RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Saya Terima Nikah Dan Kawinnya


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Ramadhan berhenti di depan rumah Gavin. Sekitar empat puluh lima menit waktu yang mereka butuhkan untuk mencapai rumah orang tua Rayya itu.


Sementara di depan rumah Yoga sendiri nampak ramai karena akan diadakan pengajian siang nanti untuk jelang pernikahan Azkia dan Raffasya yang akan dipaksanakan esok pagi.


Rayya kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah rumah Yoga saat melihat seorang pria di depan rumah Yoga.


" Assalamualikum, Kak Alden? Kak Alden kapan datang?" Rayya menyapa Alden kemudian menyalami putra pertama Yoga dan Natasha itu.


" Waalaikumsalam, Rayya?" Alden menoleh ke arah Rayya lalu berganti mengalihkan pandangan ke arah Ramadhan. " Eh, ada Kak Rama. Apa kabar Kak?" Alden menyapa Ramadhan dilanjut melakukan fist bump dengan Ramadhan.


" Alamdulillah baik, kamu sendiri gimana, Al?" tanya balik Ramadhan.


" Baik juga, Kak. Kalian dari mana? Kok bisa bersama?" tanya Alden menatap heran ke arah Rayya dan Ramadhan bergantian.


" Kami baru sampai dari Italia, habis menyelesaikan masalah di sana, sebelum menyusul Kia ke pelaminan." Ramadhan menjelaskan seraya mengembangkan senyuman.


" Lho, Rayya dan Kak Rama mau menikah juga?" tanya Alden nampak terkejut saat mendengar jika saudara sepupunya itu akan segera menikah, membuat wajah putih Rayya merona.


" Insya Allah secepatnya. Doakan saja, Al." sahut Ramadhan melirik ke arah Rayya yang tersipu.


" Wah, aku dilewati lagi, dong!" Alden tertawa menanggapi pernyataan dari Ramadhan.


" Haha, kau tunggulah beberapa tahun lagi sampai Falisha matang, Al." Ramadhan menyindir Alden karena sekarang ini usia Falisha masih berusia di bawah dua puluh tahun, hingga membuat Alden memutar bola matanya.


" Hmmm, Kak. Eyang Papih sama Eyang Mamih sudah datang?" tanya Rayya menanyakan kedua Kakek dan Nenek dari Azkia dan Alden.


" Eyang, masih dalam perjalanan kemari, mungkin sebentar lagi juga datang," sahut Alden.


" Kak Alden sendiri kapan datang?" tanya Rayya kembali karena pertanyaannya tadi belum dijawab oleh Alden.


" Aku sampai tadi malam, Ray." jawab Rayya.


" Oh, ya sudah, Kak. Rayya masuk dulu, ya!" Rayya berpamitan kepada Alden karena dia sendiri merasakan saat ini tubuhnya terasa lelah setelah melakukan perjalan yang cukup lama. " Assalamualaikum ...."


" Oke, Ray. Waalaikumsalam ...."


'


" Aku antar Rayya dulu, Al." Ramadhan ikut berpamitan seraya kembali melakukan fist bump.


" Oke, Kak.

__ADS_1


Rayya dan Ramadhan pun kemudian masuk ke dalam ke rumah Gavin setelah berpamitan kepada Alden terlebih dahulu.


***


Setelah beristirahat beberapa jam karena harus melakukan perjalanan lewat udara selama kurang lebih tujuh belas jam dari Roma menuju Jakarta, dan mengikuti acara pengajian di rumah Yoga, kini Rayya mencoba untuk berbicara dengan Azkia setelah acara pengajian itu selesai.


" Kia, ini Rayya. Rayya boleh masuk?" tanya Azkia setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tak lama pintu kamar Azkia terbuka hingga memperlihatkan Azkia yang masih memakai gamis berwarna putih setelah pengajian.


" Masya Allah, Kia cantik sekali dengan gamis ini." Rayya memuji penampilan Azkia yang memang terlihat cantik mengenakan pakaian muslimah itu.


" Kia, aku senang akhirnya Kia setuju dengan pernihakan ini. Aku harap Kia dan Kak Raffa bisa hidup bahagia nanti." Rayya menggenggam tangan Azkia karena Rayya merasa senang akhirnya kekerasan hati Azkia luluh juga dan setuju untuk menyelamatkan kehamilannya dengan pernikahan dengan Raffasya yang merupakan ayah dari sang jabang bayi.


" Rayya kok senang banget aku nikah sama Kak Raffa?" Azkia mencebikkan bibirnya karena melihat sepupunya itu justru terlihat bahagia.


