RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Om Akan Pegang Ucapanmu


__ADS_3

Gavin dan Azzahra sama-sama terkejut saat Rayya mengucapkan niat Ramadhan yang berjanji akan melamar putrinya itu.


" Apa Baby bilang tadi? Si breng ... maksud Daddy orang itu mau melamar Baby?" Gavin yang terlihat lebih syok bahkan tidak dapat menutupi rasa kecewanya saat mendengar jika Ramadhan akan melamar Rayya, walaupun dia sudah menyerahkan semua keputusannya kepada Rayya.


" Iya, Dad. Besok Kak Rama akan kemari bersama Om Ricky dan Tante Anin." Rayya sebenarnya agak takut menghadapi reaksi dari Daddy nya itu hingga tangannya meremas ujung piyama tidurnya karena dia merasa sangat gugup.


" Baby, kau belum menjelaskan hubunganmu dengan Luigi. Luigi juga sedang bersiap untuk melamarmu." Gavin sebenarnya masih berharap pada Luigi.


" Itu karena Hubby terlalu terburu-buru mengambil tindakan. Coba kalau Hubby nggak meminta Luigi untuk cepat-cepat melamar Rayya, masalahnya nggak akan serunyam ini." Azzahra menyalahkan suaminya karena suaminya itu yang mempercepat rencana Luigi untuk segera melamar Rayya.


" Kenapa kau menyalahkanku, Honey? Bukankah kau yang terlihat bersemangat ingin mempunyai menantu Luigi?" Kali ini Gavin yang memprotes


istrinya.


" I-iya, tapi setidaknya aku nggak memaksakan kehendak seperti Hubby selama ini." Azzahra dengan cepat menyangkal tudingan Gavin.


" Mom, Dad, sudah jangan bertengkar. Rayya kemari hanya ingin memberitahukan hal itu saja. Masalah Kak Luigi, Rayya dan Kak Rama sudah sepakat ingin menemui Kak Luigi dan membicarakan tentang hal ini." Rayya mencoba melerai perdebatan kedua orang tuanya itu.


" Rayya harap Daddy bisa menerima dengan baik kedatangan Om Ricky dan Tante Anin." pinta Rayya berharap.


" Iya, Rayya. Nanti Mommy siapkan makan malam untuk Papa dan Mamanya Rama, Sayang." Azzahra menyahuti perkataan Rayya dengan mengatakan hal yang akan membuat Rayya tenang karena saat ini wajah anaknya itu nampak tegang.


" Terima kasih, Mom." Rayya memeluk Mommy nya sebelum berpamitan karena dia ingin kembali ke kamarnya.


" Baby tidak ingin memeluk Daddy juga?" tanya Gavin memprotes sikap Rayya yang melewatinya begitu saja.


" Maaf, Dad." Rayya menundukkan kepalanya lalu menghampiri Gavin kemudian memeluk tubuh Daddy nya itu.


" Ya sudah, sekarang Baby kembalilah ke kamar dan cepat beristirahat, jangan tidur terlalu larut," ujar Gavin meminta Rayya segera kembali setelah memeluknya.


" Iya, Dad." Rayya pun kemudian keluar dari kamar orang tuanya dan kembali ke kamarnya.


***


" Ma, apa sudah siap?" Setelah pulang dari kantornya, Ramadhan sudah bersiap untuk pergi ke rumah Rayya. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang dulu pernah dia tolak dijodohkan dengannya itu.


" Sebentar, Rama. Mama sedang mengancingkan kemeja Papamu," suara Anindita terdengar dari dalam kamar menyahuti Ramadhan.


" Nanti keburu malam, Ma." sahut Ramadhan yang tidak sabar.


" Kau ini kenapa? Seperti anak kecil saja yang ingin pergi ke jalan-jalan." sindir Ricky saat membuka pintu kamarnya.


" Pa ..." Ramadhan menyeringai seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Harap dimaklumlah, Pa. Anak Papa ini 'kan sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Papa pasti nggak akan mengerti karena waktu masih muda dulu Papa nggak pernah merasakan jatuh cinta, kan?" sindir Anindita yang muncul di belakang Ricky dan langsung melingkarkan tangannya di lengan sang suami, karena suaminya saat itu langsung mengarahkan tatapan tajam ke arahnya.


" Bukan Rama yang bicara lho, Pa." Ramadhan mengangkat tangannya menirukan gaya orang menyerah.


" Mama hanya bercanda, Pa." Anindita langsung merubah posisi tangannya kini memeluk pinggang sang suami agar suaminya itu tidak menjadi marah karena ucapannya tadi.


" Sudah dong, Pa, Ma. Jangan mesra-mesraan terus. Nanti kita terlalu malam sampai ke rumah Rayya." Ramadhan meminta kedua orang tuanya untuk berhenti bermesraan di hadapannya.


" Ya sudah ayo kita berangkat." Anindita lalu merangkul kembali lengan Ricky dan mereka pun berjalan meninggalkan rumah mereka menuju rumah Gavin.


