
" Papa akan datang ke acara tahlil Pak David?" tanya Anindita yang melihat suaminya itu bersiap menggunakan baju kokoh selepas Maghrib.
" Tentu saja, Ma. Papa tidak enak kalau tidak datang ke sana." ucap Ricky kemudian mengancing baju kokonya.
" Apa Rama akan ikut juga ke sana, Pa?"
" Sebaiknya tidak usah! Lebih baik dia tidak menampakan diri di hadapan Tuan Gavin. Papa takut Tuan Gavin akan murka melihat dia di sana. Papa akan mengajak Arka saja untuk menemani Papa." Ricky mengucapkan kalimat itu dengan nada kesal. Dia memang masih belum bisa memaafkan perbuatan anaknya itu yang sudah menyakiti hati Rayya.
Sementara di kamarnya, Ramadhan sendiri nampak bingung. Dia ingin hadir di acara tahlil hari kedua Dad David. Namun pasti kehadirannya akan membuat suasana canggung bahkan mungkin akan menimbulkan kembali ketegangan dengan keluarga Gavin.
Ramadhan kemudian mengambil ponselnya, dia mencari kontak Simone di ponselnya itu. Setelah berpikir cukup lama dia pun akhirnya mengetikan pesan kepada pria asal Italia itu.
" Hai, Simone. Apa kabar? Apa kamu bisa membantuku? Aku minta nomer telepon Rayya. Aku ada perlu sama dia. Tapi nomer dia yang aku punya tidak aktif." Ramadhan segera mengirimkan pesan yang diketiknya itu kepada Simone. Namun pesan yang dikirimnya tak juga dibaca oleh Simone.
Ramadhan pun kemudian keluar dari kamarnya karena balasan dari Simone tak kunjung muncul di ponselnya.
" Rama, kamu mau ke mana, Nak?" Anindita yang melihat anaknya berjalan menuruni anak tangga langsung bertanya, apalagi terlihat Ramadhan nampak rapih seperti hendak pergi ke luar rumah.
" Rama mau keluar sebentar, Ma." Ramadhan menjawab pertanyaan Anindita.
" Keluar ke mana? Rama, Papa masih marah sama kamu. Kamu jangan tambah bikin Papa marah lagi karena sekarang kamu mau pergi ke luar rumah." Anindita menasehati Ramadhan. Dia nampak tidak setuju dengan rencana Ramadhan yang ingin pergi.
" Cuma sebentar kok, Ma. Rama mau cari angin segar." Ramadhan bersikeras ingin pergi.
" Rama, Mama minta tolong sama kamu. Jangan bikin masalah lagi! Karena ulah kamu yang menyuruh Rayya menolak perjodohan bahkan kamu mengatakan jika kamu tidak bisa memberi cinta itu sudah benar-benar membuat malu keluarga kita. Kamu bisa nggak jangan berulah lagi sekarang?!" Anindita nampak kesal karena melihat Ramadhan yang tidak mau menuruti kata-katanya.
" Ma, Rama itu pusing! Rama butuh udara segar biar otak Rama itu nggak ruwet karena masalah ini!" Ramadhan menentang Mamanya dengan nada suara sedikit meninggi.
" Mas Rama kok bentak-bentak Mama seperti itu, sih? Jangan jadi anak durhaka sama orang tua ya, Mas!" Thalita yang melihat kakaknya berbicara sedikit kasar kepada Anindita langsung memprotes sikap Ramadhan.
" Nanti aku aduin ke Papa lho, Mas Rama bicara kasar sama Mama!" Thalita langsung mengancam Ramadhan.
Ramadhan mendengus kesal seraya melirik ke arah Thalita, kemudian dia pun kembali menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
" Mas Rama kenapa sih, Ma?" Thalita bertanya kepada Anindita seraya merangkul lengan Mamanya itu.
Anindita hanya menggelengkan kepalanya, dia sungguh merasa sedih putranya itu terlihat keras kepala tak menuruti perintahnya.
***
Rayya baru mau keluar dari kamarnya saat ponselnya berbunyi. Dia lalu melihat Simone yang sudah mengirimkan pesan kepadanya.
__ADS_1
" Ciao Rayya. Ti senti meglio adesso?" ( Hai, Rayya. Apa kamu sekarang merasa lebih baik ) Itu pesan masuk ke ponsel Rayya.
" Ciao Simone. Sì, ora sto meglio, grazie." ( Hai, Simone. Iya, aku sudah merasa lebih baik sekarang, makasih ) Rayya pun dengan cepat membalas pesan Simone. " Come stai, Simone?"
" Senza di te sono solo, Rayya😔" ( Tanpamu aku kesepian, Rayya )
Rayya tersenyum membaca balasan dari Simone.
" Cazzate 🙄." ( Gombal ) balas Rayya cepat.
