
Ramadhan terus memperhatikan saat orang dari salon membantu melepas satu persatu perhiasan di atas kepalanya juga melepas hijab Rayya hingga memperlihatkan rambut hitam panjang Rayya yang kini menjuntai di bawah bahunya. Ini pertama kalinya dia melihat Rayya tanpa mengenakan hijab. Dan setelah melepas perhiasan dan hijab kini kebaya yang dikenakan Rayya juga sudah mulai dilepas.
" Kak, jangan diperhatikan terus, aku malu dilihatin seperti itu." Rayya yang kini hanya mengenakan kamisol langsung menyilangkan tangannya di dadanya.
" Kenapa harus malu? Aku ini 'kan sudah jadi suamimu, Sayang." Ramadhan tersenyum bahagia melihat tubuh Rayya yang selama ini selalu tertutup baju longgar dan panjang. " Bahkan kamu nggak pakai apa-apa pun aku berhak melihatnya."
" Astaghfirullahal adzim, Kak Rama!" Rayya langsung melirik ke arah asisten MUA yang tersenyum mendengar ucapan Ramadhan, membuat Rayya malu hingga wajahnya mulai memerah.
" Pengantin baru memang begitu, Mbak Rayya." Asisten MUA memaklumi apa yang diucapkan oleh Ramadhan. namun tentu saja tetap membuat Rayya tidak nyaman harus berte lanjang seperti itu di hadapan Ramadhan.
" Tuh, dengar kata Mbak nya juga nggak apa-apa aku lihat kamu melepas baju." Ramadhan justru tertawa kecil membuat Rayya semakin malu.
" Sudah deh, Kak. Jangan goda aku terus!" Rayya meminta Ramadhan tidak terus menerus menggodanya karena dia benar-benar salah tingkah diperhatikan seperti itu.
" Mbak bisa dipercepat melepas pakaian dan membersihkan riasan wajah istri saya ini?"
Hati Rayya terasa menghangat mendengar kata istri yang diucapkan Ramadhan.
" Sebentar ya, Mas. Sudah nggak sabar ya, Mas Rama nya?" goda Asisten MUA seakan memahami apa yang diinginkan oleh Ramadhan.
" Tentu saja, Mbak. Kami cuma punya waktu sebentar karena nanti sore harus segera bersiap untuk resepsi." Ramadhan beralasan.
" Sabar dong, Kak! Kalau buru-buru nanti make up nya nggak bersih masih menempel di wajah." Rayya meminta Ramadhan untuk berhenti mengganggu asisten MUA yang kini sedang membersihkan wajahnya dari make up tebal saat acara akad.
" Aku nggak sabar, Sayang. Karena aku sudah menunggumu sejak SD." Ramadhan terkekeh meledek Rayya membuat Rayya membelalakkan matanya karena pria yang sudah resmi memperistrinya itu sedang menyindirnya.
" Mas dana Mbak nya ini lucu, deh. Benar-benar pasangan sweet banget." Sang asisten MUA sampai mengomentari kelakuan pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
" Mbak tahu, nggak? Dulu waktu remaja kami pernah ingin dijodohkan, tapi dia menolak saya sampai bilang nggak mungkin jatuh cinta sama saya, eh sekarang justru dia yang tergila-gila sama saya." Ramadhan memutar balikan fakta di hadapan asisten MUA tadi.
Rayya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Ramadhan yang berbohong tentang kenyataan yang sesungguhnya.
" Ya ampun, kenapa Mbak Rayya menolak Mas Rama yang ganteng seperti ini?" Asisten MUA sepertinya percaya dengan cerita Ramadahan.
" Ya begitulah, Mbak. Nolak-nolak ujung-ujungnya bucin. Kalau saya dekat sama wanita lain dia langsung cemburu berat." Ramadhan seakan menceritakan apa yang dialami dirinya sendiri. Bagaimana dia kini terlihat posesif jika ada pria yang bersama Rayya.
***
Rayya nampak terkejut saat dia selesai mencuci wajah dengan air dari wastafel, Ramadhan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
" Astaghfirullahal adzim, Kak Rama mengangetkanku saja." Rayya memegangi dadanya.
" Kenapa terkejut? Harusnya kamu selalu siap aku beginikan." Ramadhan bahkan mencium ceruk leher putih mulus Rayya.
