RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Love At The First Sight


__ADS_3

Kehadiran Rayya di kantin bersama Luigi tentu saja menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang ada di dalam kantin siang itu. Paras rupawan Luigi dan juga penampilan dia yang sangat menawan rupanya sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja oleh para mahasiswi tak terkecuali pemilik kantin yang langsung mendekat.


" Luigi? Sei Luigi?" ( Luigi? Kamu Luigi ) tanya Ibu Maria, wanita paruh baya pemilik salah satu kantin di sana.


" Ciao, Zia Maria. Come stai?" ( Halo, Bibi Maria. Apa kabar ) Luigi langsung menyapa pemilik kantin lalu memeluk wanita paruh baya itu. Sepertinya Luigi nampak akrab sekali dengan ibu pemilik kantin itu.


" Sto bene e tu?" ( baik-baik saja dan kamu ) Ibu Maria menepuk punggung Luigi.


" Sto bene anch'io." ( Saya juga baik-baik saja ) Luigi lalu mengurai pelukannya. " Zia Maria ti ricordi ancora di me?" ( Bibi Maria masih ingat saya)


" Fuori rotta, chi potrebbe dimenticare un bel studente come te." ( Tentu saja, siapa yang akan bisa melupakan mahasiswa setampan dirimu ) Ibu Maria berseloroh hingga membuat Luigi terkekeh.


" Perché sei qui?" ( Kenapa kamu ada di sini ) tanya Ibu Maria merasa heran dengan kehadiran Luigi di sana.


" Mi manca l'atmosfera di questo campus." ( Saya sangat merindukan suasana kampus ini ) sahut Luigi tersenyum.


" E tu, dove sono i tuoi amici?" ( Dan kamu, di mana teman-temanmu ) Kali ini Ibu Maria menatap Rayya yang berdiri di samping Luigi.


" Stanno ancora seguendo altri corsi." ( Mereka masih mengikuti mata kuliah lain ) sahut Rayya menjawab pertanyaan Ibu Zia.


" Adesso lo accompagno." ( Sekarang ini saya yang menemaninya ) Luigi mengembangkan senyuman saat berkata seperti itu.


" Oh capisco ..." ( Oh, saya mengerti ) Ibu Maria menganggukkan kepala seraya tersenyum penuh arti. " Per favore, godetevi il vostro tempo entrambi. Non disturberò." ( Silahkan nikmati waktu kalian berdua. Saya tidak akan mengganggu ) Ibu Maria mengangkat kedua tangannya ke atas sebatas kepala lalu berpamitan meninggalkan Rayya dan Luigi.


" Grazie mille, Zia." ( Terima kasih banyak, Bibi ) ucap Luigi.


" Per favore siediti." ( Silahkan duduk ) Luigi menarik kursi lalu menyuruh Rayya duduk.


" Grazie " Rayya langsung duduk di kursi yang disediakan oleh Luigi.


" Cosa vuoi mangiare?" ( Kamu mau makan apa ) tanya Luigi kemudian.

__ADS_1


" Ho ordinato fettuccine e ghiaccio al limone." ( Saya pesan fettuccini dan lemon ice ) Rayya menyebutkan pesanannya.


" OK, ordinerò prima." ( Oke, saya pesankan dulu ) Luigi kemudian berjalan memesankan makanan.


Rayya menatap pria itu yang berjalan menjauh darinya. Terlihat dari cara bicara dan sikap Luigi terhadap Ibu kantin yang terlihat akrab dan sangat hangat.


" Ehi Rayya, È il tuo ragazzo?" ( Eh, Rayya. Apa dia pacarmu ) bisik seorang mahasiswa yang duduk di meja belakang Rayya.


" No, non è il mio ragazzo." ( Bukan, dia bukan pacarku ) tepis Rayya menyangkal dengan cepat.


" Quanto sei fortunato ad essere circondato da così tanti uomini belli." ( Beruntung sekali kamu dikelilingi banyak pria tampan ) celetuk satu mahasiswa lainnya.


Rayya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan teman-temannya itu. Dan tak lama Luigi pun kembali dan duduk di depan Rayya. Mereka berdua menunggu pesanan makanan mereka selesai dibuat.


" Qualcuno si arrabbierà se ti parlo in questo modo?" ( Apa akan ada yang marah jika saya berbincang denganmu seperti ini ) tanya Luigi kemudian.


" Fuori rotta." ( tentu saja )


" Mio fratello maggiore si arrabbierà sicuramente se parlo con altre persone, specialmente con gli uomini." ( Kakakku pasti akan marah jika aku berbicara dengan orang asing terutama laki-laki ) Rayya memperjelas ucapannya.


