RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Melayang Ke Angkasa


__ADS_3

Disarankan dibaca dari jam 18.00 s/d 05.00 WIB 😁✌️🙏


...🌸🌸🌸...


Bola mata Rayya membulat saat Ramadhan mengatakan kalimat yang menurutnya terlalu memalukan. Apalagi saat bibir Ramadhan mulai menempel di bibirnya, bergerak mengecup lembut hingga akhirnya melu mat bibir manis Rayya dengan tangan Ramadhan menarik tengkuk Rayya untuk memperdalam ciumannya.


" Sudah siap melewati malam pertama sebagai istriku?" bisik Ramadan di telinga Rayya membuat darah Rayya berdesir seketika saat hembusan nafas terasa hangat di kulit mulusnya, hingga wanita cantik itu harus menahan nafasnya.


" Breathe, Rayya ... breathe ..." Ramadhan justru meledek istrinya, tentu hal tersebut menjadikan wajah Rayya semakin merona dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada Ramadhan. Ramadhan membelai rambut panjang Rayya karena saat ini sedang dalam mode malu.


Ramadhan kemudian mengangkat tubuh Rayya dengan kedua lengannya.


" Aaakkhh ..." Rayya memekik kaget dan langsung dia melingkarkan tangannya di leher Ramadhan.


Ramadhan lalu meletakkan tubuh Rayya ke atas tempat tidur. Dia pun segera melepas jas pengantin dan kemejanya dengan tidak sabar, bahkan sampai celananya hingga hanya menyisakan kain yang hanya menutupi senjata andalan miliknya.


Rayya langsung memalingkan wajahnya saat dia melihat suaminya itu sedang melucuti pakaiannya sendiri satu persatu. Bahkan jantungnya berdebar kencang saat dia melihat tubuh kekar apalagi dengan dada bidang dan lengan berotot suaminya itu.


Selesai melepaskan dan hanya menyisakan satu kain penutup di intinya, Ramadhan segera menindih tubuh Rayya dan kembali menyergap bibir istrinya itu. Apa yang dilakukanmya jelas membuat Rayya kewalahan. Ramadhan benar-benar seperti orang yang sudah berpuasa dalam jangka waktu yang cukup lama seakan tak memberi jeda sedikit saja kepada istrinya.


Rayya merasa lehernya sampai lembab kerena terus dijajah bibir Ramadhan, apalagi saat bibir Ramadhan melukiskan tanda-tanda merah di kulit putih mulus Rayya. Belum lagi tangan Ramadhan yang aktif membuka satu persatu melepas kancing baju tidur Rayya tanpa disadari oleh wanita itu.


" Geli, Kak." keluh Rayya meminta agar suaminya itu menghentikan aksinya.


" Geli?"


Rayya dengan cepat menganggukkan kepalanya.


" Kalau begini geli, nggak?" Ramadhan kini turun bermain di bagian kembar dada Rayya layaknya seorang bayi kepada ibunya.


" Kak ..." keluh Rayya terus menggeliat karena gelenyar aneh itu kembali hadir di tubuhnya. Tapi Ramadhan semakin tak perduli dengan keluhan sang istri. Ramadhan bagaikan srigala yang tak bertemu daging segar setelah bertahun-tahun berburu.


" Aakkhh ..." De sahan terus keluar dari bibir tipis Rayya membuat Ramadhan semakin bersemangat menaklukan istrinya itu.


Setelah berhasil menaklukan kawasan pegunungan yang menjulang, Ramadhan kemudian berganti mencari daerah lain yang akan dijelajahinya dengan terus mencium perut hingga perlahan turun ke bawah.

__ADS_1


Ramadhan kini mencoba menurunkan celana piyama, termasuk penutup segitiga yang menutupi kawasan yang rimbun milik Rayya.


Rayya langsung mengambil bantal dan menutup wajahnya dengan bantal itu karena dia sangat malu saat suaminya berhasil meloloskan kain terakhir dari tubuh Rayya.


Ramadhan yang terlalu asyik bahkan tidak menyadari dengan tindakan istrinya. Dia terlalu terpesona mendapati daerah menuju surga dunia hingga dia harus menelan salivanya berkali-kali.


Jari tangan Ramadhan kini perlahan meraba area yang mulai terasa lembab karena permainannya di tubuh bagian atas Rayya tadi. Hingga kini dia mulai menguasai bagian bawah perut tubuh Rayya. Ramadhan bagai seorang petualangan yang siap mengekspor setiap daerah yang ingin dijelajahi dan ditaklukannya.


Rayya menggigit bibirnya saat bagian intinya mulai disentuh Ramadhan. Tidak saja dengan tangan tapi juga dengan Indra perasanya, sehingga mampu membuat tubuh Rayya menggelinjang dengan suara de sahan yang teredam bantal.


