
Rayya tersenyum melihat orang yang menjawab panggilan video call nya.
" Assalamualaikum, Nin. Enin sama Eyang gimana kabarnya? Sehat-sehat saja 'kan, Nin?" sapa Rayya saat panggilan video call nya itu terangkat oleh Umi Rara.
" Waalaikumsalam, Neng Rayya sudah sampai di Jakarta, ya? Alhamdulillah Enin sama Eyang di sini baik-baik saja. Kamu sendiri gimana kabarnya, Geulis?" Umi Rara menyahuti sapaan dan pertanyaan dari cucu dari anak wanita satu-satunya itu.
" Rayya juga sehat, Nin. Alhamdulillah ... Eyang mana, Nin? Sedang apa?" tanya Rayya menanyakan keberadaan Abi Rara, kakek sau-satunya yang dia punya saat ini.
" Eyang sedang sholat Dhuha tadi, Neng." sahut Umi Rara. " Nanti Enin lihat sudah selesai belum sholatnya."
" Sudah jangan, Nin. Biarkan saja, Rayya nggak ingin ganggu Eyang beribadah." Rayya tentu tak ingin mengganggu Abi Rara yang sedang beribadah kepada Sang Khaliq nya.
" Neng, kapan atuh main ke Bogor? Mumpung Neng Rayya sedang berlibur di Indonesia," ucap Umi Rara, sepertinya Umi Rara ingin agar Rayya mengunjunginya di Bogor.
" Ah iya, Nin. Nanti Rayya ke sana ya, Nin. Rayya juga kangen kampung halamannya Mommy. Rayya kangen lihat perkebunan." Rayya nampak bersemangat karena dia menemukan tempat di mana dirinya bisa mengisi liburan selain di Jakarta.
" Ya sudah, Neng Rayya ke sini saja atuh!" Umi Rara terlihat senang saat mendengar cucunya itu akan mengunjunginya.
" Iya, Nin. Nanti Rayya bicara dulu sama Daddy juga Mommy ya, Nin."
" Ya sudah, Enin tunggu kedatangan Neng Rayya."
" Iya, Nin. Insya Allah Rayya pasti ke sana. Rayya tutup teleponnya dulu ya, Ni. Rayya mau bicara dulu sama Mommy." Rayya berniat mengakhiri panggilan teleponnya.
" Iya sudah."
" Assalamualaikum, Nin."
" Waalaikumsalam ...."
Setelah sambungan video call nya berakhir, Rayya segera mencari Azzahra.
" Bi, Mommy di mana?" tanya Rayya kepada ART nya.
" Mommy nya Non Rayya tadi ke rumahnya Non Kia, Non." ART itu menjawab.
" Mommy di rumah Auntie?"
" Iya, Non."
Rayya mendesah dan bergumam, " Apa lagi yang Mommy ceritakan pada Auntie?"
Sementara itu di teras belakang rumah Yoga.
" Jadi kamu sudah bertemu dengan dosen itu, Ra?" tanya Natasha setelah Azzahra menceritakan pertemuannya dengan Luigi.
" Iya, Teh. Ternyata orangnya bukan hanya tampan, tapi juga sangat sopan, Teh. Pokoknya cocoklah kalau Rayya yang kalem, Teh." Seperti biasa, Azzahra selalu antusias jika membahas soal Luigi.
" Kak Gavin sendiri bagaimana? Apa Kak Gavin setuju jika Rayya sama si Luigi itu?" tanya Natasha.
" Teh Tata kayak nggak kenal kakak sepupu teteh itu kayak gimana? Kakak sepupu Teh Tata itu kalau nggak bersikap terlalu berlebihan pasti nggak akan tenang hidupnya." Azzahra mengomentari sikap suaminya.
" Kakak sepupuku itu memang suaminya siapa?" sindir Natasha seraya memutar bola matanya.
" Suamiku sih, Teh." Azzahra terkikik seraya menutup mulutnya.
" Tapi bagus juga sih kalau Rayya sama Luigi. Mamanya nggak dapat dosen, anaknya dong yang harus punya suami dosen. Melanjutkan cita-citanya Mommy nya dulu." Natasha meledek sambil melirik Azzahra.
" Iihh, Teh Tata. Jangan singgung itu, deh! Rara sudah ikhlas kok, Teh." tepis Azzahra.
