RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Kehamilan Rayya


__ADS_3

MOHON MAAF KALAU ADA KESALAHAN, BAB INI KE UP 2X🙏, Kalau dihapus nanti kayanya bakal ilang dua²nya. 😁


Dua bulan berlalu ...


" Sayang, kamu kok masih tidur saja? Katanya mau jalan-jalan ke GBK." Ramadhan yang kembali dari dapur dan mendapati Rayya kembali tertidur setelah sholat Shubuh langsung berjalan mendekati istrinya dan menghujani pipi Rayya dengan kecupan.


" Aku ngantuk, Mas." Rayya justru kini berpindah posisi membelakangi Ramadhan.


" Masih mengantuk? Bukannya semalam kamu tertidur dari sore? Habis Isya kamu langsung tertidur, sekarang bilang masih mengantuk?" tanya Ramadhan heran.


" Sayang. Ayo bangun ...!" Ramadhan masih berusaha membangunkan Rayya. " Kita jadi jogging, nggak? Nanti keburu siang. Siang dikit nanti jalan-jalannya pindah ke PI, deh." Ramadhan terkekeh.


" Aku lemas sekali, Mas." keluh Rayya tanpa merubah posisi.


" Lemas? Sudah dua hari kamu tidak melayaniku, itu yang menyebabkan tubuhmu lemas, Sayang." Ramadhan menyeringai. " Kalau begitu bagaimana kalau kita main sekarang, biar lemasmu itu hilang."


Rayya langsung bangkit mendengar ucapan suaminya tadi.


" Mas, badanku ini sedang lemas," keluh Rayya.


" Makanya sini aku obati biar sehat lagi." Ramadhan terkekeh.


" Oek ... oek ...."


Rayya segara turun dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi saat dia merasakan perutnya tiba-tiba tak karuan rasanya dan mual yang seketika muncul.


" Sayang kamu kenapa?" Ramadhan yang melihat Rayya mual dan berlari ke kamar mandi segera menyusul istrinya itu.


" Oek ...."


" Sayang, kamu benaran sakit?" Ramadhan mengusap punggung Rayya kemudian menyentuh kening Rayya.


" Badan kamu panas, aku panggil dokter saja,. ya!" Ramadhan ingin keluar kamar mandi untuk mengambil ponselnya namun Rayya melarangnya.


" Jangan, Mas. Nggak usah panggil dokter. Aku nggak apa-apa, kok." Rayya melarang suaminya yang berniat memanggil dokter.


" Kenapa, Sayang? Kamu sakit, lho. Badan kamu panas seperti ini. Kamu juga kelihatan pucat." Ramadhan mengusap peluh di wajah istrinya yang nampak pucat.


" Aku nggak apa-apa, Mas. Mas Rama tolong ke apotik saja, belikan test pack untukku." Rayya menggenggam tangan suaminya yang sedang menyentuh wajahnya. Rayya merasakan jika sesuatu terjadi di perutnya. Sudah satu Minggu ini dia telat datang bulan. Tubuhnya pun seakan cepat lelah. Kadang suka terasa pusing tiba-tiba. Dan morning sickness baru dia rasakan pagi ini. Karena itu dia ingin mengecek urine nya dengan alat pengecek kehamilan.

__ADS_1


" Apa, Sayang? Test pack??" Ramadhan terbelalak lebar. " Sayang, apa kamu hamil?" Ramadhan seakan tak percaya dengan kalimat yang diucapkan oleh istrinya.


" Aku belum bisa memastikan, Mas. Karena itu aku minta Mas belikan test pack di apotik?"


" Kita ke Tante Dessy saja kalau begitu." Ramadhan ingin membawa istrinya ke rumah adik dari Papanya.


" Sebaiknya dicek pakai test pack dulu, Mas. Nanti setelah ini baru ke Tante Dessy." Rayya memiih mengecek menggunakan alat test kehamilan lebih dahulu.


" Ya sudah, aku ke apotik sebentar. Kamu tiduran saja dulu jangan ke mana-mana, ya!" Ramadhan bergegas ke luar dari kamarnya untuk membeli test pack di apotik yang ada di lantai satu gedung apartemen tempat dia dan istrinya kini tinggal.


***


" Bagaimana, Sayang?" tanya Ramadhan saat Rayya mencelupkan alat test pack ke dalam cairan urine yang ditaruh di wadah urine yang dibeli di apotik tadi.


" Tunggu sebentar, Mas." Rayya kemudian mengeluarkan test pack dari wadah urine tadi. " Bismillah, Mas. Semoga hasilnya membahagiakan." Walau saat ini jantung Rayya berdetak kencang karena dia pun merasa deg-degan, namun dia berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Rayya menatap haru alat test kehamilan yang kini memperlihatkan dua garis merah di alat test itu.


