
Keputusan Rayya untuk datang ke pesta ulang tahun Farah ternyata suatu kesalahan. Karena di pesta itu Rayya kembali mendapatkan kekecewaan, hingga dia memutuskan untuk meninggalkan pesta itu secepat mungkin, sebab dia merasa tak tahan melihat Farah yang sepertinya mencari kesempatan bersikap mesra terhadap Ramadhan.
Ramadhan sendiri sebenarnya merasa risih dengan sikap Farah yang langsung datang menyambutnya dengan berlebihan, apalagi saat itu mata para wartawan sudah pasti mengarah kepada mereka berdua.
" Farah, jangan seperti ini, Singkirkan tanganmu! Banyak wartawan di sini, mereka pasti akan berpikir macam-macam!" ketus Ramadhan namun dengan suara pelan.
" Biarkan saja mereka akan berpikiran seperti apa!" Farah seolah tidak memperdulikan Ramadhan yang benar-benar merasa tidak nyaman dengan sikapnya.
Walaupun kedatangan Ramadhan adalah ingin bertemu dengan Rayya, namun dia berharap Rayya tidak melihatnya saat dia sedang bersama Farah seperti ini. Namun ternyata harapan Ramadhan tak terwujud, karena saat ini Farah justru membawanya mendekat ke arah Rayya dan Luigi berdiri.
Ramadhan langsung terperanjat saat dia melihat Rayya yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit dia mengerti.
Setelah mereka saling menyapa dengan sangat canggung, Rayya pun memilih berpamitan ingin meninggalkan acara party itu.
" Hmmm, Kak Farah, sepertinya aku nggak bisa lama di sini. Aku pamit pulang saja, ya!"
Ramadhan sangat terkejut saat Rayya berpamitan kepada Farah.
" Lho, kok kamu buru-buru sekali pulangnya, Rayya? Ini masih sore, lho! Baru juga jam sembilan." Farah mencoba menahan Rayya yang ingin berpamitan pulang.
" Hmmm, aku janji sama Daddy aku nggak akan lama, Kak. Maaf sekali ya, Kak." Rayya berasalasan.
" Kenapa kau terburu-buru pulang, Baby?"
Suara Gavin yang tiba-tiba saja terdengar membuat empat orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah suara Gavin.
" Dad? Dad kenapa bisa ada di sini?" tanya Rayya heran.
Beberapa waktu sebelumnya ...
Selepas mengantar Rayya, Gavin hendak meninggalkan hotel namun tiba-tiba seseorang menyapanya.
" Tuan Gavin ...!!"
Gavin segera menarik langkahnya kembali saat mendengar suara orang yang menyapanya itu. Gavin mendapati seorang pria sebaya dengannya namun dengan warna rambut yang sudah dominan dengan warna putih bersama seorang wanita dan dua orang anak remaja.
" Oh, hai Tuan Ronald ... apa kabar?" Gavin yang mengenali orang yang tadi menyapanya langsung menyapa balik orang yang bernama Ronald tadi.
" Puji Tuhan, saya baik-baik saja. Anda sendiri bagaimana Tuan Gavin? Semakin sukses saja bisnis perhotelannya, ya?"
" Ya Alhamdulillah, Tuan Ronald. Semua ini kerja keras Daddy saya." Gavin tetap merasa semua kesuksesan itu tak luput dari peran besar Dad David.
" Oh ya, Tuan David. Saya turut berduka atas apa yang terjadi dengan Tuan David."
" Terima kasih, Tuan Ronald. Oh ya, Anda sedang menginap di sini?"
" Benar, Tuan Gavin. Kami sedang berlibur di Jakarta ini. Baru siang tadi saya bersama keluarga sampai di hotel milik Tuan Gavin ini." Ronald menceritakan.
" Kenapa Anda tidak memberitahu saya jika Anda akan menginap di sini, Tuan Ronald?"
" Saya tidak ingin merepotkan Anda, Tuan Gavin. Oh ya, Anda masih ada di hotel sampai malam begini, Tuan Gavin?" tanya Ronald karena melihat Gavin masih ada di hotelnya.
" Ah tidak, Tuan. Saya baru saja mengantar putri saya karena ada temannya yang mengadakan pesta ulang tahun di hotel saya ini."
" Oh begitu ..." Ronald kemudian menyuruh istri dan anaknya yang baru saja menyantap hidangan makan malam untuk kembali lebih dahulu ke kamar, sementara dia sendiri bersama Gavin melanjutkan obrolan di rooftop cafe hotel tersebut.
