
Farah sedang menikmati suasana pantai dari arah restoran tempat dia menginap, dengan menatap ke arah laut menjelang senja.
" Hai, kita bertemu lagi ...".
Farah membelalakkan matanya saat melihat pria yang mengusiknya saat dia di pantai siang tadi.
" Boleh ikut duduk di sini?" tanya pria itu.
Farah tak menjawab permintaan pria itu, dia bahkan hendak meninggalkan restoran karena merasa terganggu dengan kedatangan pria yang menurutnya sangat menyebalkan karena mengoloknya.
" Hei, kenapa pergi? Aku ini sudah berbaik hati ingin menemanimu." Pria itu terkekeh melihat Farah yang terlihat terganggu dengan kehadirannya.
" Aku malas meladeni pria hidung belang sepertimu!" ketus Farah.
" Hei, apa katamu tadi?" Pria itu langsung menghalangi langkah Farah saat mendengar Farah mengatakannya pria hidung belang.
" Memangnya apa sebutan yang pantas untuk pria yang senang mengoda wanita-wanita?" Farah berkacak pinggang.
" Menggoda? Memangnya aku terlihat seperti orang yang sedang menggoda? Apa aku ini merayumu, Nona? Jangan terlalu percaya diri." Pria tadi tertawa mengejek Farah.
Farah mendengus kesal. Pria itu memang tidak menggodanya, namun justru kehadiran pria itu sangat mengganggu ketenangannya.
" Sudah jangan pakai emosi, mending juga kita duduk bersantai sambil mengobrol di sini. Kau tidak perlu takut, aku tidak akan berbuat jahat terhadapmu. Aku hanya ingin mengajakmu bicara. Kita sama-sama orang asing di sini. Tidak ada salahnya kita saling berkenalan. Apalagi kita juga berkebangsaan yang sama." Pria itu lalu mengulurkan tangannya ke arah Farah.
" Namaku William, kau sendiri siapa?"
Farah memperhatikan tangan pria yang ternyata William itu. Kemudian pandangannya berganti menatap wajah tampan pria yang tersenyum kepadanya.
" Farah ..." Farah akhirnya menyambut jabat tangan William.
" Kalau seperti ini 'kan enak." William menyeringai. " Silahkan ..." William kemudian mempersilahkan Farah untuk kembali duduk. Dia pun menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
" Apa kau sedang berlibur di Italia ini?" tanya William kemudian.
Farah hanya menatap dengan sorot mata tajam, tentu saja dia tidak akan mudah percaya pada sembarang pria asing yang baru dia kenal.
" Aku pria baik-baik, kok. Aku tinggal di Roma dan sekarang ini bekerja di sebuah stasiun televisi di sana." William kemudian menyebutkan pekerjannya. " Makanya kalau kemarin kau nekat terjun dari tebing, aku akan menyiarkannya di stasiun televisi tempatku bekerja." William tertawa kecil kembali menyindir Farah membuat Farah memberengut sambil mendelik ke arah William.
" So? Apa kamu hanya ingin diam dan memandang ketampanku saja?" William menyeringai seraya menyandarkan punggung ke kursi dengan tangan melipat di dadanya.
__ADS_1
Farah menyipitkan matanya mendengar perkataan William yang menurutnya sangat narsis.
" Siapa juga yang menikmati wajahmu? Menurutku biasa saja," tepis Farah seraya menyesap kopi yang tadi dia nikmati sebelum kedatangan William.
" Wow, seleramu tinggi, ya? Sampai mengatakan wajahku ini biasa saja." William kembali terkekeh.
" Atau mungkin karena seleramu terlalu tinggi makanya kamu patah hati?" William memainkan kedua alisnya naik turun. Sepertinya bakat seorang Gavin Richard mulai nampak pada diri William kini.
" Apa kamu tidak bisa berbicara yang tidak memancing emosiku?" ketus Farah.
" Makanya kamu rileks saja menghadapiku. Santai ... jangan tegang jadi kamu tidak merasa emosi seperti ini." William mengembangkan senyuman mautnya yang mampu memikat para wanita sebelumnya. Sementara Farah hanya memutar bola matanya menanggapi keusilan William kepadanya.
***
" Mas, aku nggak ingin Mas Rama menjadi bermusuhan dengan Kak Luigi." Setelah kembali ke kamar, Rayya menegur suaminya karena saat berbincang tadi bersama keluarga Ramadhan, suaminya itu nampak seperti tidak suka nama Luigi disebut.
" Aku tidak memusuhi Luigi, Sayang. Aku hanya tidak suka bersangkutan lagi dengan Luigi, apalagi jika sampai Luigi jadi adik iparku." Ramadhan terlalu mendramatisir.
