
Sekitar empat puluh menit kemudian Ricky dan Gavin sudah menyantap menu hidangan spesial yang sudah disiapkan oleh Ivone.
" Ada apa Tuan Gavin tiba-tiba ingin bertemu dengan saya? Jangan sampai Pak Dirga mengira jika saya menikung di belakang dia, Tuan." Ricky berkelakar.
" Haha, dia pasti akan murka jika kita melakukan transaksi di belakang dia," sahut Gavin.
" Jadi alasan apa yang membuat Tuan Gavin ingin berbicara dengan saya?" Ricky benar-benar merasa penasaran.
" Maaf, Pak Ricky kalau saya terkesan ingin tahu. Apakah Rama mempunyai hubungan khusus dengan keponakan dari Dirga?" tanya Gavin.
" Kayla maksud Tuan Gavin? Tidak, Tuan. Kedekatan mereka sudah seperti saudara." Ricky menyangkal jika Ramadhan memang memiliki ketertarikan kepada Kayla.
" Apa Rama sudah mempunyai kekasih?"
" Setahu saya belum, Tuan. Karena selama ini belum ada seorang wanita yang dikenalkan kepada kami sebagai kekasihnya. Memangnya kenapa, Tuan?" Ricky merasa heran karena dia merasa seperti sedang diintrogasi oleh Gavin.
" Begini, Pak Ricky. Anda tahu jika saya sangat menyanyangi putri saya, Rayya. Saya sangat hati-hati menjaga dia. Saya tidak ingin siapapun menyakiti putri saya itu. Anda punya anak gadis, pasti Anda juga punya perasaan seperti saya sebagai seorang ayah."
" Iya, Tuan. Saya mengerti." Ricky memahami apa yang dirasakan oleh Gavin karena dia pun mempunyai anak perempuan.
" Saat ini dia sudah menginjak usia tujuh belas tahun, usia dimana sebagian teman-temannya mempunyai rasa suka terhadap lawan jenis dan mempunyai pacar. Saya hanya ingin anak saya ini akan mendapatkan pria yang baik yang akan melindungi dia."
Ricky masih terus mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Gavin kepadanya.
" Jika Pak Ricky tak keberatan, bagaimana jika kita menjodohkan anak-anak kita. Saya ingin menjodohkan Rayya dengan putra Anda, Rama. Saya tahu dia pria yang baik dan sangat bertanggung jawab. Kita sudah saling kenal keluarga masing-masing. Istri kita juga sudah mempunyai hubungan pertemanan yang baik. Saya rasa itu suatu hal yang bagus jika kita bisa meningkatkan hubungan silaturahmi ini dengan menjadi besan." Gavin akhirnya mengatakan niatnya untuk menjodohkan anaknya dengan anak Ricky.
Ricky mengeryitkan keningnya seraya berpikir beberapa saat kemudian menghela nafas panjang.
" Tuan Gavin ingin menjodohkan Nona Rayya dengan Rama? Tapi Tuan, Anda tahu jika Rama itu ...."
" Saya tahu, Pak Ricky. Saya juga bukan manusia yang sempurna. Apa Pak Ricky lupa jika saya juga punya William? Permasalahannya bukan bagaimana asal usul mereka. Tapi bagaimana mereka sekarang ini. Alhamdulillah William dan Rama tumbuh menjadi pria yang berkepribadian baik dan punya tanggung jawab."
Ricky kembali menarik nafas, seketika dia teringat dengan anaknya yang menyukai Kayla. Mungkin dengan menjodohkan Ramadhan dengan Rayya, Ramadhan bisa melupakan perasaannya terhadap Kayla.
" Tapi Tuan Gavin, saya dan keluarga ini bukanlah siapa-siapa. Apa tidak masalah Tuan ingin berbesan dengan saya?" Ricky tetap menyadari posisinya berbanding terbalik dengan keluarga Gavin yang memang sudah kaya raya sejak turun temurun.
" Hahaha ... Pak Ricky ini terlalu merendah. Memangnya Pak Ricky pikir istri saya itu seorang anak pengusaha terkenal? Istri saya itu hanya gadis desa yang kebetulan ayahnya bekerja di pengusaha kaya raya di sana."
" Saya hanya ingin mencari laki-laki yang baik untuk menjaga putri saya, Pak Ricky," lanjut Gavin.
" Tapi bukankah Nona Rayya masih sekolah, Tuan?"
__ADS_1
" Iya dia memang masih sekolah, tapi tidak ada salahnya jika kita jodohkan dari sekarang, kan? Setelah dia lulus SMA jika Rama ingin segera menikah, kita bisa menikahkan mereka sambil Rayya melanjutkan kuliah."
" Baiklah, Tuan Gavin. Saya akan bicarakan ini dengan istri saya dan Rama terlebih dahulu. Semoga mereka juga tidak keberatan dengan rencana ini."
" Baiklah, Pak Ricky. Semoga saja lancar dan kita bisa jadi besan ke depannya, karena saya sudah sangat yakin dan percaya terhadap putra Anda itu, Pak Ricky."