" Haha ... aku bercanda kok, Ra. Jangan dibawa serius." Natasha langsung merangkulkan lengannya ke pundak Azzahra.
" Assalamualikum, Mommy sama Auntie lagi apa?" tanya Rayya yang muncul di pintu belakang rumah Natasha.
" Waalaikumsalam ..." Azzahra dan Natasha menjawab dalam bersamaan.
" Rayya, kebetulan sekali anaknya nongol. Sini duduk!" Natasha menggeser posisi duduknya dan memberi ruang untuk Rayya duduk di sampingnya.
" Ada apa, Auntie?" tanya Rayya.
" Mommy kamu sudah kasih lihat Auntie foto dosen yang naksir kamu. Itu sih ganteng banget, Rayya. Walaupun masih gantengan Uncle kamu waktu masih muda." Jika tidak narsis, bukan Natasha namanya.
__ADS_1
" Kalau saran Auntie sih, terima saja. Apalagi Mommy kamu bilang dia bersedia jika disuruh pindah ke Indonesia. Apa lagi yang diragukan? Soal Daddy kamu, Auntie yakin lambat laun Daddy kamu akan menyadari dan menerima dia. Lagipula Daddy kamu hanya bilang tidak akan dengan mudah melepas kamu untuk dia, bukan melarang keras dia mendekati kamu, kan?" lanjut Natasha menasehati Rayya.
" Mommy bilang juga begitu. Luigi itu kelihatan tulus sama Rayya, tidak ada salahnya jika Rayya menerima Luigi dan menghapus nama Rama di hati kamu," timpal Azzahra tanpa sengaja keceplosan menyebut nama Ramadhan hingga membuat mata Rayya membulat dan langsung menoleh ke arah Mommy nya.
" Mom ...."
" Rama? Rama siapa maksud kamu, Ra? Rama anaknya Tante Anin? Kamu suka sama Rama, Rayya? Serius kamu suka sama dia? Hmmm, jangan-jangan karena masalah ini waktu itu Tante Anin minta nomer telepon Rayya ke Auntie." Natasha sendiri yang mendengar ucapan Azzahra langsung bisa menyimpulkan kalimat Azzahra tadi.
" Hmmm ..." Azzahra yang menyadari kesalahannya langsung bingung harus menjawa apa.
" Ah, itu hanya cerita lalu kok, Auntie. Mommy saja yang selalu mengaitkan ke sana." Rayya mencoba menyangkal apa yang dikatakan oleh Mommy dan Auntie nya.
" Tapi berarti benar kamu pernah suka sama Rama? Kok Auntie nggak pernah dengar, ya? Untung saja waktu itu Auntie tidak menerima usulan Tante Anin yang ingin menjodohkan Rama dengan Kia." Natasha teringat beberapa tahun silam saat Anindita menghubunginya dan berniat menjodohkan putranya dengan Azkia.
" Mbak Anin berniat menjodohkan Rama dengan Kia, Teh?" Kini giliran Azzahra yang nampak terkejut. Dia lalu menatap ke arah Rayya.
" Kia sudah cerita ke Rayya soal itu kok, Mom." Rayya yang melihat tatapan khawatir Mommy langsung menjelaskan masalah rencana perjodohan Ramadhan dan Azkia yang digagas oleh Anindita.
" Sudah deh, jangan bahas masalah itu lagi, Mom, Auntie. Itu hanya cerita lalu." Rayya meminta kepada Azzahra dan Natasha untuk tidak menyingung kembali soal Ramadhan.
" Oh ya, Mom. Rayya mau minta ijin ke Bogor ke tempat Eyang sama Enin, boleh nggak? Rayya ingin menginap beberapa hari di rumah Eyang. Rayya kangen suasana kampung di Bogor." Rayya menyampaikan niatnya hingga dia mencari Mommy nya sampai ke rumah Yoga.
" Wah, kamu bilang ingin ke Bogor, Auntie juga jadi kangen sama mertua Auntie di sana. Kapan Rayya mau ke sana? Nanti Auntie antar ke sana kalau Rayya mau." Natasha pun teringat akan kedua orang tua Yoga yang juga berada di Bogor.