***


Suasana di ruangan tamu rumah Gavin malam ini agak sedikit tegang. Tentu saja sikap Gavin yang lebih banyak diam membuat suasana di rumah itu menjadi kaku. Hanya Azzahra dan Anindita yang lebih banyak berbincang. Sementara Rayya dan Ramadhan pun hanya sesekali saling pandang dan melempar senyuman.


" Ehemm, jadi Tuan Gavin, rencana kedatangan kami kemari adalah untuk melamar Rayya untuk Rama." Ricky memulai percakapannya dengan Gavin yang tadi hanya diawali dengan berbasa-basi.


" Saya tahu jika anak saya selama ini mengecewakan keluarga Tuan Gavin. Tapi saya sangat yakin jika niat anak saya saat ini sangat tulus untuk meminang Rayya, Tuan." lanjut Ricky meyakinkan.


Gavin kini menatap tajam ke arah Ramadhan yang kini sedang mengarahkan pandangan ke arahnya juga.

__ADS_1


" Saya minta maaf atas perbuatan saya dulu, Om. Tapi saya berjanji akan menebus kesalahan saya itu dan Insya Allah akan membahagiakan Rayya melebihi apa yang Om harapkan." Ramadhan berani berjanji akan bisa membahagiakan Rayya dengan penuh keyakinan.


" Kau jangan terlalu jumawa mengatakan kalau kau bisa membahagiakan Rayya melebihi apa yang Om harapkan!" Gavin mencibir ucapan Ramadhan.


" By ..." Azzahra yang melihat suaminya mulai menyindir Ramadhan langsung mendelik.


" Saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk membahagiakan Rayya, Om." ucap Ramadhan kembali.


" Baiklah, Om akan pegang ucapanmu."


Ucapan Gavin tentu saja membuat seluruh orang yang berada di ruang tamu itu bisa bernafas lega. Terlebih untuk Rayya yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena restu dari Daddy nya kini telah didapat olehnya.


" Tapi sebelum kami menerima lamaranmu, Om minta kamu menyelesaikan lebih dulu urusan kalian dengan Luigi. Buat dia bisa menerima keputusan kalian dengan baik-baik tanpa ada dendam. Karena sejujurnya sosok Luigi lah yang pantas untuk menjadi pendamping Rayya." Gavin memberikan syarat yang harus dilalui oleh Ramadhan agar bisa mendapatkan restu olehnya.


" Baik, Om. Saya akan menemui Luigi secepatnya bersama Rayya. Karena itu juga saya meminta ijin kepada Om untuk pergi bersama Rayya ke Roma." Ramadhan menyetujui apa yang diminta oleh Gavin.


Dan akhirnya pertemuan malam itu berlanjut dengan acara malam malam, suasana yang awalnya menegang kini sudah mulai mencair hingga terlihat Gavin dan Ricky pun mulai berbincang ringan.


" Aku senang Om Gavin akhirnya bisa menerima permintaan maafku, Rayya," ujar Ramadhan saat mereka berdua kini berbincang di teras rumah Gavin.


" Iya, Kak. Aku juga sempat khawatir Daddy akan menghajar Kak Rama lagi." Rayya tertawa kecil jika mengingat bagaimana Daddy nya itu menghajar Ramadhan berkali-kali.


Ramadhan memicingkan matanya hingga membuat keningnya berkerut dan kedua alisnya hampir mensentuhan.


" Kau senang aku jadi bulan-bulanan Daddy mu, ya?"


" Astaghfirullahal adzim, kenapa Kak Rama bicara seperti itu? Aku nggak pernah berpikiran begitu, Kak! Aku justru khawatir saat tahu Daddy memukuli Kak Rama seperti kemarin." Rayya dengan cepat menyanggah tudingan dari Ramadhan.


Sudah pasti jawaban dari Rayya membuat senyuman langsung mengembang di bibir pria tampan itu.


" Kamu khawatir kepadaku, karena kamu sangat mencintai aku, kan?" Ramadhan menggoda Rayya hingga membuat wajah putih gadis itu bersemu.


" Nggak usah kepedean deh, Kak! Aku hanya takut Daddy bermasalah karena perbuatan kasar Daddy itu, kok." Rayya menyangkal apa yang memang dikatakan Ramadhan, padahal memang benar apa yang dikatakan Ramadhan tentang kekhawatiran dirinya. Rasa sayangnya kepada Ramadhan mematahkan rasa sakit hatinya selama ini kepada pria itu.


" Hmmm, tapi sepertinya kita nggak bisa menikah dalam waktu dekat ini, Kak."


" Kenapa?"


" Kami sedang menyiapkan pernikahan Kia lebih dulu, Kak."


Mata Ramadhan membulat sempurna saat Rayya mengatakan soal pernikahan Azkia.


" Kia akan menikah? Wow ... kita keduluan, dong!" Ramadhan terkekeh karena dia tidak mengetahui apa yang sedang menimpa Azkia saat ini.


" Hmmm, iya, Kak." Rayya mengangguk, dia tidak berani menceritakan hal yang merupakan hal privacy keluarga Yoga.


