RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Pulang Ke Jakarta


__ADS_3

Seperti halnya Ramadhan yang berjumpa dengan Farah dan langsung menimbulkan gosip. Hal yang sama juga kini menimpa Rayya dan juga Luigi. Kehadiran mereka berdua di kantin kampus menarik perhatian mahasiswa lain, apalagi setelah mereka mengetahui informasi dari Ibu Maria jika Luigi adalah mahasiswa favorit di angkatannya. Dan berita itu pun sampai pula di telinga William, sang kakak.


Rayya baru melipat sajadahnya setelah melaksanakan sholat Maghrib saat terdengar William mengetuk pintunya.


" Kak Willy, ada apa?" tanya Rayya saat kakaknya itu kemudian masuk ke dalam kamarnya kemudian duduk di sofa kamar Rayya.


" Kakak dengar gosip tentang kamu di kantin kampus siang tadi," ucap William tanpa basa-basi membuat Rayya membulatkan bola matanya.


" Siapa pria itu dan di mana kenal dia sampai kamu bisa bersama dia di kantin siang tadi?" tanya William penuh selidik.


" Dia itu Luigi, Kak. Dan dia itu alumni kampus kita juga." Rayya mencoba menjelaskan yang dia tahu seputar Luigi.


" Lantas bagaimana kamu bisa bersama dia?" tanya William seperti seorang detective yang sedang menyelidiki suatu kasus.


" Tadi itu waktu Rayya baru keluar dari kelas ketemu sama dia, terus dia mengajak Rayya ke kantin." Rayya berkata jujur.


" Kenapa dia mengajak kamu? Apa kamu kenal dia sebelumnya?"


Rayya memperhatikan William, dia seperti menemukan sosok Gavin di dalam diri William jika sedang seperti ini.


" Kami bertemu sebelumnya di Grande Moschea beberapa waktu lalu."


" Dan kamu memberitahu dia jika kamu kuliah di sana?"


Rayya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan William.


" Rayya, kita ini sedang di negeri orang. Jangan sembarangan memberikan informasi tentang identitas kita kepada sembarang orang. Iya kalau dia memang orang baik, kalau dia bermaksud jahat bagaimana?"


" Tapi Luigi baik kok, Kak! Tadi saja dia terlihat akrab dengan Ibu kantin dan Ibu kantin juga menyambut Luigi dengan baik. Nggak mungkin dia itu orang yang nggak baik. Lagipula dia itu akan menjadi dosen di sana." Rayya menampik anggapan jika Luigi bukan orang baik. Walaupun dia merasa pria itu tiba-tiba saja menyatakan ingin menjadi pacarnya namun dia tidak melihat niat jahat dari Luigi terhadapnya.


" Dia dosen?" William justru terkesiap saat Rayya mengatakan jika Luigi itu dosen yang akan mengajar di kampus mereka.


***


" Dov'è Simone?" ( Di mana Simone ) Rayya sedari tadi tidak melihat keberadaan Simone, padahal pagi tadi dia sempat melihat pria itu datang menggunakan motornya.


" Simone in biblioteca," ( Simone ada di perpustakaan ) sahut Donna.


" Perché era solo in biblioteca? Di solito è sempre con te, Rayya." ( Kenapa dia sendirian di perpustakaan? Biasanya dia selalu bersamamu, Rayya ) tanya Monica heran karena biasanya Simone selalu bersama-sama Rayya.


" Sembra che sia geloso." ( Sepertinya dia cemburu ) celetuk Donna seraya terkekeh.


" Geloso perché?" ( Cemburu kenapa ) Monica mengeryitkan keningnya.


" A causa dei pettegolezzi su Raya con un bell'uomo in mensa due giorni fa." ( Gara-gara gosip tentang Rayya bareng cowok ganteng dua hari lalu di kantin ) Donna menjelaskan dugaannya.


" Perché dovresti essere geloso? Simone ed io non siamo parenti. Così è Luigi." ( Kenapa harus cemburu? Simone dan aku tidak ada hubungan. Begitu juga dengan Luigi ) tepis Rayya menganggap ucapan Donna tidak beralasan.


" Rayya, quando ti renderai che piaci a Simone?" ( Rayya kapan kamu akan menyadari jika Simone menyukaimu ) ucap Donna. Sikap Simone selama ini kepada Rayya memang menegaskan jika pria itu sangat menyukai Rayya tapi Rayya memang hanya menganggap sekedar sahabat kepada Simone.