" Oh capisco ... Era tuo fratello che era con te nella grande moschea?" ( Ya aku mengerti ... Apakah kakakmu itu yang bersamamu saat di Masjid Agung ) tanya Luigi teringat akan sosok Simone yang membawa Rayya pergi dengan terburu-buru.


" Simone? No, non è il mio fratello." ( Simone? Bukan, dia bukan kakakku )


" Lui è il tuo ragazzo? ( Dia pacarmu )


" No, è il mio migliore amico." ( Bukan, dia sahabatku ) Rayya menjelaskan siapa Simone sebenarnya.


" Oh ... " Luigi menganggukkan kepalanya. " Allora chi è il tuo ragazzo?" ( Lalu siapa pacarmu ) tanya Luigi menatap lembut wajah cantik Rayya membuat Rayya salah tingkah.


" Non ho un ragazzo." ( Aku nggak punya pacar ) jawab Rayya malu-malu.

__ADS_1


" Bella donna come te senza ragazzo?" ( Wanita cantik sepertimu tidak punya pacar ) Luigi tampak tidak mempercayai kata-kata Rayya. " Gli uomini intorno a te sono così stupidi. ( Para pria di sekitarmu sangat bodoh ) Luigi menganggap pria-pria yang berada di sekitar Rayya sangatlah bodoh karena tidak ada yang menjadikan wanita itu sebagai kekasihnya.


Rayya hanya menunduk malu saat Luigi tanpa ragu memujinya.


" Se non hai un ragazzo, sarai la mia ragazza?" ( Kalau kamu tidak punya pacar, bagaimana kalau kamu jadi pacarku )


Deg


Rayya terkesiap mendapati keberanian Luigi yang secara terang-terangan memintanya menjadi pacarnya tanpa banyak basa-basi. Mereka baru bertemu dua kali, tapi Luigi sudah memintanya menjadi kekasih pria itu. Simone saja perlu beberapa waktu untuk memberanikan diri mengatakan jika pria itu menyukai dirinya. Bahkan seorang Raffasya yang bandel sekalipun tak langsung berani mengatakan ingin menjadi kekasihnya.


" Sono serio. Sono ancora single e non ho una relazione con un'altra donna." ( Saya serius. Saya masih sendiri dan tidak sedang menjalin hubungan dengan wanita lain )


Rayya menelan salivanya mendengar ucapan Luigi kembali. Menurutnya, untuk ukuran orang yang baru dikenal, Luigi terlalu berani dengan ucapannya.


" Scusa signore, penso che tu abbia troppa fretta." ( Maaf, Tuan. Saya rasa Anda terlalu terburu-buru ) Rayya merasa tidak nyaman berada dekat Luigi karena sikap pria itu yang to the point mengatakan apa yang diinginkannya.


" Chiamami Luigi. E non ho fretta. Mi sei piaciuto dalla prima volta che ti ho visto in quella grande moschea." ( Panggil saya Luigi. Dan saya tidak terburu-buru. Saya menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di Masjid Agung itu ) ucap Luigi tanpa ragu.


" Una bella donna come un angelo dal cielo." ( Seorang wanita cantik seperti bidadari dari Surga ) Luigi semakin lekat menatap wajah Rayya. " E il mio cuore dice che sei una donna speciale." ( Dan hatiku berkata jika kau adalah wanita spesial )


Rayya hanya terdiam. Untuk wanita pemalu dan introvert seperti dirinya, tentu saja akan merasa syok saat tiba-tiba ada seseorang yang baru dia kenal dan baru dua kali bertemu, dalam pertemuan itu pun mereka tidak banyak berbincang, namun seolah-olah pria itu benar-benar merasakan love at the first sight kepada dirinya. Walaupun pria itu terlihat sangat tampan dan terlihat begitu hangat sikapnya, tapi hal itu tak membuat Rayya merasa nyaman berada di dekat Luigi.


" Non c'è bisogno di affrettarsi a rispondere, ma dammi la possibilità di dimostrare che sono serio." ( Tak perlu buru-buru menjawab, tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku serius ) Luigi sepertinya mengerti keraguan di hati Rayya. Mungkin hal itu tidak akan dia temui di diri wanita lain jika dia menyatakan perasaannya seperti sekarang ini. Mungkin wanita lain akan langsung menerimanya sebagai seorang kekasih, terlebih melihat penampilan fisik dia yang sangat memikat, belum lagi profesi dia sebagai pengajar berusia muda. Itulah yang membuatnya merasa jika Rayya sangatlah spesial.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2