
Siang ini Rayya sebenarnya berencana menjemput Luigi ke Jakarta, namun Gavin melarangnya. Bukan karena Gavin tidak suka dengan kedatangan Luigi, tapi pria itu memang menguji sampai di mana ketangguhan Luigi. Dia membiarkan Luigi yang mencari alamat rumahnya itu. Dia menganggap jika itu adalah sebagian tantangan yang harus dihadapi Luigi sebagai bukti keseriusan pria muda itu terhadap putrinya.
Sedangkan Rayya sendiri merasa cemas jika Luigi sampai tersesat jalan. Namun dia tidak kehilangan akal. Tanpa sepengetahuan Daddy nya, Rayya sengaja memesan aplikasi taxi online untuk menjemput Luigi hingga pria itu bisa sampai ke rumah Gavin tanpa kesulitan.
Rencana kedatangan Luigi tentu saja membuat Azzahra sedikit sibuk menyiapkan masakan untuk menyambut pemuda yang dia gadang-gadangkan sebagai calon menantunya itu.
Sementara Natasha dan Azkia pun ikut antusias dengan rencana kedatangan Luigi.
" Kita ini berasa seperti ingin menyambut kedatangan orang mau lamaran ya, Ra?" Natasha terkekeh saat membantu Azzahra memasak.
" Iya, Teh. Seperti inilah excited nya punya anak gadis." Azzahra terkekeh.
" Kita nggak sangka anak gadis-gadis kita sudah beranjak dewasa dan mungkin beberapa tahun lagi akan menikah dan punya anak. Sebentar lagi kita bakal jadi nenek, Ra." ucap Natasha.
" Iya benar, Teh." Azzahra mendesah, dia pun tidak menyangka waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin dia menabrak dan menumpahkan minuman ke blazer yang dikenakan oleh Gavin. Itulah awal pertemuan pertama dia dengan suaminya.
" Ra, kira-kira yang akan jadi Nenek siapa dulu, ya? Aku atau kamu?" Pertanyaan Natasha membuat Azzahra mengerjapkan matanya.
" Sepertinya Teh Tata dulu, deh! Karena Alden 'kan sudah dijodohkan dengan Falisha," jawab Azzahra.
" Tapi Falisha masih muda, Ra. Nggak mungkin suaminya Rania memperbolehkan Fa menikah muda. Dan Kia nggak mau menikah sebelum Alden menikah terlebih dahulu. Jadi kemunginan yang akan jadi nenek lebih dulu itu kamu, Ra." Natasha menebak jika Azzahra lah yang akan memiliki cucu lebih dahulu ketimbang dirinya.
" Mungkin juga sih, Teh."
" Iya, Ra. Soalnya wanita seperti Rayya yang lemah lembut itu lebih cocok menjadi istri lebih dulu daripada wanita yang tomboy seperti Kia," Natasha menyampaikan pendapatnya.
" Mommy sama Auntie sedang bicara apa? Rayya yang akhirnya ikut bergabung di dapur bersama Azkia langsung bertanya saat dia mendengar namanya dan Azkia disebut-sebut.
" Lagi gosipin kita ya, Ma?" Azkia menimpali.
" Bukan bergosip cuma sedang menebak-nebak," tepis Natasha.
" Memang Mommy sama Auntie sedang menebak-nebak apa?" tanya Rayya kembali.
" Kami itu sedang menebak, antara kamu dan Kia siapa dulu yang akan menikah dan punya anak."
" Kia!"
" Rayya!"
Rayya menyebut Azkia dan Azkia menyebut Rayya.
" Kok Rayya sih, Kia? Yang sudah punya pacar 'kan Kia." Rayya menolak disebut akan menikah lebih dahulu.
" Karena pria yang mendekati Rayya sekarang ini orangnya lebih serius dan dewasa. Beda kalau yang deketin Rayya itu cowok macam Kak Raffa." Azkia tiba-tiba saja teringat kepada pria yang menurutnya paling menyebalkan.
" Kenapa Kia menghubung-hubungakan dengan Kak Raffa? Jangan-jangan Kia kangen ya sama Kak Raffa?" Rayya menggoda Azkia.
" Idiiihh, amit-amit, deh!" sangkal Azkia seraya mengedikkan bahunya membuat Rayya terkekeh.
" Eh, Ray ..." Azkia lalu menarik tangan Rayya menjauhkan dari Mamanya dan Mommy dari Rayya.