__ADS_1


" Lascia perdere, vado in biblioteca." ( Lupakan saja, aku akan ke perpustakaan ) Rayya langsung melangkah ke arah perpustakaan untuk mencari keberadaan Simone.


Rayya memasuki ruang perpustakaan dan mencari sahabatnya itu. Rayya mendapati Simone sedang duduk dengan sebuah buku di hadapannya yang sedang dia baca. Rayya langsung duduk di samping Simone.


" Ciao, Simone ..." sapa Rayya dengan nada berbisik.


Simone yang mendapati Rayya duduk di sampingnya langsung terkesiap. Dia menoleh ke arah gadis itu yang sedang mengembangkan senyuman namun tak lama dia kembali serius dengan buku yang dibacanya.


Rayya yang melihat Simone tak merespon sapaannya langsung mengeluarkan kertas dan menulis sesuatu si atas kertas itu.


" Ti sei ripreso?" ( Kamu sudah sembuh ) Rayya menulis kalimat itu lalu meletakkan kertas itu di depan Simone namun Simone hanya melirik tak memberi respon.


" Sei arrabbiato con me?" ( Apa kamu marah denganku )


Rayya kembali menulis dan menyodorkan kertas yang ditulisnya tadi kepada Simone. Simone kembali hanya membaca tulisan Rayya namun pria itu tetap bergeming tak menanggapi Rayya.


Rayya kembali mengambil kertas yang dia tulis itu lalu kembali menuliskan kembali kalimat di atas kertas untuk ketiga kalinya.


" È per via di Luigi?" ( Apa ini karena Luigi ) Rayya kembali menyodorkan kertas itu kepada Simone dan lagi-lagi Simone hanya membaca tulisan Rayya. Namun kali ini dengusan nafas kasar Simone terdengar di telinga Rayya.


" Mi scusa per averti disturbato." ( Maaf kalau aku mengganggumu ) Rayya kembali menuliskan kalimat terakhir di kertas itu lalu pergi dari perpustakaan setelah menyerahkan kertas itu kembali kepada Simone.


Rayya bergegas keluar dari perpustakaan dan berjalan ke arah taman kampus. Dia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi taman. Sikap Simone yang seperti itu tentu saja membuatnya merasa sedih. Selama ini pria itu tidak pernah mengacuhkannya seperti ini, namun kali ini Simone benar-benar seperti tak ingin berbicara bahkan menghindari dirinya.


Rayya menatap beberapa mahasiswa yang terlihat sedang berbincang dan bercanda tak jauh darinya. Setelah dua hari tak bertemu Simone karena Simone baru saja sembuh sepertinya dia sangat merindukan sosok sahabatnya itu. Sahabat yang selalu ada di saat dia bahagia bahkan saat dia sedih sekalipun.


Sementara dari arah kejauhan Simone menatap Rayya yang duduk termenung di kursi taman. Sebenarnya saat Rayya pergi meninggalkan perpustakaan, dia pun tak lama ikut keluar mengikuti langkah Rayya. Dia sebenarnya tidak tega mengacuhkan Rayya seperti sekarang ini. Namun rasa cemburu dengan kehadiran Luigi membuatnya melakukan hal bodoh seperti ini. Dia tidak menampik jika kehadiran Luigi menimbulkan rasa khawatir di hatinya. Karena dia yang selama ini berusaha menaklukan hati Rayya namun terhalang keyakinan sepertinya akan dikalahkan oleh Luigi yang sepertinya juga tertarik pada Rayya.


Rayya mendongakkan kepalanya saat terdengar suara Simone yang kini sudah berdiri di dekat kursi dia duduk.


" Simone ..." Bola mata Rayya kini nampak berkaca-kaca saat mendapati Simone kini ada di dekatnya. Rayya langsung menyeka air matanya agar tidak tumpah di pipinya.


" Ehi, perché piangi?" ( Hei, kenapa menangis ) Simone terkejut saat mendapati Rayya yang menangis.


" Pensavo fossi arrabbiato con me e non volessi più essere mio amico." ( Aku pikir kau marah padaku dan tidak ingin lagi menjadi temanku ) Rayya mengatakan alasannya dia menangis.