Sekitar satu jam berselang, Gavin menyudahi obrolannya dengan Ronald. Dia berniat meninggalkan hotelnya saat dia melihat sosok Ramadhan berjalan dan bertanya kepada salah seorang pegawainya.
" Mas, maaf kalau ruang ballroom di sebelah mana, ya?"
Gavin mengeryitkan keningnya saat mendapati sosok pemuda yang sangat dia kenal itu.
" Rama? Ada apa dia kemari?" Gavin bertanya-tanya sendiri. Dia lalu bergegas mengikuti langkah Ramadhan, karena dia mendengar Ramadhan menanyakan arah ballroom sementara putrinya sendiri berada di sana.
" Maaf apa Bapak ini membawa invitation card nya?" tanya salah satu anak buah Farah yang berjaga di depan saat Gavin hendak masuk ke dalam ballroom.
" Apa saya harus membawa itu kemari?" Gavin yang merasa jika dia sebagai pemilik hotel itu namun dihalangi masuk ke dalam ballroom merasa tersinggung.
" Maaf, Pak. Hanya orang yang menerima undangan yang diperbolehkan masuk ke dalam," sahut orang yang berjaga itu.
" Selamat malam, Tuan Gavin." salah seorang petugas hotel yang melihat Gavin langsung menyapa Gavin dengan santun.
" Malam, saya ingin menemui putri saya di dalam. Apa saya harus membawa undangan juga?" tanya Gavin kepada pegawainya.
" Oh, maaf, Tuan. Ini hanya salah paham." Pegawai itu langsung menyampaikan permohonan maafnya kepada Gavin. Dia lalu menjelaskan kepada orang dari Farah tentang siapa Gavin sebenarnya hingga akhirnya anak buah Farah mempersilahkan Gavin untuk masuk ke dalam ballroom.
***
Rayya terlihat kaget dengan kehadiran Gavin di pesta ulang tahun Farah.
" Dad? Kenapa Dad ada di sini?" tanya Rayya.
__ADS_1
" Memang kenapa, Baby? Daddy sangat khawatir denganmu, walaupun sudah ada Luigi di dekatmu." Gavin menjawab enteng.
Tak beda dengan Rayya, Ramadhan pun nampak terkejut dengan kehadiran Gavin malam itu.
" Om, Om Gavin apa kabar?" Ramadhan berusaha tetap ramah menyapa dan juga menyalami tangan Gavin.
" Oh, kau Rama ... ada di sini juga kau rupanya?" Gavin sengaja berpura-pura tidak tahu dengan keberadaan Ramadhan di pesta itu.
" Lho, ini Papanya Rayya, ya?" Farah yang mengetahui pria paruh baya yang datang adalah Daddy dari Rayya langsung memotong percakapan Gavin dan Ramadhan.
" Benar, saya adalah Daddy dari Rayya dan pemilik dari hotel ini." Gavin tanpa sungkan mengenalkan dirinya.
" Om ini pemilik hotel ini? Wah, suatu kehormatan Om bisa datang di pesta saya ini, Om." Farah nampak senang saat mengetahui jika yang ada di hadapannya adalah pemilik hotel berbintang yang satu ruangan ballroomnya dia sewa untuk mengadakan cara brithday party nya. Dia pun kembali melingkarkan tangannya di lengan Ramadhan. Ramadhan berusaha menepis tangan Farah, namun Farah seolah tak ingin melepaskan Ramadhan.
Hal itu tentu saja tertangkap mata Gavin dan juga Rayya. Rayya sengaja langsung memalingkan wajahnya melihat sikap Farah terhadap Ramadhan, sementara Gavin langsung tersenyum sinis.
" Saya hanya ingin menemani putri saya saja." Gavin mengatakan alasannya ada di sana.
" Wah, Om ini sungguh luar biasa, ya? Sampai menemani Rayya segala, padahal sudah ada Luigi bersama Rayya," ucap Farah merasa kagum dengan sosok Gavin.
" Tentu saja, dia putri kesayangan saya satu-satunya." Kini Gavin melingkarkan lengannya di pundak Rayya. " Saya harus mengawasi mereka berdua karena saya takut putri kesayangan saya ini akan diculik dan dibawa pulang Luigi ke Italia." Gavin berkelakar.
" Dad ..." Rayya menyela perkataan Gavin.
" Anak muda itu menyukai putri saya. Dia bahkan rela berkorban jauh-jauh datang dari Italia ke Jakarta. Dia sedang membuktikan keseriusannya terhadap Rayya. Sudah pasti putri saya ini akan mudah luluh dengan semua perlakuan istimewa dia terhadap putri saya. Saya takut dia akan membawa kabur Rayya karena saya belum seratus persen menerima dia sebagai calon menantu saya."
