
Setelah menghajar Ramadhan walaupun belum sampai babak belur, Gavin akhirnya memilih kembali ke kantornya, masih dengan emosi yang belum mereda.
Sesampainya pria itu di kantornya, Gavin segera menghubungi seseorang lewat ponselnya.
" Assalamualaikum, Om." Suara Luigi terdengar di ponsel milik Gavin.
" Waalaikumsalam, Luigi apa kau sedang mengajar?" tanya Gavin.
" Setengah jam lagi saya ada jam kuliah, Om. Ada apa, Om?" Luigi yang hampir tidak pernah dihubungi secara pribadi oleh Gavin memang nampak terkejut saat mengetahui tiba-tiba
Gavin menghubunginya.
" Luigi kapan kau akan bersiap melamar putriku?"
Pertanyaan Gavin seketika membuat Luigi terkesiap. " Maksud, Om?"
" Apa maksudku? Bukannya kau bilang kau ingin melamar putriku? Apa kau tidak serius dengan putriku?" Gavin yang emosinya masih belum reda seakan tersulut dengan kalimat pertanyaan Luigi yang ditanggapi berbeda oleh Gavin.
" Bukan begitu maksud saya, Om. Saya hanya ...
bukankah Om sendiri meminta saya menunggu Rayya hingga beberapa tahun lagi." Luigi mencoba menjelaskan agar Gavin tidak menjadi salah paham.
" Iya tapi Om berubah pikiran. Jika kau memang serius dengan Rayya, segeralah kau mengikatnya. Om ingin kalian secepatnya bertunangan!" tegas Gavin membuat Luigi sampai gugup karena sebenarnya inilah yang dia inginkan.
***
Rayya menyandarkan kepalanya di headbord springbed nya. Sesungguhnya dia sangat bingung dengan sikap yang ditunjukkan Ramadhan kepadanya. Di kala dia sedang berusaha menerima kehadiran Luigi, di saat yang bersamaan Ramadhan menyatakan jika pria itu mencintainya. Namun yang membuatnya tak habis pikir kenapa Ramadhan mengatakannya saat pria itu sudah memutuskan ingin bertunangan dengan Farah. Bahkan acara pesta pertunangan mereka sedang diselenggarakan.
Rayya sempat membuka aplikasi sosial media dan banyak memberitakan tentang pertunangan Ramadhan dan Farah yang akhirnya memang terlaksana walaupun agak sedikit tertunda. karena adanya insiden kaburnya si calon pria yang ingin bertunangan.
Rayya menenggelamkan wajah di atas kedua lututnya dengan tangan memeluk kedua paha dan betisnya.
Ddrrtt ddrrtt
Rayya meraih ponselnya saat suara benda pipih itu berbunyi. Dia mendapati sebuah pesan yang tidak ada nama pengirimnya, hanya deretan angka cantik yang terlihat di ponselnya itu. Rayya kemudian membuka pesan yang ternyata berupa rekaman video. Dan Rayya langsung terbelalak lebar saat melihat adegan Daddy nya yang sedang memukuli Ramadhan hingga Ramadhan mengeluarkan darah dari hidungnya.
" Astaghfirullahal adzim, Daddy! Kak Rama!" Rayya menutup mulut dengan kedua tangannya, sementara cairan bening langsung mengembun di bola matanya yang langsung meleleh di pipinya.
Rayya nampak syok saat mendapati sosok Gavin yang selama ini begitu penuh kasih sayang tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sangar dan memukul orang tanpa belas kasihan.
Setelah melihat rekaman video dari orang yang tidak dia kenal, Rayya kemudian berlari ke luar dari kamarnya. Dia meminta Pak Rudy untuk mengantarnya ke kantor Angkasa Raya, karena dia sempat melihat foto profil pengirim pesan itu adalah Dirga Rayya bahkan tidak sempat berpamitan kepada Azzahra karena dia benar-benar terlihat panik saat mengetahui Daddy nya menghajar Ramadhan dengan bertubi-tubi.