" Tentu saja Rayya senang, Kia. Setidaknya satu masalah terselesaikan. Kalau Kia masih berkeras hati seperti kemarin, kasihan Uncle sama Auntie. Memang Kia nggak kasihan sama Papa dan Mama Kia?"


" Ray, kamu nggak mengerti posisi aku kayak gimana. Kia itu nggak cinta sama Kak Raffa! Rayya tahu sendiri Kak Raffa selama ini kasar sekali, kan?" keluh Azkia.


" Selama ini Kak Raffa baik kok seingat Rayya."


" Astaghfirullahal adzim ...! Kia kok berpikiran buruk seperti itu?" Rayya menegur Azkia yang berpikiran negatif kepada Raffasya.


" Lho, memang Kak Raffa itu sejak dulu mengejar Rayya terus, kan?"


" Tapi itu 'kan sudah lama, Kia! Rayya yakin Kak Raffa juga nggak sampai berpikiran seperti apa yang Kia tuduhkan tadi!" Rayya menepis anggapan Azkia soal Raffasya.


" Heran, deh! Kenapa semua orang ngebelain Kak Raffa?" Azkia memutar bola matanya kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya.


" Itu karena niat baik Raffa baik menolong Kia. Semua ini terjadi juga bukan murni kesalahan Kak Raffa, kan? Kia harus berpikiran positif, jangan terus berburuk sangka terus sama Kak Raffa." Rayya terus menasehati sepupunya agar tidak terus dibutakan hatinya dengan kebencian.


***


Acara ijab qobul Azkia dan Raffasya berjalan lancar walaupun sempat terjadi sedikit kericuhan dengan kemunculan Gibran, tapi semua bisa diselesaikan secara baik-baik.


Setelah berbincang dengan beberapa kerabat dari keluarga Yoga dan Natasha, Rayya memilih kembali ke rumahnya karena Ramadhan harus kembali ke kantornya.


" Rayya, apa suaminya Kia itu akan tinggal di rumah Om Yoga nantinya?" tanya Ramadhan sesampainya di rumah Gavin.


" Memangnya kenapa, Kak?" tanya Rayya menyahuti pertanyaan Ramadhan.

__ADS_1


" Aku merasa nggak tenang kalau dia ikut sama Om Yoga. Aku takut dia masih ingin berusaha mendekati kamu lagi," tuduh Ramadhan.


" Asataghfirullahal adzim! Kak Rama kok bicaranya seperti itu?" Rayya menggelengkan kepalanya mendengar dugaan Ramadhan yang mirip seperti yang Azkia katakan padanya kemarin.


" Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Raffa itu dulu suka sama kamu?"


" Itu 'kan dulu, Kak!"


" Kamu juga dari dulu suka sama aku, apa kamu bisa melupakan perasaan kamu ke aku? Nggak, kan?"


Rayya menghela nafas menanggapi pernyataan Ramadhan yang dianggapnya terlalu berlebihan.


" Kak, jangan berprasangka buruk kepada Kak Raffa. Kak Raffa itu sedang berusaha merubah Imej buruknya di mata keluarga Uncle Yoga. Kak Rama jangan ikut-ikutan menjudge Kak Raffa gitu, dong!" protes Rayya.


" Duh, segitunya kamu membela Raffa ...."


" Kak, aku nggak membela, aku hanya mengatakan apa yang menurut aku benar. Kak Raffa itu aslinya baik, dia hanya berontak dengan kondisi rumah tangga orang tuanya yang berantakan sejak dia masih sekolah dasar." Rayya mencoba menjelaskan kepada Ramadhan agar tidak salah paham terhadap Raffasya.


" Iya, iya aku percaya." Ramadhan tidak ingin meneruskan pembahasan soal Raffasya.


" Ah, rasanya aku sudah tidak sabar merasakan moment seperti tadi," ucap Ramadhan kemudian.


" Moment apa, Kak?* Rayya mengerutkan keningnya.


" Moment Ijab qobul lah, Sayang. Aku menantikan saatnya mengucapkan kalimat ' Saya terima nikah dan kawinnya Rayya Faranisa Richard binti Gavin Richard dengan maskawin tersebut tunai ... saaahhh!" seru Ramadhan seraya menaikkan dan mengepalkan kedua tangannya ke atas.


" Eheemmm ...."


Suara Gavin yang berdehem dari pintu depan rumah Gavin membuat Ramadhan dan Rayya terkesiap.


" Eh, Om ..." Ramadhan seketika salah tingkah karena kemunculan Gavin di sana, sementara Rayya langsung menggigit bibirnya melihat tingkah Ramadhan yang kepergok oleh Daddy nya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2