
Ramadhan mengetuk meja dengan jari-jarinya. Dia masih merasa tak habis pikir dengan sikap Rayya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih apalagi marah. Wanita itu tetap menunjukkan sikap tenang.
Ramadhan merasa sikap yang dia jumpai dari Rayya tadi sama persis dengan sikap Rayya tiga tahun lalu saat dia mengajaknya bicara dan melakukan kesepakatan soal penolakan perjodohan.
" Kenapa Rayya nampak biasa saja? Dia terlihat tenang, tidak menunjukkan kekesalan karena sikapku. Dulu pun dia bersikap seperti ini. Apa jangan-jangan sekarang ini juga dia sedang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya kepadaku?"
Ramadhan nampaknya masih penasaran dengan sikap Rayya. Sikap Rayya yang dia rasakan sekarang justru membuat dia serba salah.
Ramadhan mendengus kasar. Entah mengapa dirinya jadi kepikiran soal Rayya.
" Aaarrgghh ...!" Ramadhan mengacak rambutnya karena dia merasa dibuat bingung dengan sikap Rayya.
" Kenapa? Apa kau sedang frustasi?"
Suara Dirga di pintu ruang kerja Ramadhan membuat anak muda itu tersentak.
" Om ..." Ramadhan segera menyisir kembali rambutnya dengan jari tangannya.
" Apa ini ada hubungannya dengan putri dari Gavin?" tanya Dirga kemudian berjalan menuju sofa dan mendudukkan tubuhnya seraya berpangku kaki.
Ramadhan mendengus kasar, dia pun kemudian mendekat ke arah Dirga dan duduk di kursi sebelah sofa yang diduduki oleh Dirga.
" Iya, Om."
" Sebenarnya apa yang membuatmu menolak dijodohkan dengan Rayya? Dia seorang wanita yang cantik. Kalau Om punya anak lelaki yang lebih dewasa dari usia Rayya, Om akan memilih dia untuk menjadi menantu Om." Dirga pun tidak mengerti kenapa Ramadhan sampai menolak dijodohkan dengan Rayya. " Apa hal ini ada hubungannya dengan kedekatanmu selama ini dengan Farah?" Dirga memandang curiga.
" Tidak, Om. Justru saat itu Rama belum kenal dengan Farah," tepis Ramadhan.
" Lalu apa masalahnya?" tanya Dirga lagi. " Biasanya kalau pria menolak dijodohkan mungkin karena dia mempunyai wanita lain yang dicintai. Apa kau pun seperti itu? Tapi selama ini Om tidak pernah melihat kau menggandeng teman wanita."
" Iya karena Rama memang menyukai wanita lain, Om. Karena itu Rama menolak dijodohkan dengan Rayya." Ramadhan jujur mengatakan alasan dia menolak perjodohan.
" Lalu ke mana wanita yang kau sukai itu? Apa dia membalas perasaanmu?" tanya Dirga penasaran dengan wanita yang dimaksud oleh Ramadhan.
Ramadhan terdiam, dia ingin mengatakan jika Kayla lah wanita yang selama ini dia idamkan. Namun sekarang ini rasanya percuma membuka tentang itu. Ricky sudah sangat marah kepadanya karena penolakan kepada Rayya. Dia tidak ingin Papanya itu semakin marah lagi, kalau dia mengatakan kepada Dirga, jika wanita yang menjadi penyebab dia menolak dijodohkan dengan Rayya adalah keponakan dari pria yang saat ini sedang berhadapan dengannya.
" Dia nggak membalas perasaan Rama, Om." Suara Ramadhan terdengar sangat menyedihkan.
" Apa kau masih mengharapkan wanita itu?"
" Entahlah, Om." Ramadhan mengedikkan bahunya.
" Kalau kau ingin mengikuti saran Om, sebaiknya kau perbaiki kesalahanmu terhadap Rayya. Tidak ada salahnya kau mencoba menyambung kembali apa yang pernah direncanakan oleh orang tua kalian. Rayya itu wanita yang baik, Rama." Dirga kali ini memberikan saran terbaiknya.
" Maksud Om?"
" Om ingin kamu bisa menerima Rayya sebagai pendampingmu."
" Tapi, Om ...."
