RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Merasa Terganggu


__ADS_3

Rayya langsung mengangkat panggilan teleponnya karena dia penasaran akan siapa orang yang menghubunginya saat itu. Apakah itu Luigi? Nama itu yang terbesit di benak Rayya saat ini, walaupun nomer yang menghubunginya itu bukan nomer Luigi. Dia menduga jika Luigi menggunakan nomer telepon lain.


" Pronto, chi è questo?"


" Assalamualaikum, Rayya. Ini Kak Rama ...."


Rayya seketika terperanjat saat Ramadhan yang meneleponnya. Dia benar-benar tidak menduga jika Ramadhan lah yang saat ini menghubunginya. Dia tidak mengerti untuk apa lagi Ramadhan terus menghubunginya. Setelah nomer pria itu dia blokir, kini dia justru mengangkat panggilan telepon pria itu hanya karena pria itu memakai kode area kota Roma, Italia.


" K-Kak Rama?" Nada suara Rayya serasa tercekat di tenggorokan.


" Rayya, maaf jika Kakak mengganggu kamu. Apa kita bertemu? Kakak benar-benar tidak enak hati karena Rayya mengacuhkan Kakak belakangan ini. Saat ini Kakak baru tiba di Roma dan Kakak nggak tahu kamu tinggal di mana?"


Rayya membelalakkan matanya saat mengetahui jika Ramadhan saat ini benar-benar berada di Roma.


" Kak Rama ada di Roma?" tanya Rayya masih dalam mode terkejutnya.


" Iya, Rayya. Kakak sengaja kemari untuk bertemu Rayya, karena Rayya nggak pernah membalas pesan Kakak dan memblokir nomer Kakak." Ramadhan menjelaskan tujuannya datang jauh-jauh dari Jakarta ke Roma.


Hati Rayya seketika mencelos mendengar penjelasan dari Ramadhan soal tujuan pria itu datang ke Roma.


" Sebenarnya apa lagi yang Kak Rama inginkan? Kak Rama ingin meminta maaf, Rayya sudah maafkan. Rayya sudah bilang kalau semua sudah selesai, jadi tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Kak." Rayya yang merasa bingung dengan sikap Ramadhan langsung mengajukan pertanyaan kenapa Ramadhan masih saja terus menghubunginya. Karena bagi Rayya, dengan Ramadhan seperti itu, dia selamanya akan terbelenggu dengan perasaannya terhadap Ramadhan.


" Rayya bilang sudah memaafkan Kakak, tapi kenapa kamu memblokir nomer Kakak? Itu tandanya semua nggak baik-baik saja. Rayya nggak benar-benar memaafkan Kakak."


Rayya mendengus kesal mendengar tudingan Ramadhan yang menganggapnya tidak ikhlas memaafkan pria itu. Sebenarnya jika Ramadhan tidak terus-terusan menghubunginya, dia juga tidak berniat memblokir nomer putra dari Ricky dan Anindita.


" Rayya nggak mengerti deh, Kak Rama maunya seperti apa? Rayya sudah menerima permintaan maaf, Kakak. Rayya sudah berusaha mengikhlaskan apa yang Rayya rasakan dulu. Kenapa sekarang Kak Rama mengungkit-ungkit masalah itu lagi?"


" Tapi Kakak ingin kita bisa seperti dulu, Rayya. Kalau seperti ini, Kakak merasa kalau Rayya membenci Kakak."


" Rayya nggak pernah membenci Kakak!" Rayya menyangkal dugaan Ramadhan yang mengatakan jika dia membenci pria itu.


" Lalu kenapa Rayya memblokir nomer Kakak?" Ramadhan masih menanyakan alasan Rayya memblokir nomernya.


Rayya kembali menarik nafas yang terasa berat.


" Karena Rayya tidak ingin kembali ke masa lalu. Rayya ingin menatap masa depan Rayya ke depan. Jujur saja dengan Kak Rama menghubungi Rayya terus, Rayya merasa terganggu, Kak. Jadi Rayya mohon, Kak Rama jangan hubungi Rayya lagi!"


" Oke kalau itu mau kamu, tapi Kakak ingin bertemu langsung dengan Rayya. Apa kita bisa bertemu sekarang?"


" Maaf, Rayya nggak bisa, Kak!" tolak Rayya karena dia tidak mungkin menemui Ramadhan karena saat ini dia sedang berada di Indonesia.