" 😂😂😂 Mi manchi, Rayya. Non to manco😘?" ( Aku kangen kamu, Rayya. Apa kamu nggak merindukanku)
" No, non mi manchi." ( Nggak, aku nggak kangen sama kamu )
" 😢 Triste." ( Menyedihkan )
" Certo che mi manchi, Simone." ( Tentu saja aku kangen kamu, Simone)
" 😍😘🥰. Rayya, prima Rama mi ha contattato. Vuole chiedere la tua numero di telefono. Ma non amo." ( Rayya, tadi Rama mengubungiku. Dia meminta nomer teleponmu, tapi tidak aku kasih )
Rayya membulatkan bola matanya mendapat kabar dari Simone jika Rama meminta nomer telponnya kepada Simone. Dia menghela nafas sejenak. Dia tidak heran jika Ramadhan tidak mempunyai nomer teleponnya. Mungkin bagi Ramadhan, dia bukanlah orang penting yang perlu di save nomer HP nya. Namun yang membuat dia heran, kenapa Ramadhan sampai jauh-jauh meminta nomer HP nya itu ke Simone?
" No, Simone. Non dare la mia numero a nessuno!" ( Tidak, Simone. Jangan beri nomerku kepada siapapun juga ) Rayya tidak mengijinkan Simone memberikan nomer teleponnya kepada Ramadhan.
" Non volevo nemmeno dargli la tua numero 😁," ( Aku juga tidak berminat memberi nomermu kepada dia )
" Grazie, Simone."
***
Setelah diminta Anindita kembali ke kamarnya, Ramadhan pun masuk ke dalam kamarnya dengan menutup pintu sangat kencang. Berbarengan dengan suara pintu yang tertutup dengan kencang, suara notif di ponselnya juga berbunyi.
Ramadhan melihat ada pesan masuk dari Simone, membuatnya dengan segera membuka pesan itu
" Untuk apa kamu meminta nomer Rayya? Apa kau ingin menyakiti dia lagi?"
Ramadhan mengeryitkan keningnya membaca balasan Simone yang masuk ke ponselnya. Dia bertanya-tanya, kenapa Simone berkata seperti itu? Apa Simone tahu masalahnya dengan Rayya.
" Maaf, Simone. Maksud kamu itu apa?" Ramadhan berpura-pura seolah dia tidak mengerti dengan maksud perkataan Simone.
" Willy pernah cerita kepadaku soal perjodohan Rayya sebelumnya. Dan kemarin itu aku baru tahu jika pria bodoh ya sudah menolak Rayya itu adalah kamu. Jadi kalau kamu meminta aku memberikan nomer teleponnya kepada kamu, aku tidak akan memberinya. Karena aku tidak ingin Rayya berurusan lagi dengan pria bodoh sepertimu!"
__ADS_1
Ramadhan bisa merasakan jika Simone mengetik pesan itu dengan penuh emosi.
" Si*al! Semua orang menyudutkanku, lalu aku harus meminta nomer telepon Rayya ke siapa lagi?" Ramadhan mengusap kasar wajahnya.
***
Rayya memperhatikan ponselnya saat bunyi ponselnya itu berbunyi setelah acara tahlil hari ke dua selesai. Luigi lah yang saat itu menghubunginya kembali.
" Assalamualaikum ..." Rayya memilih mengangkat telepon dari Luigi.
" Waalaikumsalam, come stai?" tanya Luigi setelah membalas salam Rayya.
" Io sto bene, grazie."
" Le mie condoglianze per la scomparsa di tuo nonno." ( Aku turut belasungkawa atas meninggalnya kakekmu )
" Lo hai detto ieri." ( Kamu sudah katakan itu kemarin )
" Oh scusa. mi ero dimenticato. Stare con te mi fa dimenticare tutto." ( Oh maaf, aku lupa. Bersamamu membuatku melupakan segalanya )
Sebuah kalimat rayuan dari Luigi membuat Rayya langsung membulatkan bola matanya.
" Da chi hai preso la mia numero?" ( Kamu dapat nomer aku dari siapa ) Selain ingin mengalihkan topik pembicaraan, Rayya juga sangat penasaran dari mana Luigi mendapat nomer ponselnya, karena dia sendiri tidak memberikan nomer ponselnya kepada pria itu.
" La tue amici. So anche che sei tornato in Indonesia perché tuo nonno è morto a causa loro. Peccato che devo fare un test al mio studente. In caso contrario, posso farti visita a Jakarta." ( Teman-temanmu. Dari mereka juga aku tahu kalau kau pulang ke Indonesia karena kakekmu meninggal. Sayang sekali aku harus memberikan ujian kepada muridku. Kalau tidak, aku bisa mengunjungimu ke Jakarta )
Rayya kembali tercengang mendengar ucapan Luigi yang mengatakan jika pria itu berniat menyusulnya ke Jakarta.
*
*
*
Bersambung ...
Foto profilnya Luigi, yg diliat Gavin dan yang membuat Mommy Rara terpikat😁 perasaan tadi di bab sebelumnya masukin foto ini ternyata nggak muncul ya
Happy Reading ❤️
__ADS_1