas Rama tidak menerima tawaran Daddy saja waktu Daddy bilang ingin menemani kita di sini bersama Mommy?" sindir Rayya terkekeh.


" Hei, memangnya kau ingin de sahanmu itu terdengar oleh Daddy dan Mommy mu?" Ramadhan menyindir balik istrinya. Membuat Rayya langsung terkikik, karena tentu saja Ramadhan tidak akan mungkin bisa melakukan hal itu saat ini di saat dia sedang datang bulan.


***


Selepas membersihkan diri setelah berkeliling Ramadhan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Sayang, kemarilah ..." Ramadhan meminta istrinya untuk mendekat ke arahnya saat Rayya sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Rayya kemudian menaruh handuk dan merapihkan rambutnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Rayya menyandarkan kepalanya di lengan sang suami. Dan Ramadhan pun mulai menyerang sang istri dengan sentuhan bibir di sekitar wajah dan leher Rayya.


" Mas, sudah jangan dilanjutkan." Rayya meminta suaminya itu menghentikan aktivitasnya. Namun tentu saja Ramadhan tidak mengikuti apa yang diucapkan oleh istrinya itu.

__ADS_1


" Mas, aku sedang datang bulan ..." Ucapan Rayya selanjutnya pun tidak direspon oleh Ramadhan. Pria itu justru mulai melucuti kancing baju yang dikenakan oleh Rayya, dan menyingkirkan kain yang menutupi bukit kembar milik Rayya.


Melihat area favoritnya, Ramadhan langsung melahap kedua perbukitan itu dengan sangat rakusnya tanpa mendegarkan lagi larangan yang diucapkan oleh Rayya.


" Mas, aaakkhh ... sudah, Mas. Aku nggak bisa melanjutkan ini." Bahkan Rayya sendiri sudah mulai merasakan kenikmatan yang dipercikan oleh Ramadhan.


" Mas ... "


Ramadhan yang sudah diselimuti kabut ga irah semakin bersemangat menguasai tubuh Rayya hingga akhirnya dia sampai di daerah yang merupakan sumber kenikmatan dunia. Ramadhan mulai meraba milik istrinya yang masih tertutup kain. Dia mengeryitkan keningnya saat merasakan ada sesuatu yang mengganjal di daerah istrinya itu.


" Sayang, kau sedang datang bulan, kan?" Ramadhan teringat jika istrinya itu sedang berhalangan.


" Iya, Mas."


" Lalu apa kita melakukan ini saat kamu berhalangan?"


Rayya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan suaminya.


" Tidak bisa? Lalu sampai kapan kamu berhalangan seperti ini?" Ramadhan merasa kecewa karena dia tidak bisa melanjutkan aksinya.


" Seminggu ..." Rayya menggigit bibirnya, dia pasti menduga suaminya akan kaget jika tahu berapa lama suaminya itu akan berpuasa berhubungan.


" Seminggu? Kenapa selama itu?" Benar seperti dugaan Rayya ternyata suaminya itu nampak syok mengetahui berapa lama masa yang harus dilalui menjalani masa menstruasi.


" Sayang, kenapa kau tidak tahan dulu datang bulannya? Kenapa kau biarkan dia datang bertepatan dengan bulan madu kita?" keluh Ramadhan.


" Mana mungkin bisa aku larang, Mas. Itu sudah siklus bulanan."


" Ya sudah kalau begitu kamu persingkat saja agar tidak lama-lama datang bulannya. Nggak tahu diri sekali tamumu itu, datang di waktu yang tidak tepat." Ramadhan terus saja menggerutu karena rencana bulan madunya terganggu oleh kedatangan tamu bulanan istrinya itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2