__ADS_1
" Kau ingin mengatakan kau tidak bisa memberikan cinta lagi? Kau tahu? Ada kalanya kita merasa kecewa karena tidak mendapatkan orang yang kita idamkan, tapi kadang kita justru mendapatkan kebahagiaan dari orang lain, lebih dari yang kita inginkan." Dirga mencoba membuka jalan pikiran Ramadhan.
" Tapi Papa dan Om Gavin sudah sangat marah kepada Rama, Om. Terutama Om Gavin."
" Tentu saja Gavin akan marah. Om pun akan melakukan hal yang sama jika ada yang memperlakukan Fa seperti itu." Dirga kemudian bangkit dari duduknya.
" Semua orang menganggapmu bersalah. Sekarang ini saatnya kamu menunjukkan pada mereka kalau kau bukanlah pecundang. Ini ujian untukmu, Rama. Jika Gavin sekarang menentangmu, tunjukkan pada dia jika kau layak dipilih untuk menjadi menantu keluarga Richard. Om akan mendukungmu, walaupun Om yakin itu tidak akan mudah."
" Kau harus berusaha lebih keras. Jika kau berhasil merebut hati Gavin kembali, Om yakin kebahagiaanlah yang akan datang menjemputmu." Dirga kemudian berjalan ke arah pintu.
" Kita akan bertemu relasi bisnis dari Hong Kong jam dua nanti. Kau bersiaplah ..." Dirga akhirnya keluar dari ruangan kerja Ramadhan dan meninggalkan assistennya itu sendiri.
***
" Ray ...! Rayya masih marah sama Kia? Ini sudah tiga hari, nggak baik mendiamkan orang apalagi saudara sendiri lebih dari tiga hari, lho!"
Azkia duduk di samping Rayya yang sedang duduk di ayunan gantung di taman samping rumah Dad David.
Rayya menoleh sepupunya yang sedang memasang wajah sedih. Dia lalu merangkulkan tangannya ke pundak Azkia.
" Rayya minta maaf ya, Kia. Rayya terlalu emosi sampai marah ke Kia."
" Kia juga minta maaf sama Rayya, karena Kia nggak bisa jaga rahasia Rayya." Azkia menyampaikan permintaan maafnya.
" Lain kali jangan seperti itu, Kia. Kia tahu? Sekarang Daddy aku marah dan membenci Kak Rama. Padahal Kak Rama tak sepenuhnya bersalah dalam hal ini." Rayya tetap tak ingin menyalahkan Ramadhan dalam hal ini.
" Rayya nggak membela, tapi dalam masalah ini memang bukan hanya Kak Rama yang bersalah. Tapi orang tua kami yang memaksakan kehendaknya tanpa berdiskusi lebih dahulu dengan aku maupun Kak Rama. Jadi jangan selalu salahkan Kak Rama untuk hal ini."
" Oh ya, apa Kak Rama sudah hubungi Rayya? Kemarin itu Kak Rama pernah minta nomer telepon Rayya, tapi nggak Kia kasih. Biarkan saja Kak Rama suruh berusaha sendiri mencari nomer Rayya." Azkia nampaknya masih kesal kepada Ramadhan.
Rayya mengeryitkan keningnya mendengar cerita Azkia, karena dia berpikir jika Azkia lah yang telah memberikan nomer teleponnya kepada Ramadhan.
" Kia nggak kasih nomer Rayya ke Kak Rama?"
" Nggak, dong! Enak saja, sudah menyakiti hati Rayya, masa dengan mudahnya mendapatkan nomer Rayya," sahut Azkia.
" Lalu Kak Rama dapat nomer Rayya dari mana ya?"
" Memang Kak Rama sudah telepon Rayya?"
" Sudah, Kak Rama bahkan datang ke sini dan bicara dengan Daddy."
" Kak Rama masih berani menghadap Uncle Gavin?" Azkia membulatkan bola matanya. " Masih berani juga dia datang kemari."
" Kak Rama sudah berniat baik dengan meminta maaf langsung kepada Daddy dan Rayya. Jadi mulai sekarang Kia nggak usah menyudutkan Kak Rama, ya! Rayya nggak enak sama Om Ricky dan Tante Anin, hanya karena masalah ini hubungan silaturahmi antara keluarga kita dengan keluarga Om Ricky jadi terganggu." Rayya yang memang berhati mulia meminta Azkia agar berhenti menyalahkan Ramadhan.