Ricky menganggukkan kepala seraya menarik satu sudut bibirnya ke atas. Dia pun tidak meragukan jika putranya itu akan menjadi pria yang cukup tangguh dalam urusan pekerjaan seperti dirinya dan sangat bertanggung jawab dalam segala hal.
***
Azzahra menyambut kedatangan suaminya saat terdengar mobil suaminya itu berhenti di garasi rumahnya.
" Assalamualaikum, Honey ..." Gavin menyapa istrinya saat melihat istrinya itu sudah membukakan pintu rumah.
" Waalaikumsalam, By." Azzahra langsung mendekat seraya mencium punggung tangan Gavin lalu meraih tas kerja Gavin.
" Sudah selesai bertemu dengan relasi bisnisnya, By?" tanya Azzahra saat Gavin melingkarkan tangannya di pundak Azzahra.
" Kalau belum selesai tidak mungkin sekarang ini aku sudah sampai di rumah, Honey." Gavin mencubit hidung mancung istrinya itu membuat Azzahra tersipu.
" Hubby sudah sholat Maghrib belum?" tanya Azzahra karena waktu saat ini sudah mendekati pukul tujuh malam.
" Sudah tadi sebelum pulang aku Maghrib dulu takut nggak keburu waktunya kalau sholat di rumah." Gavin menyahuti.
" Honey, ada yang ingin aku bicarakan denganmu soal Baby."
Kedua alis Azzahra bertautan. " Rayya kenapa, By?"
" Kita bicara di kamar saja." Gavin kemudian mengajak istrinya ke kamar untuk membicarakan apa yang telah dia bicarakan dengan Ricky tadi.
" Ada apa sih, By? Kelihatannya serius sekali." Azzahra merasa penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh suaminya itu.
" Sebenarnya tadi aku habis bertemu dengan Ricky, Honey."
" Pak Ricky nya Mbak Anin?"Azzahra terkesiap, tiba-tiba rasa cemas melanda hatinya. Apa yang telah dikatakan pada Ricky? Apa ini ada hubungannya dengan perasaan putrinya terhadap Ramadhan? Itu pertanyaan yang ada di benak Azzahra.
" Iya." Gavin menganggukan kepalanya.
" M-memangnya habis bicara apa sama Pak Ricky, By?"
" Aku berencana menjodohkan Baby dengan Rama."
__ADS_1
Bola mata Azzahra melebar seketika saat mendengar suaminya itu akan menjodohkan Rayya dengan pujaan hati putrinya itu. Bukannya dia tidak senang jika perjodohan itu terjadi, tapi dia merasa khawatir jika justru yang direncanakan suaminya itu tidak sesuai dengan harapan atau mungkin mendapatkan penolakan dari Ramadhan, bukankah itu justru akan melukai hati Rayya.
" By, apa Hubby yakin melakukan hal itu?"
" Tentu saja, Honey. Kau bilang sendiri jika Baby itu menyukai Rama dan aku tahu anak dari Ricky itu adalah pria baik-baik. Jika aku ingin melepas Baby kepada seorang laki-laki setidaknya dia pria yang bertanggung jawab seperti Alden dan William. Jadi tidak ada salahnya aku menjodohkan mereka biar Baby merasa bahagia, Honey."
" Tapi bagaimana jika Rama menolak, By? Bukankah itu justru akan menyakiti hati Rayya?"
" Aku rasa Ricky akan berusaha meyakinkan anaknya. Kau tenang saja, Honey. Semua itu biar aku yang mengatur." Gavin mencoba menenangkan kecemasan istrinya itu. " Aku mau mandi sekarang, Honey." Gavin pun kemudian berjalan menuju arah bathroom.
Sementara itu di tempat yang berbeda beberapa jam kemudian.
" Pa ada yang ingin Mama bicarakan ...."
" Ma, Papa mau bicara ...."
Anindita dan Ricky saling berebut bicara saat mereka berdua sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Papa mau bicara apa?"
" Mama mau bicara apa?"
Mereka berdua kembali bersamaan saling bertanya dengan wajah saling menoleh satu sama lain.
" Mama dulu yang bicara, ada apa?" Ricky menyuruh istrinya bicara sementara tanganya mengusap wajah cantik Anindita.
" Papa tahu anaknya Natasha yang namanya Azkia? Kemarin Mama sudah bicara dengan Natasha. Mama berniat menjodohkan Rama dengan Azkia, agar Rama bisa menghilangkan rasa cintanya terhadap Kayla."
Ricky terkesiap mendengar rencana istrinya yang akan menjodohkan Ramadhan dengan Azkia sedangkan dia sendiri sudah menerima tawaran Gavin untuk menjodohkan Ramadhan dengan Rayya.
*
*
*
Bersambung ...
Nah loh, Papa Ricky sama Mama Anin ga kompak nih😁
Jangan lupa dukung terus RDHR
__ADS_1
Happy Reading ❤️