" Non Rayya kenapa menangis? Memang ada apa, Non?" Pak Rudy yang melihat anak dari majikannya menangis nampak bingung.
" Nggak apa-apa. Pak Rudy. Bapak fokus saja mengendarai mobil, tolong agak dipercepat." Rayya meminta Pak Rudy mempercepat laju kendaraannya agar dia cepat sampai, karena dia menduga jika Daddy nya itu masih berada di kantor milik Dirga.
" Baik, Non." Pak Rudy menuruti apa yang diperintahkan oleh Rayya kepadanya.
Setengah jam kemudian, Rayya sudah sampai di kantor milik pengusaha properti terkenal itu. Rayya mengenakan kacamata berlensa coklat agar dia bisa menyamarkan matanya yang sembab karena menangis
" Permisi Mbak, saya ingin bertemu dengan Om Dirga. Apa saya bisa bertemu dengan beliau?" Rayya berbicara pada salah seorang karyawan di bagian front office.
" Maksud Mbak ini Pak Dirgantara?" Karyawan di bagian front office itu memperhatikan Rayya dengan kening berkerut, mungkin karyawan dari Angkasa Raya itu merasa heran karena panggilan Om yang Rayya sematkan kepada bosnya.
" Oh, Iya Pak Dirga maksud saya Apa Mbak bisa antar saya menemui beliau?" Rayya terlihat cemas, dia takut Daddy nya itu masih menghakimi Ramadhan.
" Mbak ini dari mana, ya? Apa Mbak sudah ada janji dengan Pak Dirga sebelumnya?" tanya karyawan front office itu.
" Saya Rayya, saya memang belum ada janji dengan Pak Dirga, tapi saya harus ke tempat Pak Dirga sekarang."
" Maaf ya, Mbak. Tapi kalau belum ada janji dengan Pak Dirga sepertinya Mbak tidak bisa bertemu dengan Pak Dirga, terkecuali Mbak sudah melakukan appointment terlebih dahulu dengan beliau."
Rayya menghembuskan nafas sedikit kasar karena dia kesulitan mendapat ijin dari pegawai Dirga.
" Mbak, tolong Mbak bilang ke sekretaris Pak Dirga jika Rayya Faranisa yang ingin bertemu. Saya ini temannya Falisha, anak dari Pak Dirga." Rayya sampai menyebut nama Falisha, berharap karyawan di bagian front office akan membiarkan dia masuk ke dalam kantor Angkasa Rayya.
__ADS_1
" Maaf ya, Mbak. Bukannya saya mempersulit, tapi memang aturannya seperti itu." Karyawan di bagian personalia itu beralasan.
Rayya yang sudah sangat cemas akhirnya nekat berlari masuk ke dalam gedung dan berusaha mencapai lift.
" Eh, Mbak, Mbak jangan nekat, dong! Jangan cari keributan di sini!" Teriak pegawai personalia tadi." Pak Jimmy, Pak Salim, tolong ada penyusup yang mau masuk kantor!" serunya kemudian memanggil security yang berjaga di depan pintu.
Tentu saja Rayya yang tidak hapal di mana ruang kerja Dirga merasa kebingungan karena dua pintu lift yang dia tekan tombolnya belum juga terbuka.
" Hei, mau apa kamu masuk-masuk ke dalam? Kamu mau bikin keributan di kantor ini, ya?!" Suara salah satu security yang bernama Jimmy langsung mencekal lengan Rayya.
" Ayo cepat keluar dari sini!" Security lainnya yang bernama Salim ikut mencekal tangan Rayya yang satunya.
" Pak, tolong lepaskan saya! Saya ingin bertemu dengan Om Dirga! Saya ingin bertemu dengan Daddy saya!" Rayya terus berontak melepaskan diri dari kedua security yang mencengkal tangannya.
" Sebaiknya kamu pergi dari sini!" usir Jimmy seraya menarik tangan Rayya menyuruh Rayya keluar kantor megah milik sahabat Gavin itu.
" Pak, tolong beri saya waktu sebentar saja untuk bertemu Om Dirga." Rayya kembali memohon.
" Tidak bisa! Sebaiknya kamu segera pergi dari sini!" usir Jimmy kembali.
Ting
Suara pintu lift terbuka terdengar dan seseorang keluar dari dalam lift yang hanya digunakan oleh para eksekutif di perusahaan itu.
" Ada apa ribut-ribut di sini?" tanya suara orang yang keluar dari lift itu hingga membuat Rayya dan kedua security itu menoleh ke arah suara tadi.
" Om Ricky ..." Rayya yang mendapati Ricky lah yang berbicara tadi langsung memanggil Ricky seolah meminta Ricky agar menolongnya dari hadangan kedua security itu.
" Pak Ricky." Kedua satpam tadi langsung menyapa Ricky seraya membungkukkan sedikit tubuhnya.
" Rayya?" Ricky sampai terbelalak saat melihat jika ternyata Rayya lah yang sedang ditarik oleh kedua security nya tadi.
" Lepaskan dia! Apa yang kalian lakukan kepadanya?!" geram Ricky dengan suara meninggi hingga dia menepis kedua tangan security yang sedang mencengkram lengan Rayya. Dan suara Ricky yang dilontarkan dengan nada penuh amarah membuat semua orang yang ada di sana menoleh bahkan tak sedikit yang ketakutan karena kemarahan Ricky itu.
Ricky langsung menarik nafas perlahan mendengar perkataan Rayya. Dia menduga jika Dirga telah menyebarkan rekaman video Gavin yang menghajar Ramadhan seperti yang bosnya itu kirimkan kepadanya.
" Om, tolong antar Rayya ke atas, Rayya tidak ingin Daddy menyakiti Kak Rama, Om." Rayya mengatakan kekhawatirannya atas apa yang dilakukan oleh Gavin kepada Ramadhan.
Ricky menghembuskan nafasnya kasar saat dia melihat wanita yang sudah membuat putranya berubah menjadi lelaki yang lemah itu berurai air mata.
" Rayya, ayo masuklah dulu ke atas, Nak." Ricky langsung merangkulkan lengannya ke pundak Rayya layaknya seorang ayah merangkul putrinya sendiri.
" Kalian semua! Apa kalian tidak tahu jika gadis ini adalah putri kesayangan dari Tuan Gavin Richard, pemilik hotel berbintang xxx? Sahabat dari bos kalian sendiri! Apa kalian semua ingin dipecat jika Pak Dirgantara sampai mengetahui kalian sudah bersikap buruk kepada putri dari sahabat beliau?!" geram Ricky penuh emosi. Dia tidak bisa membayangkan marahnya Dirga terlebih lagi Gavin jika mereka tahu apa yang dilakukan karyawan Angkasa Ray kepada Rayya.
" M-maaf, Pak Ricky. Kamu tidak tahu jika Nona ini adalah putri dari sahabat Pak Dirga." Kedua security itu tertunduk dan ketakutan.
Sedangkan kedua security dan karyawan bagian front office tercengang saat tahu siapa wanita yang mereka halang-halangi saat ingin bertemu dengan Dirga.
" Maafkan kami Pak. Kami benar-benar minta maaf. Kami berusaha melakukan pekerjaan sebaik mungkin, Pak." sambung Jimmy kemudian.
" Jangan berdalih karena melaksanakan tugas! Sekalipun kalian tidak mengenal gadis ini, tidak sepantasnya kalian berbuat seperti tadi!" Ricky semakin murka karena Jimmy beralasan jika yang dilakukannya karena dia melakukan tugasnya sebagai seorang security.
" Om sudah, tolong antar Rayya menemui Daddy, Om." Rayya yang melihat kedua security itu terus dimarahi oleh Ricky langsung meminta bertemu dengan Gavin agar Ricky tidak terus memarahi para security tadi.
" Ayo, Rayya. Kita ke atas dulu " Akhirnya Ricky yang rencananya ingin keluar kantor mengurungkan niatnya dan membawa Rayya masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruangan Dirga, karena bosnya itulah yang sudah membuat kekacauan ini.
" Om, Rayya minta maaf karena perbuatan Daddy yang sudah menghajar Kak Rama." Rayya merasa menyesal dan tidak enak hati atas perbuatan Gavin hingga dia menyampaikan permintaan maafnya.
" Rayya tahu dari mana tentang hal itu?" Walaupun Ricky sudah tahu siapa orang yang kemungkinan besar melakukan hal itu kepada Rayya namun dia tetap menanyakan kepada putri dari Gavin itu.
" Rayya tahu dari Om Dirga, kerena itu Rayya datang ke sini. Rayya takut Daddy hilang kendali, Om." ucap Rayya pilu.
" Sudahlah Rayya, jangan menangis seperti ini. Om bisa mengerti jika Daddy mu berbuat seperti itu. Semua itu karena kesalahan putra Om. Jangankan Daddy mu, Om saja sampai meninju wajah Rama, karena Om benar-benar kecewa terhadapnya. Jadi sekarang Rayya tenangkan diri dan tidak perlu merasa bersalah seperti ini." Ricky terus berusaha memberi pengertian kepada Rayya agar gadis itu tidak terus menerus merasa bersalah.
Setelah keluar dari lift, Ricky ingin membawa Rayya ke ruangan Dirga, karena dia sendiri ingin tahu apa yang sebenarnya direncanakan bosnya itu. Namun di saat yang bersamaan Ramadhan keluar dari ruangan kerjanya.
__ADS_1
" Rayya? Rayya kenapa bisa ada di sini?" Ramadhan yang mendapati kemunculan Rayya apalagi dia melihat saat ini Rayya bersama Ricky langsung terperanjat.
Rayya yang dipanggil oleh Ramadhan seketika menolehkan wajahnya ke arah suara Ramadhan. Rayya nampak terkejut saat melihat beberapa memar di ,wajah Ramadhan.
" Kak Rama? K-kak Rama nggak apa-apa?" Rayya spontan mendekati Ramadhan. " Astaghfirullah adzim, maafkan Daddy aku, Kak." Lagi-lagi Rayya terisak melihat wajah Ramadhan yang sudah dihadiahi pukulan oleh Gavin.
" Aku nggak apa-apa, kamu jangan khawatir." Ada rasa senang di hati Ramadhan saat mengetahui ternyata Rayya masih sangat memperdulikannya hingga gadis itu datang menemuinya di kantor Angkasa Raya.
" Ya Allah, aku nggak menyangka Daddy akan semurka ini dan melukai Kak Rama seperti ini."
" Nggak apa-apa, Rayya. Aku terima kok, apa yang Daddy kamu lakukan. Karena yang Aku rasakan ini belum seberapa rasa sakitnya jika dibanding rasa sakit yang pernah aku torehkan di hati kamu," ucap Ramadhan menatap manik mata Rayya yang dipenuhi air mata karena sejak bertemu Ricky, Rayya sudah melepas kacamatanya Hingga saat ini kedua manusia yang sedang merasakan perasaan yang sama terhadap orang yang ada di hadapannya itu saling bertatapan lekat.
Pintu ruangan Dirga tiba-tiba terbuka hingga memperlihatkan kemunculan bos pemilik perusahaan properti itu keluar dari ruangannya.
" Rayya? Kamu di sini?" Tak beda jauh dengan Ricky dan Ramadhan, Dirga pun juga terkejut dengan kedatangan Rayya di perusahaan miliknya.
" Om, mana Daddy? Rayya minta maaf atas perbuatan Daddy terhadap Kak Rama, Om." Kali ini Rayya menghampiri Dirga.
" Daddy mu sudah Om usir dari sini!" Sontak perkataan Dirga membuat Rayya, Ricky dan juga Ramadhan terkesiap. Jika Ricky dan Ramadhan tahu jika Dirga berbohong, beda halnya dengan Rayya yang mempercayai ucapan sahabat dari Daddy nya itu.
" Tolong maafkan Daddy karena sudah membuat keributan di kantor ini, Om."
" Masuklah dulu, kita bicara di dalam." Dirga membuka kembali pintu ruang kerjanya dan mempersilahkan Rayya untuk masuk diikuti oleh Ricky dan Ramadhan.
" Kau benar, Rayya. Daddy mu itu sudah membuat keributan di kantor Om. Gavin bahkan mencederai asisten Om," ujar Dirga setelah mereka duduk membentuk setengah lingkaran.
" Kau tahu, Rayya? Om bisa melaporkan perbuatan Daddy mu ke pihak yang berwajib!" gertak Dirga sehingga membuat tiga orang yang sedang berada di ruangan Dirga terkejut, terlebih Rayya yang tangisnya kembali pecah saat mendengar Dirga ingin membawa masalah ini ke jalur hukum.
" Om, tolong jangan lakukan itu! Rayya mewakili Daddy minta maaf atas perbuatan Daddy. Rayya rasa Daddy tidak mempunyai niat jahat kepada Kak Rama. Daddy hanya terbawa emosi, Om. Tolong maafkan Daddy Gavin, Om. Semua itu Daddy lakukan karena Daddy menyanyangi Rayya, Om."
" Om, tolong jangan lakukan hal itu kepada Om Gavin." Ramadhan ikut memohon kepada bosnya itu karena dia tidak tega melihat Rayya yang terus menangis.
" Rama, sebaiknya kau jangan ikut bicara!" Ricky yang menyadari ada sesuatu yang direncanakan oleh Dirga, meminta anaknya itu untuk diam.
" Kau ingin Om tidak melaporkan Daddy mu ke pihak yang berwajib?" tanya Dirga kepada Rayya .
" Iya, Om. Rayya ingin Om tidak melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib." Rayya yang tidak ingin Daddy nya mendapat masalah dan namanya tercoreng langsung menyahuti pertanyaan Dirga.
" Tapi ada syarat yang mesti Rayya penuhi jika Rayya ingin Om tidak memperpanjang masalah ini ke jalur hukum. Keluarga Richard dan keluarga Poetra Laksmana sama-sama kuat. Jangan Rayya pikir kami tidak bisa memenjarakan Daddy mu. Lagipula alasan yang digunakan Daddy mu untuk menghukum Rama tidak ada buktinya. Jika Gavin bilang Rama sudah menyakiti hatimu, apa Daddy mu punya jejak digital tentang hal itu? Tidak ada buktinya, kan? Tapi kalau Om melaporkan Gavin karena tindakan penganiayaan, Om punya jejak digitalnya." Dirga sengaja menakuti Rayya.
" Jangan lakukan itu, Om. Rayya nggak ingin Daddy dihukum, Om. Tolong maafkan Daddy. Rayya akan lakukan apa saja agar Om tidak memperkarakan Daddy ke jalur hukum." Rayya terus memohon kemurahan hati Dirga.
" Apa kau yakin akan rela melakukan apa saja untuk melepaskan Daddy mu dari jeratan hukum?" tanya Dirga kemudian.
" Iya, Om!" Rayya mengangguk kencang. " Rayya akan lakukan apa saja untuk Daddy."
" Walaupun Rayya harus mengikuti apa yang Om minta?"
" Iya, Om."
" Baiklah kalau pilihan Rayya seperti itu. Kalau Om minta kamu menikah dengan Rama, apa Rayya juga akan menuruti apa yang Om minta?"
Deg
Rayya langsung terbelalak saat mendengar permintaan dari Dirga sebagai syarat agar bisa membebaskan Daddy nya yang dikatakan Dirga akan diseret ke jalur hukum, karena melakukan tindakan kekerasan yang dilakukan Gavin kepada Ramadhan.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1