" Sayang, garisnya dua. Kamu hamil, Sayang." Ramadhan langsung mengangkat tubuh Rayya dan membawanya berputar-putar karena dia merasa begitu bahagia dengan kenyataan bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang Papa.


Sementara Rayya yang tadi terlihat tenang kini justru tertegun masih tak percaya jika saat ini di rahimnya telah bersemayam buah cintanya dengan Ramadhan. Bola matanya kini mengembun menahan rasa haru yang semakin menyeruak di hatinya.


" I-iya, Mas. Kalau dilihat dari hasilnya itu positif hamil." Bahkan suara Rayya terdengar bergetar.


" Alhamdulillah, Sayang." Ramadhan menghujani wajah Rayya dengan ciuman. " Kita harus beritahu Papa Mamaku juga Daddy dan Mommy mu, Sayang." Rasanya tak sabar Ramadhan membagikan kabar bahagia ini kepada seluruh keluarganya.


" Jangan dulu, Mas. Kita cek ke dulu ke dokter untuk lebih meyakinkan baru kita mengabarkan kabar bahagia ini kepada orang tua kita." Rayya meminta Ramadhan menahan diri agar tidak terburu-buru memberitahu.


" Baiklah, aku akan telepon Tante Dessy agar Tante Dessy bisa memeriksamu, Sayang." Ramadhan kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi nomer kontak Tantenya itu.


" Halo, Assalamualaikum, Tante. Tante Dessy dan keluarga apa kabar? " Ramadhan menyapa Tantenya saat panggilannya tersambung dengan adik Papanya itu.


" Waalaikumsalam, Rama. Alhamdulillah kami baik-baik saja. Kamu sendiri dan Rayya bagaimana? Sudah ada kabar baik kah?" tanya Dessy menjawab sapaan keponakannya.


" Aku juga baik, Tante. Kalau Rayya, ini yang ingin Rama bicarakan sama Tante. Rayya tadi mual-mual, Tan. Rayya sudah coba cek pakai alat test kehamilan dan hasilnya dua garis merah, Tapi istriku bilang untuk menyakinkan mau periksa dulu, Tan." tutur Ramadhan menjelaskan kepada Dessy tentang keadaan Rayya.


" Alhamdulillah, kalau begitu kalian ke sini saja. Biar nanti Tante cek kandungannya, agar kalian nggak ragu." Dessy terdengar senang mendengar kabar yang disampaikan oleh Ramadhan.


" Ya sudah, Tan. Rama sama Rayya ke sana sekarang saja ya, Tan. Tante Dessy nggak ada acara keluar weekend ini?"

__ADS_1


" Nggak ada, kok. Ya sudah kamu ke sini saja nggak apa-apa, Rama."


" Baik, Tante. Tapi, tolong jangan kasih tahu Papa dan Mama dulu sebelum Rayya dicek kandungannya ya, Tan." Ramadhan meminta agar Dessy menahan informasi itu dari kedua orang tuanya.


" Oke, Tante akan simpan dulu infonya. Ya sudah, kamu ke sini saja, Tante tunggu, ya!"


" Iya, Tan. Ya sudah, kami siap-siap ke sana, Tan. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Ramadhan segera mematikan panggilan teleponnya setelah selesai berbicara dengan Tante Dessy.


" Sayang, kita ke rumah Tante Dessy sekarang. Ayo ..." Ramadhan mengambil hijab dan coat yang akan dipakai oleh Rayya.


" Sekarang, Mas? Aku mandi dulu kalau begitu." Rayya kemudian melangkah ke kamar mandi.


" Sayang kamu nggak usah mandi lagi." Ramadhan menahan langkah Rayya.


" Aku tadi belum mandi, Mas. Malu kalau ketahuan belum mandi."


" Sayang, kau ini sudah cantik, kamu tidak mandi pun tidak ada yang tahu. Lagipula kamu hanya di mobil ke rumah Tante Dessy lalu pulang lagi ke apartemen, siapa juga yang mau melihat?"


" Nggak enak pergi ke luar apartemen tanpa membersihkan tubuh lebih dahulu, Mas." Rayya tetap bersikukuh ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


" Sudahlah, Sayang. Aku ini sudah tidak sabar ingin mendapatkan kepastian soal kehamilanmu. Mandinya nanti saja di rumah Tante Dessy." Ramadhan kemudian membuka lemari dan mengambilkan pakaian ganti untuk Rayya lalu dia masukan ke dalam paper bag.


" Ayo ..." Setelah memasangkan kerudung ke kepala Rayya, Ramadhan kemudian mengangkat tubuh Rayya dengan lengannya dan membawa Rayya keluar dari apartemen.


" Astaghfirullahal adzim, Mas!" pekik Rayya menghadapi tindakan suaminya yang dianggapnya terlalu berlebihan itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2