" Ovviamente siamo ancora amici. Sono ancora tuo amico e tu sei ancora mia amica." ( Tentu kita masih berteman. Aku tetap temanmu dan kau tetap menjadi temanku ) Simone mencoba meyakinkan Rayya yang nampak sedih karena sikapnya tadi.


" Scusa se mi comporto come un bambino in quel modo. Sono davvero geloso per la presenza di Luigi." ( Maaf jika aku bersikap kekanakkan seperti itu. Aku memang cemburu dengan kehadiran Luigi ) Simone mengakui kesalahannya.


" Sei il mio migliore amico, Simone. Sei più importante di Luigi," ( Kamu adalah sahabatku, Simone. Kamu lebih penting dari Luigi ) Rayya kini mengusap lengan Simone.


" Grazie ..." Simone memaksakan untuk tersenyum. Karena bagi Rayya, dia akan selamanya dianggap sahabat.


" A proposito, Michelle ti ha chiamato?" ( By the way, apa Michelle menghubungimu ) tanya Rayya kemudian teringat misinya untuk mendekatkan Simone dengan Michelle.


" Si." Simone menjawab singkat.


" Michelle a piaci, Simone. Non credo che ci sia qualcosa di sbagliato nel comunicare con Michelle." ( Michelle menyukaimu, Simone. Aku rasa tidak ada salahnya kamu menjalin komunikasi dengan Michelle )

__ADS_1


Simone menoleh ke arah Rayya seraya mengeryitkan keningnya.


" Mi vuoi vicino a Michelle?" ( Kau ingin aku dekat dengan Michelle )


" Niente di male. Michelle è una bella donna. Ed è anche la sorella di William." ( Tidak ada salahnya. Michelle wanita yang baik. Dan dia juga adik Kak Willy ) Rayya terkekeh membuat Simone memutar bola matanya.


***


Gavin baru saja keluar dari ruang metting dan kembali ke ruangannya saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dia lalu mengambil benda pipih yang diletakkannya di atas meja.


" Assalamualaikum ... Apa? Baik aku ke sana sekarang." Gavin langsung mematikan panggilan telepon lalu dengan tergesa dia keluar dari ruang kerjanya.


Sementara itu di Roma


Semua mahasiswa sedang mendengarkan materi yang sedang diterangkan oleh Mr. Matteo ketika tiba-tiba suara pintu kelas diketuk membuat pandangan semua orang tertuju ke arah pintu. Dan nampak William yang membuka pintu ruangan itu.


" Kak Willy?" Rayya nampak heran saat mendapati Kakaknya yang mengetuk pintu kelas. Apalagi saat William masuk dan berbicara dengan Mr. Matteo.


" Che cos'è?" ( Ada apa ) bisik Simone yang duduk di sebelah Rayya.


" Non lo so." ( Aku tidak tahu ) sahut Rayya.


" Rayya, puoi lasciare la classe." ( Rayya, kau bisa meninggalkan kelas ) ujar Mr. Matteo kemudian.


Rayya menoleh ke arah Simone yang juga menoleh ke arah Rayya.


" Si, Signore." Rayya kemudian bangkit dan menghampiri William.


" Grazie Signore. Mi scusi." ( Terima kasih, Pak. Permisi ) William langsung berpamitan kepada Mr. Matteo lalu berjalan keluar kelas.


" Mi Scusi, Signor Matteo." ( Permisi Pak Matteo ) Rayya pun berpamitan kepada Mr. Matteo kemudian menyusul langkah William keluar dari kelas.


" Ada apa, Kak?" tanya Rayya saat mereka berdua sudah berada di luar kelas.


" Kita pulang ke Jakarta sekarang." ujar William dengan nada serius.


" Pulang ke Jakarta? Memangnya ada apa, Kak?" Tiba-tiba rasa khawatir mulai mendera hati Rayya.


" Tidak ada apa-apa, tapi Daddy menyuruh kita pulang sekarang. Cepatlah, kita pakai pesawat pukul 10.55." William mempercepat langkahnya.


Rayya semakin dibuat penasaran. Dia yakin William menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dia ketahui sekarang ini. Entah apa yang terjadi di Jakarta, tapi Rayya merasakan sesuatu yang buruk terjadi di sana.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Mohon maaf, karena lagi ga fit jadi telat up nya 🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2