Ramadhan yang menyadari saat ini istrinya sedang menyembunyikan wajahnya di balik bantal langsung tersenyum. Rasanya senang sekali dia menggoda istrinya itu. Dia sengaja menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rayya tanpa bersentuhan padahal dia sendiri sudah tidak sabar meluncurkan rudalnya.


Apa yang dilakukan Ramadhan sudah pasti membuat Rayya perlahan menjauhkan bantal yang menutupi wajahnya sambil mengintip karena dia tidak lagi merasakan sentuhan dari suaminya itu.


" Kepo ya, ngintip-ngintip?"


Rayya tersentak saat mendapati suaminya itu ternyata masih berada di atas tubuhnya hanya tidak menyentuh tubuh Rayya karena telapak tangan Ramadhan yang menyangga tubuh Ramadhan layaknya melakukan push up.


" Kenapa ditutupi bantal, hmmm?" Ramadhan menyingkirkan bantal dan melemparnya jauh dari tempat tidur. Ramadhan melihat wajah Rayya yang memerah bukan hanya malu tapi karena sudah mulai terbawa ga irah atas permainannya.


Tanpa menunggu Rayya menjawab pertanyaannya, Ramadhan langsung menguasai bibir tipis Rayya dan berusaha melepaskan kain terakhir yang menutupi senjata milik pria itu. Ramadhan tak langsung memasuki wilayah surga dunia di dekatnya. Dia memainkan lebih dahulu kedua aset istrinya. Membuat Rayya kembali mende sah panjang


" Siap?" Kembali Ramadhan bertanya karena Rayya hanya terdiam tak menjawab.


Ramadhan pun akhirnya memutuskan untuk melakukan penyatuan dengam istrinya. Ramadhan mendekatkan miliknya di bibir gua milik Rayya. Ramadhan siap menjelajahi dunia baru yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.


" Kak, tunggu!!" Rayya tiba-tiba menghentikan aksi suaminya yang ingin membawanya melayang ke ke angkasa.


" Kenapa?" tanya Ramadhan menunda peluncuran rudalnya.


" Kak Rama sudah baca doanya belum tadi?" Rayya menanyakan apakah suaminya itu sudah membaca niat saat melakukan hubungan suami istri.


" Hmmm ... sudah, dong!" Ramadhan berbohong, padahal dia sendiri sampai lupa mengucapkan doa saat ingin berse tubuh dengan istrinya tadi.


" Ya sudah ...."

__ADS_1


" Ya sudah apanya?"


" Ya itu ....."


" Apanya yang itu?"


" Yang tadi Kak Rama mau ngapain?" Rayya rasanya malu saat mengatakannya, karena seolah dialah yang berkeinginan melakukan melakukan aktivitas suami istri.


" Hmmm, rupanyanya kamu nggak sabar juga ya?' Ramadan terkekeh.


" Sudah ah, Kak." Rayya menutup wajah dengan telapak tangannya.


" Jadi dilanjut nggak, nih?" goda Ramadhan.


" Nggak tahu, ah ..." Rayya merajuk.


Ramadhan kembali terkekeh. Dia membaca doa niat berse tubuh. Dia pun memulai mendekatkan kembali miliknya dengan milik Rayya. Ramadhan awalnya nampak kesulitan memasuki milik Rayya yang masih terasa sempit.


Rayya terus menggigit bibirnya dengan memejamkan matanya saat dia merasakan sesuatu memasuki tubuhnya.


" Aaakkkhhh ... Astaghfirullahal adzim ... sakit ... ssshhh ..." Rayya tidak bisa menahan rasa sakit saat Ramadhan akhirnya berhasil memasukinya.


" Aaakkkhh ... sudah ... sudah ... lepasin ..." Rayya bahkan mencakar lengan Ramadhan dan meminta Ramadhan untuk segera menghentikan aksinya.


" Sabar, Sayang. Nanti juga akan terasa nikmat." Ramadhan menyumpal bibir Rayya dengan bibirnya agar istrinya itu tidak terus berisik. Sementara bagian pusatnya terus bergerak menjelajah inti Rayya. Hingga tak lama Rayya pun menikmati permainannya.


" Aaahhhkk ..." Suara desa han Rayya dan Ramadhan. akhirnya terdengar saling bersautan menandakan jika mereka sama-sama menikmati penyatuan mereka hingga tubuh Rayya menggelinjang saat mereka berdua sama-sama merasakan pelepasan dengan cairan hangat mengalir ke rahim Rayya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Mohon maaf kalo maaf kalau kemarin ga up, karena puasa ini agak keteteran kejar up kisah Rayya dan Kia bersamaan. Mohon dimengerti ya, makasih🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2