" Ayo, Auntie. Tapi nanti Rayya minta ijin dulu ke Daddy. Mom, boleh 'kan Rayya menginap beberapa hari di sana?" tanya Rayya memohon.
" Kalau Mommy sih, boleh-boleh saja. Mommy justru senang Rayya mau menengok Eyang sama Enin, tapi ya tetap harus ijin Daddy dulu. Rayya tahu sendiri Daddy kamu itu orangnya seperti apa, kan?" Azzahra tetap menyerahkan keputusan kepada Gavin.
" Daddy kamu itu lebay, Rayya!" Natasha menimpali.
" Daddy itu terlalu sayang sama Rayya jadi begitu, Auntie." Rayya tetap membela Gavin walaupun dia menyetujui apa yang dikatakan oleh Natasha.
***
Tok tok tok
" Dad, apa Rayya mengganggu Daddy?" Rayya menyembulkan kepalanya di pintu setelah dia mengetuk pintu kerja Gavin terlebih dahulu.
" Ada apa, Baby? Masuklah ...!" Gavin yang mendapati kepala putrinya itu menyembul di pintu ruang kerjanya langsung menyuruh Rayya masuk ke dalam.
" Nggak, kok! Ada apa, Baby?" tanya Gavin merentangkan tangannya menyuruh Rayya mendekat ke arahnya.
Rayya kemudian berjalan mendekati Daddy nya lalu duduk di lengan kursi kerja Gavin seraya merangkulkan kedua lengannya di pundak Daddy nya itu.
" Ada apa ini?" tanya Gavin lagi.
" Dad, Rayya mau minta ijin Daddy. Rayya mau berlibur ke rumah Eyang beberapa hari, boleh 'kan Dad?" Rayya mencoba merayu Gavin.
" Ke rumah Eyang?"
" Iya, Dad. Rayya 'kan sudah lama nggak pernah mampir ke sana. Kalau Daddy kasih ijin, besok Auntie yang antar Rayya ke sana," ucap Rayya menjelaskan.
" Besok?"
" Iya, Dad. Boleh, kan?"
" Ya sudah, nanti Daddy saja yang antar ke sana besok sore. Soalnya Daddy besok harus ke hotel dulu karena ada tamu." Ternyata ijin dari Gavin didapat Rayya dengan mudahnya.
" Makasih ya, Dad." Rayya langsung mencium pipi Gavin setelah Gavin mengijinkan dirinya menginap beberapa hari di Bogor.
" Tapi ada syaratnya, lho!"
Rayya mengeryitkan keningnya saat mengetahui ada syarat dan ketentuan yang berlaku jika dia ingin bisa mendapatkan ijin dari Daddy nya itu.
" Baby harus ikut Daddy ke hotel besok."
Rayya tersenyum, karena syarat yang harus dipenuhinya tidaklah sulit. Dia hanya diminta menemani Daddy nya itu ke hotel.
" Iya, Dad. Nanti Rayya ikut sama Daddy. Makasih ya, Dad. Rayya keluar dulu, Daddy jangan capek-capek kerjanya. Harus jaga kesehatan." Rayya menasehati Gavin yang masih berkutat dengan pekerjaan walaupun ini sudah waktunya istirahat.
" Iya, Baby. Sebentar lagi Daddy selesai."
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Daddy nya, Rayya pun kembali berjalan menuju arah kamar tidurnya.
***
Sementara Gavin bertemu dengan relasi bisnisnya, Rayya memilih mengelilingi beberapa bagian hotel dan memperhatikan lukisan yang terpasang di beberapa bagian dinding di hotel milik Daddy nya. Terutama di lobby yang bisa dilihat orang banyak. Ada lukisan miliknya yang dikirim dari Italia yang terpajang di sana.
" Selamat siang, Nona Rayya." Beberapa pegawai hotel yang mengenal dirinya langsung menyapa Rayya saat Rayya muncul di lobby hotel.
" Siang, Mbak." Dan Rayya pun membalas dengan ramah dengan memberikan senyuman ke setiap pegawai hotel yang menyapanya.
" Kak Rayya ...!"
Rayya menolehkan wajahnya saat dia mendengar suara seseorang memanggil namanya.
" Falisha?" Ternyata putri pasangan Dirga dan Kirania lah yang menyapanya.
