
" Apa yang Kak Rama inginkan sekarang?" tanya Azkia saat menunggu pesanan makan siangnya datang.
" Soal apa yang kamu bilang tentang Rayya. Kamu bilang Rayya sampai menangis dan patah hati. Kenapa bisa begitu? Padahal malam itu Rayya baik-baik saja." Ramadhan masih penasaran dengan perbedaan sikap Rayya antara yang dia lihat dan dia dengar.
" Itu karena Kak Rama nggak peka!" sindir Azkia. " Kia 'kan pernah bilang sama Kak Rama kalau Rayya itu mengidolakan Kak Rama sejak masih kecil. Kak Rama tahu, nggak? Sejak Kak Rama menolong Rayya dulu, Rayya itu selalu curi-curi pandang ke sekolah depan hanya untuk mencari Kak Rama. Rayya selalu menanyakan soal Kak Rama, selalu memuji Kak Rama itu baik. Kak Rama nggak pernah merasakan sih, menyukai seseorang sejak lama lalu ditolak mentah-mentah gitu. Jadi Kak Rama nggak bisa merasakan perasaan Rayya yang langsung patah hati."
Ramadhan menghela nafasnya dalam-dalam. Sebenarnya dia pun merasakan hal yang sama seperti yang Rayya rasakan, ditolak oleh orang yang disukainya. Namun dia sama sekali tidak menyadari jika dia pun telah melakukan hal yang sama pada seorang gadis belia saat itu.
" Padahal saat itu Uncle Gavin sengaja menjodohkan Rayya dengan Kak Rama, karena Uncle tahu jika Rayya itu sangat menyukai Kak Rama. Dan Uncle ingin membuat Rayya bahagia bisa berjodoh dengan orang yang disukai Rayya. Eh ... nyatanya malah bikin Rayya patah hati. Wajarlah kalau Uncle Gavin akan marah banget setelah tahu kalau kegagalan rencana perjodohan itu dulu karena Kak Rama lah penyebabnya." Azkia seperti orang yang sedang mengeluarkan unek-uneknya hingga akhirnya menceritakan semua yang terjadi saat itu. " Padahal waktu Rayya menyampaikan rencana perjodohan itu ke Kia, Rayya terlihat happy banget lho, Kak!" Azkia ingat saat Rayya menceritakan saat dia dan Rayya berbincang di taman belakang rumah Gavin.
" Kakak benar-benar nggak tahu soal itu, Kia." Ramadhan benar-benar merasa bersalah setelah mendengar cerita yang sesungguhnya.
" Makasih, Mas." ucap Azkia saat ramen yang dia pesan sudah terhidang di mejanya.
" Kak Rama itu sudah dua kali mematahkan hati Rayya," tuding Azkia seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.
" Dua kali?" Ramadhan mengeryitkan keningnya mendengar Azkia menyebut angka dia melakukan kesalahan terhadap Rayya. " Apa saja?" Ramadhan benar-benar merasa penasaran.
" Nanti dulu, Kia lapar mau makan dulu." Setelah membaca doa, Azkia pun menyantap beberapa suap ramen hangat di depannya. " Ramen ini enak banget sumpah, Kak. Seminggu sekali Kia selalu mampir ke sini. Restoran ini recommended banget pokoknya." Azkia malah membahas soal ramen yang sedang disantapnya.
" Kia bisa lanjut bahas soal Rayya lagi?" Ramadhan yang tidak sabar ingin tahu lebih banyak langsung kembali meminta Azkia untuk kembali ke topik pembicaraan awal.
" Kak Rama mau tanya apa lagi?" tanya Azkia seraya meneguk air mineral dari botol kemasan.
" Soal dua kali, kapan saja itu?" tanya Ramadhan tidak menyangka kalau dia dituding membuat Rayya patah hati sampai dua kali.
" Kak Rama ingat, kenapa aku undang Kakak di seventeen birthday party Rayya dulu karena apa? Karena aku mau kasih kejutan untuk Rayya. Kia itu sudah membayangkan jika Rayya akan bahagia saat mengetahui kedatangan Kak Rama di hari ulang tahunnya yang spesial. Dan Kak Rama benar-benar bikin Rayya terkejut dengan kehadiran Kak Rama menggandeng Kak Kayla di pesta itu!" Nada bicara Azkia sedikit ketus dan penuh tekanan di kalimat terakhir yang diucapkannya. Dia bahkan sampai menunjuk Ramadhan dengan sumpit di tangannya ke arah Ramadhan.