" Ada apa, Kia?" tanya Rayya penasaran karena Azkia menarik tangannya.
" Benar kalau Rayya pernah diajak ke rumah Neneknya Kak Raffa?" Azkia tiba-tiba teringat cerita Nenek Mutia.
Rayya langsung terbelalak saat Azkia mengingatkan kejadian beberapa tahun lalu saat Raffasya memintanya untuk ikut bertemu dengan Nenek Mutia.
" Rayya tahu dari mana?" bisik Rayya melirik ke arah Mommy nya. Dia tidak ingin Mommy nya itu tahu jika dia pernah berkunjung ke rumah Raffasya.
" Neneknya Kak Raffa yang cerita."
" Kia kenal dengan Neneknya Kak Raffa?"
" Hanya sepintas, karena waktu itu Mamanya Kak Raffa minta Kia antar pesanan gaun ke rumah Nenek Mutia." Azkia menceritakan bagaimana dia bisa berkunjung ke rumah Raffasya yang membuat sesuatu peristiwa tidak mengenakan untuk Azkia di rumah Raffasya.
" Kia, Kia jaga rahasia ini, ya! Jangan sampai Mommy apalagi Daddy tahu." Rayya memohon Azkia agar menjaga rahasianya.
" Oke, Kia akan tutup mulut! Tapi kapan kejadian itu terjadi, Ray? Kok Kia nggak tahu?" tanya Azkia penasaran.
" Beberapa waktu sebelum ujian."
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel di saku baju yang dipakai Rayya berbunyi membuat gadis itu segera merogoh kantongnya.
__ADS_1
" Kak Luigi yang telepon, Ray?" tanya Azkia,
" Iya," jawab Rayya saat melihat nama yang nampak di ponselnya.
" Sudah sampai di mana dia sekarang, Rayya?" Azzahra yang mendekat ke arah Rayya langsung bertanya.
" Sebentar lagi sampai, Mom." Rayya menjawab.
" Ya sudah atuh ayo kita siap-siap!" Natasha segera menyuruh mereka menyudahi aktivitas di dapur Azzahra.
Sepuluh menit kemudian, sebuah taxi online terparkir di depan rumah Gavin dan seorang pria bule keluar dari dalam taxi tersebut.
" Honey, kau mau ke mana?" Gavin mencengkram lengan Azzahra saat istrinya itu terlihat hendak menyongsong kehadiran Luigi di depan pintu.
" By, aku ingin menyambut kedatangan Luigi." Azzahra mengatakan alasannya ingin keluar dari ruang tamu rumahnya.
" Dia itu bukan orang penting! Tidak perlu disambut berlebihan seperti itu!" protes Gavin melihat antusias istrinya yang ingin menyambut Luigi.
" Baby, kau juga mau apa? Mau menyambut Luigi juga? Biarkan saja! Nanti juga dia kemari. Kau duduk saja!" Gavin pun melarang putrinya yang terlihat ingin melangkahkan kaki hendak melangkah depan.
Melihat Azzahra dan Rayya dilarang oleh Gavin untuk menyambut Luigi, Natasha memilih keluar. Dia berinisiatif untuk menyambut Luigi.
" Kak Gavin nggak punya hak melarang aku, ya!" Sebelum Gavin berkata-kata, Natasha lebih dahulu mengertak kakak sepupunya itu.
" Kia ikut Mama! Uncle juga nggak bisa larang Kia, dong!" Azkia menyeringai berlari menyusul Mamanya.
Sementara itu di luar rumah Gavin, Luigi yang baru keluar dari taxi langsung berjalan mendekat ke arah dua wanita yang menurutnya pasangan ibu dan anak. Namun dia heran karena yang dijumpainya bukanlah Rayya dan Azzahra.
" Assalamualaikum, maaf ... apa benar ini rumah Rayya?" Luigi nampak ragu bertanya kepada Natasha.
" Waalaikumsalam ... Oh iya benar." Natasha nampak terkesima karena mendengar Luigi ternyata bisa bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia.
" Saya ini Tantenya Rayya, dan ini sepupunya Rayya. You know ... cousin?" ujar Natasha.
" Oh iya, saya paham, Bu." sahut Luigi.
" Panggil saja saya Auntie, seperti Rayya memanggil saya." Natasha meminta dipanggil Auntie oleh Luigi.
" Oh, baik Auntie. Saya Luigi ..." Luigi lalu menjabat tangan Natasha memperkenalkan dirinya.
