
Ramadhan mengeryitkan keningnya mencoba mengingat sosok wanita yang tadi menyebut namanya. Dia merasa tidak mengenali wanita itu, namun wajahnya nampak tidak terlalu asing untuknya. Dia juga merasa seperti pernah mengenal wanita itu tapi tidak tahu di mana dan siapa.
" Maaf, Mbak kenal saya?" tanya Ramadhan mencoba untuk bertanya. Walaupun dia sadar beberapa orang mungkin mengenalnya di media, namun dia merasa wanita itu pasti mengenal dirinya secara personal.
" Apa nama kamu Ramadhan?" Wanita itu pun nampak ragu menanyakan nama Ramadhan.
" Iya benar. Nama saya Ramadhan, Mbak. Mbak ini siapa, ya?" tanya Ramadhan kembali.
" Apa Mama kamu pernah menikah dengan Papa Arya?" tanya wanita tadi kepada Ramadhan.
Ramadhan menaikkan kedua alis matanya saat mendengar nama Arya disebut oleh wanita itu. Ramadhan lalu menatap lekat wajah wanita di hadapannya, sepertinya dia sudah menemukan siapa wanita yang menyapanya ini.
" Kak Putri?" Ramadhan menebak jika wanita yang menyebut nama Papa Arya itu adalah Putri, saudara tirinya. Ramadhan memang tidak bisa mengingat wajah Putri karena saat mereka berpisah usia dia masih di bawah lima tahun. Namun Anindita yang masih menyimpan foto-foto kenangan bersama Arya dan Putri, membuatnya bisa menebak jika wanita itu adalah Putri. Tentu saja Anindita tidak akan menghilangkan foto keluarga saat masih menikah dengan Arya.
Apalagi dari pernikahannya itu dikarunia seorang anak yaitu Arka. Bagi Anindita, Arka berhak tahu siapa Papa dan juga saudara-saudaranya.
" Iya, aku Putri. Kamu benar Rama anaknya Mana Anin, ya?" tanya Putri kembali.
" Iya, Kak. Kak Putri apa kabar?" Ramadhan kemudian bersalaman dan memeluk Putri layaknya saudara yang sudah lama tidak berjumpa.
Tentu saja tindakan Ramadhan yang memeluk Putri membuat Rayya dan pria kekasih putri merasa mengeryitkan keningnya.
" Kakak baik, Rama." Putri menjawab pertanyaan Ramadhan.
" Sayang, dia ini siapa?" Pria yang bersama Putri itu menatap curiga ke arah Ramadhan karena Ramadhan berpelukan dengan Putri.
" Oh, iya kenalkan ini, Pih. Jadi Papa aku dulu sempat menikah dengan Mamanya Rama sebelum meninggal." Putri mengenalkan Ramadhan kepada kekasihnya itu karena sepertinya kekasihnya itu terlihat cemburu saat melihat dia disentuh pria lain.
" Halo, Om. Saya Rama ..." Ramadhan memperkenalkan dirinya kepada Pria yang dia duga adalah Papa tiri dari Putri.
" Hmmm, Rama ... dia ini Mas Danu. Dia kekasih aku ..." Putri sepertinya memahami apa yang dipikirkan oleh Ramadhan.
Ramadhan terkesiap saat mengetahui ternyata dia salah menduga.
" Oh ... Maaf, Mas Danu." Ramadhan langsung meminta maaf kepada Danu.
__ADS_1
" It's Oke ..." Danu menyahuti.
" Mama Anin apa kabar, Rama?" tanya Putri kemudian.
" Mama sehat alhamdulillah, Kak. Mama Kak Putri sendiri bagaimana kabarnya?"
" Mama Rachel sekarang tinggal di Swiss bersama suaminya." Putri menceritakan sekilas tentang Rachel. Wanita yang sempat tertarik pada Ricky.
" Oh gitu, kalau Kak Putri sendiri tinggal di mana sekarang ini?" tanya Ramadhan kemudian.
" Kakak tinggal di Bali, di Jakarta ini menemani dia bertemu dengan relasi bisnis. Kebetulan kami berdua suka sekali dengan lukisan makanya saat mendapat info ada pembukaan pameran di sini langsung pergi kemari." Putri menjelaskan tujuannya berada di Jakarta.
" Oh iya, Kak. Kenalkan ini Rayya. Dia tunangan aku." Ramadhan kemudian mengenalkan Rayya kepada Putri.
" Oh, jadi pelukis ini tunanganmu, Rama?" tanya Putri yang tidak terlalu mengikuti perkembangan gosip hingga dia juga tidak mendengar soal pertunangan Ramadhan dan Farah sebelumnya.