" Rayya tega sama Kakak? Kakak jauh-jauh datang ke Roma hanya untuk menemui Rayya."


Rayya mendesah, sejujurnya dia tak tega mengetahui Ramadhan datang ke Roma untuk menemuinya sementara dia sendiri berada di Indonesia.


" Rayya nggak bisa, Kak. Karena saat ini Rayya nggak di Roma."


" Rayya nggak di Roma?" Nada terkejut terdengar dari suara Ramadhan. " Lalu Rayya ada di mana? Di Milan? Kasih tahu Kakak, nanti Kakak susul ke sana." Ramadhan tetap bersikukuh ingin bertemu dengan Rayya.


" Rayya sedang libur akhir semester, Kak. Sekarang ini Rayya nggak di Italia."


" Rayya nggak di Italia?" Kembali Ramadhan terkaget. " Lalu sekarang Rayya di mana? Apa Rayya pulang ke Indonesia?"


" Aku ...."

__ADS_1


" Baby, kau sudah selesai sholatnya? Ayo kita makan siang." Suara Gavin yang terdengar di mushola hotel membuat Rayya tersentak.


" Hmmm, sudah dulu ya, Assalamualaikum." Rayya menyudahi panggilan telepon Ramadhan tanpa memperdulikan suara Ramadhan yang masih mengajaknya berbicara karena dia takut Daddy nya itu mengetahui jika saat ini dia sedang berkomunikasi dengan Ramadhan.


" Siapa yang telepon, Baby?" tanya Gavin karena melihat anaknya yang terburu-buru mematikan teleponnya.


" Itu teman Rayya, Dad."


" Siapa? Simone? Luigi?"


" Hmmm, bukan kok, Dad. Itu teman Rayya dari fakultas lain." Rayya berbohong.


" Memang ada teman Baby dari Indonesia yang kuliah di sana?" tanya Gavin karena mendengar Rayya tadi menelepon dengan bahasa Indonesia.


" I-iya, Dad."


" Memangnya kenapa dia telepon Baby? Apa dia ada di Indonesia juga?"


" Oh nggak, Dad. Dia masih di Roma dan dia mengajak mahasiswa dari Indonesia yang nggak pulang kampung untuk wisata keliling Eropa." Rayya kembali berbohong dengan memberi alasan yang masuk akal.


" Oh, begitu ... ya sudah ayo kita makan." Gavin kemudian merangkul Rayya dan mengajak Rayya keluar dari Mushola untuk mencari makan. Sementara Rayya menoleh ke arah Gavin dengan wajah merasa bersalah.


" Maafkan Rayya, Dad. Rayya terpaksa berbohong," batin Rayya.


Sementara itu di Roma ...


" Rayya, jangan ditutup dulu teleponnya! Hallo, Rayya? Tut ... tut .. tut ..." Ramadhan menatap gagang telepon saat panggilan teleponnya bersama Rayya terputus.


" Si*al!!" Ramadhan mengumpat seraya mengusap kasar wajahnya saat dia mengetahui jika Rayya tidak berada di Italia saat ini.


" Apa Rayya sekarang ada di Indonesia? Si*al, kenapa aku nggak ingat kalau sekarang ini liburan akhir semester?!" Ramadhan benar-benar merutuki dirinya yang sangat teledor tidak mengecek terlebih dahulu.


***


Sore ini, Gavin mengajak Azzahra dan kedua adik Rayya ikut berkunjung ke Bogor dengan Pak Rudy yang mengendarai mobil.


Sepanjang perjalanan Rayya lebih banyak terdiam dan membuang pandangan ke luar jendela. Tentu saja kenyataan tentang keberadaan Ramadhan saat inilah yang membuat hatinya tidak tenang. Bagaimanapun hati kecil dia merasa tak tega saat tahu saat ini Ramadhan seakan terdampar di Italia, walaupun itu bukan kesalahan dirinya.


" Dad, Kakak melamun saja nih, Dad!" Suara Raihan muat Rayya terkesiap hingga dia kini menoleh ke arah adiknya yang duduk bersebelahan di kursi paling belakang.


" Raihan sok tahu, deh!" Rayya mengacak rambut adiknya bungsunya itu.


Sementara Gavin dan Azzahra langsung menoleh ke arah belakang kursi mereka duduk.


" Kenapa Baby?" tanya Gavin kemudian.


" Ah, nggak apa-apa kok, Dad." Rayya menyangkal jika dia sedang melamun.