" Ya ampun, Rayya. Kamu ini baik banget, sih! Menyesal banget tuh Kak Rama menolak wanita sebaik kamu, Ray." Azkia kini memeluk erat sepupunya. Dia memang sangat salut dengan sikap pemaaf Rayya yang mungkin tidak bisa dia tiru.
***
__ADS_1
Hari ini adalah hari ke delapan Rayya berada di Indonesia. Setelah semalam mereka melaksanakan tahlil tujuh hari Dad David, Gavin dan keluarga pun kembali ke rumahnya. Dan sesuai yang dijadwalkan besok rencananya Rayya akan kembali ke Roma.
William yang tiga hari lalu sudah lebih dahulu terbang ke Italia karena ada tugas yang harus dia kerjakan di sana. Maka Gavin lah yang akan mengantar putrinya itu kembali ke Roma.
" Rayya, apa Mommy boleh ikut mengantar Rayya kembali ke Roma?" tanya Azzahra saat melihat putrinya itu sedang mengepak keperluannya untuk kepulangannya esok petang.
" Mommy ingin antar Rayya juga? Memangnya Daddy kasih ijin? Mommy bilang capek kalau perjalanan jauh," ujar Rayya menanggapi keinginan Mommy nya itu.
" Mommy belum bilang tapi Mommy ingin sekali ikut antar Rayya ke sana."
" Mom, Daddy itu hanya ingin mengatar bukan untuk berlibur, lho! Kalau Kak Willy nggak pulang duluan saja, mungkin Rayya akan pulang sama Kak Willy bukan sama Daddy." Rayya mencoba menjelaskan kepada Azzahra, karena dia kasihan kalau Mommy nya itu kelelahan karena harus melakukan perjalanan dengan waktu yang cukup lama di pesawat.
" Rayya, Mommy itu ingin kenal sama Luigi. Kalau Mommy ikut antar Rayya, pasti Mommy bisa bertemu dengan dosen ganteng itu." Azzahra nampak antusias membicarakan soal Luigi. Sepertinya rasa penasaran Azzahra begitu kuat hingga dia ingin bertemu pria itu.
" Siapa dosen ganteng? Apa kau sedang membicarakan tentang suami Alexa, Honey?"
Suara Gavin yang tiba-tiba terdengar di dalam kamar Rayya membuat Azzahra dan Rayya sama-sama tersentak kaget.
" Apa yang sedang kalian bicarakan? Siapa dosen ganteng yang kau maksud? Yoga? Kau masih mengagumi dia?" tanya Gavin penuh selidik sambil berjalan mendekati dua orang wanita paling berharga dalam hidupnya.
" Bicara apa sih, By? Jangan ngaco, deh!" sangkal Azzahra merasa malu masa lalunya disinggung Gavin di depan putri mereka.
" Mommy ini ingin ikut antar Rayya ke Roma, Dad." Rayya yang melihat Gavin mencurigai Azzahra langsung mengatakan hal yang sebenarnya soal keinginan Mommy nya itu.
" Ikut ke Roma untuk apa?" Gavin justru semakin curiga dengan keinginan istrinya yang ingin ikut menemaninya mengantar Rayya kembali kuliah di Italia.
" Mommy takut kalau Daddy terpikat bule-bule cantik dan seksi di sana kalau Daddy pergi sendirian, Dad." Rayya berusaha menutupi tujuan Azzahra ingin ikut mengantarnya.
" Benar begitu, Honey?" Gavin lalu memeluk Azzahra dengan erat. " Kau tidak perlu khawatirkan aku, Honey. Beribu wanita cantik dan seksi yang lewat di depanku tak akan sanggup menggoyahkan cintaku kepadamu, Honey. Kau adalah istriku, ratuku, permaisuriku. Aku sudah tidak bisa berpaling pada wanita manapun selain kamu." Gavin mencium kening Azzahra.
" Tapi, By ...."
" Tapi apa, Honey? Kau masih ragu kepadaku? Kau tidak percaya padaku sampai ingin mengawalku mengantar Baby?"
" Aku penasaran sama Luigi,"
" Apa??"
Gavin langsung melotot saat Azzahra dengan jujurnya mengatakan jika Azzahra merasa penasaran dengan sosok pria yang sedang berusaha mendekati putrinya itu. Sementara Rayya langsung menepuk keningnya mendengar kejujuran dari Mommy nya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1