RAMADHAN DI HATI RAYYA

RAMADHAN DI HATI RAYYA
Tak Kalah Dengan Raffa


__ADS_3

Rayya dan Ramadhan nampak berdebar melihat di layar monitor saat Dessy menggerakkan alat transducer di kulit perut Rayya setelah sebelumnya diolesi gel terlebih dahulu.


" Bagaimana, Tante?" tanya Ramadhan yang memang begitu penasaran.


" Selamat ya, Rayya, Rama. Kalian akan segera menjadi Papa dan Mama." Dessy tersenyum senang menyampaikan berita tentang kehamilan Rayya kepada pasangan suami istri yang baru dua bulan ini menjalani mahligai rumah tangga.


" Alhamdulillah ..." Rayya dan Ramadhan menimpali dengan spontan dengan wajah berbinar.


" Sayang, kita akan menjadi orang tua." Ramadhan menghujani Rayya dengan kecupan bertubi-tubi.


" Iya, Mas." Rayya justru seketika menangis bahagia mendapati fakta soal kehamilannya.


" Nanti Tante berikan vitamin yang harus kamu minum ya, Rayya." Setelah membersihkan sisa gel di kulit perut Rayya, Dessy lalu meninggalkan ruang periksa ke meja kerjanya yang ada di rumahnya.


" Oh iya, terima kasih, Tante." Rayya kemudian bangkit dan turun dari ranjang kemudian dibantu Ramadhan berjalan dan duduk di kursi di depan meja kerja Dessy.


" Sudah berapa minggu usia kehamilan aku, Tante?" tanya Rayya.


" Kehamilan kamu sudah masuk Minggu ke lima. Dijaga kandungannya ya, Rayya. Pola makan dan gizi harus diperhatikan. Hindari makan pedas dan minuman bersoda. Dan hindari aktivitas yang berlebihan yang membuat lelah." Dessy menganjurkan apa yang tidak boleh dan boleh dilakukan oleh Rayya.


" Iya, Tante." sahut Rayya.


" Bayinya laki-laki atau perempuan anakku ini, Tan?" tanya Ramadhan penasaran dengan jenis kelamin dari calon bayinya itu.


" Masih belum bisa terlihat di usia kehamilan Rayya sekarang, Rama." sahut Dessy.


" Rama berharap anakku ini perempuan dan akan secantik Mamanya." Ramadhan menatap Rayya kemudian merangkul pundak istrinya itu kemudian mencium pipi Rayya beberapa kali.


" Mas, malu ada Tante Dessy," bisik Rayya yang langsung bersemu karena malu saat itu kemesraan mereka dilihat oleh Tante dari suaminya itu.


" Nggak apa-apa 'kan, Tan? Cium istri sendiri?" Ramadhan bertanya kepada Dessy seolah menganggap apa yang dilakukannya adalah.hal yang wajar.


" Iya, Tante maklum, kok." Dessy memaklumi apa yang dilakukan oleh keponakannya.


" Mas, kita kasih tahu orang tua kita." Rayya mengingatkan Ramadhan untuk mengabari berita bahagia itu.

__ADS_1


" Ah, iya benar. Setelah dari sini kita akan ke rumah Papa." Ramadhan berniat mengunjungi rumah Papa dan Mamanya sepulang dari rumah Dessy


" Telepon Daddy dan Mommy ku dulu, Mas. Aku juga ingin segera menghubungi mereka." Rayya meminta agar Ramadhan menghubungi Gavin dan Azzahra untuk mengabari berita bahagia ini.


" Iya sudah, kita hubungi orang tua kamu dulu." Ramadhan lalu menghubungi nomer Azzahra.


" Assalamualaikum, Rama. Ada apa, Nak?" Terlihat Azzahra yang masih terlihat cantik di usia hampir setengah abad itu saat panggilan video nya terhubung.


" Waalaikumsalam, Ma. Ma, kami sedang di rumah Tante Dessy sekarang. Ada kabar yang mau kami sampaikan ke Mama dan Papa." sahut Ramadhan membalas sapaan Azzahra.


" Tante Dessy? Rama, apa Rayya hamil?" Karena Azzahra mengetahui jika Dessy adalah adik ipar Anindita yang berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan, dia langsung menebak jika kabar yang akan disampaikan oleh Ramadhan adalah kabar gembira soal kehamilan.


" Iya, Mom. Alhamdulillah Rayya hamil, Mom." Rayya langsung merebut ponsel milik suaminya hingga kini dia bisa menatap jelas Mommy itu.


" Alhamdulillah, Rayya. Selamat ya, Sayang. Mommy bahagia dengarnya."


" Ada apa, Honey?" Terdengar suara Gavin di belakang Azzahra.


" By, Rayya hamil ..." Azzahra memberitahu suaminya tentang berita kehamilan Rayya.


" Baby hamil? Mana?" Kini layar ponsel milik Ramadhan sudah dipenuhi wajah Gavin. " Baby, kau benar-benar hamil, Sayang?" Gavin terlihat surprise mendengar kehamilan Rayya.


" Alhamdulillah, Baby sekarang ada di mana? Kemarilah, rasanya Daddy ingin memelukmu."


" Rayya sedang di rumah Tante Dessy, Dad. Nanti setelah dari sini kami akan ke rumah Papa Ricky dulu, Dad. Setelah itu kami akan ke rumah Daddy." Rayya menjelaskan.


" Kenapa Baby lebih mementingkan mertuamu daripada orang tuamu sendiri?" tanya Gavin yang merasa tidak terima Rayya lebih memilih mengunjungi besannya itu.


" Bukan seperti itu, Dad. Dari rumah Tante Dessy lebih dekat ke rumah Papa Ricky, jadi kami ke sana dulu." Rayya menjelaskan agar Daddy nya tidak salah paham.


" Baby, kami ini orang tuamu. Mommy mu yang mengandung dan melahirkanmu. Daddy bahkan yang kerepotan saat Mommy mu hamil dulu. Kenapa Baby tidak mengutamakan kami? Nanti Daddy akan antar ke rumah mertuamu. Atau kalau perlu mertuamu itu yang datang kemari, kita berkumpul di sini menyambut berita gembira ini."


Rayya langsung menoleh ke arah Dessy dan suaminya. Tentu saja dia tidak enak hati dengan ucapan Daddy nya itu.


" Dad, nanti Rayya sambung lagi, ya. Assalamualaikum ..." Rayya buru-buru mematikan sambungan video call nya daripada Gavin semakin kacau berbicara di hadapan keluarga suaminya.

__ADS_1


" Tante, maafkan Daddy aku, kalau ucapan Daddy tadi nggak enak didengar." Rayya langsung mengucapkan permintaan maafnya kepada Dessy.


" Nggak apa-apa, Rayya. Tante mengerti, kok." Dessy yang memahami sifat seorang Gavin Richard bisa mengerti jika Daddy dari Rayya itu tidak beda jauh dengan sikap dari kakak angkatnya, Dirgantara.


" Sayang, Daddy mu itu tidak bisa ditentang. Sebaiknya kita ke rumah Daddy mu saja dulu. Pulangnya kita baru ke rumah Papa." Untung saja Ramadhan bisa mengerti bagaimana sikap Gavin. Dia tidak ingin mengambil resiko akan dimusihi oleh Papa mertuanya lagi kalau dia tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh Gavin.


***


Dalam perjalanan ke rumah Gavin, beberapa kali Rayya dan dan Ramadhan saling pandang. Rasa bahagia benar-benar menyelimuti hati mereka berdua. Tangan Ramadhan bahkan tak lepas dari tangan istrinya itu, kadang Ramadhan mengecup punggung tangan Rayya.


" Aku nggak menyangka akan punya anak diusia aku sekarang ini, Mas." ucap Rayya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


" Kau bahagia, Sayang?" tanya Ramadhan.


" Sangat bahagia, Mas. Aku merasa bersyukur akan mempunyai anak dari Mas Rama." Tangan kiri Rayya mengusap perutnya yang masih datar.


" Kau ingin anak kita laki-laki atau perempuan, Sayang?" tanya Ramadhan karena Rayya tadi belum memberitahu keinginannya tentang jenis kelamin calon bayinya.


" Perempuan atau laki-laki sama saja yang penting sehat, Mas." sahut Rayya. " Mas Rama ingin bayi perempuan, ya?" tanya Rayya kepada suaminya.


" Iya, Sayang. Aku ingin mempunyai anak wanita sepertimu, cantik, sholehah, penyabar dan punya hati yang tulus," ucap Ramadhan yang memang merasa bangga mendapatkan pendamping seperti Rayya.


Rayya tersenyum mendengar pujian yang diucapkan Ramadhan untuknya.


" Oh ya, Mas. Aku mau memberitahu Kia. Aku senang kami sama-sama hamil. Jadi seperti Mommy dan Auntie Tata saat hamil aku dan Kia, Mas." Rayya langsung mengambil ponsel di sling bag nya karena dia ingin segera memberitahu sepupunya itu tentang kehamilannya saat ini.


" Iya, kau beri tahu Kia, kalau aku juga tidak kalah dengan Raffa karena aku juga bisa langsung membuatmu hamil," ujar Ramadhan dengan rasa bangga.


...TAMAT...


Yang baru baca novel ini, kelanjutannya nanti aku kasih bonchap, tapi nunggu mood nya membaik ya, makasih🙏


*


*

__ADS_1


*


Happy Reading❤️


__ADS_2