" Rayya itu hampir menangis di toilet waktu Kak Rama datang bawa Kak Kayla. Untung saja Kia bisa menenangkan Rayya. Sumpah, ih ... rasanya ingin Kia tonjok muka Kak Rama malam itu juga karena sudah mengecewakan Rayya di acara ulang tahun Rayya." Tangan Azkia mengepal seolah terlempar lagi ke masa itu dan merasakan kekecewaan Rayya.
Ramadhan langsung menautkan kedua alisnya mendengar cerita Azkia tentang Rayya yang kecewa dengan kehadiran dirinya juga Kayla.
" Tahu begitu sih, mending Kia nggak usah minta-minta Kak Rama datang ke pesta itu!" Azkia memang menyesali tindakannya saat itu.
" Kakak benar-benar nggak tahu soal itu, Kia."
Azkia menatap dan memperhatikan wajah tampan Ramadhan.
" Kak Rama itu ... secara penampilan sih okelah kalau aku bilang. Ganteng, body oke, calon executive muda, assisten perusahaan properti bonafit. Tapi ... sorry ya, Kak. Kak Rama itu bodoh menutup mata untuk wanita sebaik Rayya. Kak Raffa yang preman, berandalan, begajulan dan nggak punya pekerjaan jelas saja sampai jungkir balik buat mendekati dan menginginkan jadi kekasih Rayya. Eh, Kak Rama yang dikasih jalan mulus malah menolak." Tanpa sadar Azkia membandingkan Ramadhan dan Raffasya. Setidaknya, yang dia ketahui Raffasya tidak pernah menyakiti Rayya, bahkan perlakuan pria itu terhadap Rayya terkesan sangat lembut. Berbeda dengan perlakuan Raffasya terhadap dirinya yang penuh caci maki dan kasar.
" Raffa? Siapa Raffa?" Ramadhan memang tidak mengenal sosok Raffasya.
" Hahh? Kak Raffa? Lupakan saja!" Azkia mengibas tangannya ke udara saat dia menyadari jika dia telah membawa-bawa nama pria yang selalu bersiteru dengannya itu.
" Kakak benar-benar nggak tahu tentang itu, Kia. Kakak minta maaf kalau Kakak sudah mengecewakan kamu dan juga Rayya."
" Kak Rama nggak usah minta maaf sama Kia. Minta maafnya sama Rayya, dong! Itu juga kalau Rayya memaafkan Kak Rama. Walaupun Kia yakin sih, Rayya pasti bisa memaafkan Kak Rama, karena hati Rayya itu seluas samudra. Makanya aku bilang Kak Rama itu bodoh sudah menolak Rayya."
" Iya."
" Dan Kak Rama juga harus minta maaf pada Uncle Gavin dan Auntie Rara. Nah, kalau untuk yang satu ini, Kia nggak jamin Uncle bisa memaafkan Kak Rama. Secara Kak Rama itu sudah menyakiti hati baby nya Uncle Gavin." Azkia tersenyum sinis.
" Apalagi kalau Uncle tahu jika keputusan Rayya untuk kuliah di luar negeri itu karena pengaruh Kak Rama."
" Pengaruh Kakak?" Ramadhan mengerutkan keningnya karena kembali dituduh melakukan kesalahan.
" Iyalah, kalau Kakak nggak membatalkan perjodohan dengan Rayya, nggak mungkin Rayya jauh-jauh kuliah ke luar negeri sampai ke Italia."
Ramadhan terkesiap saat Azkia mengatakan jika alasan Rayya kuliah di Italia adalah karena dirinya. Karena dia juga sempat kaget saat mengetahui ternyata Rayya kuliah jauh dari Indonesia. Padahal wanita itu selalu bersama dengan Azkia.
" Rayya itu berusaha menata hatinya karena dikecewakan oleh Kak Rama dengan menjauh dari Jakarta. Syukur-syukur di sana Rayya bisa bertemu pria yang beruntung yang bisa melihat kebaikan hati Rayya dan Rayya bisa membuka hatinya untuk pria itu." Azkia berucap penuh harap.
Ramadhan terdiam, dia tidak menyangka jika tindakannya saat itu benar-benar begitu berpengaruh untuk Rayya. Tidak hanya membuat hati Rayya patah hati, namun juga membuat Rayya terbang ke luar negeri.
" Kia mau langsung ke butik, sudah nggak ada lagi yang ingin Kak Rama tanyakan lagi, kan?" ujar Azkia setelah menyelesaikan makan siang gratisnya.
" Hmmm, Kakak mau minta nomer telepon Rayya. Kamu bisa kirim nomer Rayya ke HP Kakak?"