Deg
Apa yang dikatakan Gavin membuat Rayya dan Ramadhan terkesiap secara bersamaan. Rayya tidak menyangka jika Daddy nya akan berkata seperti itu di hadapan orang lain terlebih di hadapan Ramadhan. Perkataan belum seratus persen, itu sangat jelas jika Daddy nya itu sudah memberikan lampu hijau dengan kedekatan dirinya dengan Luigi.
Sementara Ramadhan yang mendengar Gavin berkata-kata seolah memuji Luigi menciptakan rasa tak tenang di hatinya. Sedangkan Luigi tentu saja hatinya merasa bahagia mendengar perkataan Gavin yang sepertinya sudah mulai mendukungnya.
" Wah, Rayya dengan Luigi sudah seserius itu ya, Om? Selamat ya, Rayya, Luigi. Kalian berdua pasangan yang cocok, lho! Benar 'kan, Mas?" Farah meminta pendapat Ramadhan soal apa yang dikatakannya tadi.
Ramadhan sontak menjadi salah tingkah apalagi Farah terus saja memeluk lengannya.
" Oh ya, kau ini dengan Rama, apa kalian ..." Gavin menunjuk Ramadhan dan Farah bergantian dengan jari telunjuknya.
" Dia model yang bekerja sama dengan Angkasa Raya, Om."
" Kami teman dekat, Om."
" Maksudnya dia ini model yang bekerjasama dengan perusahaan Dirga dan menjadi teman dekat kamu?" tanya Gavin
" Bukan, Om."
" Benar, Om."
Kembali Ramadhan dan Farah berebut menjawab dengan kalimat yang tidak sama.
" Ya, ya, ya ... saya mengerti. Mungkin salah satu dari kalian tidak ingin go public dengan hubungan kalian ini," sindir Gavin.
" Ya seperti itulah, Om." sahut Farah cepat.
" Dad, Rayya ingin pulang saja." Rayya rasanya sudah benar-benar tak nyaman berada satu ruangan dengan Ramadhan dan Farah.
" Kau ingin pulang?"
Rayya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
" Baiknya jika Baby ingin seperti itu."
" Kak Farah, aku permisi, ya. Maaf tidak bisa mengikuti acara sampai selesai." Rayya kembali berpamitan kepada Farah.
" Oke, Rayya."
" Assalamualaikum ..." Setelah berpamitan Rayya pun berjalan meninggalkan Farah tanpa menyapa dan berpamitan kepada Ramadhan. Sementara Gavin dan Luigi menyusul di belakangnya.
" Waalaikumsalam ..." sahut Farah.
Sedangkan Ramadhan seakan masih terpaku. Dia ingin mencegah Rayya, namun dia seolah tidak punya kekuatan untuk melakukan hal itu apalagi dengan adanya Gavin. Belum lagi sikap Farah yang seakan posesif terhadapnya.
" Lepaskan, tanganmu, Farah!" Ramadhan yang merasa kesal karena kepergian Rayya langsung melampiaskan kekesalannya terhadap Farah.
" Mas, Mas Rama kenapa, sih? Mas Rama datang ke pesta aku tapi kelihatan suntuk seperti ini! Kenapa memangnya?" Farah yang memang tidak tahu apa yang terjadi antara Ramadhan. dan Rayya langsung bertanya-tanya.
" Sorry, Farah. Aku nggak bermaksud seperti itu." Ramadhan langsung mengatakan permohonan maafnya karena dia sudah bersikap kasar pada Farah." Sebaiknya aku juga pulang saja."
Ramadhan hendak melangkah meninggalkan Farah, namun wanita itu kembali mencengkram lengan Ramadhan.
" Mas, please ... jangan pulang dulu! Mas Rama baru saja datang, masa sekarang sudah mau pulang saja. Tunggulah sampai acara selesai." Farah memohon.
__ADS_1
" Aku akan berpamitan sebentar, setelah itu kita pergi dari sini." Farah tersenyum saat mengatakan idenya.
" Maksudmu?" Ramadhan tidak memahami apa yang dikatakan oleh Farah.
" Is ...!" Farah memanggil asistennya dengan gerakan tangannya hingga asistennya itu mendekat ke arahnya.
" Ada apa, Mbak Farah?" tanya Iis setelah dia menghampiri Farah.
" Tolong kau handle acaranya."
" Lho, memang Mbak Farah mau ke mana?"