" Luigi." Luigi pun menyalami Azkia.
" Kak Luigi dosen, ya? Papa aku juga dosen, lho! Waktu masih muda dan seumuran Kak Luigi, Papa aku dosen paling tampan dan jadi idola mahasiswi-mahasiswinya lho, Kak." Azkia yang memang supel berusaha mengakrabkan diri dengan Luigi.
" Kia, nggak usah cerita-cerita begitu!" Natasha menegur Azkia. Walaupun Natasha mengakui jika suaminya itu memang dosen tampan, tapi dia paling sensitif kalau ada orang yang menyinggung soal mahasiswi-mahasiswi yang mengidolakan suaminya itu.
" Ayo masuk Luigi!" Natasha lalu mempersilahkan Luigi masuk ke dalam rumah kakak sepupunya.
" Terima kasih, Auntie." Luigi lalu mengikuti langkah Natasha dan Azkia.
" Silahkan masuk, Luigi ..." Natasha kembali mempersilahkan Luigi masuk ke dalam rumah Gavin.
" Assalamualaikum ..." Luigi tak lupa mengucapkan salam saat memasuki rumah Gavin.
" Waalaikumsalam ..." Semua orang yang ada di dalam ruang tamu membalas salam yang diucapkan Luigi.
" Apa kabar Paman, Nyonya ..." Luigi menyapa keluarga Rayya.
" Eh, kenapa panggilnya Nyonya? Kalau pasangannya Paman itu ya Bibi atau Tante!" Natasha langsung memprotes sebutan untuk Azzahra yang diucapkan Luigi. " Kamu sekarang panggilnya Mommy sama Daddy saja, sama seperti Rayya memanggil kedua orang tuanya, biar makin akrab." Natasha memberikan ide.
" Panggilan itu hanya boleh dipakai kepada anak-anakku dan juga menantuku nantinya!" Gavin keberatan dengan permintaan Natasha.
" Tapi Luigi ini 'kan kandidat calon menantu Kak Gavin." Natasha menjawab ucapan Gavin.
" Kak Luigi silahkan duduk!" Rayya yang melihat Luigi yang masih berdiri segera mempersilahkan pria itu duduk daripada harus mendengar perdebatan antara Gavin dan Natasha.
" Ah, iya ... kita malah menyuruh Luigi berdiri saja. Ayo silahkan duduk, Luigi." Azzahra juga ikutan mempersilahkan tamunya duduk.
" Terima kasih, Nyonya." Luigi pun kemudian duduk di kursi yang disediakan untuknya.
" Luigi, kamu panggilnya Tante saja dan panggil Daddy nya Rayya ini Om, biar lebih enak didengarnya seperti Simone memanggil kami." Azzahra pun meminta Luigi meralat panggilan untuknya.
" Baik, Tante."
" Apa kamu kesulitan mencari rumah ini?" tanya Gavin setelah melihat pria itu duduk tepat di hadapannya.
__ADS_1
" Ah, tidak, Om." Luigi lalu melirik ke arah Rayya yang sedang tersenyum seraya menundukkan kepalanya, karena memang gadis itulah yang memesankan taxi online untuk menjemputnya.
" Hei, yang mengajakmu bicara itu saya, bukan Rayya!" Gavin langsung menegur Luigi karena mendapati pria muda itu kedapatan mencuri pandang ke arah putrinya.
" By ...." Azzhara kini mencoba menegur suaminya yang masih saja ketus terhadap Luigi.
" Oh, Maaf, Om." Luigi yang ketahuan mencuri pandang ke arah Rayya langung meminta maaf.
" Ah, Kak Gavin ini! Kayak sendirinya waktu muda nggak pernah lirik cewek-cewek saja!" Natasha menyenggak dan menyindir Gavin. Karena dia tahu bagaimana dulu Gavin saat menyukainya.
Gavin yang disindir oleh adik sepupunya itu langsung mendelik ke arah Natasha karena adik sepupunya itu seperti memegang kartu as untuk menjatuhkannya.
Sementara Rayya kembali tersenyum melihat Gavin dikeroyok oleh Mommy dan Auntie nya.
" Kenapa Baby ikut tertawa? Baby meledek Daddy?" Gavin yang mendapati putrinya itu tersenyum langsung menegur Rayya, membuat Rayya terkesiap.
" Ah, nggak kok, Dad. Mana mungkin Rayya meledek Daddy." Rayya cepat-cepat menyangkal tuduhan Gavin.