" Kak Rama nggak punya nomer telepon Rayya?" Azkia terkejut karena Ramadhan tidak menyimpan nomer Rayya sama sekali.
__ADS_1
" Iya, Kakak lupa minta nomer ponsel Rayya waktu itu."
" Benar-benar nggak penting banget ya, Rayya untuk Kak Rama? Sampai nomer Rayya saja nggak Kak Rama simpan!" ketus Azkia.
" Iya Kakak minta maaf, karena itu Kakak minta tolong kamu kasih nomer Rayya, nanti Kakak akan simpan."
Azkia mendengus kesal karena ucapan Ramadhan.
" Lalu untuk apa minta nomer ponsel Rayya? Mau minta maaf? Via telepon?! Nggak gentle banget sih jadi cowok!" Azkia lalu berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Ramadhan.
" Kia tunggu! Kamu belum kasih nomer Rayya. Iya nanti Kakak akan menemui Rayya, tapi Kakak minta nomernya dulu agar Kakak bisa mengatur janji bertemu dengan Rayya." Ramadhan segera menyusul langkah Azkia.
" Tidak akan semudah itu Kak Rama mendapatkan nomer Rayya! Dan Kia nggak akan memberikan nomer Rayya dengan mudah ke Kak Rama. Makasih untuk traktiran makan siangnya. Assalamualaikum ..." Azkia kemudian berjalan mendekati mobilnya.
Ramadhan mendengus kesal karena Azkia tidak mau memberikan nomer telepon Rayya kepadanya. " Arrgghh, si*al!" Ramadhan yang akhirnya masuk ke dalam mobilnya menutup pintu mobil dengan cukup keras.
" Selamat berjuang, Kak Rama!" teriak Azkia saat mobil Azkia berjalan melewati mobil Ramadhan.
Ddrrtt ddrrtt
Ramadhan segera mengambil ponselnya yang berbunyi di saku blazernya.
" Assalamualikum, Pa." Ternyata Ricky lah yang menghubunginya.
" Waalaiakumsalam, kamu di mana sekarang? Lima belas menit lagi akan ada meeting. Kamu nggak ada di ruangan kamu." Nada bicara Ricky terdengar ketus menahan emosi.
Ramadhan menoleh arah arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 13.15 menit.
" Ah, Shi*t!" umpat Ramadhan, karena keasyikan mengobrol dengan Azkia dia sampai melupakan waktu.
" Rama on the way ke kantor sekarang, Pa. Assalamualaikum ..." Ramadhan buru-buru mengakhiri percakapan teleponnya dan segera menyalakan mobilnya untuk segera menuju kantor Angkasa Raya Group.
***
" Neng geulis ... kadieu geura!"
Rayya yang sedang berjalan menuruni anak tangga terakhir langsung menoleh saat Umi Rara memanggilnya.
" Enin itu kangen sama kamu, Geulis." Umi Rara melingkarkan tangan berkulit keriput di pundak Rayya yang kemudian duduk di sampingnya.
" Rayya juga kangen sama Enin." Rayya pun memeluk tubuh wanita sepuh itu yang nampak masih segar bugar.
" Bagaimana Neng Rayya di Italia? Betah kamu di sana?"
" Alhamdulillah Rayya betah, Nin."
" Neng Rayya sudah punya pacar belum di sana, Geulis?"
Rayya tersipu malu mendengar pertanyaan neneknya.
" Rayya nggak ingin memikirkan itu dulu, Nin." tepis Rayya.
" Tapi kamu punya laki-laki yang kamu idamkan untuk menjadi pendamping kamu, kan?"
Rayya menghela nafas yang terasa begitu berat untuk dihirupnya.
" Rayya nggak ingin lagi terbelenggu dengan perasaan rasa cinta terhadap lawan jenis, Nin." Rayya sebenarnya sudah bertekad melupakan Ramadhan di hatinya, namun setiap peristiwa yang harus membuatnya berjumpa kembali dengan pria itu selalu membuat hatinya nyeri.
" Kalau nanti Neng Rayya dapat jodohnya orang bule, kamu mau, Geulis?"
Rayya kembali menghela nafas namun tak lama sudut bibirnya terangkat tipis.
" Jika seiman dan memang itu sudah yang Allah tetapkan untuk menjadi jodoh Rayya, Rayya ikhlas menerimanya, Nin. Mau dia orang bule atau orang pribumi, asalkan dia menyanyangi dan bisa tulus menerima Rayya," ujar Rayya.