" Aku akan pulang ke apartemen."
" Pulang?? Lalu acaranya gimana, Mbak?"
" Kan aku sudah bilang kau handle saja acaranya."
" Lalu kalau tamu dan wartawan tanya bagaimana?"
" Bilang saja ada hal mendadak hingga aku mesti meninggalkan pesta secepatnya.
" Tapi, Mbak ...."
" Sudah, ya! Bye ..." Farah lalu menarik tangan Ramadhan dan membawa pria itu keluar dari pesta.
" Kenapa kamu meninggalkan pestamu, Farah?" tanya Ramadhan heran.
" Semua itu sudah tidak penting, Mas. Yang terpenting saat ini bisa bersama dengan Mas Rama," ucap Farah dengan langkah cepat meninggalkan hotel milik Gavin dengan mobil Ramadhan.
Setengah jam kemudian, Ramadhan dan Farah sudah sampai di apartemen milik Farah yang terletak di lantai dua puluh satu.
" Kau tinggal dengan siapa di sini?" tanya Ramadhan saat Farah mempersilahkannya masuk ke dalam apartemennya.
" Sendiri."
" Keluargamu? Orang tuamu?"
" Mereka di luar negeri." Farah lalu berjalan ke arah mini bar yang terletak di depan ruang tamu apartemennya. Dia lalu mengambil dua gelas sloki dan mengambil satu botol Vodka dari lemari pendingin kemudian menuang sebanyak tiga perempat gelas sloki itu. Farah kemudian berjalan ke arah Ramadhan dan menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol itu kepada Ramadhan.
Ramadhan menoleh gelas minuman yang disodorkan Farah kepadanya.
" No, thanks. Aku nggak terbiasa minum itu." Ramadhan cepat menolak minuman yang disodorkan oleh Farah.
" Minum sedikit saja, Mas. Untuk menghilangkan penat yang sedang kamu rasakan sekarang ini." Farah lalu duduk di samping Ramadhan. Tangannya memutar-mutar gelas beberapa saat sebelum akhirnya meminumnya perlahan-lahan.
" Minumlah, Mas!" Farah kembali menyuruh Ramadhan meneguk minuman itu karena Ramadhan hanya memandangi saja tak juga meminumnya.
" Itu nggak ada racunnya kok, Mas. Tenang saja ..." Farah mencoba meyakinkan Ramadhan seraya terkekeh.
" Itu akan membuat kamu lebih rileks karena ketegangan yang kamu rasakan sekarang ini karena masalah yang mungkin sedang kamu hadapi, Mas. Kamu bilang 'kan sedang suntuk. Cobalah ini, hilangkan sejenak apa yang sedang menjadi beban pikiranmu saat ini," bujuk Farah.
Ramadhan mencium aroma dari minuman yang memang tidak pernah dia sentuh sebelumnya.
" Minumlah sedikit-sedikit," ucap Farah saat melihat Ramadhan masih ragu untuk meminumnya.. " Mas lihat, aku nggak mabuk, kan?" Farah menunjuk ke dirinya sendiri sembari meneguk kembali minuman yang di tangannya.
Dan Ramadhan pun seolah terbujuk.dengan apa yang diminta oleh Farah, hingga akhirnya dia meneguk perlahan segelas Vodka itu. Meskipun awalnya agak aneh dengan rasa Vodka itu namun akhirnya satu gelas sloki berisi minuman beralkohol itu tandas dari gelasnya.
" Sebenarnya kamu sedang ada masalah apa sih, Mas? Cerita deh sama aku ..." Farah meminta Ramadhan terbuka kepadanya.
" Banyak hal yang membuatku pusing," keluh Ramadhan.
Farah yang melihat Ramadhan telah menghabiskan satu gelas Vodka dan sepertinya pria itu sudah mulai meresponnya lalu menuang kembali minuman itu dan menyodorkan kembali kepada Ramadahan, hingga akhirya Ramadhan pun kembali meminum Vodka itu secara perlahan
Sudah tiga gelas sloki Vodka yang Ramadhan habiskan, hingga Ramadhan merasakan kepalanya yang terasa berat. Ramadhan memijat pelipisnya karena sepertinya dia sudah merasakan mabuk. Dia bahkan berusaha mengerjapkan matanya agar dia tidak terlelap dan tetap sadar.
" Biar aku bantu pijat kepalamu, Mas."
Ramadhan melirik ke arah Farah yang masih duduk di sampingnya dan mengembangkan senyum ke arahnya.
" Kayla? Kayla kau ada di sini?"
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1