Luigi yang memperhatikan interaksi keluarga besar Rayya nampak mengulum senyuman. Walaupun terjadi perdebatan namun mereka terlihat akrab. Perdebatan itu tidak menimbulkan pertengkaran tapi justru membuat sesama keluarga terlihat semakin dekat.
Dan setelah acara makan bersama Luigi dan keluarga Rayya, obrolan mereka berlanjut dengan banyak didominasi oleh Azzahra, Natasha, Azkia dan juga Luigi yang tentu saja harus menjawab setiap pertanyaan yang dilayangkan ketiga wanita itu. Sedangkan Rayya hanya mendengarkan dan menikmati obrolan Luigi dan keluarganya. Sementara Gavin seolah tidak berkutik jika harus disandingkan dengan Azzahra juga Natasha.
***
Luigi sedang dalam perjalanan menuju hotel tempat di mana dia akan menginap, yang merupakan hotel milik keluarga Richard. Dan atas tekanan Azzahra dan Natasha, Gavin terpaksa mengijinkan putrinya ikut mengantar Luigi sampai hotel.
" Kak Luigi, apa keluarga Kak Luigi tahu kalau Kak Luigi menyukai wanita Indonesia?" tanya Azkia saat mereka bertiga berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Rudy.
" Kia, apa-apaan sih, tanya seperti itu?" Rayya sepertinya keberatan dengan pertanyaan yang diberikan kepada Luigi.
" Tentu saja mereka sudah saya beri tahu. Sebenarnya saya sudah ingin sekali mengenalkan Rayya kepada keluarga saya. Tapi karena Rayya masih sulit untuk didekati, jadi saya belum mengenalkan Rayya kepada keluarga saya." Luigi menjawab pertanyaan Azkia.
" Terus mereka juga tahu, jika Kak Luigi sekarang jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menemui Rayya?" Azkia menanyakan lagi soal keluarga Luigi.
" Tentu saja! Mereka mengetahui, bahkan jika kedatangan saya di sini mendapat sambutan positif dan Om Gavin merestui, kedua orang tua saya akan segera menemui Om Gavin di sini."
" Wuih, keren, tuh! Kak Rama sih ... kreekk ..." Azkia melakukan gerakan seolah memotong leher dengan tangan. " Lewaaatt ...."
Rayya menghela nafas panjang, di saat dia sedang tidak ingin mengingat Ramadhan, Azkia malah mengingatkan kepada pria itu.
" Kak Luigi tenang saja, Kia dukung Kak Luigi, semua keluarga Rayya hampir semua mendukung Kak Luigi. Rintangannya cuma tinggal di Uncle Gavin saja. Tapi Uncle Gavin sih, tinggal dikedipin sama Auntie Rara juga pasti bakal takluk." Azkia tertawa diikuti oleh Luigi dan juga Pak Rudy.
" Kia jangan mencibir Daddy aku, ya!" Rayya langsung melotot.
" Maaf, Ray ..." Azkia mengacungkan jari tengah dan telunjuknya. bersamaan.
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Pak Rudy berhenti di depan pintu masuk hotel. Luigi yang duduk di depan turun lebih dahulu dan langsung membukakan pintu untuk Rayya dan duduk di belakangnya.
" Terima kasih, Kak." Rayya mengucapkan terima kasih kepada Luigi atas sikap yang ditunjukkan oleh pria itu.
" Selamat sore, Nona Rayya ..." Pegawai hotel di bagian resepsionis langsung menyapa Rayya saat Rayya mendekat.
" Sore, Mbak" Rayya pun membalas sapaan pegawai Daddy nya itu. " Kamar untuk tamu saya sudah siap, Mbak?" tanya Rayya.
" Sudah, Nona. Sebentar ya, Nona Rayya." Pegawai itu kemudian memanggil temannya. " Mas Andi, tolong antar Nona Rayya dan tamunya ke kamar yang sudah disiapkan." ucap pegawai resepsionis itu.
" Mari Nona Rayya, saya antar ..." Pegawai bernama Andi itu mengajak Rayya, Azkia dan Luigi menuju lift, menunggu pintu lift terbuka untuk membawa mereka ke lantai dua puluh.
Ting
Pintu lift pun terbuka dan seseorang keluar dari lift tersebut
" Rayya?" Seseorang yang keluar dari dalam lift langsung menyapa Rayya.
*
*
*
Bersambung ...
l
Happy Reading❤️
__ADS_1