" Masya Allah, cucu Enin ini benar-benar wanita istimewa. Enin doakan semoga nanti kamu mendapatkan pria yang layak mendapatkan wanita sholehah seperti kamu ini, Neng." Umi Rara membelai wajah cantik cucunya.
" Aamiin, Nin." Rayya dengan cepat menyahuti.
" Neng Rayya sendiri pasti punya kriteria calon suami idaman, kan? Yang bagaimana?" tanya Umi Rara masih merasa penasaran.
__ADS_1
Rayya tiba-tiba melihat Gavin dan Azzahra yang turun dari anak tangga dengan berangkulan layaknya anak muda yang sedang kasmaran. Terasa sangat damai di hatinya melihat pemandangan kedua orang tuanya yang selalu mesra dan harmonis seperti itu.
" Rayya ingin seperti Mommy, Nin. Rayya ingin mendapatkan pendamping hidup yang menyayangi keluarga seperti Daddy."
Umi Rara menolehkan pandangan ke arah pandangan Rayya.
" Daddy kamu memang jempolan, Neng. Enin tidak menyesal menikahkan Mommy Neng Rayya dengan Daddy kamu itu." Umi Rara tersenyum membayangkan bagaimana awal pernikahan anak dan menantunya itu.
" Daddy dan Mommy benar-benar sangat beruntung, Nin. Mereka saling melengkapi satu sama lain."
" Benar, Neng. Enin setuju dengan kamu."
" Enin sama Baby sedang membicarakan apa?" tanya Gavin yang mendekat ke arah mereka duduk di kursi ayunan.
" Daddy, Mommy ...."
" Rayya sedang membicarakan apa?" tanya Azzahra mengulang pertanyaan suaminya.
" Rayya sedang melepas kangen dengan Enin, Mom." ucap Rayya.
" Anakmu ini semakin dewasa semakin mirip dengan kamu, Ra." ujar Umi Rara.
" Tapi Baby ini tidak secengeng Mommy nya, Umi." Gavin menyindir istrinya membuat Azzahra melotot.
" Aku cengeng?" Azzahra seolah enggan disebut cengeng oleh suaminya.
" Memang kamu itu cengeng, Honey. Tapi aku tetap cinta, kok." Gavin memeluk Azzahra seraya membenamkan kecupan di pipi Azzahra.
" Duh, Gusti. Kalian ini dari dulu kalau mau mesra-mesraan nggak ingat tempat. Nggak kasihan anak kamu yang masih gadis ini jadi terkontaminasi?" protes Umi Rara sambil menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Rayya hanya tersipu melihat tingkah kedua orang tuanya itu.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba-tiba ponsel yang sedang digenggam Rayya berbunyi membuat dia melirik benda pipih itu. Dan dia mendapati nomer telepon Luigi yang kali ini menghubunginya membuat bola matanya melebar.
Rayya menoleh ke arah Daddy dan Mommy nya, dia binggung antara ingin mereject atau mengangkat panggilan telepon itu.
" Siapa yang telepon, Baby?" tanya Gavin saat melihat anaknya nampak salah tingkah saat ponselnya berbunyi.
" Hmmm, ini ... teman Rayya yang di Roma, Dad."
" Apa itu Simone? Angkat saja teleponnya tidak apa-apa." Gavin yang mengira telepon itu berasal dari Simone menyuruh anaknya itu untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.
" Hmmm, nanti saja, Dad." Rayya segera mereject panggilan telepon dari Luigi.
" Kenapa dimatikan, Baby?" tanya Gavin heran.
" Tadi itu bukan Simone, Dad." aku Rayya jujur.
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Rayya pun kembali berbunyi, membuat Rayya menyembunyikan tangannya ke belakang seraya berusaha menonaktifkan ponselnya.
" Menangnya siapa yang menghubungimu jika bukan Simone sampai Baby terlihat salah tingkah seperti ini?" Gavin mengulurkan tangannya meminta ponsel Rayya yang masih berbunyi dan disembunyikan Rayya.
" Bukan siapa-siapa, Dad."
" Boleh Daddy lihat HP Baby?" Sikap posesif Gavin terhadap Rayya sudah mulai kambuh. Dia tidak ingin anaknya itu berteman dengan sembarang orang. Bukan dari status sosialnya namun dari pergaulannya. Dia tidak ingin putrinya itu salah memilih teman. Dan Simone, adalah salah satu teman yang memang sudah mendapatkan pengakuan dari Gavin sebagai sahabat putrinya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Wah, Daddy Gavin mau kenalan sama Luigi, nih. Kira² gimana sikap Gavin terhadap Luigi, ya?
__ADS_1
Happy Reading❤️