" Kalau begitu kita harus segera menyelesaikan urusan dengan Luigi agar kita bisa menyusul Kia dan pacarnya itu. Oh ya siapa nama pacarnya Kia itu?" tanya Ramadhan yang tidak terlalu hapal nama kekasih dari Azkia.


" Hmmm, Kia bukan menikah dengan Kak Gibran, Kak."


" Bukan dengan Gibran? Lalu?" Tanya Ramadhan heran karena setahu dia, Azkia hanya berpacaran dengan Gibran.


" Kia akan menikah dengan Kak Raffa."


" Raffa? Raffa itu siapa?" Kening Ramadhan berkerut mencoba mengingat nama Raffasya.


" Kak Raffa itu kakak kelas kami waktu SD, dan teman Kak Gibran juga." Rayya bingung harus bagaimana menceritakan hubungan antara Azkia dengan Raffasya.


" Raffa itu teman Gibran? Wah, seru nih ceritanya. Pasti Si Raffa itu menikung Gibran, begitu, kan?" Ramadhan sudah seperti tukang gosip.


" Hmmm, nanti aku ceritakan tapi nggak sekarang." Rayya memilih menyudahi pembicaraan seputar Azkia.


" Memangnya sebenarnya ada apa, Rayya? Apa ada sesuatu di antara mereka?" tanya Ramadhan penasaran.

__ADS_1


" Nanti aku jelaskan ya, Kak. Karena ini masalah pribadi keluarga Uncle Yoga." Rayya meminta pengertian dari Ramadhan untuk tidak lagi membahas soal Azkia karena dia tidak enak harus menceritakan hal yang merupakan aib keluarga, walaupun dilakukan bukan karena keinginan Azkia maupun Raffasya.


***


Siang ini Rayya dan Ramadhan sampai di bandara udara Fiumicino. Langit di kota Roma siang ini nampak mendung dengan cuaca berkisaran dua belas derajat celcius. Bahkan rintik hujan sudah mulai nampak jatuh ke bumi.


Ramadhan melepas jaketnya dan memasangkan ke tubuh Rayya yang sudah mengenakan mantel sendiri.


" Kak Rama nggak kedinginan? Kenapa nggak dipakai sendiri saja punya Kak Rama?" tanya Rayya yang sempat terkaget saat Ramadhan menyampirkan jaket milik pria itu ke tubuhnya.


" Aku hanya ingin membuat kamu merasa nyaman dan tidak kedinginan. Mungkin jika kita sudah menikah aku bisa memelukmu," ucap Ramadhan dengan melempar senyuman menggoda dan sukses membuat wajah Rayya merona.


Ddrrtt ddrrtt


Untung saja saat itu suara ponsel berbunyi dan menyelamatkan rasa gugup Rayya dari rayuan Ramadhan yang membuat dia salah tingkah. Namun jantungnya seketika berdetak kencang karena orang yang menghubunginya saat ini adalah Luigi. Walaupun dia sudah mengabari sebelumnya kepada Luigi jika dia akan datang ke Roma, namun dia tidak mengatakan jika dia akan datang bersama Ramadhan.


" Siapa yang telepon, Rayya?" tanya Ramadhan.


" Kak Luigi ...."


" Kau terimalah teleponnya." Ramadhan meminta Rayya untuk menerima telepon dari Luigi.


" Assalamualaikum, Kak." Akhirnya Rayya mengangkat panggilan telepon dari Luigi.


" Waalaikumsalam, Rayya. Kau ada di mana sekarang? Apa kau sudah sampai di Roma?" tanya Luigi.


" Hmmm, iya aku baru saja sampai, Kak."


" Kau sudah di Roma? Kenapa tidak memberitahuku, aku bisa menjemputmu di bandara."


" Hmmm, tidak usah, Kak. Ini aku sudah mau pesan taksi."


" Kamu masih di bandara? Aku jemput sekarang ke sana."


" Tidak usah, Kak. Ini mobilnya sudah datang." Rayya berbohong dengan mengatakan mobil yang akan membawa dia ke apartemen miliknya sudah sampai.


" Ya sudah, sepulang mengajar nanti aku akan ke apartemenmu."


" Kak, kita ketemu nanti malam saja, ya! Aku lelah sekali ingin istirahat." Rayya menolak halus permintaan Luigi yang akan mengunjungi apartemennya.


" Baiklah kalau begitu, kita berjumpa nanti malam."


" Sudah dulu ya teleponnya, Kak. Assalamualaikum ..." Rayya memilih menyudahi percakapannya di telepon daripada harus terus berbincang dengan Luigi karena akan membuat dirinya merasa bersalah.


" Waalaikumsalam ...."


" Aku deg-degan menunggu nanti malam, Kak." ungkap Rayya menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.


" Kita berdoa semoga semua baik-baik saja."


" Aku harap begitu." harap Rayya.


Dan akhirnya mobil yang mereka pesan sampai di depan mereka dan akan membawa Ramadhan ke hotel dia menginap terlebih dahulu sebelum mengantar Rayya ke apartemennya.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2