" Apa Baby sedang memikirkan temanmu yang ingin berwisata? Kalau Baby ingin berlibur keliling Eropa, nanti kita berlibur bersama keluarga." Gavin yang menduga Rayya kecewa karena tidak bisa berkumpul dengan sahabatnya langsung berpendapat seperti itu.


" Nggak, Dad. Rayya hanya mengantuk saja, kok." Rayya beralasan.


" Kalau mengantuk itu matanya merem, Kak. Raihan lihat Kak Rayya dari tadi melamun melihat ke jendela terus." Raihan tetap menganggap jika Kakaknya itu sedang melamun.


" Iihh, anak kecil nggak boleh mengadu, ya!" Rayya membesarkan bola matanya seakan mengancam adiknya itu agar tidak bicara macam-macam.

__ADS_1


Selepas Isya mobil yang dikendarai oleh Pak Rudy sampai di halaman rumah Abi Rara.


" Assalamualaikum, Eyang, Enin ...!" Rahsya dan Raihan lebih dahulu turun dan berlari memasuki rumah yang kini berukuran lebih luas dan berlantai dua. Bangunan lantai atas sengaja dibangun Gavin agar saat seluruh keluarga anak-anak Abi dan Umi Rara berkumpul, mereka semua bisa menginap di rumah itu.


" Waalaikumsalam ... eh, cucu Enin sudah datang, ya?" Umi Rara yang menyambut keluarga Gavin.


" Assalamualaikum ..." Gavin, Azzahra dan Rayya menyusul di belakang Rahsya dan Raihan.


" Waalaikumsalam, ayo masuk-masuk ..." Umi Rara menyuruh anak, menantu dan cucunya masuk ke dalam rumahnya.


" Enin ... " Rayya langsung memeluk dan mencium punggung tangan Umi Rara.


" Duh, ini cucu Enin yang nu paling geulis." Umi Rara mengusap wajah Rayya.


" Ah, Enin bisa saja." Rayya tersipu malu.


" Tentu saja paling cantik, siapa dulu Daddy nya?" Gavin ikut menimpali.


" Memangnya kamu cantik, Gavin? Yang cantik itu ya anaknya Enin." Umi Rara memprotes ucapan menantunya.


" Anaknya Enin itu sudah jadi milik siapa, Nin?" Gavin menggoda ibu mertuanya.


" Eyang mana, Nin?" tanya Rayya yang tidak ingin terjadi perdebatan antara Umi Rara dan Gavin jika pembicaraan masalah tadi dilanjut.


" Eyang ada di ruang keluarga," sahut Umi Rara.


" Rayya mau ke Eyang dulu ya, Nin." Rayya perpamitan kepada Umi Rara untuk menemui Eyangnya itu.


***


Minggu siang Ramadhan sudah kembali ke Jakarta. Dia merasa tubuhnya sangat penat karena dia harus melakukan perjalanan pulang pergi Jakarta-Roma-Jakarta sekitar tiga puluh empat jam. Mungkin rasa letih itu akan terbayarkan seandainya dia bisa bertemu Rayya di Roma. Namun nyatanya, dia layaknya pria bodoh yang mengejar sesuatu yang sia-sia hingga menghabiskan uang, waktu, tenaga.


" Rama, kamu sudah pulang?" tanya Anindita saat mendapati putranya masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam.


" Iya, Ma." Ramadhan hanya sepintas menjawab pertanyaan Mamanya kemudian mencium punggung tangannya lalu berjalan menaiki anak tangga ke kamarnya.


Anindita merasa heran karena anaknya itu sudah pulang Minggu siang ini. Padahal menurut rencana putranya itu akan kembali ke Jakarta esok hari.


Anindita mengikuti langkah putranya itu hingga menuju kamar Ramadhan.


" Rama, kamu kok sudah sampai ke sini? Apa sudah bertemu dengan Rayya?" Anindita penasaran.


" Ma, Rama lelah sekali. Rama ingin mandi dan beristirahat."


" Tapi kamu sudah ketemu dengan Rayya, kan? Atau kamu nggak ketemu Rayya?"


" Ma, tolonglah. Rama baru saja melakukan perjalanan lebih dari tiga puluh jam. Kepala Rama juga pusing. Jadi nanti saja ceritanya." Ramadhan kemudian masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya meninggalkan Anindita yang langsung menimbulkan pertanyaan di pikiran wanita itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2