" Hai, Kak. Senang bisa bertemu dengan Kakak." Rayya lalu mengulurkan tangannya yang disambut dengan baik oleh Putri.
" Oh ya, mumpung Kak Putri di Jakarta mampirlah ke rumah, Mama pasti senang bisa bertemu dengan Kakak. Walaupun Papa Arya sudah nggak ada, tapi silaturahmi di antara kita jangan sampai terputus, Kak." Ramadhan seketika teringat akan Arka, adiknya yang juga adik satu ayah dengan Putri.
" Arka?"
" Waktu Papa Arya meninggal, Mama Anin 'kan sedang hamil, apa Kak Putri lupa?" Ramadhan mencoba membuka ingatan Putri.
" Oh, iya ... aku sampai melupakan hal itu. Dia sudah besar sekarang, ya?"
" Sudah hampir dua puluh tiga tahun. Arka sangat mirip dengan Papa Arya, kalau Kak Putri bertemu dengan Arka, Kakak pasti seperti melihat Papa Arya."
" Benarkah?"
" Mainlah ke rumah, Kak. Arka pasti akan senang bertemu dengan Kak Putri. Kak Putri 'kan kakak Arka juga." Ramadhan membujuk Putri untuk berkunjung ke rumahnya.
" Ya sudah, kamu kasih tahu saja alamatnya di mana." Putri lalu menoleh ke arah Danu. " Pih, nggak apa-apa 'kan nanti kita mampir sebentar ke rumah Mama Anin?" Putri meminta ijin kepada Danu.
" Ya sudah, nanti malam saja kita ke sana." Danu akhirnya mengijinkan Putri bertemu dengan Anindita dan Arka.
__ADS_1
" Ini kartu nama aku, Kak. Hubungi aku kalau Kakak mau ke rumah nanti aku share tempatnya." Ramadhan kemudian menyodorkan kartu namanya yang dia ambil dari dompetnya. Dan putri pun memberikan kartu nama dia kepada Ramadhan.
***
" Aku nggak menyangka kalau Kak Putri itu saudara tiri Kak Rama," ujar Rayya kepada Ramadhan saat mereka menunggu pesanan makanan yang disiapkan oleh pelayan restoran.
" Iya, kami memang tidak pernah bertemu setelah Papa Arya meninggal, karena Kak Putri dibawa oleh Mamanya." Ramadhan menjelaskan.
" Pasti Kak Arka senang bisa bertemu dengan Kak Putri nanti," sahut Rayya.
" Hmmm, tapi aku nggak menyangka Kak Putri mempunyai kekasih pria yang jauh lebih dewasa darinya. Tadinya aku pikir Danu itu Papa tirinya Kak Putri." Ramadhan terkekeh mengingat dia tadi salah paham.
" Kenapa Kak Putri bisa menjalin hubungan dengan pria itu ya, Kak?" Rayya pun yang sedari tadi merasa penasaran mengutarakan rasa penasarannya kepada Ramadhan.
" Mana aku tahu, aku juga baru bertemu lagi dengan Kak Putri," sahut Ramadhan. " Sudah deh, jangan bahas Kak Putri lagi. Bagaimana pameran lukisannya? Kalau aku tadi nggak datang menemuimu, pasti kamu nggak ingat mengisi perut dan asyik meladeni para pengunjung gallery," sindir Ramadhan kemudian.
Rayya terkekeh mendengar protes yang dilancarnya Ramandhan kepadanya.
" Aku nggak enak meninggalkan mereka, Kak. Tadi juga cuma sebentar aku tinggal untuk sholat saja," ucap Rayya.
" Hmmm, kebiasaan buruk. Aku nggak mau kamu nantinya jadi sakit. Kita ini sebentar lagi akan menikah, aku nggak mau terjadi sesuatu dengan kamu, Rayya." Ramadhan merasa khawatir akan kesehatan Rayya.
" Iya, Kak." Rayya tersenyum melihat Ramadhan yang begitu perhatian kepadanya. Ini bukan pertama kalinya ada pria yang begitu perhatian kepadanya. Simone dan Luigi pun begitu perhatian terhadapnga. Namun perhatian yang diberikan oleh Ramadhan sekarang ini lebih spesial untuknya karena didapat dari pria yang juga dicintainya. Dan hal itu membuat hati Rayya merasa bahagia.
Tak lama makanan yang dipesan oleh Rayya dan Ramadhan pun sudah disajikan oleh pelayan restoran dan mereka pun menyantap makanan itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1