Darah Rayya serasa berdesir saat bibir Ramadhan kini menyentuh kulit lehernya. Dia bahkan harus menahan nafasnya karena dia saat ini dihinggapi rasa gugup. Apalagi tangan Ramadhan kini mulai menyelinap masuk ke dalam baju bagian atas Rayya, meraba perut dan naik ke atas bertumpu pada kedua bongkahan milik Rayya.
" Sssttt ... nikmati saja," bisik Ramadhan di telinga Rayya membuat Rayya harus menelan salivanya karena tiba-tiba merasakan gelenyar aneh di tubuhnya.
" Kak, aku ...."
" Santai saja, jangan tegang." Ramadhan kini melepas pengait kain penutup kedua aset kembar Rayya, bahkan dia sudah berhasil menyingkirkan kain itu dari tubuh Rayya.
Rayya sampai membelalakkan matanya saat tangan Ramadhan sesudah mengeluarkan bra nya itu dan melemparnya ke keranjang pakaian kotor di kamar mandinya itu. Rayya merasakan tangan Ramadhan memainkan kedua asetnya semakin membuat tubuhnya terasa kaku.
Dari cermin Ramadhan dapat melihat wajah Rayya yang sudah memerah atas perbuatannya dan dia sangat menikmati hal itu.
__ADS_1
" Aaaakkhh ..." tanpa sadar de sahan keluar dari bibir munggil Rayya saat tangan Ramadhan memainkan puncak asetnya, hingga dia meremas bajunya karena rasa geli ditambah rasa lain yang entah belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Ramadhan semakin bersemangat saat melihat Rayya sudah terpengaruh dengan tindakannya, membuat Ramadhan memilih mengangkat tubuh Rayya dan membawa Rayya keluar kamar mandi dan meletakan tubuh Rayya di atas tempat tidur.
Rama langsung mengungkung tubuh Rayya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Rayya.
" Jangan tegang, rileks saja, lakukan apa yang aku lakukan." Perlahan Ramadhan menautkan bibirnya ke bibir manis Rayya. Sementara Rayya seakan terpaku dengan bibir terus mengatup karena dia memang tidak berpengalaman untuk hal seperti itu.
Ramadhan yang melihat Rayya hanya terdiam tak membalas apa yang dimintanya kembali meremas dan memainkan puncak aset kembar Rayya hingga membuat wanita itu kembali mende sah dengan mulut terbuka, membuat Ramadhan segera mengeksplor rongga mulut Rayya dengan rakusnya, hingga Rayya akhirnya perlahan membalas apa yang dilakukan Ramadhan walaupun masih sangat kaku.
Ramadhan kini mengecup kening Rayya dan mulai membuka baju Rayya hingga kini pemandangan kedua bukit nampak jelas memenuhi pandangan Ramadhan sampai dia harus menelan salivanya.
Rayya yang melihat Ramadhan terlihat seperti orang yang kelaparan saat melihat kedua asetnya langsung menyilangkan kedua tangannya menutupi aset itu, karena dia merasa sangat malu walaupun Ramadhan adalah suaminya sendiri.
" Jangan ditutupi, aku senang menikmati pemandangan perbukitan yang indah. Aku ingin mendaki dan menguasai puncaknya." Ramadhan terkekeh membuat Rayya semakin bersemu merah. Ramadhan pun menyingkirkan tangan Rayya yang menutupi bagian tubuh Rayya. Dan setelah dia berhasil mengurai tangan Rayya yang menutupi kedua aset itu, dengan cepat bibir Ramadhan menguasai puncak aset sang istri dan tak butuh waktu lama kini rongga mulutnya berhasil menguasai milik Rayya.
Rayya yang merasa geli terus saja mende sah karena permainan yang dilakukan Ramadhan membuat serbuan ga irah seperti ingin memecahkan kepalanya.
" Kak ... uugghh ..." Rayya sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dan itulah tujuan Ramadhan, membuat Rayya pasrah atas dirinya.
Cukup puas dengan daerah seputar dada sang istri kini Ramadhan mulai turun ke bawah dengan mencium perut Rayya, tangannya pun mulai mengusap paha Rayya. Dia menatap Rayya yang memejamkan mata seraya menggigit bibirnya. Tangannya kini memasuki pakaian bagian bawah milik Rayya dan ingin menyentuh bagian inti Rayya apalagi saat dilihatnya istrinya sudah pasrah.
Tok tok tok
" Rayya! Ada Michelle sama Simone datang!"
Suara Azzahra dari luar kamar dan suara ketukan pintu membuat Rayya dan Ramadhan tersentak kaget hingga membuat mereka menghentikan aktivitas mereka.
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️