" Mas Rama jangan terlalu berlebihan, deh. Mas. Luigi itu di Italia, dan Thalita di sini. Mereka nggak akan bisa bertemu." Rayya merasa jika suaminya itu terlalu membesar-besarkan masalah.
" Aku tidak berlebihan, Sayang. Aku hanya tidak ingin istriku ini dilirik lagi oleh Luigi." Ramadhan kemudian memeluk tubuh Rayya dan menciumi pipi wanita cantik itu.
" Sudah ah, Mas. Nanti lama-lama modus deh ini." Rayya merasa geli karena Ramadhan terus saja mengecupnya. Dia khawatir jika suaminya itu akan mengajaknya melakukan aktivitas bercinta kembali.
" Jadi dong, Sayang. Kenapa? Sudah tidak sabar ingin merasakan bulan madu bersamaku, kan?" Ramadhan menyeringai.
" Aku ingin mempersiapkan apa saja yang harus kita bawa." Rayya menepis anggapan suaminya.
" Hmmm, pintar berkelit ya kamu sekarang." Ramadhan langsung mengangkat tubuh istrinya dengan kedua lengannya.
" Mas, mau apa lagi?" Rayya memekik kerena dugaannya memang terbukti, suaminya hendak mengajak melakukan aktivitas berbagi peluh dan kenikmatan lagi.
" Kau tahu apa yang aku mau, kan?" Ramadhan menyeringai seraya mengedipkan matanya.
" Mas, aku lelah. Tapi siang 'kan kita sudah melakukannya. Nanti saja kalau kita bulan madu kamu bisa minta sepuasnya." Rayya tidak memikirkan hari esok, yang terpenting saat ini dia bisa terbebas dari serangan suaminya yang tidak pernah puas.
" Benar, ya? Kau akan melayaniku sepuasnya?"
" I-iya."
__ADS_1
" Itu baru namanya istri Solehah." Ramadhan langsung mencium kening Rayya kemudian menjatuhkan diri di samping istrinya itu.
" Sayang, apa kau merasa bahagia saat ini?" tanya Ramadhan menoleh ke arah istrinya.
" Lebih dari bahagia, Mas. Aku bersyukur dengan apa yang aku rasakan saat ini. Aku bisa menikah dengan Mas Rama, pria yang sejak dulu aku kagumi. Pria yang sejak lama aku cintai." Rayya memiringkan tubuhnya dan menjadikan lengan suaminya untuk menjadi bantal kepalanya. Dia juga melingkarkan tangannya di perut Ramadhan. Memang tidak ada hal yang paling indah Rayya rasakan kali ini selain bisa menjadi istri seorang pria yang sudah lama didambanya.
***
" Assalamualaikum, Dad." Rayya membuka pintu ruangan kerja Gavin saat dia dan Ramadhan mampir ke kantor Daddy nya siang ini.
" Waalaikumsalam, Baby?" Gavin yang melihat kehadiran Rayya dan Ramadhan di ruang kerjanya langsung bangkit dan menyambut putrinya itu dengan pelukan. " Kalian dari mana?" tanya Gavin kemudian.
" Kami sengaja kemari, Pa. Karena kami ingin berpamitan, besok kami akan melakukan perjalanan untuk berbulan madu." Ramadhan menyampaikan alasannya menemui Gavin di kantornya. Dia lalu mencium punggung tangan Gavin.
" Kalian jadi akan pergi ke Raja Ampat dan Venice?" tanya Gavin kemudian
" Iya, Dad."
" Apa Baby akan aman pergi berdua saja dengan suamimu?" tanya Gavin khawatir kepada Rayya.
" Insya Allah kami akan aman, Dad." Rayya mencoba meyakinkan Daddy nya yang masih saja posesif kepadanya.
" Hmmm, apa Daddy dan Mommy harus ikut dengan kalian juga?"
Rayya dan Ramadhan saling berpandangan mendengar ucapan Gavin. Bahkan Rayya langsung menghela nafas panjang.
" Untuk apa Daddy dan Mommy harus ikut?"
" Tentu saja untuk menemani kalian," sahut Gavin enteng. " Daddy akan lebih tenang jika menemanimu, Baby. Apalagi kalau suamimu itu nanti snorkeling atau diving, terus dia hilang dimakan hiu atau paus, Baby jadi ada temannya." Gavin melirik Ramadhan seraya menyindir menantunya itu.
Rayya dan Ramadhan langsung terbelalak saat Gavin mencoba menakuti putri tercintanya.
" Dad, Daddy jangan menakut-nakuti, dong!" protes Rayya langsung mengerucutkan bibirnya.
" Hmmm, maaf, Pa. Memang dulu Papa sama Mama waktu bulan madu ditemani dengan Eyang dan Enin, ya?" Ramadhan balas menyindir Gavin. Sontak saja ucapan Ramadhan membuat Gavin langsung mendelik ke arah Ramadhan.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung ...