
Sementara itu Simone dan Ramadhan nampak terdiam di dalam taxi yang membawa mereka ke tempat penginapan Ramadhan. Ramadhan sibuk memikirkan soal bagaimana meluluhkan hati Kayla, sedangkan Simone masih memikirkan perasaan Rayya karena harus bertemu dengan pria yang sudah membuat wanita itu patah hati
" Apa kamu dan Kayla berpacaran?" Akhirnya setelah beberapa saat saling diam, Simone pun mulai bertanya kepada Ramadhan. Simone juga menduga jika wanita lain yang dijadikan sebagai alasan Ramadhan menolak dijodohkan dengan Rayya adalah Kayla.
Katakanlah sebagai seorang pesaing, seharusnya dia cukup senang pria yang disukai oleh Rayya ternyata mencintai wanita lain. Namun melihat wajah sedih Rayya yang tertangkap oleh matanya, hal itu benar-benar membuat dia merasa kesal terhadap sosok pria yang duduk di sebelahnya saat ini.
" Aku selalu berharap seperti itu. Aku sudah mencintai dia sejak lama, tapi nyatanya dia masih belum memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa masuk di hatinya," Ramadhan menyahuti.
" Apa alasan kamu menolak dijodohkan dengan Rayya itu karena Kayla?" tanya Simone yang benar-benar terkesan ingin tahu.
" Iya seperti itulah." Ramadhan mendengus kasar.
" Kamu bilang kalau kamu menyukai Kayla sejak lama?"
" Sejak kecil aku memang mengaguminya."
" Bagaimana rasanya ditolak oleh orang yang kamu kagumi sejak kecil?" Sebuah kalimat sindiran terlontar dari mulut Simone. Dia seolah mensyukuri apa yang dirasakan Ramadhan karena penolakan Kayla. Setidaknya Ramadhan tahu bagaimana rasanya kecewa ditolak oleh orang yang dikaguminya sejak dulu. Walaupun Ramadhan tidak menyadari jika dia pun sebenarnya sudah mengecewakan hati seorang gadis yang menyukainya sejak gadis itu masih berusia delapan tahun.
" Yang pasti rasanya sangat kecewa karena aku tidak diberi kesempatan olehnya. Semestinya dia bisa membuka hati untukku agar aku bisa membuktikan jika aku benar-benar menyayangi dia dan bisa membuat dia pun jatuh cinta kepadaku."
" Apa kamu juga memberi kesempatan kepada Rayya?" Sayangnya kalimat itu tertahan di mulut Simone. Dia tidak ingin membuat Rayya semakin kecewa jika dia harus mengatakan sebenarnya Rayya sangat mencintai Ramadhan. Ingin rasanya dia berkata jika Ramadhan telah membuat Rayya kecewa atas sikap Ramadhan yang menolak perjodohannya. Namun tentu saja dia tidak ingin mengambil resiko Rayya akan membencinya karena hal itu.
" Kau sendiri bagaimana dengan Rayya? Aku tidak menyangka jika teman wanita yang kau ceritakan itu adalah Rayya. Dia itu ... dia itu sangat pemalu, bahkan kalau bicara saja dia selalu menundukkan kepalanya." Dalam ingatan Ramadhan, Rayya adalah sosok gadis yang tidak percaya diri karena selalu tertunduk saat bicara dengannya, apalagi selama ini Rayya selalu berada dalam mengawasan Azkia sehingga dia menganggap Rayya adalah seorang wanita yang lemah dan bergantung terhadap orang lain.
" Kau bilang kau mengenal Rayya sejak kecil, tapi kau tidak mengenal sifat Rayya yang sesungguhnya," sindir Simone. Karena Rayya yang dia kenal bukanlah sosok wanita yang manja dan tidak bergantung pada orang lain.
" Ya mungkin karena kami jarang bertemu meskipun kami kenal sejak kecil," sahut Ramadhan beralasan.
" Kita sudah sampai." Simone lalu turun dari taxi dan diikuti oleh Ramadhan dari arah pintu sebelahnya.
" Terima kasih, Simone. Kau sudah membantuku selama di Italia ini."
Simone hanya tersenyum menanggapi. Dia masih berdiri ke pintu taxi, karena dia ingin langsung kembali ke hotel dia menginap menggunakan taxi yang sama.
__ADS_1
" Besok pamerannya masih berlangsung, kan? Apa besok kau akan ke gallery, Simone?' tanya Ramadhan kemudian.
" Tentu saja, karena aku akan selalu ada untuk Rayya," tegas Simone. " Buonasera, Ciao." Simone kembali menaiki taxi nya dan meninggalkan Ramadhan yang masih berdiri di depan hotel tempat pria itu menginap.
***
Rayya segera membersihkan tubuhnya sesampainya di hotel. Dan setelah melaksanakan sholat Isya dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi telungkup. Sekuat mungkin dia menahan air matanya untuk tidak tumpah sejak sore tadi, akhirnya cairan bening itu tidak tertahankan juga menetes di pipinya. Sekuat hati dia berusaha melupakan perasaan cintanya kepada Ramadhan, tapi mengapa justru malah dipertemukan kembali dengan pria itu bahkan dengan rentetan fakta yang benar-benar membuat hatinya kecewa.
Sosok Ramadhan yang sejak kecil dikagumi sebagai sosok laki-laki sejati terpatahkan dengan sikap yang diceritakan Kayla kepadanya. Sikap pemaksa Ramadhan dan juga perbuatan yang dianggapnya sebagai sesuatu pelecehan terhadap wanita dengan memaksa mencium Kayla, menurutnya bukanlah kriteria sebagai pria sejati.
Rayya membalikkan tubuhnya hingga kini menghadap langit-langit kamar hotelnya. Dia lalu mengusap kasar wajahnya, seakan menyesali telah salah mengagumi pria seperti Ramadhan. Ya, Ramadhan adalah laki-laki yang dulu pernah menolongnya. Mestinya dia beranggapan jika itu adalah hal yang wajar, karena Mommy nya dan Mamanya Ramadhan berteman baik. Mungkin jika saat itu Alden yang tahu lebih dulu, mungkin Alden lah yang akan menolongnya.
" Kenapa rasanya sakit sekali?" batin Rayya menyeka air mata di pipinya.
" Ya Allah, bantu hamba menghapuskan perasaan cinta hamba kepadanya. Maafkan hamba karena hamba terlalu dibutakan rasa cinta kepadanya." Rayya memegangi dadanya seraya memejam matanya hingga cairan bening itu kembali menetes dari matanya.
***
Pagi harinya Rayya terbangun lebih awal karena dia sibuk menghilangkan mata sembabnya karena menangis semalam. Dia tidak ingin Ramadhan, Kayla dan Simone tahu jika dia baru saja menangis. Terlebih lagi dia harus bertemu banyak orang yang mungkin akan datang ke pameran lukisan.
Rayya masih memilih dress warna hitam dengan Coat panjang warna broken white. Dia juga menggunakan kacamata untuk menyamarkan mata sembab yang masih sedikit terlihat di matanya.
Ddrrtt ddrrtt
Rayya segera mengambil ponselnya saat mendengar benda pipih yang begitu penting di jaman milenial itu berbunyi.
" Buongiorno principessa. pronto ad andare?" ( Selamat pagi, Tuan Putri. Sudah siap berangkat )
Rayya tersenyum membaca isi pesan yang dikirimkan Simone kepadanya. Dia lalu mengetik balasan kepada Simone.
" Si, Capo." ( Iya, Bos )
__ADS_1
" 😁Ti aspetto nell'atrio." ( Aku tunggu di lobby )
Rayya segera membereskan barang-barangnya termasuk mukena traveling nya yang selalu dia bawa termasuk saat ke kampus. Karena kadang sepulang kuliah dia harus pergi tak langsung kembali ke apartemen jadi dia bisa beribadah mencari masjid terdekat.
" Ciao, Simone." Rayya menyapa Simone saat melihat pria itu sedang duduk di lobby hotel.
Simone menatap penampilan Rayya pagi ini yang selalu tetap nampak cantik di matanya.
" Perché porti gli occhiali?" ( Kenapa kamu memakai kaca mata )
" Per sembrare più bella." ( Agar terlihat semakin cantik ) Rayya terkekeh merasa dirinya menjadi sangat narsis mengingatkan akan sepupunya, Azkia dan Aunty nya Natasha.
" Non perché vuoi attirare l'attenzione di Rama?" ( bukan karena ingin mendapatkan perhatian Rama )
Ucapan Simone membuat tawa Rayya seketika terhenti. Namun dia kemudian mengerjap seraya kembali tertawa kecil.
" Ovviamente non quello." ( Tentu saja bukan itu ) Rayya mengibas tangannya ke udara." Hai fatto colazione?" ( Apa kamu sudah sarapan ) Rayya segera mengalihkan pembicaraan.
" Non ancora." ( Belum ) jawab Simone.
" Facciamo colazione." ( Ayo kita sarapan ) Rayya kemudian mengajak Simone untuk ke restoran mengambil sarapan untuk mereka berdua.
*
*
*
Bersambung ...
Untuk yang ingin ikutan give away ataurannya seperti biasa ya, sampai akhir Februari ini akan diambil 5 readers yang paling banyak kasih dukungan di kisah RDHR dan 5 readers di MYME. Makasih🙏
ikuti juga kisahnya Azkia di
__ADS_1
Happy Reading ❤️