" Hai, Kak Rayya. Apa kabar? Jarang ketemu ya kita sekarang, Kak. Kak Rayya katanya kuliah di luar negeri ya?" tanya Falisha kemudian.
" Iya, Fa. Kebetulan sekarang ini sedang liburan jadi pulang ke Indonesia. Oh ya, Fa kok ada di sini? Sama siapa di sini?" tanya Rayya yang agak terkejut dengan kemunculan Falisha di hadapannya.
" Sama keluarga, kita mau makan siang di resto sini, Kak." Falisha menjelaskan alasannya bisa berada di hotel milik keluarga Rayya.
" Fa, kau bicara dengan siapa?" suara bariton Dirga terdengar mendekat ke arah mereka.
" Fa bicara sama Kak Rayya, Pa." Falisha lalu menunjuk ke arah Rayya di sebelahnya yang tadi berdiri membelakangi Dirga.
" Hallo, Om. Apa kabar?" Rayya menyapa Dirga seraya menyalami sahabat Daddy nya itu.
" Rayya?" Dirga yang mendapati sosok Rayya berdiri di hadapannya langsung mengeryitkan keningnya.
" Oh hai, Rayya. Kamu ada di Jakarta?" Kini Kirania yang menyapa Rayya.
" Iya, Tante. Sedang liburan kuliah. Tante apa kabar? Rayya kemudian menyalami Kirania.
" Tante Alhamdulillah baik, Rayya." sahut Kirania.
" Kamu sejak kapan ada di Jakarta ini, Rayya?" tanya Dirga menyelidik. Karena sejujurnya dia nampak terkejut dengan keberadaan Rayya di Jakarta.
" Sejak hari Rabu siang, Om." Rayya menyahuti.
" Jadi hari Rabu kamu sudah ada di sini, ya?" Dirga mengusap rahangnya. Karena dia berbincang dengan Ramadhan dan menyampaikan idenya kepada Ramadhan untuk menyusul Rayya ke Roma pun dia lakukan di hari yang sama.
" Mam*pus kau, Rama. Jauh-jauh kau menyusul Rayya ke Roma, orangnya ada di Jakarta." gumam Dirga seraya menarik sedikit satu sudut bibirnya ke atas hingga membentuk seringai tipis. Dia bisa membayangkan betapa bingungnya Ramadhan mencari keberadaan Rayya di negeri orang. Dia seolah Dejavu karena dia pun pernah merasakan kelimpungan menyusul Kirania sampai ke kota kelahiran wanita itu, padahal saat itu Kirania jelas-jelas berada di kantor milik bos besar Angkasa Raya Group.
***
Ddrrtt ddrrtt
Rayya yang baru selesai melaksanakan sholat Dzuhur di mushola hotel bergegas melipat mukenanya saat mendengar ponselnya berbunyi.
Setelah bertemu keluarga Dirga, Rayya memang menyempatkan diri melakukan ibadah sholat Dzuhur lebih dahulu karena dia belum mendapat kabar dari Gavin, apakah urusan Daddy nya itu sudah selesai atau belum. Karena itu saat teleponnya berbunyi, Rayya menduga jika itu adalah telepon dari Gavin.
Rayya menautkan kedua alisnya saat dia melihat nomer yang menghubungi tanpa nama dan tidak dikenal. Namun kode +39 06 menandakan jika orang yang menghubunginya itu berada di Italia atau lebih tepatnya berada di kota Roma jika melihat kode 06 setelah kode negara Italia +39.
Rayya mencoba mengangkat panggilan telepon yang masuk ke ponselnya itu.
" Pronto, chi è questo?" ( Halo, siapa ini ) tanya Rayya saat dia mengangkat panggilan telepon itu .
" Assalamualikum, Rayya. Ini Kak Rama."
Deg
Rayya langsung membelalakkan matanya saat mendengar suara pria di telepon itu adalah Ramadhan. Orang yang memang belakangan ini sedang dihindarinya. Tapi kenapa Ramadhan menghubungi dia menggunakan nomer kode area kota Roma? Apa mungkin Ramadhan saat ini berada di Roma? Untuk apa Ramadhan ada di Roma? Beberapa pertanyaan itu langsung menghinggapi pikiran Rayya saat itu juga.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Selamat untuk Rama karena berhasil dikerjai oleh Si Abang rese 😂
Happy Reading❤️